
Malam hari, dihutan area barat.
“Hmm, kalau tidak salah dibagian sini. Shura, bisa turun didepan sana.”
Goarrrrr.
Shura perlahan turun tepat di tempat yang aku tuju. “Hmm, disekitar sini.”
Beberapa menit kemudian.
“Nah, ketemu.” Aku menemukannya. “Wah. Sudah rusak parah begini.” Rusaknya cukup parah. Aliran sihir pembatasnya sudah hancur, dan ini harus segera diperbaiki. “Paling tidak butuh waktu 15 menit untuk memperbaikinya.”
Setelah cukup lama kemudian.
“Haa, selesai juga.” Ini memakan waktu cukup lama dari yang aku kira. “Memperbaikinya lebih susah daripada membuatnya.” Aku memperlajari sihir, ya meskipun tidak begitu efektif. Sihir yang aku pelajari adalah Sihir pembatas, sihir yang digunakan untuk memberikan batas agar monster tidak bisa melewati batas itu. Tidak berpengaruh pada monster tingkat tinggi. “Hey kau, yang mulai tadi mengawasiku. Keluarlah.”
“Wah, wah. Aku ketahuan, ya.” Seseorang perlahan mulai keluar dari balik bayangan.
“Kau itu, siapapun yang dipelototi seperti itu pasti akan menyadarinya. Lalu, siapa kau?” Jika dilihat, dia adalah elf, tapi kekuatannya lebih mirip iblis. Karena jika tidak begitu, tidak mungkin seorang elf sampai bisa merusak pembatas ini. “Apa kau ingin membuat kekacauan disini? Atau kau sengaja melakukan ini untuk memancingku kemari?”
“Huh? Mana mungkin begitu.”
“Lalu, apa maksudmu merusak pembatas ini?”
“Aku tidak tau kalau ada pembatas disini, atau mungkin pembatas adalah sihir tingkat bawah. Makanya aku tak merasakan apapun meskipun sudah merusak pembatas yang kau buat.”
Mendengarnya cukup membuatku sakit hati, tapi mau bagaimana lagi yang dia katakan benar. ”Lalu, apa yang kau inginkan?”
“Aku dengar di dekat perbatasan benua iblis ada sebuah kerajaan yang sangat indah, jadi aku putuskan untuk mendatanginya.”
“Hanya itu?”
“Ya, hanya itu. Lagipula jika melawanmu, aku dipastikan akan kalah.”
“Jika itu yang kau inginkan, silahkan saja. Tapi, jika kau membuat masalah. Kau akan berurusan denganku.”
“Wah seram. Tapi tenang saja, kau bisa pengang ucapanku.”
“Baiklah.”
“Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi.” Ia pergi, tapi…
Ctakkk.
“Sialan kau!!!” Ia kembali merusak pembatas yang baru saja aku perbaiki.
Setelah cukup lama.
Kamar.
“Ha, ha. Sangat melelahkan.” Hampir 1 jam lebih aku meperbaikinya. “Sangat menjengkelkan.” Aku sudah melewatkan makan malam hari ini. “Haa, sudahlah.” Aku cukup kelelahan karena hal barusan, dan aku putuskan untuk tidur.
Pagi hari.
“Hiroaki, Hiroaki, cepat bangun.”
Aku perlahan membuka mataku. “Emi, ya. Sebentar lagi, 5 menit.”
“Hiroaki.” Emilia menggoyangkan tubuhku. “Cepat bangun, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”
“Haa. Bilang padanya, hari ini aku tidak ingin diganggu. Aku sangat mengantuk.”
“Hiroaki, ayo bangun.”
Entah apa yang terjadi, tapi sepertinya Emilia menarikku hingga aku terbangun. Sedangkan aku masih menutup mataku.
Gubrakkk.
“Empuknya.” Entah apa ini, tapi rasanya sangat lembut dan nyaman.
“H-Hiroaki.”
Beberapa saat kemudian.
“Awwwww. M-maaf.” Emilia memukul kepalaku dengan cukup keras.
“Sudahlah, cepat bersiap-siap.”
“Baik.”
“Oh, ya. Jangan lupa pakai pakaian seorang raja, dan segera pergi ke ruang pertemuan.”
“Haa, baik-baik.”
Beberapa lama setelah itu di ruang pertemuan.
“Maaf membuat kalian menunggu.” Aku masuk ke dalam ruang pertemuan, tapi..
“H-Hiroaki!!”
Duggg.
“A-Awwww.. Emi, ada apa?” Ia kembali memukul kepalaku dengan sangat keras.
“Jangan tanya kenapa!! Kenapa kau memakai pakaian biasa!!”
“Huh? Ini? Aku juga menggunakan mahkota, apa yang salah?” Mahkota adalah tanda bagi seorang raja, jadi wajar kalau aku memakainya.
“Tapi, pakaianmu.”
“Ahh. Karena merepotkan, aku tidak menggunakannya. Lagipula berat.” Setidaknya 1 setel baju raja lebih berat daripada Shirame.
“Kau itu...”
“Hahahaha.” Aku mendengar suara tawa, dan melihatnya.
__ADS_1
“Huh, k-kau!!” Dia adalah orang yang aku temui kemarin, orang yang sudah 2 kali merusak pembatas yang aku buat.
“Hiroaki, kau mengenalnya?”
“Ya, aku sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya.”
“Wah wah. Aku tak menyangka kalau kau adalah raja disini. Tindakanku kemarin sangat tidak sopan pada yang mulia, tolong maafkan saya.”
“Aku tak begitu mempedulikan hal itu. Lalu, apa tujuanmu kemari?”
“Saya pangeran dari kerajaan Dinra, Lauren Dinra.”
“Dinra?” Ini pertama kalinya aku mendengar kerajaan itu.
“Hiroaki, Hiroaki. Sini sebentar. (bisik-bisik)”
Aku mendekat kearahnya. “Emi, ada apa?”
“Dinra itu adalah salah satu kerajaan yang ingin mempersunting Sia sebelum Sia menikah denganmu.”
“Ahh.” Aku ingat, kalau tidak salah Sia dulu juga hampir terkekang oleh pernikahan politik, dan ternyata dia adalah calonnya yang dulu. ‘Eh, apa benar?’ Kejadian itu sudah lama dan aku tak ingat.
“Sebaiknya kau berhati-hati, aku dengar kerajaan Dinra sangat berbahaya.”
“Huh, berbahaya?”
“Ahh. Seorang raja meninggalkan tamunya, sungguh sifat yang tidak bisa dipuji.”
“Aku tidak butuh pujianmu, lalu apa maumu datang kemari? Jika kau ingin mengambil Sia, maka aku siap melayanimu.”
“Tidak tidak, tenang saja. Aku sudah menyerah tentang hal itu. Lagipula, aku pasti akan kalah jika melawan raja terhebat sepertimu.”
“Raja terhebat?”
“Maaf, akan aku jelaskan tujuanku kemari.”
Ia mulai menjelaskan.
“Hiroaki, bagaimana ini?”
“Hmm. Entahlah. Aku tak begitu paham dengan urusan seperti ini.” Ia mengajukan kerjasama antara kerajaannya dengan kerajaanku dalam bidang politik dan juga perdangan, tapi jika aku melanjutkannya, untuk memperkuat hubungan itu maka pernikahan politik akan terjadi, dan itu adalah hal yang paling aku benci.
“Hiroaki, bagaimana kalau kita tanyakan hal ini pada Rin dulu. Dia pasti tau apa yang harus kita lakukan.”
“Emi, biarkan saja.”
“Yang mulia raja, sepertinya anda sudah memutuskan. Lalu, apa jawaban anda?”
“Aku menolak.”
“Hiroaki.”
“Begitu. Jika seperti itu, hamba izin undur diri.” Ia pergi, entah kemana ia pergi tapi sepertinya ia ingin menikmati suasana baru dikerajaan ini seperti yang dikatakanya kemarin.
“Hiroaki, kenapa?”
“Kehidupan Inori?”
“Tidak ada apa-apa, lupakan saja.” Aku tidak ingin menjelaskannya.
Sore hari.
“Hi-chan, besok akan ada pertemuan dengan raja Arye, Erey, Isban, Kenar-..”
“Stop. Terlalu banyak, aku tak bisa mengingatnya.”
“Begitu.”
“Lalu, dimana pertemuannya?”
“Di ibu kota kerajaan Drenan.”
“Hmm? Dimana itu?”
“Eh, Sayang. Kau tidak mengetahuinya?”
“Eh, ya seperti itulah.” Aku hampir tidak mengetahui seluruh kerajaan yang ada di benua ini, aku hanya mengetahui kerajaan yang pernah aku datangi saja, selain itu aku tidak mengetahuinya.
“Tempat itu terkenal dengan sumber pemandian air panasnya.”
“Pemandian air panas, ya. Sudah lama sekali aku tidak ke pemandian air panas.” Setidaknya, sudah cukup lama sejak terakhir kali aku pergi ke pemandian. “Lalu, berapa lama?”
“Sekitar 3 hari.”
“3 Hari, ya. Apa kalian juga akan ikut?”
“Eh, pekerjaan kami masih banyak disini. Jika tidak segera diselesaikan, pembangunan akan terhambat.”
“Hi-chan, sebaiknya kau ajak Ai, dan juga Inori saja..”
“Ai, ya. Baiklah. Oh, ya. Bagaimana dengan Emilia?”
“Hmm. sebaiknya kau mengajaknya juga, lagipula kau tidak tau’kan tentang apa yang dibahas disana. Lagipula, ini pertama kalinya kau akan pergi ke pertemuan, bukan.”
“Y-ya, begitulah.”
“Emilia sudah tau kalau ada pertemuan, jadi aku rasa dia sudah bersiap-siap untuk hari ini.”
“Begitu, ya sudah.”
Aku baru pertama kali mendatangi pertemuan besar, karena sebelumnya aku sering bepergian jadi aku menyerahkan semuanya pada mereka. “Pemandian air panas, ya.” Sebenanya jika bisa, aku ingin mengajak mereka semua pergi, tapi pekerjaan mereka banyak dan mau tak mau mereka har/us menyelesaikannya.
Kamar Ai
“Ai, apa kau ada didalam?” Aku perlahan masuk ke kamar Ai. “A-A…”
__ADS_1
Gubrakk.
“M-Maaf. Aku akan datang nanti saja.” Aku pergi. Aku melihat sesuatu, sesuatu yang sangat indah tapi juga sangat berbahaya.
Hutan timur.
“Ha, ini rusak juga, ya.” Pembatas yang aku buat kembali rusak. “Apa aku harus belajar sihir baru, ya?” Belajar 1 sihir ini saja sangat merepotkan, apalagi jika harus belajar sihir baru, pasti akan melelahkan. “Shura.”
Groaaarrr
Aku naik ke punggung naga Shura dan pergi ke suatu tempat.
Setelah cukup lama setelah itu.
“Shura.”
Groaarrr.
Shura mendarat, dan saat aku turun Shura pergi. “Haa, sudah lama aku tidak kemari.”
“Ahh, ada tamu ternyata.”
“Ken, lama tidak bertemu.” Ken, saat ini sedang berada dalam wujud manusianya.
“Hiroaki, ada perlu apa kau kemari?”
“Tidak ada apa-apa, aku hanya bosan. Oh, ya ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Huh, ada apa?”
“Sebaiknya, kita cari tempat yang nyaman untuk berbicara. disini kurang nyaman.”
“Hmm. Begitu, baiklah.”
“Kalau begitu ikut denganku.”
Beberapa lama kemudian
Aku mendengar sesuatu yang tak asing bagiku. “Suara ombak?”
“Hey, ayo cepat.”
Kami sampai. “Wah, ternyata ada tempat seperti ini disini.”
“Aku biasanya selalu berada disini saat matahari terbenam, menikmati matahari terbenam dari tempat ini sangat nyaman.”
“Ahaha, aku sudah mendunganya.”
“Lalu, apa yang ingin kau bicarakan?”
“Oh, ya. Aku hampir lupa. Ini tentang adikmu, Shirayuki Amane. Aku sudah bertemu dengannya.”
“Hmm. Ya, aku sudah tau.”
“Huh? Kau sudah tau?”
“Iya. Aku sudah tau semuanya. Kau tidak mungkin lupa, kalau aku juga diberi izin untuk datang dan melihat tempat itu.”
“Ah, begitu.” Aku baru ingat.
“Tapi, aku tak menyangkan adik kecilku memilihmu.”
“Huh?”
“Meskipun sebagai seorang kakak aku sangat kesal karena dia memilih orang sepertimu, tapi jika ini keinginannya mau bagaimana lagi?”
“Huh, apa yang kau kataka... Awww.” Ken menjitak dahiku.
“Kau sering melakukan hal ini pada adikku’kan, aku sudah membalasnya. Meskipun masih ada hal lain lagi…”
“Ken.”
“Haa, sudahlah. Apa hanya itu yang ingin kau katakan?”
“Tidak masih ada hal lain lagi.”
“Apa?”
“Ini tentang mimpi yang pernah aku alami.”
“Mimpi?” Aku menjelaskannya, mimpi tentang semua orang yang saling bertarung. Setiap pertarungan dapat menghancurkan segala yang ada di sekitar mereka.
Beberapa lama setelah itu.
“Hmm, begitu. Entahlah, mungkin saja akan terjadi sesuatu yang besar padamu.”
“Sesuatu yang besar, seperti apa?”
“Entahlah, kenapa kau tidak bertanya saja pada dewa Sha.”
“Aku sudah bertanya padanya, tapi… ‘aku tidak peduli dengan mimpimu itu, sudah jangan ganggu aku, aku sedang sangat sibuk sekarang’. Begitu katanya.”
“Hmm, kau bisa anggap itu sebagai pertanda besar untuk hidupmu. Mungkin saja kehidupanmu akan berubah, ada yang bilang kalau mimpi adalah masa depan.”
“Masa depan, ya.” Dewa Sha saja tidak peduli, sebaiknya aku tidak usah begitu memikirkannya juga.
“Haa, mataharinya sudah terbenam.”
“Aku akan pergi.”
“Ya, terimakasih sudah menemaiku hari ini.”
“Aku yang seharusnya berterimakasih.”
Beberapa menit setelah itu di atas punggung naga Shura.
__ADS_1
“Masa depan, ya.” Entah kenapa kalimat itu terngiang di kepalaku. “Jika itu memang benar, apa aku akan mengalami masa depan seperti itu?” Sebuah pertarungan tanpa akhir..