Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
3


__ADS_3

Esok harinya di pagi hari.


“Emi, Ai, Inor… Eh, dimana Inori?”


“Inori, sepertinya dia tadi diajak bermain oleh temannya.”


“Ehh? Apa dia tidak ingin ikut?”


“Sepertinya dia lebih memilih bermain bersama dengan temannya.”


“Haa, begitu. Sudahlah. Emi, Ai. Kalian bisa naik duluan, aku ingin mengambil sesuatu.”


“Huh, baiklah.” Mereka berdua naik ke punggung naga Shura.


Aku kembali masuk kedalam istana. “Hmm.” Sebenarnya tak ada yang ingin aku ambil, hanya saja saat ini aku sedang kebingungan.


“Hi-chan, apa yang kau lakukan disini?”


“Ah, t-tidak ada apa-apa.”


“Emilia dan Ai sedang menunggumu, sebaiknya kau bergegas.”


“Rin, apa kau serius tidak mau ikut?”


“Eh? Aku masih memiliki banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, jadi aku tidak bisa ikut.”


“Begitu.”


“Tenang, saja. Aku dan Sia akan baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir, nikmati saja liburanmu.”


“Liburan, ya.”


“Rin, apa yang kau lakukan. Ayo cepat, pekerjaan kita sangat banyak.” (Sia)


“Ah., baik. Aku pergi dulu.”


“Ya.” Rin dan Sia terlihat begitu sibuk setiap hari, aku jadi khawatir dengan keadaan mereka. “Ha.. andai saja aku bisa meringankan beban mereka.”


Beberapa lama kemudian di atas punggung naga Shura.


“Hiroaki, ada apa? Mulai tadi kau termenung. Apa ada masalah?”


“Tidak ada apa-apa.. aku baik-baik saja, maaf membuatmu khawatir.”


“Ai, apa masih jauh?”


“Iya, setidaknya beberapa jam lagi.”


“Biasanya akan memakan waktu sampai 1 hari untuk bisa sampai ke kerajaan Drenan, tapi dengan naga Shura kita bisa mempersingkat waktu perjalanan.”


“Ha.. Emi, Ai, saat sudah sampai. Bangunkan aku, ya.”


“Baik.”


Karena berada diatas naga Shura, aku tidak bisa melakukan hal lain dan karena itu tidur merupakan cara terbaik untuk menghabiskan waktu. Aku perlahan menutup mataku. “Selamat tidur.”


-----------------


“Mimpi ini lagi, ya.” Mimpi yang sama untuk kedua kalinya, tapi kali ini berbeda. “Kuat, mereka semua sangat kuat.” Kekuatan yang mereka miliki berada ditingkatan yang berbeda dariku. Jika sampai aku melawan mereka, aku kemungkinan besar akan kalah.


“Ini, mimpi buruk.”


_______--_______


Sore hari


“Sayang… Bangun, kita sudah sampai.”


Aku perlahan membuka mataku. “Ai.” Ai sedang memangku kepalaku. “Haa.” Aku sudah mulai terbiasa dengan hal seperti ini, lagipula hal seperti ini sudah wajar terjadi.


Grooaaarr.


Kami mendarat agak jauh dari kerajaan Drenan, dan Shura terbang pergi. “Sayang, ayo cepat berangkat sebelum matahari terbenam.”


“Baik.” Aku berjalan mengikuti Emilia, dan Ai.


Beberapa lama setelah itu, di dalam kerajaan.


“Emi, apa yang mereka tanyakan?”

__ADS_1


“Mereka bertanya kita dari kerajaan mana, dan apa tujuan kita datang kemari. Dan saat aku jelaskan, mereka terlihat terkejut. Mereka kembali bertanya kenapa kita datang kemari tanpa satupun prajurit.”


“Haa, pantas saja lama.”


“Oh ya, ngomong-ngomong dimana Ai?”


“Dia tadi duluan, katanya dia lapar mungkin dia sedang mencari makanan.”


“Hmm, begitu. Kesini, kita terlihat bukan sedang bekerja, ya. Malah lebih terlihat seperti sedang berlibur.”


“Benar juga.” Tanpa satupun pengawal, wajar saja Emilia berkata seperti itu. “Oh ya. Emi, kapan rapatnya akan dimulai?”


“Nanti malam, oh ya. Saat rapatnya dimulai, aku ingin kau diam saja.”


“Huh? B-baiklah.” Aku tau alasannya, itu mungkin agar aku tidak memperburuk keadaan nanti makanya Emilia bilang seperti itu padaku.


“Hiroaki, sebaiknya kita cari Ai, kita harus bersiap-siap untuk rapat nanti malam.”


“Benar juga.” Kami bergegas mencari Ai yang tengah berkeliaran di kerajaan ini.


Beberapa lama kemudian, di malam hari yang cerah.


Istana kerajaan Drenan


“Hiroaki, bagaimana? Apa ini cocok?”


“Huh? Ah, iya, baju itu sangat cocok denganmu.”


“B-Bagaimana denganku? Tapi, b-bukannya ini, terlalu...”


“(tersenyum) Kalian sangat cantik.” Mereka berdua memakai pakaian yang sudah disediakan disini, dan mereka cukup cocok dengan pakaian yang ada disini. Meskipun begitu, semua pakaian yang mereka gunakan akan terlihat sangat cocok. Setidaknya itulah penilaianku pada mereka.


“Terimakasih.”


“Hiroaki, kenapa kau tidak memakai pakaian yang sudah disediakan?”


“Ahh. Aku lebih nyaman menggunakan pakaian ini, lagipula pakaian ini mengandung sihir. Jika pakaian ini aku lepaskan, aliran sihirnya akan keluar. Dan itu sedikit berbahaya.”


“Begitu, ya sudah, ayo cepat kita bergegas.”


Aku berbohong. Tidak ada yang namanya sihir dipakaianku, aku hanya tidak ingin menggunakan pakaian yang sudah disediakan ini. Pakaian untuk gadis sangat bagus dan imut, sedangkan untuk laki-laki. Sangat mengecewakan.


Di disini sangat ramai, lebih ramai dari apa yang aku bayangkan. “Baiklah, kita mulai rapat kita kali ini.” (???)


Beberapa menit kemudian.


Entah apa yang mereka bahas disini, aku sama sekali tidak mengetahuinya. Emilia menyuruhku untuk diam selama rapat berlangsung, dan aku menurutinya, hingga pada satu waktu.


“Raja dari kerajaan Riel, kenapa anda hanya diam?” (???) Salah satu raja yang entah dari kerajaan apa memancingku. “Membiarkan pelayanmu berbicara menggantikanmu, bukankah itu sedikit tidak sopan.”


Mendengar hal itu, membuatku emosi. Aku mulai berdiri, tapi. “Hiroaki, jangan... (berbisik)” Emilia menahanku. Ini pertama kalinya aku datang ke rapat, dan salah satu dari mereka menjelekkan orang yang berharga bagiku.


“Aku dengar kalau kau adalah raja terkuat, apa kau ingin beradu pedang denganku?”


“Raja dari kerajaan Yunas, tolong jangan membuat keributan.” (???)


“Ahh, maaf.”


Aku ingin sekali melawannya, tapi Emilia dan Ai menahanku. Sepertinya mereka tau kalau soal pertempuran, aku sudah pasti tidak akan sungkan untuk menolaknya.


“Yo, lama tak jumpa.”


“D-Dewa Sha.” Aku tiba-tiba saja berada di istana langit milik dewa Sha. “Dewa Sha, ada apa? Kenapa tiba-tiba, aku ada rapat sekarang.”


“Ahh. Rapat yang tidak penting itu, sudah abaikan saja. Aku ingin meminta kedua pedangmu.”


“Huh? Untuk apa?”


“Peningkatan.”


“Peningkatan?”


“Tubuhmu sudah mulai terbiasa dengan sihir yang besar, jadi aku ingin mengembalikan setidaknya 80% kemampuan yang aku ambil secara diam-diam dari kedua pedangmu.”


“Huh? 80%. Jadi, selama ini…”


“Ya, selama ini kau tidak pernah menggunakan seluruh kemampuan pedangmu, tapi setidaknya sekarang kau sudah bisa menggunakan 20-30% kemampuan asli dari pedangmu.”


“20-30%...” Itu bukan angka yang kecil, dan juga kemampuan itu mungkin sudah bisa digunakan untuk menghancurkan separuh dunia. “Tapi, kenapa?”

__ADS_1


“Hmm, bisa dibilang sebagai antisipasi.”


“Antisipasi?”


“Beberapa bulan kedepan, kau akan aku kirim ke sesuatu tempat.”


“Kemana?”


“Saat waktunya tiba, kau akan tau... Sudahlah, cepat serahkan kedua pedangmu itu padaku.”


“Baik. Shirame, Ryuga.” Shirame dan Ryuga muncul dan aku kemudian memberikannya pada dewa Sha.


“Saat aku sudah selesai, aku akan lansung mengembalikannya.”


“Baiklah.”


“Kalau begitu, aku akan mengirimmu kembali.”


“Baik.”


---------------


Aku kembali ke tempat rapat. “Huh? Ada apa?” Mereka semua terlihat kebingungan.


“M-Maaf.” Emilia dan Ai menarikku. “Ayo ikut dengan kami sebentar.”


Beberapa saat kemudian.


“Emi, Ai, apa yang terjadi? Kenapa mereka kebingungan seperti itu? Apa ada yang terjadi dengan bahasan kalian?”


“Hiroaki, apa dewa memanggilmu barusan?”


“Huh? Ah, ya seperti itulah. Ia bilang kalau dia ingin memperkuat pedangku, makanya dia memanggilku tiba-tiba.”


“Apa dia tidak tau kalau kita sedang rapat.”


“Dia tau, tapi dia bilang… ‘Rapat yang tidak penting itu, sudah abaikan saja.’ Begitu.”


“Tapi, pergi ditengah-tengah rapat itu sangat tidak sopan.”


“Hmm. Mau bagaimana lagi, lagipula dewa Sha sendiri yang memanggilku dan aku tidak memiliki kehendak untuk menolaknya.”


“K-Kau memang benar, tapi…”


“Haa, sudahlah. Jika kalian masih ingin melanjutkan rapat itu, silahkan saja.”


“Hiroaki, kau mau kemana?”


“Aku mau pergi. Aku sama sekali tidak berguna berada disini.” Aku pergi meninggalkan mereka.


“Sepertinya dia kesal.”


“Ya.”


----------------------


Malam hari.


“Rapat, apanya yang rapat. Disana hanya ada perkumpulan para raja yang haus akan harta.” Setidaknya itulah yang ada pikiranku. “Ini masih hari pertama.” Masih tersisa 2 hari lagi, aku harap aku bisa melewatinya dengan tenang.


Beberapa lama setelah itu, di taman.


Aku tengah duduk di bangku taman yang ada disini, dan mencoba menikmati malam yang tenang ini dengan damai. “Wah wah.. seorang raja tanpa satupun prajurit, bukankah hal itu sedikit nekat.”


Seseorang mendekatiku dengan cukup banyak prajurit yang mengawalnya. “Siapa kau?”


“Hey hey. Jangan bilang kau sudah lupa denganku. Aku Sreder Yunas, raja dari kerajaan Yunas.”


“Huh? Lalu, ada masalah apa? Kenapa kau mengganggu malamku yang tenang ini cepat pergi, prajuritmu itu mengganggu pemandangan.”


“Hahahaha.”


“Apa yang kau tertawakan?”


“Tidak ada, aku hanya tidak menyangka kalau kau akan berkata seperti itu.”


Dia, sangat menyebalkan. Setidaknya itulah yang bisa aku simpulkan setelah bertemu dengannya dan melakukan pembicaraan singkat ini. “Sudahlah.” Aku perlahan pergi dari tempat ini.


“Raja dari kerajaan Riel, apa kau mau bertarung melawanku?”

__ADS_1


__ADS_2