Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
54


__ADS_3

Beberapa hari berlalu.


Kringggggg.


Siang hari, 12.33


Kuil tua dibelakang bukit.


“Haa, hebat juga kalian bisa menemukanku. Padahal tempat ini sudah lama tidak digunakan.”


“Menemukanmu bukanlah hal yang sulit.”


“Hoo, begitu.” Diantara mereka, aku tak melihat adanya Sylvi Angelia dan juga Shirayuki Amane. Sylvi sepertinya memiliki urusan lain, dan untuk Shirayuki, sepertinya dia sudah menyerah untuk mengalahkanku. “Haa, padahal aku pikir kalian menyerah juga sepertinya.”


“Sebelum kami bisa mengalahkanmu, kami tidak akan menyerah.”


“Haa, sudahlah.”


“Semuanya, serang!!”


1 jam kemudian


“Ha, ha, ha.. lumayan juga.” Mereka bisa bertahan selama 1 jam, dan yang paling penting mereka sudah bisa mendesakku. “Sepertinya kalian sudah lebih berkembang, tapi itu masih belum cukup untuk bisa mengalahkanku.” Karena permainan disini sudah selesai, aku putuskan untuk pergi. “Aku harap kalian bisa lebih baik lagi dipertarungan selanjutnya.” Aku pergi meninggalkan mereka.


Beberapa lama kemudian.


'Berhentilah melatih mereka.'


'Dewa Sha, ada apa tiba-tiba menghubungiku?'


'Berhentilah melatih mereka, biarkan mereka menjadi kuat dengan sendirinya.'


'Ehh?'


'Apa kau kira aku tidak tau, tanpa sepengetahuan mereka. Kau menjadi pelatih mereka. Kau memberitahu setiap kekurangan dan kelebihan yang mereka miliki, dan juga cara untuk membuat mereka lebih baik.'


'Eh? Aku tidak ingat pernah bilang seperti itu pada mereka.'


'Kau mungkin tidak sadar, tapi disaat bertarung mulutmu sendiri yang berkata seperti itu.'


'Eh? Benarkah.'


'Haa, sudahlah. Waktumu didunia ini kurang dari 2 bulan, dan disuatu hari dalam waktu kurang dari 2 bulan ini, akan terjadi sesuatu yang besar. Dan saat waktu itu tiba, aku ingin kau diam, jangan melakukan apapun. Kecuali keadaanya sudah memburuk, kau boleh ikut campur.'


'Sesuatu yang besar, apa?'


'Saat waktunya tiba, kau akan mengetahuinya. Untuk saat ini, kau cukup bersiaga saja.'


'Baiklah.' Dewa Sha menutup telepatinya.


“Sesuatu yang besar, ya.”


Swuuuttt.


Grap


Sebuah anak panah diarahkan padaku dan aku berhasil menangkapnya. “Apa ini sebuah lelucon?”


“Sudah kuduga, kau pasti bisa menangkapnya.” (Shirayuki)

__ADS_1


“Ada apa? Apa kau juga ingin melawanku seperti yang lainnya?”


“Aku tidak sebodoh mereka, aku tau kalau kemampuanku saat ini masih belum bisa untuk mengalahkanmu.”


“Begitu, baguslah kalau kau menyadarinya. Lalu, ada keperluan apa kau mendatangiku?”


“Begini.”


“Huh? Ada apa?” Sikapnya terlihat aneh.


“M-Maukah kau...”


“Ya.” Apa ini sebuah pengakuan? Setidaknya aku sedikit memikirkan hal itu. Jika itu benar, kenapa. Tapi, aku harap saja kalau itu bukan seperti apa yang aku pikirkan.


“M-Maukah kau, melatihku.”


“Huh?”


“Aku bilang, maukah kau melatihku.”


“Y-Ya, aku dengar. Tapi, kenapa?”


“Kemampuan bertarungmu luar biasa, oleh karena itu aku ingin kau melatihku.”


“Huh, apa hanya itu?”


“Tidak, ada hal lain lagi.”


“Apa?”


“Saat pertama kali melawanmu, kau memberitahu kekuranganku, dan juga kelebihanku. Dan saat aku menyadarinya, entah kenapa aku merasa kemampuanku bertambah.”


“Eh, apa aku pernah mengatakannya?”


“Eh? Aku tidak ingat.” Bahkan aku tidak tau kalau aku pernah berkata seperti itu.


“Oleh karena, itu. Aku ingin kau melatihku. Lagipula, aku tadi mendengar kau mengatakan sesuatu yang besar? Apa itu?”


“Ehh, tidak ada apa-apa. Ehem… Apa kau serius ingin aku melatihmu?”


“Ya, aku serius.”


“Haa, tapi, latihan dariku sangat ketat lo. Apa kau sanggup?”


“Aku akan berusaha.”


“Ha...” Mendengarnya berkata seperti itu, aku hanya bisa menghela nafas. Ia sepertinya termasuk orang yang tidak akan menyerahkan begitu saja. “Baiklah, aku tunggu saat jam pulang sekolah. Apapun yang terjadi, kau harus datang. Tidak datang ataupun terlamat 1x saja, aku tidak mau melatihmu.”


“(tersenyum) Baiklah.” Entah kenapa ia terlihat begitu senang.


“Haa, sudahlah.” Aku sama sekali belum pernah melatih orang, dan aku ragu dengan kemampuan mengajarku ini. 'Apa aku bisa melatihnya, ya?'


Esoknya.


Jam pulang sekolah, taman


Taman ini begitu sepi, dan aku rasa ini bisa jadi tempat yang cocok untuk tempat latihan. “Kau sudah sampai.” (Shirayuki)


Aku cukup terkejut melihatnya ada disini, dan lagipula aku belum memberitahunya tentang tempat latihan ini. “Sudahlah...” Aku mengambil nafas panjang. “Shirayuki Amane.”

__ADS_1


“Y-Ya.”


“Mulai saat ini, aku akan melatihmu, dan kita akan berlatih disini setiap hari. Jika kau tidak datang tanpa alasan, maka saat itupula aku akan berhenti melatihmu. Apa kau sudah siap.”


“Ya, aku siap.”


“Baiklah. Kalau begitu, latihan pertama dimulai.”


Beberapa jam kemudian


“Ha, ha, ha. Apa sudah selesai.” (Shirayuki)


Sore hari, 17.47


“Ya, sudah. Latihan untuk hari ini selesai, kita akan melanjutkan latihan ini besok. Kau bisa kembali sekarang.”


“T-Terimakasih.” (Shirayuki)


“Ya, tidak masalah.” Akupun segera pergi.


Beberapa menit setelah itu.


“Hari ini masih aman, ya.” Tak ada alarm monster yang berbunyi selama beberapa hari terakhir, dan itu sedikit membuatku tenang.


“Tolong!!!” Aku tiba-tiba saja mendengar suara orang minta tolong.


“Darimana asalnya?” Aku bergegas mencari asal suara itu.


Beberapa menit kemudian.


Suaranya tak menghilang. “Dimana? Huh, apa itu?” Aku melihat sebuah bayangan hitam diantara gang sempit yang ada di area ini. Dan karena aku penasaran, akuputuskan untuk melihatnya.


“I-Itu...” Aku cukup terkejut melihat apa yang aku lihat ini. “Bagaimana bisa.” Seekor monster ada disini, dan tanpa adanya alarm peringatan.


“Shirame.”


Settt Sattt Srashhh


Aku menebas monster itu, dan dengan mudah membunuhnya tanpa sisa. “Kasihan sekali nasibnya.” Suara teriakan itu ternyata berasal dari orang ini, darah segar mengalir dari tubuhnya karena beberapa bagian tubuhnya sudah dimakan oleh monster itu. “Tapi, sudahlah, ini sudah terjadi. Mau bagaimana lagi.” Aku tidak memiliki kuasa untuk menghidupkan orang yang sudah mati, lagipula tugasku disini hanya melindungi seorang gadis. Meskipun ini sedikit kejam, tapi prioritas utamaku saat ini adalah melindungi gadis itu. Jika tidak begitu, aku tidak akan bisa menyelamatkan Ai.


“Ha, ha, ha.” (???) Seseorang datang kemari.


“Ahh, si Shinigami.” Koujo Kotaro datang kemari.


Ia mengabaikanku dan melihat keadaan mayat orang ini. “Sial, aku terlambat.”


“Terlambat?” Kemungkinan kalau dia tau ada monster diarea ini, dan ia mencoba untuk menghabisinya sebelum kejadian seperti ini terjadi. “Ini bukan urusanku.” Aku kemudian berjalan keluar dari gang ini.


“Tunggu sebentar...”


Ucapannya membuat langkah kakiku terhenti. “Ada apa? Apa kau ingin melawanku?” Dengan spontan aku menjawab seperti itu.


“Apa kau melihat monster yang membunuh orang ini?”


“Tidak. Saat aku tiba disini, keadaanya sudah seperti ini.”


“Begitu.” Tanpa mengucapkan sepatah-kata selain itu, ia pergi.


“Haa, aku berbohong. Sudahlah.” Monster yang sudah membunuh orang itu sudah aku bunuh, dan mungkin dia berniat untuk mencari monster itu. “Semoga berhasil.” Aku perlahan pergi, dan kembali menuju ke apartemen.

__ADS_1


Malam hari, 21.23


“Haa, masih belum pulih, ya.” Aku masih belum bisa merasakan rasa apapun yang aku makan, dan sepertinya aku sudah mulai sedikit terbiasa dengan hal ini. “Mungkin ini akan sembuh setelah beberapa hari.” Setidaknya itulah yang aku inginkan.


__ADS_2