Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
24


__ADS_3

“Ren, apa kau sudah kembali? K-Kau...” (Rury)


“Maaf, aku bukan Ren.” Aku kembali ke rumah Ren. “Aku ingin memberikan ini padamu, ini sebagai ganti tadi apa yang dia lakukan padaku.”


“Ini...” Aku memberinya beberapa uang yang aku dapatkan dari menukarkan Kristal itu.


“Dengan begini, aku tidak berhutang lagi padamu.” Aku kemudian keluar dari rumah ini.


“Tunggu… Semua uang ini.”


“Ada apa, apa itu masih kurang?” Sebenarnya aku masih memiliki lebih banyak lagi uang di dunia ini, karena aku terlalu banyak menukarkan Kristal Yokai itu.


“Tidak, bukan begitu…”


“Lalu, ada apa?”


“…” Ia diam, sepertinya ia tidak tau harus berkata apa.


“Oh ya, ambil juga ini. Aku memberikan sebagian uangku yang aku dapat padanya. Gunakan itu dengan baik.” Aku tidak begitu membutuhkannya, sedikit saja sudah cukup untukku. Lagipula aku bukan berasal dari dunia ini, jadi aku tak perlu banyak uang di dunia ini.


“Terima kasih.”


“Ya.” Aku perlahan pergi. Besok aku harus segera menyelesaikannya. Di dalam gua itu, aku harus membereskan para Yokai dan sarang mereka.


_________________


Malam hari


“Mama, apa papa akan pulang besok?”


“Entalah.” (Rin)


“Sudah hampir seminggu, tapi ia belum kembali juga.” (Emilia)


“Mungkin tugasnya sangat sulit, makanya dia membutuhkan waktu.” (Sia)


“Dimana Ai?” (Rin)


“Dia ada dikamarnya, sepertinya dia sedang tidak enak badan.” (Emilia)


____________________


Dipagi hari yang cerah.


Ting ting ting ting ting ting ting.


Suara bel terdengar begitu nyaring, itu membuatku terbangun dari tidurku. “Ha. Pagi-pagi begini sudah ribut, menggangu saja.” Aku tidur di bangku taman, karena disini aku juga bisa mendengar sedikit informasi yang tidak segaja dibicarakan oleh masyarakat sekitar.


Beberapa menit kemudian.


Aku melihat benyak sekali orang yang berjalan ke sebuah tempat. “Ah. Scene ini, sepertinya aku sudah tidak asing lagi.” Karena penasaran, akupun mengikutinya.


-------------------


“Apa?! Ribuan Yokai sedang bersiap untuk menyerbu tempat ini.” (???)


'Binggo, event penyerbuan.' Entah kenapa event penyerbuan selalu ada dimana aku berada. “Eh. Maaf, kalau boleh tau. Tempatnya dimana?” Ini hanya perkiraanku saja, tapi jika benar mungkin sarang Yokai itu ada di tempat lain juga.


“Hutan Gronars.”


“Hutan Gronars?”


“Iya, di hutan itu tumbuhan sudah tidak bisa tumbuh. Ada yang bilang kalau markas Yokai ada disana.”


“Begitu.” Dugaanku benar. Seandainya kemarin aku tidak melakukan sesuatu, kemungkinan besar tempat ini sudah hancur saat ini.


“Hey, kau mau kemana?”


“Tidak ada.” Aku perlahan berjalan menjauh dari kerumunan itu. Tujuanku hari ini adalah Hutan Gronars, dan mungkin setelah itu baru akan langsung membereskan markas yang ada di dalam gua di gunung Akaku itu.

__ADS_1


“Kau, tunggu sebentar!!”


Seseorang sepertinya memanggilku, tapi karena aku takut salah orang aku lanjut berjalan. “Tunggu sebentar.”


Ia masih memanggilku, akupun berhenti. “Ha ha ha. Akhinya ketemu juga.”


“Rein, ada apa?” Ternyata itu adalah Rein.


“Kau, bagaimana caramu melakukan semua itu?”


“Semua itu? Apa yang kau katakan?”


“Para Yokai itu, kau yang membasminya kan.”


Aku ingin membalasnya, tapi aku sudah tidak punya banyak waktu lagi. Aku harus segera kembali keduniaku secepat mungkin. “Maaf, aku sedang terburu-buru.” Aku lanjut berjalan.


----------------------


“Eh? Rein, kenapa kau masih mengikutiku?” Dia terus mengikutiku.


“Tolong, beritau aku cara untuk menjadi sekuat dirimu. Aku mohon.” Benar juga, kalau diingat membunuh 1 Yokai saja Rein sangat kesusahan.


“Berlatihlah, dengan begitu kau akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.”


“Aku sudah sering melakukannya, tapi aku masih belum bertambah kuat.”


“Hmm, dengarkan ini baik-baik.” Aku  berniat untuk memberinya sedikit saran. “Aku itu harus…”


“PARA YOKAI MENYERANG!!” (???)


“Maaf, lain kali saja,ya.” Aku bergegas pergi. Mereka bergerak lebih cepat dari apa yang diprediksi oleh dewa Sha. Ya, dewa Sha kemarin menghubungiku dan ia bilang kalau akan ada serangan besar besok pagi. Dan itu adalah ini.


“Tunggu.”


---------------------


Padang rumput.


“Tunggu.” Suaranya datang dari langit.


“Ha. Kenapa kau masih mengikutiku, ini tempat yang sangat berbahanya untukmu.” Tempat ini adalah tempat pertemuan langsung dengan para Yokai yang akan menyerbu itu.


“Kau belum mengatakannya.”


“Ha, apa karena itu kau mengikutiku?”


“Ya.” Orang yang sangat menarik.


“Mungkinkah kalau dia adalah karakter utama di dunia ini.” Aku tak tau, tapi sepertinya begitu. Sifatnya ini sangat cocok untuk pemeran karakter utama yang aktif. “Ha, cepat bersiap.”


“Besiap?”


“Mereka akan segera muncul.”


“Baik.”


Ia bertarung tanpa menggunakan senjata, tapi sepertinya ia mempunyai sesuatu yang lebih hebat dari itu. “Shirame, Ryuga.”


{Pedang naga author ubah jadi Ryuga, karena penyebutan pedang naga terlalu gimana gitu. Lagipula pedang naga udah di upgrade sama dewa Sha, jadi kaga apa-apa author ubah namanya.}


Aku memanggil semua pedangku. “Kemampuanku sudah jauh meningkat dari sebelumnya, ini pasti berkat dewa Sha.” Dengan kemampuan ini, mengalahkan musuh sebanyak apapun tidak akan jadi masalah untukku.


“Rein, sebaiknya kau bersembunyi saja. Melawan mereka sekaligun sangat mustahil untukmu.”


“Bersembunyi, dipadang rumput ini.”


“Ah. Benar juga, ini padang rumput tak ada tempat untuk bersembunyi disini.” Aku perlahan mulai maju.


“Lakukan apa yang ingin kau lakukan, jika bisa. Bunuh sebanyak-banyaknya Yokai yang bisa kau bunuh. Jika kau sudah tidak sanggup, kau bisa melarikan diri.”

__ADS_1


“Bagaimana denganmu?”


“Hmm. Aku akan menangani sisanya.” Dari kejauhan, aku bisa melihat para Yokai itu sudah mulai bergerak. “Mereka datang, bersiaplah untuk bertempur.”


“Baik.”


-----------------------


“Ketua, Rein menghilang.” (???)


“Apa kau bilang, disaat seperti ini dia malah menghilang. Apa ada yang tau dimana Rein?”


“Ketua, aku tadi melihat Rein pergi bersama seseorang.”


“Seseorang?”


“Hah, pengecut itu kabur.” (Lur)


“Kemana dia pergi?”


“Sepertinya mereka pergi ke tempat para Yokai itu berkumpul.”


“Itu tindakan yang sangat gegabah. Pasukan, segera bersiap. Kita akan berangkat menuju ke tempat para Yokai itu.”


“Baik.”


“Rein, apa yang sebenarnya kau pikirkan. Pergi ke tempat berbahanya sepeti itu.”


“Palingan dia sudah bosan hidup.”


“Lur, jaga ucapanmu. Mau bagaimanapun, dia adalah anggota penting dalam organisasi kita. Kita tidak boleh sampai kehilangan orang berbakat sepertinya.”


“B-Baik ketua.”


----------------------------


Sementara itu.


“Rein, apa kau baik-baik saja?”


“Ya, aku baik-baik saja.” Meskipun begitu, nafasnya terngah-engah. Ia berhasil membunuh 3 Yokai, dan itu juga sedikit bantuan dariku.


Setidaknya dia sudah sedikit berkembang. “Rein, jika kau lelah. Kau bisa beristirahat, aku akan mengurus sisanya.” Karena ada Rein, pergerakanku jadi sedikit terhambat. Aku juga harus melindungi Rein, jika saja dia tidak ikut mungkin saja aku sudah menyelesaikannya dengan cepat.


Aku perlahan mulai maju. “Baiklah para Yokai, waktu bermain sudah selesai.” Masalah terbesarku adalah Rein, saat bertarung aku juga harus melindunginya. “Ini akan sedikit merepotkan.”


------------------------


“Hebat. (kagum) Hanya dengan sekali serang, para Yokai itu langsung musnah.”


Setiap Yokai yang mendekat ke arahku, aku langsung menebasnya dengan pedangku. 'Jika dipikir-pikir, kekuatan ini sudah termasuk cheat.' Aku bisa mengalahkan para Yokai ini dengan mudah.


“Hiroaki, dibelakangmu.”


Ctraaasss.


“Terima kasih. Sepertinya Rein aman-aman saja.” Tak ada Yokai yang mendekat ke arahnya, ini sedikit menguntungkan untukku.


Beberapa menit kemudian


“Ha, akhirnya selesai juga.” Seluruh Yokai sudah aku basmi semua.


“Hebat. Hanya dalam beberapa menit, semua Yokainya musnah.”


“Rein, apa kau sudah bisa berdiri?”


“Ya, aku bisa.”


Kalau seperti itu, tak ada lagi yang perlu aku cemaskan. “Aku akan pergi, kau diam disini saja.Tunggu sampai bala bantuan datang.”

__ADS_1


“Kau mau kemana?”


“Ke markas mereka.” Aku langsung berangkat. Hutan ini adalah salah satu markas mereka, jika aku bisa membereskannya, maka aku hanya tinggal membereskan markas satunya dan dengan begitu tugasku di dunia ini selesai. “Tapi, aku rasa tidak akan semudah apa yang aku pikirkan.”


__ADS_2