Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
34


__ADS_3

Semua tembakan yang mengarah ke arahku seakan terasa seperti sebuah debu saja. Tepat sebelum menyentuhku peluru yang ditembakkan padaku berubah menjadi abu. “Hmm… Sudah cukup main-mainnya.”


“S-Siapa kau sebenarnya?”


“Ah… Aku sudah berkali-kali mendengar perkataan yang sama. Aku bosan mendengarnya. Selamat tinggal.” Aku menjeltikkan jariku seperti yang dilakukan dewa Sha. “Menghilang.” Orang yang menembakiku menghilang. “I-Ini… Sangat hebat!!” Julukan dewa sementara ini sangat hebat, ini sama saja aku mirip seperti seorang dewa.


“Hey kau!! Jangan bergerak!!”


“Eh… Masih ada, ya.” Tanpa aku sadari, sudah banyak pasukan yang mengepungku. “Ah… Maaf, aku tidak punya waktu untuk melayani kalia.” Aku kembali menjeltikkan jariku, dan mereka semua menghilang.


--------------------


“Komandan, ada kabar buruk.”


“Ada apa?”


“Pasukan kita…”


“Ada apa?”


“Pasukan kita lenyap dari radar.”


“A-Apa yang kau katakan!”


“Maaf komandan, tapi beberapa saat lalu mereka semua tiba-tiba menghilang dari radar.”


“Cih, apa mereka dikalahkan?”


“Sepertinya begitu, dan radar yang dipasang pada mereka sepertinya ikut dimusnahkan.”


“Siapa yang melakukan hal itu?”


“Saya belum mendapatkan informasinya, tapi mungkin beberapa saat lagi informasi baru akan segeradi dapatkan.”


“Begitu… Woy, kerja yang cepat. Hancurkan saja pintu itu dengan apapun.”


“B-Baik.”


“Lapor komandan.”


“Ada apa lagi!!”


“Dynamit yang kita bawa sudah hampir habis.”


“Cih, menghancurkan pintu ini saja butuh waktu yang lama. Kerja kalian memang tidak becus.”


-----------------------


“Ketua, tempat apa ini?” (Rath)


“Ini adalah tempat perlindungan terakhir di markas ini ‘Bangker khusus’. Ketua Leon yang membuatnya.”


“Bangker khusus.” (Roy)


“Ya, dengan beberapa peralatan dan juga bahan yang ia dapatkan. Ia membuat bangker khusus ini. Setidaknya tempat ini bisa menahan panas hingga 1000 derajat dan ledakan yang hampir setara dengan bom atom.”


“Hebat.”


“Ya, tapi ini adalah tempat pertahanan terakhir kita. Setidaknya kita bisa aman jika berada disini, dan kita bisa membuat rencana disini.”


“Baik.”


------------------------------


“Hmmm… Semua disini sudah selesai.” Aku berencana untuk menyusul Disk dan yang lainnya, tapi di tengah perjalanan. “Alicia…” Tubuhnya terluka. “Cih, dasar dewa Wan.” Aku terkejut dengan apa yang aku lihat, ada darah yang keluar dari tubuh Alicia. Beberapa bagian tubuhnya sudah menjadi daging, aku tak tau kenapa tapi itu pasti ulah dari dewa Wan.


“Maaf, aku harus membantu yang lain dulu.” Aku meninggalkannya ditempat yang aman.


Tak terasa berat saat aku mengangkat tubuhnya, berat tubuhnya seperti seorang gadis biasa. “Begitu, ya…” Dewa Wan berencana untuk menjadikannya manusia, dengan perlahan mengubah sikap dan juga tubuhnya. Jika seperti itu wajar kalau ia bisa menagis dan juga sakit hati.


“Aku akan menolong mastermu, kau tunggu disini sebentar.” Aku tak tau dia mendengarku apa tidak. Aku segera pergi.


-------------------------


“K-Komandan, ada kabar buruk.”


“Ada apa?”

__ADS_1


“S-Seseorang yang dibawa oleh pasukan tadi, tiba-tiba menyerang pasukan lainnya.”


“Dia… Cepat habisi dia, dia cuma sendiri.”


“M-Maaf ketua, tapi…”


“Ada apa?”


“Ha… Apa ini yang terakhir.”Aku menghilangkannya, dan musuh ditempat ini sudah menghilang seluruhnya. Tinggal musuh yang ada didepanku.


“K-Kau… Siapa kau-...”


“Stop, hentikan kata-kata itu… Aku sudah muak mendengarnya. Lebih baik, kau… Menghilang saja.” Dia menghilang.


“Ahh… Sekarang tinggal para kroco-kroconya, ya.”


-------------------------------


“Komandan, bagaiamana?”


“Tunggu sebentar…”


“Mereka sudah hampir mengancurkan pintu pelindungnya.”


“Tunggu sebentar, lagi…  Aku masih memikirkan sesuatu. Pikir, pikir, pikir, ayo pikir!!!”


Sfx : ledakan


Pintu bangker berhasil dihancurkan. “Sial… Semuanya, tebak orang yang masuk ke dalam bangker ini.”


“Baik.” Mereka mulai menembak.


Sfx : Tembakan.


Setelah beberapa menit, mereka kehabisa peluruh. “Bagaimana?” Asap mengepul akibat dari tembakan yang mereka lancarkan. “Apa mereka sudah kalah?”


“Woy… Apa yang kalian lakukan. Main tembak saja.”


“K-Kau…”


“Cih… Asal tembak saja, jika bukan aku mungkin orang lain akan mati.” Mereka tiba-tiba saja menembakiku saat aku mengancurkan pintu bangker ini. Pedang Ryuga yang aku gunakan untuk menghancurkan pintu ini menghilang.


“Stop… Aku sudah berulang kali mendengar hal itu. Aku tidak ingin mendengarnya lagi.” Entah sudah berapa kali aku mendengarnya, aku jadi bosan. “Sudah, ayo keluar. Musuhnya sudah habis.”


“Dia… Bisa bertahan setelah ditembaki oleh kita.” (Gil)


“Dia, bukan orang biasa.” (Roy)


“Woy, apa kalian masih ingin berada didalam sana?”


Seluruh pasukan musuh setidaknya sudah aku bereskan, tapi aku cukup malas untuk memperbaiki ini semua. “Oh, ya.. Disk, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”


“Denganku?”


“Ya, ini soal Alicia.”


“Alicia… Apa yang terjadi dengannya, apa dia tertangkap?”


“Sebelum itu, aku ingin kau ikut denganku.”


----------------------


“A-Alicia!! Apa yang terjadi denganmu?! Alicia..”


“Dia terkena tembakan, karena ia tidak pergi selangkahpun dari tempat itu.”


“Begitu… Bodohnya aku.”


“Ah… Kau baru sadar, ya.”


“Tubuhnya, berdarah.” (Gil)


“Kau benar, padahal dia robot, tapi… Bagaimana hal ini bisa terjadi?”


“Disini, aku ingin melakukan pertukaran.” Sebenarnya aku tak ingin melakukan ini, tapi mau bagaimana lagi.


“Pertukaran, apa yang kau inginkan?” (Disk)

__ADS_1


“Hancurkan perusahaan uang membuat cyborg dan sebagai gantinya. Aku akan mengembalikan Alicia seperti semula.”


“Apa yang kau katakan, sudah jelas itu mustahil.” (Roy)


“Baiklah. Akan aku akan melakukannya.”


“Ketua…”


“Ini adalah masalahku, dan lagipula ini adalah kesalahanku. Jadi, setidaknya aku ingin melakukannya.”


“Tapi ketua, dia sudah rusak parah seperti itu. Mustahil untuk memperbaikinya.”


“Tidak, itu justru sangat mudah.”


“Mudah.”


“Ya. Oleh karena itu aku ingin pertukaran yang sebanding dengan kehidupannya.” Sebenarnya aku ingin langsung saja mengakhiri ini, tapi aku rasa aku tidak bisa menggunakan berkat ini langsung pada ketidakstabilan itu sendiri. Oleh karena itu, aku melakukan hal ini untuk mendapatkan kelompok.


“Jangan bercanda.” (Groes)


“Tenang saja, aku akan membantu kalian. Dengan begitu, kejadian yang terjadi seperti ketua kalian sebelumnya tidak akan terjadi.”


“Kau…” Ia mendekat ke arahku.


“Groes, sudah cukup.”


“B-Baik.”


“Kalau begitu, kita berangkat sekarang.”


“Tunggu, sekarang…” (Roy)


“Ya, ini adalah saat yang tepat.” Mereka kehilangan hampir ¼ pasukan mereka, itu bisa menguntungkan untuk. “Saat ini adalah saat yang sangat bagus untuk melakukannya.”


______________________


Pintu kamar terbuka


“Rin, kau sudah merasa baikan?” (Sia)


“Ya, setidaknya aku sudah tidak demam lagi.”


“Lalu, bagaimana dengan Ai?”


“Dia sedang istirahat, dan sepertinya demamnya sudah hilang.”


“Begitu, syukurlah.”


“Emilia, dimana dia?”


“Dia pergi untuk mengerjakan pekerjaan yang belum selesai.”


“Begitu…”


“Tunggu, Rin kau mau kemana?”


“Menyelesaikan pekerjaanku, Emilia pasti sedang kesulitan saat ini karena mengerjakan bagian yang bukan miliknya.”


“Tidak boleh, kau harus beristirahat dulu. Tubuhmu belum pulih sepenuhnya.” Dia menarik tangan Rin dan masuk kembali ke kamar setelah itu kembali membaringkan Rin dikasur yang ada di sana. “Kau harus istirahat dulu, jika kau butuh sesuatu katakan saja.”


“Terima kasih.”


“Tidak masalah.”


___________________


Disebuah tempat di istana langit milik dewa Sha


“Maaf, ya.”


“Untuk apa?”


“Akibatku, kau menjadi 2.”


“Tidak masalah. Lagipula aku senang melihat diriku yang lain bahagia dengan orang yang dia pilih.”


“Begitu...”

__ADS_1


“Jangan murung begitu… Disini, aku akan terus mencintaimu.”


“Terimakasih.” Sebuah harta berharga, lebih berharga dari apapun. “Aku juga.”


__ADS_2