
"Awwww..." Tanpa alasan yang jelas, saat aku kembali dewa Sha tiba-tiba saja memukul kepalaku dengan cukup keras. "Dewa Sha, ada apa? Kenapa?!"
"Sudahlah, ayo cepat ikut denganku."
"Baik."
Beberapa saat kemudian.
"Ini." Sesuatu yang tak asing bagiku.
"Ayo cepat masuk."
"B-Baik."
Akupun masuk, dan disana... "Ai." Aku melihat Ai yang terbaring, luka yang ada ditubuhnya menghilang.
Ai perlahan membuka mata dan melihat ke arahku. "(tersenyum) Sayang..." Ia kembali menutup matanya.
"Seperti yang kau lihat, sesuai janjiku. Aku sudah melakukannya."
"Dewa Sha, terimakasih."
"Dia mungkin akan sadar setelah beberapa hari atau mungkin bisa lebih cepat. Tapi, aku tak menyangka kalau pengobatannya akan memakan waktu lebih dari yang aku bayangkan."
"Tapi dewa Sha, bagaimana dengan..."
"Tenang saja, kandungannya baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas."
"Dewa Sha. Terimakasih banyak." Mendengar hal ini membuatku sangat bahagia.
"Oh ya, sebaiknya kau menyiapkan dirimu untuk beberapa bulan yang akan datang."
"Huh, memangnya ada apa dewa Sha?"
"Sebuah ritual besar akan diadakan."
"Ritual? Ritual apa?"
"Saat waktunya tiba, aku akan mengatakannya. Cepat, pangku istrimu itu."
"Eh? B-baik." Aku menuruti apa yang dikatakan oleh dewa Sha dan memangku Ai. "Sudah." Clikk
"Eh?" Aku dipindahkan kekamar milik Ai, dalam keadaan memangku Ai.
Kreeek
Perlahan pintu terbuka.
"Eh? I-Inori." Itu adalah Inori, meskipun ia berbeda tapi aku merasa sangat yakin kalau itu adalah Inori.
"P-Papa? Kau benar papa, kan? (terkejut)"
"Inori, ternyata kau sudah tumbuh dewasa, ya." Pertumbuhannya lebih cepat dari apa yang aku bayangkan, padahal baru 5 bulan sejak aku pergi meninggalkannya. Saat ini, penampilannya sudah mirip seperti anak yang berusia 17 tahun. Dan aku rasa, pertumbuhannya berhenti disana.
Aku menidurkan Ai dikasurnya. "P-Papa, papa!!" Inori berlari dan langsung memelukku.
"Ahh, kau sudah tambah berat saja."
"Meskipun ucapan papa kejam. Tapi, aku senang papa kembali."
"Begitu."
__ADS_1
"Inori, apa yang..."
Seseorang datang.
"Ahh. Rin, Emilia." Mereka berdua datang kemari, mungkin karena mendengar suara Inori.
"Hi-chan, kau sudah kembali."
"Ya, aku pulang."
"Hmp, syukurlah kalau kau kembali, aku kira kau tidak akan pernah kembali. a-aku, cem..."
"Sia, dimana dia?"
"Ahh, dia sedang mengerjakan tugasnya."
"Begitu.. semuanya, maaf, ya. Karena aku sudah merepotkan kalian."
"Hmp, iya, kau memang sudah merepotkan kami. Tapi, syukurlah kau kembali dengan selamat."
"Huh? Emilia, apa kau mengatakan sesuatu."
"T-tidak ada apa-apa. Sudahlah, aku mau melanjutkan pekerjaanku." Emilia pergi.
"Inori, bisa lepakan..."
"Tunggu, sebentar lagi. Aku mohon."
"Haa, baiklah." Beberapa saat kemudian, ia melepaskanku.
"Ai."
"Dia sudah sembuh, menurut dewa Sha. Ai akan sadar setelah beberapa hari."
"Papa, apa papa setelah ini akan pergi lagi?"
"Sepertinya tidak, setidaknya untuk beberapa bulan kedepan."
"Eh? Benarkah?" (Rin)
"Iya, dewa Sha menyuruhku untuk bersiap-siap, dan ia memberiku waktu selama beberapa bulan. Saat waktunya tiba, ia akan langsung memanggilku."
"Begitu. Lalu, bagaimana dengan kandungan Ai?"
"Tenang saja, semuanya baik-baik saja. Dewa Sha sudah... Eh?" Pandanganku terasa kabur dan tubuhku menjadi begitu berat.
Gubrakkk
"Ada apa ini?" Perlahan kesadaranku mulai menghilang, dan aku merasa sangat mengantuk. 'Haa, sepertinya aku butuh sedikit istirahat.' Aku membiarkan rasa kantuk ini menguasaiku. 'Selamat tidur.'
Tengah malam.
Perlahan aku mulai membuka mataku karena mendengar suara lantunan lagu dan yang pertama kali aku lihat. "Sia."
"Sayang, kau sudah sadar, ya."
"Apa yang terjadi padaku?"
"Kau kekurangan mana."
"Begitu." Aku sudah menduga kalau aku kekurangan mana, tapi aku tak membayangkan akan jadi seperti ini.
__ADS_1
"Dan juga..."
"Huh?"
"Aliran mana miliku sangat kacau, apa yang sebenarnya kau lakukan hingga jadi seperti ini?"
Mungkin ini efek dari pertarungan itu. "Tidak ada, aku mungkin berlebihan menggunakan mana. Maaf."
"Tidak usah meminta maaf."
"Kalau begitu, terimakasih."
"Huh?"
"Menyalurkan mana padaku sebanyak itu, kau pasti kelelahan.. tapi, kau masih melakukannya."
"Aku juga dibantu oleh Lia, kok."
"Tapi, dia hanya membantu sedikit bukan. Kapasitas mana yang Lia miliki sedikit berbeda denganmu. Jadi saat dia sudah tidak mampu kau menggantikan tempatnya. Apa aku benar?"
"Sayang. Kau sudah banyak berubah, ya."
"Eh? Berubah?"
"Saat ini, aku melihatmu seperti seorang yang mempedulikan orang lain, berwibawa, dan bertanggung jawab. Dan kau juga... K-Kau t-terli..."
"Huh? Apa ?"
"Kau terlihat begitu keren..."
Mendengar hal itu, aku hanya bisa tersipu malu. Aku tak menyangka kalau Sia akan berkata seperti itu. "Terimakasih."
"Sayang, apa aku boleh..."
"Hmm, ada apa?"
"Tidak jadi, aku akan kembali ke kamar."
"Begitu, selamat malam."
"Selamat malam." Dan hari ini, aku kembali ke dunia milik dewa Sha, dunia dimana keluarga milikku berada. Dan kehidupan sehari-hariku sebagai seorang raja yang payah, akan dimulai.
_____________________
Sementara itu.
"Dewa Sha, apa persiapannya sudah selesai?"
"(tawa jahat) HAHAHAHAHA... Kau meremehkanku, persiapannya sudah matang."
"Begitu, berarti tinggal menunggu waktu saja."
"Ya. Last battle. Dimana seluruh karakter utama dari berbagai dunia akan berkumpul di satu tempat untuk mendapatkan kemenangan, dan dari sekian banyak peserta, hanya 10 orang yang akan mendapatkan kemenangan itu."
"Dan setiap peserta yang menang akan diberikan 1 permintaan. Dan tak peduli apapun permintaan itu, akan dikabulkan meskipun menjadi dewa sekalipun. Begitu, kan."
"Haa, Dewa Kei kau mencuri kata-kataku."
"Hahahaha. Maaf, tapi kapan waktunya?"
"Entahlah, tunggu saja. Waktunya, akan segera tiba. Nantikan saja."
__ADS_1
__________ THE END____________
See you on the next Story...