
"Riel!! Apa yang kau katakan!!"
"Benar, 100 ribu pasukan iblis itu sedang bergerak menuju ke kerajaan Riel."
"Woy woy. Kau pasti sedang bercanda..."
"Saya mengatakan yang sebenarnya.. Raja iblis yang baru, mungkin menginginkan kekayaan melimpah yang dimiliki kerajaan baru itu."
"Jika kau memang mengatakan yang sebenarnya... Aku sebaiknya harus segera kembali." Aku berencana untuk kembali ke kerajaanku.
"Baiklah.. Tapi, bawalah 15 ribu prajuritku bersamamu. Aku harap itu bisa sedikit membantumu."
"Terima kasih atas tawaranmu itu yang mulia. Tapi, aku tak bisa menerima bantuanmu itu." Aku berfikir, meskipun aku membawa bala bantuan, aku rasa itu tidak akan berguna. Karena dalam perjalanan dari kerajaan ini ke kerajaanku membutuhkan waktu paling cepat 2 hari, dan saat aku sampai bersama dengan bala bantuan, saat itu pula semuanya sudah terlambat.
"Begitu, ya. Kalau begitu, semoga kau berhasil."
"Baik.." Aku pun bergagas pergi.
"Hiro!!"
"Ada apa?" Sia memanggilku dan itu membuatku berhenti melangkah.
"A-apa aku bisa ikut denganmu.."
"Sepertinya itu ide bagus. Lagipula Sia cukup berbakat dalam sihir penyembuhan, dan itu mungkin bisa berguna untukmu." (Raja Difard)
"Baiklah, ayo berangkat Sia." Sebenarnya aku tak ingin membawanya ke dalam masalah ini, tapi sepertinya tidak ada pilihan lain, lagipula saat ini Sia adalah pasanganku dan apapun yang terjadi denganku, akan terjadi juga dengannya.
"Kau bisa menggunakan kereta kuda, itu mungkin bisa mempercepat perjalananmu."
"Tidak terima kasih. Aku sudah mempunyai tumpangan sendiri."
"Tumpangan sendiri?" (Sia)
"Begitu, ya. Baiklah, semoga kau berhasil." (Raja Difard)
"Iya. Ayo Sia (pergi)." Aku dan Sia pergi keluar dari istana, dan yang lainya mengikuti di belakangku, entah apa yang mereka pikirkan. Dan tak lupa juga, para petinggi juga ikut, tetapi tatapan mereka terhadapku terlihat sangat tidak nyaman.
------ Beberapa menit kemudian -------
Aku sampai di luar kerajaan. "SHURAAAA!!!!"
Untuk beberapa saat tak ada terjadi. "Hiro, apa ya-..."
Grroaaarrrr.
"Aku memanggil tumpangan kita." Naga Shura datang dari arah barat, dan perlahan mendarat tepat di depanku. "Baiklah,Sia ayo kita naik."
"N-n-n-n-nagaaa!! (terkejut)" (Semua) Semua orang (kecuali raja) terkejut melihat seekor naga yang sangat besar ini.
"Jadi itu, ya tumpanganmu. Jika seperti itu, kau akan sampai di kerajaanmu dalam jangka waktu yang sangat cepat."
"T-tapi... (ketakutan)" (Sia) Seperti biasa, orang yang pertama kali ingin naik seekor naga pasti terlihat kerakutan.
"Jika kau tidak naik, aku akan meninggalkanmu."
"B-baiklah, a-aku akan segera naik." Sia berusaha naik meskipun ia terlihat sangat ketakutan.
"Aku pergi dulu raja!"
"Semoga kau mendapatkan kemenangan."
"SHURAA!!"
Grooaaarrrr.
Naga Shira perlahan terbang dan dengan cepat pergi kembali ke kerajaanku.
"Rin, Inori, Emilia, Lia bertahanlah aku akan melindungi kalian semua, meskipun harus mengorbankan nyawaku sendiri."
"Yang mulia, siapa sebenarnya pemuda itu?" (perdana mentri)
"Kau tidak tau, ya. Dia adalah seorang raja, seorang raja yang bisa membawa kedamaian di kerajaannya."
"APA!!! Anak muda sepertinya, adalah seorang raja! (terkejut)
"Benar, namanya adalah, Hiroaki seorang raja dari kerajaan yang sangat maju di peradaban saat ini."
___________________
"Hiro, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Para ras iblis menyerang kerajaanku, dan aku harus melindunginya sekuat tenaga."
"Hiro, rambutmu...."
Karena Hikari yang sangat khawatir dengan keluarga kecilnya, warna rambut dan juga pedangnya berubah menjadi putih pucat.
"SHURAAA!!! LEBIH CEPAAAATT!!"
Grooaaarrrr. naga Shura menambah kecepatan terbangnya.
____________________
"*Dewa Sha..."
"Ada apa?"
"Sebelumnya aku ingin minta maaf, aku tak bisa mengerjakan misi darimu kali ini."
"Begitukah.. Baiklah, aku akan menyerahkan tugas ini pada Shin saja.. Dan untukmu, kali ini kau mungkin akan sangat kesulitan.."
"Hah... Sudah kuduga*." Melawan 100 ribu pasukan iblis sendirian adalah hal yang sangat bodoh.
"*Tapi kau tenang saja, saat Shin sudah selesai, dia akan segera membantumu. Jadi, sampai saat itu tiba, kau harus bertahan sekuat tenaga."
"Terima kasih dewa Sha.... ... Dewa Sha, ada yang ingin aku minta padamu."
"Apa?"
"Kau bisa menghilangkan efek pasangan yang ada padaku saat ini? Karena aku tak ingin Sia terluka akibat apa yang aku lakukan nanti."
"Baiklah, akan aku penuhi keinginanmu. 'Clik' Dengan begini, kau sudah tek perlu khawatir lagi. Kau bisa mengamuk kapanpun kau mau."
"(tersenyum) Terima kasih dewa Sha."
"Baiklah, semoga kau berhasil*." (menutup telepati)
------- Setelah beberapa jam berlalu --------
Siang hari, jam 13.02
Dari kejauhan, aku melihat kerajaan milikku dan aku tak melihat terjadi apa-apa pada kerajaanku. "Untunglah, aku masih sempat." Aku begitu tenang setelah melihat ini.
------ Beberapa saat kemudian -------
Naga Shura turun tepat di depan pintu masuk ke dalam kerajaan yang ada di bagian utara. "Shura, terima kasih karena kau sudah mengantarkanku tepat waktu."
__ADS_1
Groaaaarrrr.
Setelah itu, aku dan Sia kemudian turun dan sesaat kemudian, naga Shura pergi.
"(membungkuk memberi hormat) Yang mulia. Syukurlah anda kembali. Kerajaan sedang kacau.." (penjaga gerbang) Salah satu penjaga menghampiriku.
"Bagaimana keadaan yang lain?" Aku mencoba mencari tau keadaan Rin dan yang lainnya dari penjaga ini.
"Beberapa jam yang lalu, ratu Rin dan juga ratu Emilia memerintahkan para prajurit untuk mengamankan para penduduk ke tempat yang aman."
"Bagaimana dengan Rin dan yang lainnya?"
"Yang mulia ratu Rin dan ratu Emilia... Mereka dan 1000 pasukan kerajaan mencoba untuk menahan para pasukan iblis yang menyerang dari arah selatan, hanya itu yang saya tau yang mulia."
"Saat kalian sudah selesai mengewakuasi para penduduk, kenapa kalian juga tidak ikut membantu mereka..."
"Maaf yang mulia.. Tapi, kami sudah di perintahkan untuk menjaga gerbang ini oleh ratu Rin, dan memastikan agar tidak ada iblis yang menyerang dari arah ini."
"Begitu, ya." Saat ini aku tak bisa berfikir dengan tenang, aku sangat menghawatirkan mereka sehingga aku hampir lupa kalau aku juga mempunyai kerajaan yang harus aku lindungi.
Aku cukup terkesan dengan Rin, ia masih bisa berfikir tenang dan memikirkan hal seperti ini padahal saat ini adalah hal yang sangat genting. "Kalau begitu, aku akan membantu mereka. Kalian, jagalah gerbang ini sekuat tenaga kalian, jika para pasukan iblis itu sampai berhasil masuk ke dalam kerajaan ini. Aku yakin, seluruh rakyat yang ada di kerajaan ini pasti akan dibantai oleh para ras iblis. Jadi, aku ingin kalian para prajurit yang gagah berani, jagalah kerajaan ini meskipun harus mengorbankan nyawa kalian, karena jika kalian gagal dalam tugas ini, maka akan ada lebih banyak korban lagi yang akan berjatuhan dan bisa jadi itu adalah keluarga kalian sendiri." Aku rasa itu adalah sedikit pidato pendekku.
"Baik yang mulia, kami akan menjaga gerbang ini sekuat tenaga. Kami tidak akan mengecewakan kepercayaan anda yang sudah anda berikan kepada kami."
Aku dan Sia pergi menuju ke arah gerbang selatan. "Rin, Emilia... Bertahanlah, aku akan segera membantu kalian... Aku mohon, bertahanlah."
__________________________
{Kerajaan Riel: Bagian selatan, area padang rumput}
"Emilia, kau tidak apa-apa?" (Rin)
"Ha ha ha... (terengah-engah) A-aku baik-baik saja.. Hanya saja..."
Saat ini, Rin dan juga Emilia sedang sekuat tenaga menghadang para pasukan iblis yang sedang bergerak menuju ke kerajaan Riel. "Mereka, tidak ada habisnya.."
Swuuutt.
Sebuah panah dengan cepat menuju ke arah Emilia "Emilia awasss!! (mendorong Emilia)" Rin dengan cepat mendorong Emilia dan anak panah itu mengenai dirinya tepat di bagian punggungnya.
"Rin!! (panik) Kau... Apa yang kau lakukan.?"
Tubuh Rin seketika menjadi dingin dan wajah Rin memucat. "A-aku sudah berjanji pada Hi-chan, k-kalau aku akan melindungi keluarga ke-cil kita ini sekuat tenaga.."
"(air mata menetes) T-tapi... Kau tak perlu melakukan hal ini."
"T-tidak apa-apa, ki-ta ini adalah keluarga.. Sudah wajar aku menolongmu."
"Lia!!! Lia!!. (berteriak)" Emilia berusaha untuk memanggil Lia agar dia bisa menyembuhkan luka yang ada di tubuh Rin.
-------- Beberapa saat kemudian -------
Lia datang ke tempat Emilia karena dia memanggilnya. "Nona Rin, apa yang terjadi padamu? Nona Emilia, apa yang terjadi pada nona Rin?(panik)"
"Lia, cepat gunakan sihir penyembuhanmu pada Rin, aku akan menahan para prajurit iblis itu."
"T-tapi.. Nona Emilia-...:"
"Sudah lakukan saja.."
Tubuh Rin sudah mulai melemah karena ia terkena panah beracun yang bisa saja mengamcam nyawanya. "Baik.. Cahaya penyembuh, Heal."
Lia sedang menyembuhkan luka yang ada di tubuh Rin sedangkan Emilia sedang mencoba untuk menahan para pasukan iblis yang medekat ke arahnya.
"PARA PASUKAN IBLIS, AYO KITA REBUT KERAJAAN INI SEKUAT TENAGA KITA. DAN JADIKAN KERAJAAN INI SEBAGAI KEKUASAAN KITA." (Raja iblis)
Para pasukan iblis itu maju untuk menyerang kerajaan Riel. Dan disisi lain, para pasukan kerajaan Riel yang sedang menghadang para prajurit iblis, mulai berguguran.
"Lia, apa kau belum selesai?" Emilia memanah semua prajurit iblis yang mendekat ke arahnya.
"(menunduk + meneteskan air mata) Ma-af nona Emilia, saya sudah berusaha sekuat tenaga. Ta-tapi..."
"Rin!!! (menghampiri Rin yang terkapar) Rin... (menagis) Aku mohon bertahanlah, aku mohon, Rin.."
Swuuuttt.
Lagi-lagi, sebuah panah dengan cepat menuju ke arah Emilia. "Nona Emilia awass!!!"
Emilia berbalik dan...
_________________
[ Gerbang selatan kerajaan Riel ]
"Rin, Emilia... Bertahanlah sebentar lagi, aku akan segera membantu kalian..." Hiroaki dan Sia berlari sekuat tenaga menuju ke gerbang selatan.
-------- Beberapa lama kemudian --------
Hiroaki dan Sia sampai di gerbang selatan, dan saat ini gerbang dalam keadaan tertutup dan juga dijaga oleh puluhan prajurit. "Prajurit, buka gerbangnya cepat!!!"
"Baik, yang mulia." Para prajurit itupun dengan cepat membuka gerbang itu, dan setelah gerbang itu terbuka, Hiroaki dan juga Sia dengan cepat pergi menuju ke area pertempuran.
-------- Beberapa menit kemudian --------
{Kerajaan Riel: Bagian selatan, area padang rumput}
Aku sampai di arena pertempuran. Dan disini, aku melihgat banyak sekali mayat prajurit kerajaanku dan juga prajurit iblis. "Rin!!! Emilia!!! Dimana kalian!!!" Aku mencoba untuk memanggil mereka tapi tidak ada jawaban, dan aku putuskan untuk mencari mereka lebih jauh lagi.
------ Beberapa saat kemudian ------
"Itu Lia.." Tapi, aku melihatnya sedang menagis dan itu membuatku sedikit khawatir. Dan akupun menghampirinya dan Sia mengikuti dibelakangku.
"Lia, apa yang-..." Seketika aku terdiam melihat apa yang sudah terjadi disini.
"(menagis) 'hiks' Hi-Hiroaki-sama, a-aku minta maaf... A-aku, aku tidak bisa menyelamatkan mereka. Maafkan aku Hiroaki-sama.. (menagis)"
Rin dan Emilia terkapar di samping Lia. "Woy woy woy... Katakan, ini bercanda'kan.."
"Maafkan aku Hiroaki-sama."
Sia yang melihat hal itu, mencoba menghampiri dan memeriksa keadaan Rin dan juga Emilia yang sedang terkapar di tanah. Sia menyentuh kedua tangan mereka berdua, dan mencoba menggunakan sihir penyembuh miliknya. "Penyembuhan yang menyembuhkan segalanya, Healing." Warna hijau yang sangat terang perlahan menyelimuti tubuh Rin, Emilia, dan juga Sia.
"I-itu.. (terkejut) Sihir penyembuh tingkat tinggi. Mungkin, dengan ini nona Rin dan juga nona Emilia bisa selamat." (Lia)
"Benarkah.." Aku cukup senang mendengar hal itu.
Tapi.....
------- Beberapa saat kemudian -------
Cahaya hijau yang menutupi tubuh mereka bertiga perlahan mulai redup, dan Sia meneteskan air mata. "Ma-maafkan aku Hiro, mereka berdua sudah..." Sia tak bisa melanjutkan kata-katanya.
"T-tidak mungkin... Ini bohong'kan. (melihat ke arah Sia) Hey Sia, katakan kalo ini bohong."
"...." Sia hanya diam membisu dan ia meneteskan air mata.
"Lia, katakan kalo ini semua hanya kebohongan.. KATAKAN!!! (membentak)"
__ADS_1
"(menunduk + meneteskan air mata) Ma-maafkan aku Hiroaki-sama.."
Seketika, kedua kakiku lemas dan membuatku terjatuh. Aku perlahan mendekati mereka berdua, dan memengang tangan mereka. "R-Rin, Emilia, bangun..." Tak ada jawaban dan itu membuat air mataku menetes. "Rin... Emilia... Tidakk, jangan tinggalkan aku!! Aku mohon, jangan tinggalkan aku... Rin, bukankah kau memiliki sesuatu yang kau inginkan dariku, aku akan menuruti apa yang kau mau. Jadi, buka matamu Rin, aku mohon... Emilia, buka matamu. Bagaimana aku akan hidup jika tanpa kalian berdua.."
-------- Setelah beberapa saat -----------
Aku melihat ke arah Sia dan Lia, dan mereka berdua menunduk sambil meneteskan air mata. Aku mulai mencoba untuk berdiri, dan menghapus air mataku. "Lia, siapa yang melakukan hal seperti ini pada mereka..."
"..." Lia hanya diam membisu.
"LIA!!! JAWAB PERTANYAANKU!!! (aku kembali membentaknya)"
"Hiro, mereka berdua menjadi seperti ini, akibat dari racun yang sangat mematikan.."
"Begitu... Siapa yang melakukan hal itu?"
"Ras ib-lis..." (Lia)
Kemarahan bergejolak di dalam diriku dan itu membuat warna pedang dan rambutku berubah menjadi merah. "Begitu, ya..." Aku perlahan berjalan kedepan menuju ke arah para pasukan iblis yang sedang berkumpul itu. "... Sia, Lia.. Bawa mereka berdua ke tampat yang aman.."
"Hiro..."
"Baiklah Hiroaki-sama."
"Dan satu hal lagi, jangan sampai Inori mengetahui hal ini."
"Baik." Mereka berdua membawa Rin dan Emilia pergi dari tempat ini, dan di medan perang ini hanya tinggal aku dan kurang dari 100 ribu pasukan iblis yang ada di hadapanku.
Semua pasukan dari kerajaanku sudah tumbang karena kalahnya kekuatan dan juga jumlah pasukanku.
_____________________
{Kerajaan Riel: Bagian selatan, area padang rumput}
"Yang mulia, di depan kita hanya tinggal seorang manusia saja. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya." (komandan iblis)
"Bagaimana dengan 2 pengganggu itu? (Rin & Emilia) " (raja iblis)
"Mereka sudah berhasil dikalahkan."
"Begitu... Hahaha, apa mereka bercanda dengan mengirimkan 1 orang ke sini akan bisa menngalakan 100 ribu pasukan milikku, kalau begitu.. Dengan begini, kemenangan sudah ada ditangan kita.. Para pasukan, SERANG!!! Habisi semua manusia yang menghalagi jalan kita."
HYAAAA!!....
Para prajurit iblis maju ke arah Hiroaki yang sedang dalam keadaan sangat marah. "(mengeluarkan kedua pedangnya) Akanku habisi kalian semua... Sampai tak tersisa satupun."
Ribuan prajurit iblis menyerang Hiroaki yang sendirian. "Serang!!!" (komandan iblis)
Ctangg..
Ctinggg..
Bagg Buggg Dakkk..
Hiroaki menyerang semua prajurit iblis yang mendekat ke arahnya tanpa ampun, dan darah mulai membuat baju yang digunakannya berubah merah darah. "Rasakan ini!!"
Sraahhss..
Menyerang secara Horizontal secara kuat ke arah para prajurit iblis itu, dan membuat sebuah angin tipis yang sangat tajam yang dapat memotong apapun dan ribuan prajurit iblis yang ada di depannya terpotong menjadi 2 bagian, dan seketika padang rumput ini menjadi lautan mayat yang penuh darah.
"Tidak mungkin.. (terkejut) " (komandan iblis) Komandan iblis terkejut melihat hal ini dan memilih untuk melaporkannya pada raja iblis.
-------- Beberapa saat kemudian -------
"Mohon maaf yang mulia... (membungkuk memberi hormat) Manusia yang kita hadapi sekarang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, para prjurit kita tidak bisa mengalahkannya. Apa yang harus hamba lakukan yang mulia..."
"Omong kosong apa yang kau katakan... Para prajurit kita adalah prajurit yang sudah terlatih, mana mungkin mereka tidak bisa mengalahkan 1 manusia lemah seperti itu."
"Mohon maaf yang mulia. Tapi, itulah kebenarnya."
Sang raja iblis mengambil pedang miliknya dan...
Slaasshh.
Ia memotong kepala komandan iblis itu, dan komandan itu tewas seketika. Para prajurit lain yang melihat hal itu ketakutan. "Dasar tidak beguna... Mengatasi sampah kecil seperti itu saja tidak bisa."
Raja iblis yang berada di barisan paling belakang berjalan maju untuk menemui Hikari sambil memengang salah satu pedang terkuat di dunia, Hunter Sword.
[**Note: Pedang terkuat di cerita ini ada banyak, dan pedang yang paling kuat di pegang oleh dewa]
{Sedikit pemberitahuan mengenai Hunter Sword: Hunter Sword adalah pedang berwarna hitam, dan pedang ini membutuhkan sebuah tumbal sebelum digunakan, pedang ini memiliki kekuatan yang sangat besar tergantung banyaknya tumbal yang diberikan pada pedang ini. 'Tumbal yang dimaksud disini adalah banyaknya orang yang dibunuh atau menyentuh darah segar menggunakan pedang itu. Ya, namanya aja Hunter Sword, Pedang pemburu.' Wajar'kan kalau berhubungan dengan darah**.}
-------- Beberapa menit kemudian ---------
Raja iblis sampai di depan para prajurit iblis dan ia melihat Hikari yang sedang membunuh satu-satu prajurit iblis yang mendekatinya. "Jadi dia orangnya... (tersenyum) Hahaha, menarik. Sepertinya aku akan mendapatkan lawan yang sebanding denganku." Raja iblis terlihat cukup senang karena selama ini, karena kekuatan luar biasa pedang miliknya, ia tak bisa membuat sebuah pertarungan yang menyenangkan untuknya selama pertempuran, dan karena itu ia bisa dengan mudah memperoleh kemenangan, tapi ia merasa bosan dengan hal itu. Dan saat ia melihat Hikari dengan mudah menghabisi pasukan miliknya, ia terlihat sangat bersemangat.
Raja iblis menghampiri Hiroaki dan saat jaraknya sudah cukup. Ia dengan cepat menyerang Hiroaki, dan Hiroaki menagkis seranganya menggunakan Pedang naga miliknya, dan menyerang balik menggunakan pedang Shirame yang ada di tangan kirinya.
[Note: Karena pedang Hiroaki udah berevolusi, nama pedangnya gua ganti ke pedang naga, kaga ada birunya.]
Raja iblis mundur beberapa meter dari posisi Hiroaki berada. "H-hebat!! (kagum) Kau adalah orang pertama yang berhasil menangkis seranganku, dan kau juga mahluk yang pertama membalas serangan dariku."
"Siapa kau?" Hiroaki bertanya dengan tatapan yang menyeramkan.
"Namaku adalah Shima, sang raja iblis yang baru.."
"Raja iblis... Begitu, ya. Jadi, lawan yang harus aku habisi terlebih dahulu adalah kau, ya. Dan setelah itu, setiap rasmu akan menyusulmu dalam kematian yang mengerikan."
"Hahaha... Aku suka kata-katamu itu.. Sebaiknya kau memberiku sedi-..." Hiroaki dengan cepat mendekat dan menyerang raja iblis tepat di bagian perutnya secara diagonal, dan raja iblis berhasil menahan seranganya. Tapi, ia terpental kebelakang seajuh beberapa meter.
"Manusia itu berhasil mendesak yang mulia.." (prajurit iblis)
"Ternyata, dia cepat juga dan seranganya juga cukup kuat (tersenyum)... Tapi, dengan begitu ini akan semakin menarik." (raja iblis)
"Hahaha.. Menarik, bisa kau sebutkan namamu. Manusia rendahan."
"Kau tak perlu tau namaku, karena kau akan segera menemui ajalmu." Hikari menyerang secara vertikal dari jarak yang cukup jauh dan itu membuat sebuah tebasan angin tajam yang mengarah tepat ke arah raja iblis Shima.
Shima dengan mudah menebas tebasan angin itu menggunakan pedangnya."Pedang dengan jenis element angin, kah?.. Itu cukup menarik."
"Hanya seperti itu, kurasa kau memiliki kekuatan yang lebih besar daripada mereka berdua."
"Mereka berdua?"
"Iya, dua gadis cantik yang berasal dari kerajaan ini. Andai saja mereka menuruti keinginanku untuk melayaniku, pasti mereka berdua tidak akan mengalami hal seperti itu. Sangat di sayangkan."
"Oooo... Jadi kau, ya." Setelah mendengar hal itu, rambut merah Hiroaki bercampur dangan warna hitam, dan pedang Shirame juga mengeluarkan aura hitam pekat yang sangat kuat. "Baiklah, aku akan mulai serius sekarang."
Kemarahan dan kebencian Hikari bercampur dan menciptakan ke-2 warna itu.
"Bagus.. Kalau begitu, aku juga, akan mulai serius sekarang." Shima mengoleskan pedangnya dengan darah mayat para prajuritnya yang baru dibunuh oleh Hikari. Dan pedangnya mengeluarkan aura yang sama seperti kedua pedang milik Hikari.
Mereka berdua sama-sama maju dan mengadu pedang mereka.
Ctaangggg.
Bersambung
__ADS_1