Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
74


__ADS_3

Pagi hari, 10,21


Taman bermain.


Ia masih terlihat murung, dan itu cukup menggangguku. “Amane, apa yang terjadi denganmu?”


“Ehh. T-tidak ada apa-apa...”


“Jangan berbohong, aku tau kalau kau sedang memiliki masalah. Katakan saja.”


“Maaf.”


“Hmm?”


“Maaf, aku minta maaf.”


“Huh? Untuk apa?”


“Seharusnya aku tak mengetahuinya, aku minta maaf. hiks hiks.” Amane menangis.


“Haa, begitu, ya.” Aku mengelus kepalanya dan mencoba untuk membuatnya berhenti menagis. “Sudahlah, jika kau sudah mengetahuinya, mau bagaimana lagi.” Kemungkinan besar, ia sudah tau kalau sebenarnya aku bukan dari dunia ini dan orang yang memberitahukan hal itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Koujo Kotaro.


“Hiroaki. Aku, aku... A-awww.”


“Berhentilah menangis, hari ini aku tidak ingin melihat kesedihan seseorang. Hari ini, aku hanya ingin melihat semuanya berakhir bahagia. Jadi, berhentilah menangis.”


“Hiks, baik.”


Butuh beberapa saat untuk Amane berhenti menangis, dan setelah itu ia kembali seperti biasanya.


Sore hari, 17,02


Kami menikmati hampir seluruh wahana yang ada disini hari ini, dan tanpa disadari hari sudah sore.


Wahana terakhir sebelum kembali, kincir angin. Aku dan Amane sedang menaikinya. “H-Hiroaki.”


“Hmm? Ada apa?”


“Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”


“Apa?”


“Hiroaki... A-aku... Aku..” Entah kenapa, hari ini aku tak berniat untuk menghentikan apa yang ingin dia katakan, meskipun aku sudah mengetahui apa yang akan dikatakan olehnya. “Aku, menyukaimu.”


“Sebaiknya kau cari orang lain yang lebih pantas untukmu, kau juga pasti tau kalau aku bukan berasal dari dunia ini.”


“A-aku tau... Tapi, aku tetap mencintaimu. Aku rasa tidak ada orang sepertimu didunia ini.”


“Kau terlalu berlebihan. Dari 7 miliar lebih manusia yang ada disini, tidak mungkin kau tidak bisa menemukan orang yang cocok denganmu.”


“Tapi...”


“Ingat, hal yang tidak bisa diubah olehku adalah kepergianku dari dunia ini. Aku sudah diberikan waktu selama 5 bulan untuk berada didunia ini, meskipun 2 bulan aku sia-siakan percuma. Tapi intinya, kepergianku mutlak.”


“Begitu, maaf sudah bicara yang bukan-bukan.”


“Haa, sudahlah. Ayo kembali.” Permainan terakhir sudah selesai, dan saatnya kembali. Waktuku didunia ini hanya tersisa 2 hari lagi, dan itu dimulai besok. Entah apa yang akan aku lakukan, aku tak tau tapi sepertinya aku sudah tidak ingin melakukan hal lain lagi.


Malam hari, 20,23


Kediaman Shirayuki.


Makan malam sudah selesai, dan aku melakukan hal seperti biasa. “H-Hiroaki, ini tehnya.”


“Terimakasih.” Dan malam hari ini berlalu seperti malam-malam sebelumnya, sangat tenang.


Pagi hari, 09,32

__ADS_1


“A-Awww... Sepertinya, aku ketiduran.” Aku baru saja bangun dari tidurku, dan kepalaku terasa cukup sakit. Dan entah kenapa hari ini tubuhku terasa begitu lemas. 'Sepertinya, aku kekurangan mana.' Aku berbaring sembari menatap langit-langit.


“H-Hiroaki, kau sudah bangun.”


“Amane, ada apa?” Hari ini, ia terlihat berbeda.


“T-tidak ada apa-apa. A-aku akan menyiapkan sarapan dulu.”


“Eh, y-ya.” Meskipun begitu, setidaknya ia tidak terlihat murung seperti kemarin.


Setelah selesai sarapan.


“H-Hiroaki.”


“Hmm? Ada apa?”


“Ee... A-ano..."


“Ada apa?”


“B-Begini.”


“Haa, Amane, jika berbicara tatap mata lawan bicaramu. Jangan memalingkan pandanganmu ke segala arah.”


“M-Maaf.”


“Haa, jadi, ada apa?”


“Tidak jadi, maaf.”


“Haa.” Ia terlihat gugup, mungkin ia gugup karena hal kemarin yang ia katakan padaku. “Sudahlah.”


Hari ini berlalu tanpa ada apapun yang terjadi, dan begitu juga hari selanjutnya. Hingga pada akhirnya.


1 hari sebelum kembali.


“Besok, ya.” Meskipun aku tau kalau aku akan kembali besok, tapi aku tak tau kapan tepatnya. Dan sebaiknya aku tanyakan hal ini pada dewa Sha.


“Jam 18.00 tepat saat matahari tenggelam.”


“Begitu. Terimakasih informasinya dewa Sha.” Tak kusangka ia akan langsung menjawabnya, tapi kenapa tepat saat matahari terbenam, apa agar terlihat dramatis.


“H-Hiroaki, ini tehnya.”


“Ahh, terimakasih.”


“Hiroaki, kau akan kembali besok, kan.”


“Ya.”


“Begitu.”


“Oh ya. Besok apa kau mau ikut denganku?”


“Huh? Kemana?”


“Tidak usah banyak tanya, kau mau ikut apa tidak?”


“Baiklah..”


Besoknya.


Pagi hari, 09,21


Dalam perjalanan menaiki bus


“Hiroaki, kita mau kemana?”

__ADS_1


“Oh ya, sebelum itu. Karena kau tidak meminta apapun untuk hadiah perpisahan. Aku akan memberikanmu ini.”


“Kartu.”


“Aku sudah tidak membutuhkannya lagi, kau bisa gunakan itu untuk membeli barang apapun yang kau inginkan.”


“Begitu. Terimakasih.”


Setelah lama kemudian.


Kami sampai di tempat tujuan.


“Pantai?”


“Ya, mereka sepertinya sudah menunggu.”


“Mereka?”


“Ayo.” Aku bergegas pergi ke tempat yang sudah dijanjikan.


Beberapa menit kemudian.


“Kalian... Hiroaki, ada apa ini?”


“Seperti yang kau lihat, hari ini adalah hari terakhir musim panas dan sudah sepantasnya kita melakukan hal yang menyenangkan bersama.”


“Tapi.”


“Tenang saja, mereka sudah bergabung dengan kelompokmu.”


“Begitu.” Meskipun aku berkata begitu, rencana yang sudah aku siapkan beberapa hari terakhir ini cukup memakan waktu. Aku sampai hampir mengancam mereka untuk bergabung, karena jika tidak seperti itu aku yakin mereka tidak akan selamat di bencana yang akan datang selanjutnya.


“Koujo-kun, dimana dia?”


“Ahh. Dia tidak bergabung.” Ya, karena dia berbeda dia memutuskan untuk melakukan apa yang bisa dilakukan sendiri. Aku ingin mencoba untuk memaksanya ikut, tapi dewa Sha melarang.


“Begitu.”


“Sudahlah, ayo nikmati hari terakhir musim panas ini.”


Hari ini begitu tenang, hembusan angin dan suara ombak yang sangat tenang ini membuatku rileks. “Hiroaki, nanti malam ada pesta kembang api...”


“Ah, begitu.” Aku lupa dengan  hal itu, tapi karena dewa Sha sudah menentukan kapan aku kembali, maka aku tidak bisa membantahnya. “Maaf, tapi mau bagaimanapun sepertinya aku tidak bisa ikut. Aku akan segera kembali tepat saat matahari terbenam.”


“Begitu.” Amane kembali terlihat murung.


“Amane, kau harus bisa bertahan. Kau harus bisa lebih kuat. Bencana ini hanyalah permulaan, suatu saat nanti bencana sebenarnya pasti akan datang. Bencana kali ini, bisa dibilang kalau kemampuan kalian masih belum cukup, oleh karena itu aku datang kemari untuk membantu kalian. Tapi, untuk selanjutnya. Kau dan yang lain harus bisa menjaga dunia ini, lindungi dunia ini, oleh karena itu.. jadilah lebih kuat.” Entah apa yang aku katakan, tapi setidaknya setelah mendengar hal itu Amane tidak murung lagi.


Haripun berlalu.


Sore hari


17.51


Mereka semua sudah selesai mengganti baju renang mereka. “Kalian semua puas?” Tak menjawab, tapi aku bisa tau karena mereka semua tersenyum. “Jika kalian ingin hari-hari seperti ini berlangsung, jadilah kuat. Jauh lebih kuat dari yang sekarang.”


“Tapi, apa kami bisa?”


“Tentu saja, tidak ada yang tidak mungkin. Dengan kerja keras, kalian bisa melindungi dunia milik kalian ini. Dan jangan lupa untuk mencari guardian yang lain, karena jika kalian bersatu. Musuh sekuat apapun bisa kalian tumbangkan.” Mereka terlihat bersemangat setelah mendengar apa yang aku ucapkan barusan. “Baiklah.. waktunya aku pergi. Jagalah dunia ini dengan kemampuan kalian.”


“Hiroaki.”


“Huh?”


“Selamat tinggal.”


“(tersenyum) Selamat tinggal.”

__ADS_1


__ADS_2