
Beberapa hari berikutnya.
Pengintaian hari ke 6, pagi hari, jam 10.43 di Sekolah, atap sekolah (83 hari lagi sebelum kembali)
“Hmm, disini sangat damai.” Beberapa hari terakhir ini para monster itu tidak datang kemari, dan ini membuat suasana disini begitu tenang.
“Akarui-san, apa yang kau lakukan disini?” (???) Tanpa aku sadari, salah seorang siswa melihatku disini.
“Tidak ada, aku hanya sedang menikmati angin yang sejuk ini.”
“Begitu.” Tanpa bertanya apapun lagi, dia pergi. “Haa.” Aku kembali menghela nafas panjang. “Bolos aja deh.”
Sore hari, 16.43
“Hoaammm. Sepertinya, aku ketiduran.” Saat aku membuka mataku, ternyata hari sudah sore dan tak ada orang disekolah. “Pulang ah.” Aku kembali kekelas untuk mengambil tas dan setelah itu kembali kembali ke apartemen. Tapi...
Di dalam perjalanan
“Hmm, tidak biasanya jalan ini sepi.” Jalan yang aku lewati, entah kenapa hari ini terlihat begitu sepi.
Kringgggg Kringggggg
Alarm munculnya monster berbunyi. “Haa.” Aku menghela nafas panjang sembari berjalan.
Beberapa saat kemudian.
Beberapa monster muncul didepanku. “Shirame.” Pedang Shirame muncul di tangan kananku.
Grrrrrr.
“Eh? Ada apa dengan monster-monster itu?” Bukannya menyerangku, monster-monster itu malah kabur dan terlihat seperti menghindariku. “Haa, ini sangat tidak seru.”
Setelah cukup lama berjalan.
Tak ada satu monsterpun yang datang menghampiriku. “Ada apa ini? Ini sangat aneh.” Aku berjalan sembari mencari gadis itu. “Aku harap gadis itu baik-baik saja.”
“Kyaaaa…” Suara terdengar, dan suara itu berasal di dekat sini.
“Mungkin itu suara gadis itu.” Akupun menghampiri suara itu.
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Seorang gadis tengah dikerumuni oleh para monster. “Siapa dia?” Dia bukan gadis yang harus aku lindungi, tapi... “Kenapa dia berada disini?” Saat alarm berbunyi, seharusnya seluruh orang pergi ke gedung perlindungan, dan jika dilihat, ia memakai seragam sekolah. “Mungkin dia salah satu siswa ditempat sekolahku saat ini.”
“S-Siapa saja, tolong aku!!”
“Haa, sudahlah.” Aku berencana untuk mengabaikannya, lagipula saat aku berada didekat para monster itu, monster itu berlari ketakutan.
Swuuuttt.
Gubraakkk.
Salah satu monster tiba-tiba saja terjatuh. “Apa kau baik-baik saja?” Sebuah suara terdengar. “Cepat pergi dari tempat itu.”
“B-Baik.” Gadis itu berlari, dan monster yang mengejarnya langsung roboh seakan mati dalam sekejap.
“Dan kau, apa yang kau lakukan disana? Cepat pergi ke tempat perlindungan juga.” (???)
Ternyata dia sudah menyadari keberadaanku. “Haa, baik-baik.” Aku keluar dari gang sempit itu, dan perlahan berjalan menjauh dengan santai. 'Seorang gadis, ya. Eh, bukankah dia...' Seorang gadis yang aku lihat sebelumnya bersama dengan Sylvi. Meskipun begitu, aku rasa dia adalah siswa dari sekolah lain. Ia berada di atas gedung, dan menembaki monster-monster itu dengan anak panah. Kemungkinan kalau dia adalah seorang guardian.
Beberapa saat kemudian.
Seperti yang aku duga, tak ada satupun monster yang mengikutiku. “Ini membosankan. Tapi, sudahlah.” Tujuanku saat ini adalah untuk mencari gadis itu. “Tapi, dimana dia sekarang?” Aku sama sekali tidak mengetahui tempat ini, meskipun dunia ini sama seperti tempat tinggalku dulu, tapi setiap tempat yang ada disini berbeda dangan apa yang aku ketahui. Dan yang lebih buruk adalah. “Haa, sepertinya aku tersesat.” Aku tersesat dan saat ini aku tak tau sedang berada dimana.
Suara belpun belum terdengar, itu menandakan kalau para monster itu belum pergi. “Huh?” Aku mendegar suara pertarungan, dan suaranya tidak jauh dari tempat ini. “Kesitu saja deh.”
Beberapa saat kemudian.
Aku sampai ditempat. “Shinigami, ya.” Disini, aku sedang melihat sang Shinigami yang melawan gerombolan monster sendirian. “Hmm, kenapa dia selalu sendirian, ya. Apa dia tidak punya patner?”
“Siapa disana?”
“Ups. Aku ketahuan.” Meskipun dalam kondisi bertarung, ternyata dia masih bisa menyadari keberadaanku. “Sudahlah.” Aku tak memiliki urusan dengannya, pergi adalah pilihan terbaik untukku.
Ctinggggg.
“Apa yang kau lakukan!!” Tiba-tiba saja dia menyerangku, dan untungnya aku sempat menangkisnya dengan Shirame.
“Kau, apa kau seorang guardian?” (???)
“Bukan, aku bukan guardian. Jadi berhentilah menyerangku.” Aku berbalik dan berjalan menjauhinya.
“Siapa kau sebenarnya?”
__ADS_1
“Haa, aku sudah bosan dengan pertanyaan yang sama.” Setiap orang yang bertemu denganku dan melihat kekuatan milikku, pasti menanyakan hal itu. “Bukan siapa-siapa, hanya orang asing.”
“Jangan bercanda!!”
Ctanggggg.
Dia kembali menyerangku, dan aku berhasil menangkis serangannya. Meskipun begitu, aku terdorong beberapa meter kebelakang akibat menahan serangannya. “Hee, kau kuat juga.” Dia cukup kuat, bahkan mungkin lebih kuat dari apa yang aku bayangkan.
“Jawab pertanyaanku, siapa sebenarnya kau?”
“Tidak ada yang perlu kau ketahui dariku. Tapi, jika kau ingin bertarung denganku. (tersenyum) Akan aku layani.”
“Kau!!” Dia berlari dengan cepat menuju ke arahku.
Srassshhh.
“Itu hampir saja.” Aku melompat jauh kebelakang, tapi ia berhasil sedikit melukai bagian perutku. “Sungguh senjata yang merepotkan.” Seandainya saja bukan sebuah sabit, pasti ini akan sangat memudahkanku. Jika seperti ini, aku harus menjaga jarak dan bertahan sambil menunggu waktu yang tepat untuk menyerangnya.
“Kali ini, kau tidak akan bisa lolos lagi!!”
Sattt Setttt Srahhhh.
Serangannya bertubi-tubi, itu membuatku cukup kesulitan untuk menghindari sekaligus menangkis seluruh serangan yang diarahkannya padaku.
Beberapa luka kecil diterima olehku akibat tidak bisa menghindari serangannya. “Sepertinya, tenagamu sudah habis.” Serangannya berhenti, dan nafasnya terlihat terengah-engah. Itu wajar saja, setelah melawan para monster itu dia langsung berhadapan denganku.
“Ha, sudahlah.” Aku berbalik meninggalkannya.
“Kau, jangan pergi dan lawan aku.”
Sebenarnya aku ingin melawannya, tapi dalam keadaan yang adil. “Jika keadaanmu sudah lebih baik, kau bisa menantangku kapan saja. Dan jika perlu, bawa seluruh teman guardianmu itu.” Entah kenapa tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari mulutku. “Ha, sudahlah.”
Beberapa jam kemudian.
Apartemen.
“Ha, akhinya aku bisa istirahat.” Bel kembali berbunyi setelah beberapa saat aku meninggalkan orang itu, dan setelah itu aku bertanya pada orang-orang untuk waktu yang lama dan akhirnya. Aku sampai juga di apartemen ini. “Mandi dulu ah.”
Setelah selesai mandi.
Kamar.
__ADS_1
Aku tengah berbaring dikasur yang empuk ini sambil mengingat kalimat yang aku katakana tadi. “Bawa seluruh teman guardianmu, ya.” Itu berarti aku sudah menyatakan perang pada para guardian yang ada didunia ini. “Ha!! Apa ini akibat aku terlalu bosan.” Sejak datang kesini, sama sekali tidak ada hal yang menarik perhatianku dan itu membuatku sangat-sangat bosan. Dan tiba-tiba saja terlintas dipiranku, ‘Mungkin saja melawan seluruh guardian bisa menghilangkan rasa bosanku ini.’ seperti itu. “Sudahlah, itu sudah terjadi. Yang harus aku siapkan adalah kesiapanku untuk menghadapi hari esok.” Mungkin, besok aku sudah akan melawan para guardian, dan mungkin saja itu bisa membuat rasa bosanku hilang (tersenyum).