Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
46


__ADS_3

Sore menjelang malam (petang) hari, jam 17.08


Saat ini aku tengah berada di dalam kondisi yang begitu gawat. "Berani-beraninya kau menodai putriku!!" (ayah Emilia) Yup, ayah Emilia sedang marah kepadaku, dan saat ini ia tengah mengacungkan pedang emas yang muncul entah dari mana tepat mengarah ke arahku.


"Woy, woy. Yang benar saja!!" Disaat seperti ini, aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Jika aku melawan, tapi aku tak bisa melakukan itu, karena mau bagaimanapun dia adalah orang tua Emilia. Dan aku tak tau harus melakukan apa di saat seperti ini.


"Sayang, apa yang kau lakukan?" (???) Aku mendengar suara seorang gadis tepat dibelakangku.


Aku berbalik dan memutuskan untuk melihat siapa itu. "Gadis?" Seorang gadis cantik sedang melihat kami. 


Emilia berlari menuju gadis itu, dan kemudian memeluknya. "Ibu..." (Emilia)


"I-ibu!!?" Dan ternyata, kenyataan yang mengejutkan kalau gadis itu adalah ibu Emilia.


"Sayang, apa yang kau lakukan." Ibu Emilia memandang ayah Emilia dengan tatapan yang begitu tajam.


"I-ini, bukan apa-apa." Seketika suasana kembali seperti semula, dan pedang emas yang dipengang oleh ayah Emilia lenyap.


"Emilia, kamu kembali, apa berarti kamu menyetujui pertunangan ini?"


Entah kenapa aku merasa percakapan ini langsung menuju ke inti pembahasan. "T-tidak ibu, aku kembali bukan untuk itu."


"Lalu, untuk apa? Bukannya ibu sudah memberimu waktu untuk berfikir, apa waktu yang ibu berikan masih kurang?"


"B-bukan. Aku kembali kesini, untuk..."


"Untuk?"


"Untuk menolak pertunangan ini." 


"Begitu. Lalu, apa kau sudah memilih pasanganmu?"


"Kalau itu..." Emilia menunjuk ke arahku.


"Begitu.."


"Hah? T-tunggu, pasti ada yang salah." (Ayah Emilia)


"Ada apa, sayang?"


"Bagaimana mungkin keluarga kita menerima bocah seperti dia."


Entah kenapa kata-kata ayah Emilia merasa menusuk ke jantungku. "Apa yang kau katakan pada papa!!" (Inori) Inori terlihat sangat marah karena ayah Emilia mencaciku, dan ini akan sangat berbahaya.


"I-Inori, tenangkan dirimu." Aku mencoba untuk menenangkan Inori.


"Tapi.. Tapi... Orang tua itu menjelekkan papa.. Ahhh!!!" Inori menangis.


"Hah.. Untunglah bisa aku cegah." 


Ibu Emilia kemudian mendekati Inori. "Namamu Inori'kan?"


"I-iya.."


"Sayang, apa yang kau lakukan. Jangan sentuh mons..."


"Sayang, bisa kau diam sebentar." Entah kenapa aku merasakan sebuah energi besar terpancar dari ibu Emilia dan itu membuatku merinding.


"B-baik." Sepertinya bukan aku saja yang merasa seperti itu, ayah Emilia juga.


"Inori, kenapa kau sedih?" Nada bicara ibu Emilia begitu lembut saat berbicara dengan Inori.


"O-orang tua itu.. Orang tua itu mengejek papa.."


"Sudah jangan sedih lagi..."


"T-tapi... 'hiks hiks'" Inori masih menagis.


"Nanti aku akan menghukumnya, bagaimana?"


"I-iya."


"Kalau begitu, jangan menagis lagi."


"Baik.." Tepat seperti apa yang dikatakan oleh ibu Emilia, Inori berhenti menagis.


Grrr. (perut Inori berbunyi)


"Inori, apa kau lapar?"


"Iya."


"Kalau begitu, bagaimana kalau kau makan dulu."


"Apa boleh?"


"Tentu saja."


"Apa mama Rin, mama Emilia dan papa akan ikut makan juga."


"Iya, mereka juga boleh ikut." Kemudian, ibu Emilia memengang tangan Inori. "Ayo." Ibu Emilia dan Inori berjalan menuju ke ruang makan. "Kalian semua, ayo cepat jangan cuma berdiri saja."


"B-baik." Kamipun mengikuti apa yang dikatakan oleh ibu Emilia.


--------- Beberapa menit kemudian ----------


[ Ruang makan ]


"Enakk!!" (Inori)


"Benar'kan." (Ibu Emilia)


"Hm.." Inori memakan makanan yang sudah disediakan oleh para pelayan.


-------- Beberapa saat kemudian ---------


"Jadi, kapan kau akan melamar anakku?"


"Ukh.." Aku terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh ibu Emilia, dan hampir saja aku menyemburkan makanan yang sedang aku makan ini. "Hahh? M-maksudnya?"


"Ibu jangan bahas hal itu.."


"Ada apa Emilia, ibu hanya ingin yang terbaik untuk putri ibu."


Entah kenapa pembicaraan ini mengarah ke hal yang lebih serius. "Tunggu tunggu tunggu.. Apa yang kau bicarakan sayang?" Ayah Emilia memotong percakapan mereka berdua.


"Bukannya kau sendiri pernah bilang, kalau Emilia sudah menemukan pasangan yang cocok dengannya, kau akan merestuinya, kan?"


"Memangnya aku pernah berkata seperti itu?"


"Tentu saja, saat Emilia pergi dari kerajaan ini, kau bilang padaku kalau seandainya Emilia kembali sambil membawa seorang lelaki, dan jika lelaki itu adalah pasangan yang dipilih Emilia, kau akan membatalkan pertunangan yang sudah kau siapkan. Bukankah begitu, sayang." Entah kenapa ibu Emilia berkata seperti itu sambil menatap tajam mata ayah Emilia.


"Y-ya, begitulah."


"Jadi, Hiroaki. Kapan kau akan melamar putri kami?"


"I-Ibu sudah hentikan." Wajah Emilia terlihat memerah, dan aku tak tau apa yang harus aku katakan di saat seperti ini.


"T-tapi, aku-.."


"Aku tau. Kau memiliki 2 pasangan lagi di kerajaanmu,kan."


"B-bagaimana anda bisa tau?" Aku cukup terkejut karena ibu Emilia mengetahui hal yang bahkan belum aku bahas.


"Apa!!!" (ayah Emilia) Ya, menurutku itu wajar karena mengetahui kalau aku mamiliki lebih dari 1 pasangan.

__ADS_1


"Ada apa sayang? Bukannya kau dulu juga berencana untuk melakukan hal yang sama?"


"I-itu.."


"Hal yang sama?" (Rin)


"Ya, ayah Emilia dulu pernah mencoba untuk mencari pasangan lain. Tapi, karena aku tak menyukainya aku memutuskan akan memberinya hukuman saat ia melakukan hal yang menurutku salah."


"Ehh.." Aku baru tau kalau ayah Emilia dulu seperti itu.


"T-tapi sayang, bukannya-.."


"Sepertinya putri kita tidak terganggu dengan hal itu. Benarkan, Emilia."


"...." Emilia hanya menunduk dan tak berkata apa-apa.


"Kalau begitu, sudah di putuskan. Pernikahan kalian akan diadakan 10 hari lagi di kerajaan ini."


"Ehh?? Eeeeehh!!!!"


---------- 9 hari kemudian -------------


Pagi hari, jam 10.03


[ Kamar ]


"Huh.." Saat ini aku tengah berbaring di kasur, tapi bukan kasur milikku melainkan kasur tamu. "Besok, ya." Aku tak diberi izin untuk kembali ke kerajaanku, dan aku juga tak bisa membatalkan pernakahan ini.


Hari ini adalah hari terakhir sebelum menuju pernikahanku dengan Emilia, tapi yang menjadi masalah adalah kenapa Rin tak terlihat tengganggu dengan hal itu. Beberapa hari terakhir aku melihat Rin sangat senang, aku tak tau alasannya.  Tapi sepertinya ia sudah tau, kalau aku akan menikah. "Huh.. Memikirkan hal ini membuat kepalaku pusing. Sebaiknya aku jalan-jalan saja."


Karena aku ada di kerajaan milik orang tua Emilia. "Sebaiknya aku memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari bahan yang bisa membuat kerajaanku semakin berkembang."


 --------- Di kota ---------


Pagi hari, jam 10.45


Karena kerajaan ini tidak cukup besar, aku hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di area perkotaan. "Wahh.. Jadi ini kota yang ada di kerajaan ini." Saat aku melihat sekeliling, aku merasa hanya ada sedikit perbedaan antara kerajaanku dan juga kerajaan ini. Yaitu hanya dalam segi ukuran saja, sedangkan hal lainnya hampir sama. Tapi meskipun begitu, entah kenapa hal itulah yang membuat kerajaan ini menarik, menurutku.


Aku baru menyadari kalau orang-orang tengah bersiap merayakan acara pernikahan besok, mereka menghias jalanan, dan juga rumah-rumah mereka dengan bunga-bunga yang indah. Hal ini persis seperti yang pernah aku lihat dulu, tapi saat ini adalah pernikahanku.


"Huh.. Apa aku bisa mengurus sebuah keluarga di usia yang masih muda ini, ya." Sebenarnya hal itu yang aku cemaskan. 


"Setidaknya kau harus berusaha dahulu, benar'kan."


Suara yang tak asing terdengar di kepalaku. "*Dewa Sha, kemana saja kau?"


"Ada apa, apa kau rindu denganku?"


"Bukan.."


"Lalu, ada apa?"


"Dewa Sha, ada yang ingin aku tanyakan padamu."


"Apa, tanyakan saja. Aku pasti akan menjawabnya."


"Beberapa hari lalu, aku bermimpi bertemu dengan ibuku."


"Jadi kau sudah bertemu dengannya, ya."


"Dewa Sha, jangan-jangan..."


"Ya, aku hanya ingin memberimu sedikit hadiah, lagipula ibumu bilang kalau ia ingin sekali bertemu denganmu meskipun sebentar, dan hal itu membuatku sedikit lelah. Oleh karena itu, aku beristirahat selama beberapa hari."


"Bagitu, ya. Dewa Sha, terima kasih."


"Ya. Sebaiknya kau harus bersiap untuk besok. Besok adalah hari yang sangat penting untukmu dan juga itu bisa berpengaruh dengan masa depanmu."


"Masa depanku?"


"Kalau begitu, sampai ketemu besok*." (menutup telepati)


-------- Berjam-jam kemudian ---------


Sore hari, jam 17.24


Hari semakin gelap dan mulai tadi aku hanya duduk terdiam memahami apa yang di sampaikan oleh dewa Sha. "Hah.. Sungguh rumit." Pada akhinya aku tak tau apa yang sebenarnya ingin dewa Sha sampaikan. "Sebaiknya aku segera kembali." Karena sudah seharian pergi, mereka pasti mengkhawatirkanku, mungkin.


----- Setelah cukup lama berjalan ------


[ Di dalam istana ]


Sore menjelang malam (petang) hari, jam 18.44


Semua orang yang ada di dalam istana ini sedang sibuk untuk menyiapkan acara untuk besok. "Sepertinya tak ada yang mengkhawatirkanku meskipun aku pergi dari kamar."


Akupun berjalan untuk kembali ke kamar dan segera istirahat, dan tepat saat aku ingin pergi. "Sia, Lia, Ai. Bagaimana kalian bisa ada disini?"


"Aku tak tau, kami hanya disuruh untuk ikut naik ke kereta kuda dan tiba-tiba kami dibawa kesini." (Sia)


"B-bagaimana dengan tugas-tugas kerajaan?"


"Kalau itu kau tenang saja." (ibu Emilia) Tiba-tiba saja ibu Emilia memotong pembicaraan kami. "Aku sudah mengirim orang-orang ahli dan terpercaya untuk mengurus kerajaanmu sementara."


"Huh? T-tunggu dulu, bagaimana bisa aku menyerahkan tugas kerajaanku kepada orang asing. Itu adalah tugas kerajaan yang harus aku tangani sendiri."


"Lalu, kenapa kau memberikan tugas itu kepada para pasanganmu jika itu memang sudah menjadi tugasmu?"


"I-itu..."


"Ada apa?"


"Huh, baiklah." Sejujurnya aku tak tau apa yang harus aku lakukan untuk menyelesaikan tugas kerajaan, dan menurutku melakukan pekerjaan seperti itu sangat membosankan.


"Kalau begitu, sebaiknya kalian semua segera beristirahat karena acaranya akan dimulai besok malam. Aku tak ingin melihat ada yang tidak bersemangat untuk acara besok."


Karena aku tak ingin mendengar apapun lagi, aku putuskan untuk kembali kekamar, dan segera beristirahat.


Malam hari, jam 12.00


"Ahhh!! Aku tidak bisa tidurr!!" Meskipun ibu Emilia menyuruhku untuk beristirahat, aku tak bisa beristirahat dengan suara berisik itu.


Aku memutuskan untuk menutup kedua telingaku menggunakan bantal agar aku tak bisa mendengar suara apapun.


--------------------


Pagi hari, jam 08.44


"Papa, bangun."


Aku perlahan membukan mata. "Inori, bisa biarkan papa tidur sebentar.." Aku tak bisa tidur nyenyak dan aku hanya bisa tidur beberapa jam saja, oleh karena itu aku sangat mengantuk hari ini, dan aku ingin tidur lebih lama lagi.


"Kalau begitu~.."


Aku merasa kalau Inori sudah tidak mengangguku lagi, dan karena aku sudah sangat kelelahan, aku putuskan untuk kembali tidur.


---------- Berjam-jam kemudian -----------


Sore hari, jam 15.23


Aku membukan mata. "Hooaamm.. Sepertinya aku sudah cukup tidur." Rasa kantukku hilang, aku merasa segar. "Huh, sudah sore?" Aku tak tau kalau aku tidur terlalu lama, atau bahkan ini terlalu lama. 


Saat aku ingin bangun dari tempat tidurku, tepat di sampingku aku melihat Inori yang sedang tidur nyenyak. "I-Inori.." Aku tak tau, tapi sepertinya dia ikut tidur bersamaku mulai tadi pagi.


"Inor..." Aku mencoba untuk membangunkannya, tapi karena Inori terlihat kelelahan aku membiarkannya. "Sudahlah, sebaiknya aku mandi dulu saja."

__ADS_1


----------- Setelah selesai mandi ---------


"Hoaaamm.." Inori bangun dari tidurnya.


"Kau sudah bangun Inori."


"Papa.. Pagi."


"Y-ya.." Aku tak tau harus mengatakan apa, tapi ini sudah sore.


Sfx : bunyi perut.


Aku mendengar suara, dan pastinya itu adalah suara perut orang yang sedang kelaparan."Inori, apa kau lapar?"


"Iya."


"Kalau begitu, ayo makan bersama."


"Baik." Kamipun berjalan menuju ke ruang makan, dan masih dalam keadaan yang sama, istana ini penuh dengan orang-orang yang sedang menyiapkan acara untuk nanti malam.


--------- Beberapa menit kemudian ---------


[ Ruang makan ]


Saat ini, aku tengah makan bersama dengan Inori dan anehnnya, mulai tadi aku tak melihat Rin ataupun yang lainnya. "Inori, apa kau tau dimana mamamu?"


"Mama? Tadi sebelum ke kamar papa, aku melihat mama Rin dan mama Emilia ikut dengan nenek."


"Nenek?" Apa maksud Inori adalah ibunya Emilia. "B-begitu, ya."


"Masa depan, ya." Entah kenapa aku masih memikirkan hal yang di katakan oleh dewa Sha padaku kemarin.


"Ada apa, pa?"


"Tidak ada apa-apa."


--------- Beberapa menit kemudian ----------


Kami selesai makan. "Papa, aku mau mencari mama dulu."


"Ya." Inori pergi, dan di ruangan makan ini hanya ada aku seorang. "Hah, bosannya." Kembali, rasa bosan ini menghantuiku. "Apa yang harus aku lakukan agar rasa bosan ini menghilang."


_________________


Malam hari, jam 19.00


[ Ruang Hias ]


"Nah, kau terlihat tampan sekarang. Coba lihat ke kaca." (Ibu Emilia)


"Haa, baik." Ibu Emilia saat ini sedang mendandaniku, dan entah kenapa ia sangat ingin mendandaniku. 


Aku melihat ke arah kaca. "Bagaimana, bukankah kau terlihat tampan."


"Y-ya." Aku tak tau harus berkata apa, menurutku ibu Emilia cukup ahli dalam melakukan hal seperti ini.


"Mulai saat ini, kau akan menjadi menantuku, dan saat ini pula kau bisa memanggilku ibu. (tersenyum)"


"B-baik, i-ibu." Meskipun begitu, dengan penampilan yang terlihat sangat muda itu, ia tak pantas di sebut sebagai seorang ibu.


"(memelukku) Mulai saat ini, tolong jaga putriku, ya."


"B-baik." 


Gubrakkk.


"Ibu!!" Pintu terbuka dengan cukup keras dan aku melihat seorang gadis yang belum pernah aku lihat datang menghampiri kami.


"Elliy, kau sudah kembali."


"Ee? Siapa dia?"


"Dia, dia adalah putriku dan adik Emilia, Elliy."


"Ibu, kenapa ibu tak memberitahuku tentang hal ini!!"


"Maksudmu pernikahan ini. Ibu rasa hal seperti ini tidak harus di beritahu kepadamu, lagipula kau'kan sering bepergian bersama Shu, jadi ibu tidak ingin mengganggu kalian."


Saat Ibu Emilia mengatakan nama Shu, entah kenapa aku merasakan sesuatu. "I-itu karena aku sering mendapat tugas."


"Oh ya, dimana Shu? Ibu tidak melihatnya?"


"Dia kembali, dia bilang kalau dia takut bertemu dengan ayah."


"Begitu, ya." Entah kenapa aku merasa tau alasan Shu tidak ingin bertemu ayah Emilia. "Sebaiknya kau segera bersiap-siap, upacaranya akan dimulai sebentar lagi."


"Baik." Elliy pergi.


------ Beberapa menit kemudian -------


"Selesai. Sekarang kau bisa pergi, ibu akan mendampingimu."


"Terima kasih." Aku merasa sedikit aneh. "Bukannya pengantin pria biasanya akan di dampingi oleh.." Setalah aku berfikiran seperti itu, aku mengingat kalau aku datang ke dunia ini hanya bersama dengan Rin, dan saat upacara pernikahan orang tua wajib untuk mendampingin para mempelai. Dan aku rasa Ibu Emilia sudah tau tentang hal itu, dan aku merasa terharu karena ibu Emilia mau medampingiku. "Terima kasih~.. (suara pelan)"


"Huh? Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa."


"Kalau begitu, ayo." Ibu Emilia berjalan tepat di sampingku.


--------- Beberapa menit berlalu -----------


Aku sampai di sebuah tempat khusus yang sudah di sediakan. "Ayo masuk." Ibu Emilia membuka pintu.


"Mempelai pria sudah datang." (???)


Dan saat aku melihat ke dalam. "Woy, woy, woy.. Yang benar saja!! Apa aku tidak salah lihat?"


"Ada apa, apa kau takut? Tenang saja, ibu ada di sampingmu."


"Bukan itu. Tapi, kenapa bisa jadi seperti ini. Mereka ber-4." 4, yup. Empat mempelai wanita sedang menunggu, dan aku sangat mengenal mereka semua. Rin, Emilia, Sia, dan Ai. Mereka ber-empat tengah menantiku.


"Ayo cepat, para tamu sudah menunggumu." Ibu Emilia menarik tanganku dan memaksaku untuk naik mengahampiri mereka ber-empat.


"Bagaimana bisa menjadi seperti ini!! A-apa aku harus menikahi mereka semua sekaligus."


"A-apa yang terjadi disini?" Aku mencoba untuk bertanya kepada pendeta yang berada tepat di sampingku.


"Baik, kita akan mulai upacaranya."


"Woy, dia mengabaikanku."


"Perwakilan dari penganti pria, silahkan maju." (pendeta)


Setelah mendengar hal itu, sedikit rasa sedih muncul. Itu karena aku sama sekali tak pernah terbayangkan kalau perwakilan pengantin pria juga harus ikut serta. Dan karena ini adalah dunia lain, aku hanya bisa pasrah. "Maaf terlambat, aku adalah perwakilan dari pengantin pria." (Dewa Sha) 


"Dewa Sha.." Aku merasa senang karena dewa Sha datang di saat yang tepat.


Dewa Sha langsung menghampiriku. "Maaf terlambat, aku cukup kesulitan untuk memilih pakaian yang akan aku gunakan."


Padahal dia dewa, tapi dia masih bisa bingung dengan hal seperti ini. "*Dewa Sha, terima kasih."


"Tidak usah berterima kasih, aku datang kemari karena ibumu yang memintaku untuk menjadi perwakilannya."


"Begitu, ya*."

__ADS_1


"Baik, kalau begitu. Kita mulai upacaranya." (dewa Sha)


Chapter 1, End...


__ADS_2