Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
12


__ADS_3

Beberapa minggu setelah itu.


Pagi hari, istana.


Tubuhku sudah kembali seperti semula, dan aku sedang dalam kondisi yang sempurna sekarang. “Hi-chan, bisa bantu aku mengantarkan dokumen ini.”


“Ahh, baik.” Saat ini aku sedang membantu Rin dan yang lainnya, mereka kelihatan sibuk sekali hari ini. “Hmmm, dokumen ini lebih banyak dari biasanya?”


“Ahh. Dokumen itu untuk guild, ada beberapa proposal yang harus guild isi.”


“Hmmm. Baiklah, akan aku antarkan.”


“Oh, ya. Jika bisa, tolong antarkan secepatnya. Aku yakin ketua guild sedang membutuhkan berkas ini.”


“Baik-baik.” Aku mengambil berkasnya dan pergi.


Beberapa saat kemudian.


“Ahh. Aku hampir lupa.”


Beberapa menit setelah itu


“Nah, begini baru cocok.” Aku menggunakan mode penyamaran, ya setidaknya tidak akan ada yang mengenaliku selain mereka.


Beberapa lama setelah itu.


Guild petualang (Riel).


“Hmm. Guild petulang, ya. Sudah lama sekali.” Entah kapan terakhir kali aku pergi ke guild petualang. “Ini terlihat cukup berbeda dengan terakhir kali aku datang kemari.” Setidaknya sudah ada banyak sekali perubahan disini.


Aku mulai masuk ke dalam guild.


Seperti yang aku duga, guild selalu ramai. Banyak sekali petualang yang ada disini, dan mereka terlihat kuat. “Ahh, aku harus cepat.” Aku bergegas menuju ke resepsionis untuk mengantarkan berkas ini.


Gubrakkk


“M-Maaf.” Karena terburu-buru, tanpa sengaja aku menabrak seseorang dan membuat berkas yang aku pengang terjatuh.


“Hey pemula, apa kau tidak bisa melihat. Apa kau memiliki masalah dengan penglihatanmu sampai-sampai aku yang sebesar ini tidak terlihat olehmu.”


“Aku minta maaf.” Setelah mengatakan itu, aku kembali mengumpulkan berkas yang terjatuh dilantai.


“Hey pemula, apa kau pikir dengan meminta maaf kau bisa menyelesaikan masalah.”


“Haa, aku sedang sibuk, jika kau memiliki waktu untuk mengoceh sebaiknya kau gunakan itu untuk membasmi monster di hutan.”


“K-Kau…”


“Bos, tenanglah. Disini adalah tempat berkumpul, jika kau melakukan sesuatu yang buruk, citramu akan tercoreng.” Ia mencoba untuk melakukan sesuatu padaku, temannya atau mungkin bawahannya menghentikannya.


“Hah. Asal kau tau, aku ini adalah petualang peringkat B. Karena aku masih memiliki kebaikan, aku akan memaafkanmu kali ini. Tapi jika kau mengulanginya lagi, aku pasti akan memberimu pelajaran.” Orang itu kemudian pergi bersama kelompoknya.

__ADS_1


“Kyaaa. Aku ketakutan. (nada mengejek)” Setidaknya aku ingin berekspresi seperti itu, tapi sayangnya aku tidak bisa. “Sangat menyebalkan.” Tapi, karena aku yang salah mau bagaimana lagi. Pandangan orang-orang yang ada di guild ini tertuju padaku. “Haa, sudahlah.”


Beberapa saat kemudian.


Berkasnya sudah terkumpul, dan aku bergegas menuju ke resepsionis.


“Tuan petulang, apa ada yang bisa saya bantu?” (resepsionis)


“Aku ingin memberikan ini.” Aku memberikan dokumen itu padanya.


“Wah, ini dokumen yang ketua guild minta. Bagaimana dokumen ini bisa ada di tangan anda? Bukannya dokumen ini seharusnya berada di tangan ratu?”


“Ahhh. Aku hanya disuruh untuk mengantarnya.”


“Begitu, terimakasih banyak tuan petualang.” Resepsionis itu pergi.


Setelah memberikan dokumen itu, aku kemudian kembali. Tapi…


Di pintu keluar ada seseorang yang menghadang jalanku. “Huh? Ada masalah apa?”


“Hey, bagaimana kalau kita bertarung?”


“Haa.” Entah kenapa aku mulai merasa bosan, entah bertarung atau apapun itu. “Maaf, tapi saat ini aku sedang tidak mood.”


“Hmm. Kalau begitu, ya sudah.”


Seorang pengguna tombak, entah kenapa itu mengingatkanku pada seseorang. “Baiklah, aku terima tawaranmu.”


“Kenapa, apa kau ketakutan karena aku menerima tawaranmu?”


“Hahaha. Mana mungkin. Baiklah, sekarang kita menuju ke tempat tandingnya.”


“Baiklah.”


Aku menerima tawarannya bukan tanpa alasan, aku merasa kalau ada sesuatu yang menarik jika aku melawannya. Lagipula, aku sama sekali belum pernah melawan pengguna tombak yang berpengalaman. Aku ingin merasakan sensasi yang berbeda melawan pengguna senjata yang berbeda pula.


Beberapa menit kemudian.


Tempat latih tanding di guild petualang.


“He, aku tak tau kalau ada tempat seperti ini di belakang guild.” Tempat yang cocok untuk melakukan latihan tempur.


“Tempat ini umumnya untuk para petualang dengan peringkat tinggi berlatih, atau jika ada seseorang yang ingin menguji sihir atau senjata baru bisa dilakukan disini.”


“Heee, itu sangat menarik.”


“Baiklah, sudahi saja pembicaraan ini. Apa kau sudah siap?”


“Tentu saja.” Dengan Shirame di tangan kananku, aku sudah siap. Dan tentunya aku tidak akan menggunakan kekuatanku lebih dari 0,02% dari kemampuan asli pedang ini, karena itu akan sangat berbahaya.


“Baiklah, kita mulai pertarungannya.”

__ADS_1


Settt


Ctinggg


Serangan pertama dimulai darinya, tusukannya cukup kuat. Dan entah kenapa aku merasa pernah melihat tehnik ini sebelumnya.


“Kau hebat juga. Siapa yang sudah melatihmu?”


“Saat ini kita sedang dalam pertarungan, aku tidak memiliki waktu untuk menjawab pertanyaanmu.”


Beberapa saat kemudian.


Ctangg


Ctangg


Ctangg


Sfx : aduh senjata.


Setelah beberapa kali beradu kekuatan, aku jadi yakin tentang sesuatu. “Apa gurumu itu adalah Shin?”


“Entahlah, siapa yang tau. Rasakan ini!”


---------------


“Hiroaki, apa kau sudah memberikannya?”


“Ah, iya sudah.”


“Hi-chan. Bajumu kotor? Apa yang kau lakukan?”


“Ahh, mungkin karena tadi aku terburu-buru jadinya aku berlari.”


“Begitu.”


“Kalau begitu, aku akan pergi dulu.”


“Ya.”


Beberapa menit setelah itu, taman.


Saat ini aku tengah duduk santai di taman. “Hmm. Tehnik itu, aku yakin, sangat yakin.” Serangan terakhirnya adalah serangan andalan milik Shin, aku rasa. Tapi, tehnik itu masih belum sempurna. “Mewariskan penerus tehnik andalan miliknya, ya. Apa aku juga harus melakukan hal itu?” Suatu saat nanti, pasti ada waktu dimana aku akan lelah terdapat semua ini. Dan saat itu, mungkin saja mengangkat pedangku ini rasanya sangat malas. “Haa, akan aku pikirkan itu nanti.”


Selain itu, aku juga berfikir beberapa hal yang menarik. “Mungkin, aku harus mewariskan kemampuan ini pada anakku nanti.” Setidaknya itulah yang aku inginkan, tapi aku takut kekuatan besar ini akan menjadi masalah di masa depan jika sampai aku mewariskannya pada orang yang salah meskipun itu anakku sendiri nanti.


“Sepertinya aku sudah terlalu banyak berfikir.” Aku perlahan memejamkan mata dan menikmati hembusan angin yang menangkan ini, tapi…


“Selamat datang para pahlawan.”


Mendengar suara yang belum pernah aku dengar, aku perlahan membuka mataku. “Eh? Dimana ini?” Aku berada di tempat lain, bukan di taman. Dan aku juga melihat 4 orang lainnya kebingungan sepertiku. ‘Apa aku, dipanggil kedunia lain?’

__ADS_1


__ADS_2