
Beberapa jam kemudian
“Haa, waktu berjalan sangat lambat.” Perbedaan waktu disini sangat berbeda, sudah hampir 4 jam aku berjaga tapi ini terlihat masih tengah malam. “Seberapa luas sebenarnya dunia ini?” Semakin luas dunianya maka semakin lama juga waktu berlalu, setidaknya seperti itu.
Beberapa lama kemudian.
“Hiroaki, waktunya rotasi.” (Ersen)
“Huh? Ersen, sekarang giliranmu, ya.”
“Ya. Apa ada sesuatu yang mencurigakan di sekitar markas?”
“Tidak ada, semuanya aman terkendali.”
“Begitu, sekarang kau boleh beristirahat.”
“Baiklah. Oh ya, apa aku boleh tidur di luar markas?” Karena aku baru, aku tak begitu nyaman jika harus tidur berdampingan dengan mereka, oleh karena itu aku memilih untuk melakukan ini. Lagipula tidur diluar itu tidak buruk.
“Silahkan saja, lagipula kebanyakan anggota kelompok ini memilih untuk tidur di luar markas.”
“Begitu.”
“Tapi, jangan tidur terlalu jauh. Itu sangat berbahaya.”
“Baik.” Aku pergi mencari tempat yang nyaman untuk istirahat.
Beberapa lama kemudian.
Di atas tebing.
“Haa. akhirnya sampai juga.” Sebuah padang rumput luas berada tepat diatas tebing tempat markas berada. Untuk naik kemari butuh usaha yang ekstra karena aku harus melewati tebing untuk naik kemari.
“Huh? Siapa?”
“Ahhh, m-maaf menggangu.” Aku tak menyadarinya, tapi ada orang lain disini.
“Hiroaki, ya.”
“Ketua.” Ternyata ada ketua Itsuki disini. Ia tengah berbaring sembari menikmati malam yang tenang ini.
“Apa yang kau lakukan disini? Apa kau sudah melakukan rotasi?”
“Iya, dan sekarang aku ingin mencari tempat untuk istirahat.”
“Begitu. Tempat ini memang sangat pas untuk dijadikan tempat istirahat.”
Aku duduk berjauhan dari Itsuki. “Ketua, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.”
“Hmm? Ada apa?”
“Pengguna pedang dewa, pedang seperti apa yang ketua miliki?”
“Hmm. Untuk pertama, bisa tunjukkan milikmu terlebih dahulu.” Ketua Itsuki berganti posisi menjadi duduk dan menghadap ke arahku.
“Baik.” Yang pertama aku keluarkan adalah. “Shirame.” Shirame muncul di tangan kananku.
“Sebuah katana, ya.”
“Ketua, anda tau tentang katana.” Ini membuatku terkejut, ketua mengetahuinya.
“Ya, setidaknya aku mengetahuinya. Lalu, yang satunya.”
“Ahh, baik. Ryuga.” Ryuga muncul di tangan kiriku.
“Sebuah pedang naga, ya. Sebuah pedang yang dibuat dari tanduk naga yang berusia ribuan tahun.”
“K-Ketua. Apa maksudnya itu? Kenapa ketua bisa tau?” Aku sama sekali tidak pernah diberitahu tentang hal itu sebelumnya, dan aku sangat terkejut ketua mengetahui hal yang bahkan aku tidak ketahui.
“Kau sudah menunjukkanya, baiklah sekarang giliranku.” Seketika sebuah pedang putih dengan bilah bermata satu, dan itu cukup mirip dengan Shirame muncul di tangan kanan Itsuki. “Aku biasa menyebutnya Kurome.”
“Kuro?” Sebuah pedang putih, tapi namanya Kuro. Meskipun begitu, aku juga melakukannya, pedang milikku berwarna hitam tapi aku memberi nama Shirame. ‘Shiroi Ame’
“Dan ini.” Dan lagi, sebuah pedang mirip dengan Ryuga muncul di tangan kirinya. “Aku belum memberinya nama, tapi karena dia rekanku yang selama ini membantuku. Aku biasa menyebutnya Kamii.”
“Ketua, apa kau orang yang dikirim atau direinkarnasi ke dunia lain?”
__ADS_1
“Kau mengetahuinya.”
“Ya, kerena aku juga mengalami hal itu.”
“Aku sebenarnya direingkarnasi kedunia lain. Selama bertahun-tahun melawan musuh yang tiada habisnya, pergi berkeliling dunia hanya untuk mencari kebenaran dunia. Dan entah kenapa aku bisa berakhir disini.”
“Begitu.”
“Tapi, setidaknya aku sedikit bersyukur karena jika aku berhasil bertahan permintaanku akan terwujud.”
“Permintaan? Permintaan apa?”
“Untuk itu, aku tidak bisa mengatakannya. Peraturan untuk kelompok ini, dilarang untuk menanyakan permintaan apa yang paling diinginkan jika menang. Karena itu sifatnya sangat pribadi, mau baik ataupun buruk permintaannya. Saat ini selesai itu sama sekali tidak akan ada hubungannya dengan kehidupan kita saat kita kembali nanti. Makanya akan lebih baik jika merahasiakan hal itu.”
“Begitu. Baiklah.” Yang dikatakan ketua memang benar, sedari awal dunia tempat tinggal kita sudah berbeda mau baik ataupun buruk permintaan mereka tidak akan berimbas apapun pada yang lain. Yang ada di dunia ini semuanya adalah pemain (MC) yang sudah melewati banyak rintangan, mereka pasti memiliki keinginan yang sangat ingin mereka kabulkan. Tapi, untukku yang tak memiliki keinginan apapun. Apa aku pantas untuk memperebutkan kemenangan ini.
Sebuah ketidakyakinan muncul, tapi setidaknya aku masih bisa mencari apa yang sebenarnya aku inginkan. Sesuatu yang selama ini aku inginkan. Kedamaian, tidak itu bukan keinginanku tapi itu hanyalah ambisiku belaka. Keinginan yang sangat ingin aku kabulkan. Mungkin saat ini aku masih belum menemukannya, tapi suatu saat nanti aku yakin pasti bisa mendapatkannya, sesuatu yang aku inginkan.
Pagi hari.
“Hey, bangun. Ini sudah pagi.” Aku perlahan membuka mataku. “Mau sampai kapan kau tertidur disini?” (Iras)
“Iras. M-maaf, apa sudah waktunya rotasi.”
“Sudah cepat, ayo kembali. Ada yang ingin ketua sampaikan.”
“Baik.”
“Tunggu, jangan lewat situ.”
“Huh?” Aku berencana untuk kembali lewat jalan sebelumnya.
“Sini, ikut.”
“Baik.”
Beberapa lama setelah itu.
Di sebuah jalan rahasia.
“Wah. ternyata ada jalan pintas seperti ini disini.”
“Sebuah pencegahan, ya.”
“Ya, bisa dibilang seperti itu. Menyiapkan langkah awal sangatlah penting.”
“Begitu.” Karena kekurangan jumlah anggota, yang bisa dilakukan hanya kabur. Aku rasa itu pilihan yang tepat. Melawan kelompok dengan anggota lengkap, meskipun tidak lengkap jika jumlahnya kalah tetap akan kesulitan untuk bisa menang.
Beberapa saat kemudian.
“Huh?” Tempat ini terhubung dengan jalan yang ada di markas. Atau lebih tepatya, aku melewati jalan yang sulit sedangkan ada jalan yang mudah disini. “Ha, seharusnya aku menanyakannya terlebih dahulu kemarin.”
“Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa.”
“Begitukah? Sudahlah, ayo masuk, yang lain sudah berkumpul di dalam.”
“Baik.” Kami masuk ke dalam salah satu ruangan yang ada disini.
“Ketua, aku sudah membawanya.” (Iras)
“Kerja bagus. Karena semuanya sudah berkumpul, aku akan mengatakan alasan kalian berkumpul hari ini.” (Itsuki)
“Ketua, apa ada masalah?”
“Hiroaki, dengarkan terlebih dahulu. Jika ada yang ingin kau tanyakan, tanyakan nanti saat penjelasannya sudah selesai.”
“M-Maaf.”
“Baik. Beberapa saat lalu, Selvi yang sedang melakukan rotasi melihat ada pergerakan yang aneh dari arah utara, dan timur markas. Ada kemungkinan kalau ada kelompok yang sudah mengetahui tentang tempat persembunyian kita ini.”
“Lalu, apa yang akan kita lakukan?”
“Pertanyaan bagus. Ada 2 hal yang bisa kita lakukan sekarang. Pertama pergi dari tempat ini sebelum mereka menemukan kita, atau pilihan kedua. Memasang jebakan untuk mengalahkan mereka. Tapi, untuk sekarang pilihan kedua sangat tidak menguntungkan untuk kita. Kita akan memilih pilihan pertama. Kalau begitu, semuanya bersiap untuk pergi.”
__ADS_1
“Baik.” Menghindari pertempuran yang tak menguntungkan adalah pilihan yang tepat, setidaknya itulah yang dipikirkan oleh ketua Itsuki.
Beberapa lama kemudian.
Kami sudah meninggalkan markas dan saat ini kami sudah berada cukup jauh dari markas. “Haa, sangat disayangkan, padahal markas itu baru beberapa hari dibangun dan kita harus pindah markas lagi.” (Ersen)
“Mau bagaimana lagi, bertahan hidup lebih penting daripada sebuah markas. Kita bisa mencari markas baru yang lebih bagus lagi.” (Itsuki)
“Haa, baik-baik.”
“Ehh? Sudah berapa kali kalian semua berganti markas?”
“Hmm. Setidaknya, ini sudah yang ke-10.” (Karen)
“B-Begitu.” 10 kali berganti markas, aku tak tau apa yang mereka alami selama disini tapi sepertinya mereka sudah pernah mengalami hal sulit seperti ini sebelumnya, makanya mereka terbiasa.
“Wah, sudah dimulai.” (Ersen)
Sfx : Ledakan.
Ledakan besar terjadi dan itu berada tepat di markas yang kami tinggalkan. “Energi sihirnya terasa sampai kesini, jika tadi kita melawan mereka mungkin kita akan sangat kesulitan.” (Ersen)
“Energi sihir?”
“Hey hey, jangan-jangan kau lupa. Ersen adalah seorang penyihir.” (Selvi)
“Aku ahli sihir, aku bukan seorang penyihir.” (Ersen)
“Bukannya itu sama saja.”
“Itu 2 hal yang berbeda. Penyihir hanya menggunakan sihir yang ada dan mengembangkannya. Sedangkan ahli sihir itu orang yang menemukan sihir, mengenbangkan, dan menyempurnakan sihir.”
“Hee, ternyata pemahaman tentang sihir didunia kita berbeda, ya.”
“Itu sudah jelas. Seorang pahlawan wanita sepertimu mana mungkin mengetahui tentang nilai keindahan dari sebuah sihir.”
“Kalian berdua, berhenti berdebat.”
“Ketua, ada apa?” Tiba-tiba saja ketua berhenti berjalan.
“Kita terkepung.”
“Huh? Bagaimana bisa? Aku bahkan tidak merasakan keberadaan mereka.” (Selvi)
“Tidak, aku bisa merasakan beberapa aliran sihir disini. Setidaknya ada 8 orang yang memiliki kekuatan sihir yang sedang mengepung kita saat ini.”
“Delapan, itu lebih banyak dari kita..” Mungkin itu terlihat sedikit, tapi mengingat kekuatan luar biasa yang dimiliki oleh orang-orang yang ada di dunia ini, jumlah sedikit yang seperti itu tidak bisa dianggap remeh.
“Ketua, apa yang akan kita lakukan?”
“Ernes, apa kau bisa menahan 2 dari mereka.”
“Maaf ketua, tapi itu sangat sulit untukku..”
“Begitu, ya. Kalau begitu, Ernes, Karen. Kalian tahan salah satu dari mereka, jika bisa kalahkan mereka.”
“Baik.” (Karen, Ernes)
“Iras, Selvi. Apa kalian bisa menahan 2 orang dari mereka?”
“Maaf ketua, tapi jika dilihat dari tingkat kekuatan yang mereka milik. Itu sangat sulit, bahkan mungkin menahan salah satu dari mereka sangat sulit untuk kami.”
“Hmmm, begitu, kalau begitu. Cari satu musuh terlemah dari mereka, dan tahan dia selama yang kalian mampu.”
“Baik. Tapi, bagaimana dengan ketua?”
“Aku dan Hiroakii akan membereskan sisanya.”
“Eh? Eh!!!!” (Hiroaki)
“Tunggu ketua, bukannya itu mustahil.” (Ernes)
“Tenang saja, saat kami sudah kesulitan aku akan memberikan tanda dan saat itu aku ingin kalian pergi. Termasuk kau Hiroaki...”
“T-Tunggu sebentar. Jangan bilang kalau kau akan menahan mereka saat yang lain melarikan diri.”
__ADS_1
“Tenang saja, itu hal mudah bagiku. Baiklah, semuanya. Saatnya serius, keluarkan seluruh kemampuan kalian jika tidak begitu maka kematian yang akan menanti kalian.”
“Baik.” Dengan begini, pertarungan kelompok pertamaku, dimulai.