Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
7


__ADS_3

Hutan dekat dengan kerajaan Drenan.


“Shura, kau bisa pergi.”


Groaarrr.


Shura pergi. “Hiroaki, kenapa kau melakukannya!”


“Haa.” Setelah aku menjelaskan apa yang terjadi, entah kenapa aku dimarahi oleh mereka berdua. “Sudah aku bilang, aku diberi tuas oleh dewa Sha.”


“Jangan mengelak, mana mungkin dewa memerintahkanmu untuk menghancurkan kerajaan. Meskipun kerajaan itu sangat buruk, tapi tidak mungkin dewa menyuruhmu untuk menghancurkannya tanpa alasan.”


“Sayang, katakan alasanmu yang sebenanya.”


“Haa.” Entah kenapa mereka tidak percaya padaku. “Sudahlah, jika kalian tidak percaya. Lagipula kerajaan itu sudah hancur.”


Plaaakkk.


Emilia menamparku. “K-Kau. Bagaimana bisa kau bersikap tenang setelah membunuh semua orang yang ada dikerajaan itu. Apa kau tidak merasa bersalah sedikitpun.”


Saat ini, aku merasa sangat marah. Mereka sama sekali tidak mempercayai apa yang aku katakan, tapi aku tidak bisa melakukan apapun. “Emi, Ai, kalian berdua kembalilah ke penginapan.”


“Tunggu, jangan seenaknya menyuruh orang. Jawab dulu pertanyaanku.”


“Emilia.”


“H-Hiroaki.”


“Aku mohon, kembalilah. Aku butuh waktu untuk sendiri.”


“B-Baik.” Mereka pergi


“Dewa Sha, tolong kirim aku ke tempat dimana aku bisa menghilangkan stress ini.”


“Haa, baiklah.” Seketika aku berpindah ke sebuah tempat yang sangat luas. “Tempat ini adalah taman abadi, salah satu karya terbaikku. Mengamuklah sesukamu disini.”


“Terimakasih.” Aku tidak ingin mengamuk dan menghancurkan apapun, aku hanya ingin sebuah ketenangan. “Ternyata membawa mereka bukan pilihan yang bagus, ya.” Jika saja aku tau akan begini, aku tidak akan membawa mereka. “Haa, ini sangat, menyebalkan.”


Ini sangat menyebalkan sekaligus aku menyesal. “Tenang, ya. Sejak kapan aku kehilangan kemanusiaanku.” Sikapku yang tenang ini, bahkan saat membunuh manusia sekalipun. Sejak kapan aku mendapatkannya.


“Hey, jangan murung seperti itu. Itu tidak terlihat seperti dirimu saja.”


“Dewa Sha, ya.” Entah kenapa dewa Sha menghampiriku kemari.


“Pasti ada banyak hal yang ingin kau tanyakan, tapi aku tidak bisa menjawabnya.”


“Haa, aku sudah tidak memiliki pertanyaan lagi. Aku sudah terlalu terbawa kedalam pertempuran ini.”


“Pertempuran, ya. Aku cukup kagum denganmu yang masih bisa tenang hingga sampai saat ini.”


“Tidak ada alasan untukku marah, lagipula aku tidak akan mendapatkan apa-apa dari kemarahanku itu.”


“Itu pemikiran yang bagus. Hiroak, apa kau tau.”

__ADS_1


“Ada apa?”


“Jika kau menjadi dewa...”


“Haa, pembicaraan itu lagi, ya. Aku tidak tertarik.”


“Begitu. Padahal sudah ada beberapa dewa yang setuju, jika kau mau kau bisa langsung menjadi dewa.”


“Menurutku, menjadi dewa itu sangat membosankan.”


“Begitu? Aku tidak akan memaksamu, lagipula kau sendiri yang akan memilih jalanmu sendiri. Meskipun begitu, kau sudah memiliki syarat untuk menjadi dewa kapanpun kau mau.”


“Syarat?”


“Sebenarnya ada beberapa syarat, tapi ini adalah yang paling penting.”


“Huh? Apa itu?”


“Hehe. Kau penasaran?”


“Tidak juga, mau kau beritahu atau tidak itu tidak akan merubah pikiranku.”


“Begitu. Kalau begitu, ya sudah.” Dan suasana hening selama beberapa waktu karena tidak ada topik yang bisa dibahas.


Beberapa lama kemudian.


“Sudah saatnya kau kembali.”


“Biarkan aku disini sedikit lebih lama lagi.”


“Baik.” Dewa Sha pergi.


Tempat ini sangat tenang, persis seperti yang aku inginkan. “Mungkin, aku sudah terlalu lelah.” Mengalami banyak pertarungan, dan juga kejadian yang berbeda, mungkin itu yang membuatku membutuhkan sebuah ketenangan seperti ini untuk menghilangkan semua stres yang ada dipikiranku. “Haa, tempat ini sangat nyaman.”


Beberapa menit sudah berlalu dan aku sudah merasa sedikit lebih baik. “Ha, baiklah waktunya kembali, mungkin saja mereka mencemaskanku.” Meskipun aku tak yakin begitu. Aku mulai memjamkan mata tepat seperti yang dikatakan oleh dewa Shad an setelah beberapa detik aku kembali membuka mataku. “Jadi disini, ya.” Aku kembali ke tempat dimana aku berpisah dengan Emilia dan Ai. “Sebaiknya aku segera kembali.”


Siang hari.


Aku kembali ke kerajaan Drenan.


Penginapan.


“Dimana mereka?” Mereka tidak ada di penginapan. “Mungkin mereka sedang membeli makanan atau semacamnya, lagipula tadi mereka melewatkan sarapan.” Setidaknya itulah yang aku pikirkan.


Beberapa jam setelah itu.


Sore hari.


Mereka belum juga kembali. “Dimana mereka?” Ini membuatku sedikit cemas, dan karena itu aku putuskan untuk mencari mereka.


Beberapa lama setelah itu.


“Dimana mereka?” Aku sudah mencari ke penjuru tempat, tapi aku belum menemukan mereka. “Sial! Kemana mereka sebenarnya pergi.” Aku takut terjadi sesuatu pada mereka.

__ADS_1


Aku kembali ke gerbang, dan bertanya pada penjaga yang menjaga gerbang. “Kami tidak melihat gadis yang kau sebutkan itu.” (penjaga)


“Begitu. Terimakasih.” Mereka tidak melihat Emilia dan Ai, itu berarti dugaanku benar. “Sial!!” Aku bergegas pergi keluar dari kerajaan.


Beberapa menit kemudian.


‘Dewa Sha!! Dewa Sha…’ Dewa Sha tidak menjawab panggilanku. ‘Kemana dia, disaat penting seperti ini.’ Sangat jarang dewa Sha tidak menjawab panggilanku. Mungkin ada sesuatu yang terjadi padanya.


Cukup lama setelah itu.


“Sial!! Dimana mereka berada.”


“Ahh. Hiroaki, ada apa?”


“Dewa Sha. Tolong bantu aku, katakana dimana Emilia dan Ai berada.”


“Ini sangat berat tapi, baiklah. Akan aku katakan.”


Beberapa lama setelah itu.


“Mereka ada didalam gua itu.”


“Dewa Sha, terimakasih.”


“Ya, semoga kesabaran berpihak padamu.”


“A-..” Dewa Sha menutup telepatinya. ‘Aku tak tau apa yang sebenarnya dewa Sha ingin katakan, tapi yang paling penting aku harus menyelamatkan Emilia dan Ai terlebih dahulu.’ Aku masuk kedalam gua itu.


Dan saat berada didalam. “H-Hi-roa-ki…” Sesuatu yang tak pernah aku harapkan terjadi.


“AAAAAHHHH!!!!! LEPASKAN MEREKA!! SHIRAME RYUGA!!!”


Beberapa menit setelah itu.


“H-Hiroaki. M-maaf.”


“T-Tidak, tidak. Yang seharusnya minta maaf adalah aku, maafkan aku. Seandainya saja aku tidak egois, hal seperti ini pasti tidak akan terjadi pada kalian. Maafkan aku.” Tanpa aku sadari air mataku menetes.


“S-sayang. Jangan menangis. K-Kau tid-ak boleh menagis, seorang raja tidak boleh menangis.”


“Emilia, Ai...” Seluruh tubuh mereka terluka, dan aku tak sanggup melihatnya. “Maafkan aku. Aku mohon maafkan aku…”


“(tersenyum) Hikari, kau tidak boleh menangis. Tersenyumlah.”


“A-Aku tidak bisa.”


“Hiroaki. Aku mohon.” Meskipun berat, aku mencoba untuk tersenyum sesuai permintaannya. “(tersenyum) Itu, baru Hiroaki yang aku sayangi… Hiroaki, selamat tinggal.”


“Emi… Emilia... Hey, Emilia!!” Detak jantungnya berhenti, dan suhu tubuhnya tiba-tiba saja turun. “Ai!! Ai... Ai!!” Aku mencoba untuk memanggilnya, tapi ia tak menjawabnya. “I-Ini, ini semua bohong’kan. B-benar, ini pasti mimpi. Aku, pasti tertidur di tempat itu, ya. Aku hanya perlu bangun, dengan begitu mimpi buruk ini akan hilang.”


Aku mencoba melakukan sesuatu, tapi tak berhasil.


Plaakkk,

__ADS_1


Aku mencoba untuk menampar pipiku. “Sakit. i-ini, bukan mimpi...” Sesuatu yang harusnya tersegel, perlahan mulai bangkit dariku. “AHHHHHHHHHHH!!!!!!!”


__ADS_2