Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
13


__ADS_3

Pagi hari, jam - -.- -


Aku membuka mata, dan aku sudah berada di kamarku di penginapan.


"Ah. (memengang kepala) Apa yang terjadi." Aku ingat kalau aku pingsan akibat pukulan pangeran yang sombong itu.


"Ha~ (menghela nafas) Sebaiknya aku harus banyak latihan supaya aku bisa menjadi lebih kuat."


"Hiroaki, kau sudah bangun!! (memeluk) Aku senang kau sudah bangun."


Tiba-tiba Rin memelukku.


"Eh? Ehhhhh!!! Tu-tunggu Rin, henti..."


Kreeekkkk. (pintu terbuka)


Garden dan Leona masuk ke kamar. "Yo bocah, Akhinya kau sadar juga."


"?? (bingung)"


Sementara itu, Rin masih terus memelukku dengan sangat erat.


"R-Rin, bisa kau hentikan ini."


"Biarkan saja dia seperti itu dulu." (Leona)


"Bukannya ini..."


"Hey bocah, sudah biarkan saja. Dia sudah merawatmu selama kau tak sadarkan diri." (Garden)


"Tak sadarkan diri? Memangnya, berapa lama aku tak sadarkan diri?"


"Hmmm, sekitar 4 hari."


"Apa!!"


Padahal hanya satu pukulan saja yang pangeran itu lancarkan padaku, tapi karena hal itu juga aku pingsan dan tak sadarkan diri selama 4 hari, betapa lemahnya diriku saat ini. Dan juga, aku beruntung sudah meminta dewa untuk menghilangkan peraturan mutlak yang ada pada diriku dan Rin. Jika tidak, mungkin hal ini juga akan menimpa Rin.


Tanpa sadar Rin sudah tertidur dalam posisi memelukku.


"Ehh, Rin, Rin, bangun. Kenapa kau tidur di sini."


Rin kelihatan sangat kelelahan, aku bisa melihatnya dari cara ia tertidur, terlihat seperti orang yang sudah sangat kelelahan.


"Hey Garden."


"Ada apa bocah?"


"Bisa kau bantu aku, menidurkan Rin di kasur." Aku berniat untuk bangun dari tempat tidurku dan membiarkan Rin untuk tidur di kasur milikku.


"Baiklah bocah." Garden menyetujuinya.


----------- Beberapa menit setelah itu --------


Rin sudah tidur di kasur milikku.


"Hey garden."


"Ada apa lagi bocah?"


"Apa yang sudah terjadi dengan Rin selama aku tak sadarkan diri?" Karena melihat Rin yang tertidur sangat pulas aku jadi penasaran menanyakannya.


"Seperti yang kau lihat. Selama kau tak sadarkan diri, dialah yang terus merawatmu. Dan juga seharusnya kau berterima kasih padanya."


"Hmm, baiklah. Oh ya Garden, aku ingin bertanya sesuatu."


"Apa? Tanyakan saja."


Aku memutuskan untuk menanyakan tentang pangeran yang menghajarku sampai pingsan.


"Apa kau tau sesuatu tentang kerajaan Slavic?"


"Hmmm. (memengang dagu) Kerajaan Slavic, ya. Sudah lama aku tak pergi ke sana."


Garden terlihat ragu-ragu untuk memberitahuku, dan juga, ia sepertinya tau sesuatu.


"Apa kau tau sesuatu?"


"Tunggu dulu, kenapa kau sangat ingin tau tentang kerajaan Slavic, dan yang lebih penting, kenapa kau bisa tau tentang kerajaan Slavic? Apa ada yang memberitahumu?"


Aku tidak mungkin bilang kalau yang membuatku seperti ini adalah pangeran dari kerajaan Slavic.


"Ehh, ahh. Aku cuma ingin tau saja, dan juga aku mendengar hal itu dari petulang yang ada di guild waktu itu."


"Ohh, seperti itu. Baiklah, akan aku memberitau sesuatu tentang kerajaan Slavic padamu."


"Baik. (mengangguk)"


Garden mulai menjelaskan.


"Baiklah, sebaiknya aku mulai dari mana, ya? (berfikir) Oh, aku mulai dari situ saja. Dengarkan ini baik-baik bocah."


"Baik."


"Aku akan menjelaskannya menjadi 2 bagian saja."


"2 bagian?"


"Ya,  itu akan memudahkanku untuk menjelaskan tentang kerajaan Slavic padamu, lagi pula jika terlalu banyak, kau mungkin tak akan paham apa yang aku ucapkan padamu nanti."


"Emm, baiklah."


"Pertama, Kerajaan Slavic itu berada di bagian selatan dikerajaan ini."


"Ehhh, tunggu dulu, itu berarti masih ada kerajaan lain di benua ini selain kerajaan ini?"


"Hmmm. Ya, seperti itu."


"Memangnya ada berapa banyak kerajaan yang ada di benua ini?"


"Untuk hal itu aku kurang tau pasti, tapi aku bisa menyimpulkan bahwa, ada lebih dari 100 kerjaan yang berdiri di benua ini."


"S-s-seratus." Aku tak tau seberapa luasnya benua manusia ini sehingga mampu menampung hingga lebih dari 100 kerajaan.


"Iya, dan lebih jauh lagi di bagian barat dari kerajaan ini, ada ibu kota kerajaan benua ini. Biasanya, di sana hanya ada para petinggi baik para bangsawan maupun petualang tingkat atas saja. Dan sangat jarang ada penduduk dari kalangan orang biasa yang tinggal disana, lagipula di sana pajak yang di berikan oleh pemerintah kerajaan pada penduduknya jumlahnya sangat besar."


"Sebenarnya, seberapa besar sih perbatasan benua yang ada di dunia ini?"


"Hmmm. Untuk itu, aku juga tidak tau."


"Sepertinya ada juga yang tidak di ketahui oleh garden." pikirku.


"Aku lanjut ke pembahasan. Kerajaan Slavic adalah salah satu kerajaan yang cukup berpengaruh di benua ini. Dahulu, kerajaan Slavic berperan sangat besar dalam peperangan antar ras yang ada di dunia ini. Oleh karena itu, kerajaan Slavic cukup dihormati oleh kerajaan lainnya yang berada di benua ini, karena jasanya yang sudah mengirimkan lebih dari 100 ribu prajurit dan juga 50 ribu petualang untuk terjun ke dalam medan perang."


"Perang antar ras? (bingung)"


"Oh kau belum tau, ya. Hmmmm. Baiklah, mungkin aku juga akan menjelaskan sedikit tentang perang antar ras ini. Perang antar ras terjadi kira-kira 500 tahun yang lalu di dunia ini. Perang itu bertujuan untuk menjadikan siapa ras terkuat yang pantas untuk memimpin dunia ini melalui sebuah pertempuran. Banyak ras juga ikut dalam perang ini, oleh karena itu perang ini dinamakan 'Perang antar ras', dan jumlah korbannya pun tidak main-main jumlahnya."


"M-memangnya berapa?"


"Korban dari ras manusia sendiri, kurang lebih. Hampir 1 juta orang ras manusia yang tewas dalam perang itu."


"S-s-satu juta.!! (terkejut)"


"Iya, dan kerajaan yang paling banyak menyumbangkan prajurit dan juga para petualang adalah kerajaan Slavic. Oleh karena itu, baik raja maupun pangeran yang berasal dari kerajaan Slavic  cukup dihormati oleh orang-orang."


Mengingat kalau ada lebih dari 100 kerajaan yang berdiri di kerajaan ini. Tapi, jika 150 ribu orang yang di kirim oleh kerajaan Slavic berarti bisa di simpulkan bahwa sekitar 15% kekuatan di berikan oleh kerajaan Slavic dalam perang antar ras ini, dan mungkin kerajaan Slavic'lah yang mengalami dampak lebih besar dari pada kerajaan lainnya terutama dalam jumlah prajurit maupun para petualang yang telah di keluarkan oleh kerajaan Slavic sendiri. Jadi, pantas saja orang-orang kelihatan sangat hormat terhadap pangeran kerajaan Slavic yang memukulku waktu itu, jadi itu penyebabnya.


"Dan yang ke-2 adalah, ambisi dari kerajaan itu."


"Ambisi?"


"Hmm, (memengang dagu) bisa dibilang jika mereka mengiginkan sesuatu, mereka akan melakukan cara apapun untuk mendapatkannya."


"Oh, begitu."


"Dan satu hal lagi yang harus kau ingat. Jangan pernah sekalipun kau berurusan dengan kerajaan Slavic."


"Ahh, baik."


Meskipun begitu, sepertinya aku sudah terlibat satu masalah terhadap pangeran dari kerajaan itu. Dan satu hal lagi yang ingin aku tanyakan pada Gerden. " Oh ya Garden. Nama kerajaan ini apa?"


"Kau tidak tau?!"


Mengingat kalau aku hanya tinggal di tempat ini tanpa tau nama tempat ini, dan lagi pula Garden tidak pernah memberitauku tentang nama kerajaan ini sebelumnya. Jadi, aku rasa tidak ada salahnya menanyakan hal ini padanya.  "Kau'kan belum memberi tauku."


"Benarkah?"


"Iya."


"Hahaha, baiklah akan aku beri tau nama kerajaan tempat kita berada sekarang ini."


"Ya.."


"Nama kerajaan ini adalah kerajaan Aslev. Kerajaan ini di pimpin oleh raja Ariku Garben Aslev, ia juga memiliki beberapa purta dan juga putri yang tinggal di istana, dan cuma hal itu saja yang aku ketahui tentang kerajaan ini."


"Ohh."


"Apa sudah tidak ada yang ingin kau tanyakan padaku lagi?"


"Hmmmm, sepertinya sudah tidak ada. (tersenyum)" untuk sekarang, aku rasa sudah tidak ada  hal yang ingin aku tanyakan lagi.

__ADS_1


"Oh baiklah. Oh ya, kalau boleh tau, ada masalah apa kau dengan pasanganmu?"


"Ehh? Memangnya ada apa?"


"Hmm. Ya, apa kau sedang bertangkar atau apa?"


"Kenapa?"


"Garden jangan bertele-tele." (Leona)


"Ah?"


"Garden mau tau, kenapa tandamu bisa hilang."


"Ohh, begitu."


"Ahh, begitulah. (tersenyum)"(Garden)


"Tidak ada apa-apa."


"Ahh?!! (kaget) Ta-tapi bagaimana tandamu bisa hilang." (Leona)


Aku kira hal seperti ini sudah biasa, itulah yang di katakan dewa padaku, tapi aku tak tau kalau respon Garden dan juga Leona akan seperti ini. Apa ada yang salah dengan kata-kataku.


"Eh, b-bukan. Sepertinya memang ada sedikit masalah antara aku dan Rin." Karena aku sudah diberitahu oleh dewa untuk tidak memberitau siapapun tentang hal ini, termasuk pada Garden dan juga Leona, jadi aku berbohong.


"Seperti itukah." (Garden)


"Ya."


"Ya sudah. Sebaiknya kau segera berbaikan denganya, atau jika tidak akan terjadi hal yang tak di inginkan."


"Ah, baik."


"Ayo, sekarang kita pergi Garden." (Leona)


"Pergi?"


"Oh ya bocah. Untuk beberapa hari, aku akan pergi menjalankan sebuah misi, jadi selama aku tidak ada, kau harus bisa menjaga diri."


"Baiklah."


"Kami pergi dulu." (Leona)


Garden dan Leona pergi dari kamar untuk menjalankan misinya.


Sementara itu, aku masih berada di kamar bersama Rin yang sedang tertidur pulas.


"Hiroaki, Hiroaki." (Rin)


Aku mendengar Rin memanggilku dan aku putuskan untuk melihatnya, siapa tau dia sudah bangun.


"Rin, apa aku su-"


Ternyata Rin hanya mengigau, tapi kenapa dia memanggil namaku? Dan juga, dia kelihatan gelisah, meskipun dalam keadaan tidur. "Apa dia sedang bermimpi buruk?" pikirku.


Beberapa saat setelah itu, air mata Rin keluar dari kelopak matanya. Aku pun mengusap air matanya menggunakan tanganku.


"Hiroaki, Hiroaki."


Entah kenapa dia terus memanggil namaku. Aku pun memengang tangannya, bertujuan untuk membuatnya lebih tenang.


------- Beberapa menit kemudian -------


"Sepertinya berhasil, Rin sudah kelihatan tenang." gumamku


Setelah itu, aku melepaskan genggaman tanganku, dan keluar dari kamar untuk membeli makanan untuk Rin saat dia bangun nanti.


-------- Beberapa menit berjalan --------


Aku keluar dengan hanya membawa uang, dan sepertinya uangku masih tersisa, dan Rin mungkin menggunakan uangku untuk membeli makanan saat aku pingsan. 1 koin emas dan 50 koin perak, itulah uang yang aku bawa saat ini.


Tak lama kemudian, akupun sampai di depan rumah makan yang selalu aku datangi.


Kring. (suara bel di balik pintu)


"Selamat datang, tuan. Silahkan pilih tempat duduk yang anda suka."


Seorang pelayan wanita menyambutku, dan sepertinya dia adalah gadis yang aku temui 4 hari yang lalu, sebelum aku pergi kehutan untuk melakukan misi pembasmian.


"Baik."


Aku berjalan menuju ke salah satu meja makan yang kosong dan aku pun duduk di kursi itu.


Kemudian pelayan yang tadi menyambutku menghampiriku dan memberikanku sebuah buku menu. Dan karena aku tak bisa membaca tulisannya aku hanya memesan makanan spesial yang selalu aku beli di sini, lagi pula rasanya enak dan juga cukup murah.


"Emmm, aku pesan makanan spesial saja."


------- Setelah beberapa menit menunggu ------


"Maaf membuat anda menunggu, tuan. Ini pesanan anda."


Pelayan itu menaruh makanannya di meja. "Terima kasih."


"Semuanya 3 koin perak, tuan."


"Ini. (memberi koin)"


Pelayan itupun pergi. "Tunggu sebentar." Aku memanggilnya lagi.


"Apa ada yang bisa saya bantu, tuan?"


"Aku ingin pesan makanan ini satu lagi, untuk di bawa pulang." Sebenarnya itu untuk Rin.


"Baiklah, tuan. Akan segera kami siapkan." pelayan itu pergi lagi.


Aku pun makan dan masih sama, rasanya enak seperti biasa.


--------- Sekitar 7-10 menit kemudian -------


Akupun selesai makan dan pelayan itu menghampiriku sambil membawa sebuah kotak yang di bungkus oleh sebuah kain. "Ini pesanan anda, tuan."


"Ahh, terima kasih."


"Semuanya 3 koin perak, tuan."


Aku pun memberikannya 3 koin perak.


Setelah itu, aku kembali ke penginapan, dan sisa koinku adalah 1 koin emas dan juga 44 koin perak.


Siang hari, jam - -.- -


Sebelum kembali ke penginapan, aku membeli beberapa peralatan seperti pisau, penunjuk arah/kompas supaya ku tidak tersesat di dalam hutan dan juga sebuah tali beserta beberapa peralatan lainnya. Dan itu cukup menguras semua koinku, sekarang koinku hanya tersisa 30 koin perak saja.


"Wahh gawat, sekarang sudah siang. Aku harus segera kembali ke penginapan."


Aku pun bergegas kembali kepenginapan.


--------- Beberapa menit berjalan ke penginapan --------


Aku pun sampai di depan penginapan, dan aku melihat sebuah kereta kuda yang tak asing bagiku.


"K-kereta inikan, milik pangeran yang pernah memukulku."


Dengan cepat aku masuk ke dalam penginapan. Aku berpapasan dengan pangeran Dari Slavic yang pernah menghajarku, aku menghiraukannya dan berjalan menuju ke arah kamarku karena takut terjadi sesuatu pada Rin.


Brakkk. (membuka pintu dengan cukup keras)


Aku membuka pintu dengan cukup keras hingga menimbulkan suara. "Rin kau tak apa-apa. (khawatir)"


Aku melihat Rin yang masih tertidur pulas, dan sepertinya tidak terjadi apa-apa pada Rin, aku mulai tenang.


Akupun duduk di samping Rin sambil menunggunya bangun.


Sore menjelang malam (petang) hari, jam - -.- -


Sentuhan lembut terasa di kepalaku, dan hal itu membuatku membuka mataku. "Hikari, kau sudah bangun. (tersenyum)"


Sepertinya aku ketiduran. Akupun segera bangun. "Apa kau lapar Rin?" itulah yang aku tanyakan, karena menurutku ia mungkin kelaparan karena sejak dari pagi hari hingga sore ia hanya tidur dan tidak makan apa-apa.


"Hm, iya."


Aku berniat memberikannya makanan yang aku bawa, tapi aku ingat kalau itu adalah makanan tadi pagi, dan tak mungkin aku memberikan makanan itu padanya. "Tunggu sebentar, aku akan membelikanmu makanan."


"Hm, baiklah. (tersenyum)"


Setelah itu aku pergi keluar untuk membeli makanan.


------- Beberapa menit kemudian ------


Aku sampai di sebuah toko makanan yang cukup dekat dengan penginapan.


Aku masuk ke dalam toko itu. "Permisi.."


"Ahh ada pembeli rupanya, ada yang bisa saya bantu."


Seorang wanita berumur 30-an datang menghampiriku. "Aku ingin membeli makanan untuk di bawa pulang."


"Ara, baiklah, tunggu sebentar. Aku akan segera kembali."


"Ah, b-baiklah."

__ADS_1


Wanita itupun masuk ke dalam ruangan yang ada di dalam toko ini, dan aku menunggunya.


--------- Beberapa menit menunggu ---------


Wanita itu keluar dengan membawa sesuatu yang mirip seperti kotak makan. "Ini, pesananmu."


"Ahh.. Terima kasih. Berapa biayanya?"


"Cuma 20 koin perak saja."


"Busettt dah, ini pemerasan namanya." pikirku


Mendengar hal itu, aku hanya bisa memberinya 20 koin perak yang ia minta karena aku juga butuh makanan ini untuk Rin. "Terima kasih. (tersenyum)" (Pemilik toko)


Setelah itu, aku bergegas kembali ke penginapan.


-------- Di penginapan -------


Gubrakkkk. (pintu terbuka)


Aku tak sengaja membuka pintunya dengan cukup keras hingga menimbulkan suara yang cukup keras. "Ha, ha, ha. (terengah-engah) M-maaf lama."


"Emm, (menggelengkan kepala) tidak apa-apa."


"Ha. (menghela nafas)"


Aku pun memberikannya makanan yang aku beli barusan yang menghabiskan 20 koin perak dan hanya tersisa 4 koin perak lagi yang ada padaku dan sepertinya besok aku harus mulai mencari quest lagi.


"Nee, Hiroaki."


"Ya, ada apa Rin?"


Rin memberikan makananya padaku. "Apa aku bisa meminta sesuatu padamu."


"Apa? Kau bilang saja akan aku lakukan."


"Mmm, b-bisa kau m-menyuapi a-aku. (malu-malu)"


"Ehhh!!?? K-kenapa?" aku tak tau kenapa Rin meminta hal itu.


"A-apa kau t-tidak m-mau?"


"Ehh, b-bukannya b-begitu."


"Baiklah. (sedih)"


"Ha, mau bagaimana lagi." pikiranku mulai kacau.


"Baiklah, aku akan menyuapimu."


"Terima kasih. (tersenyum)"


Setelah itu, aku pun mulai menyuapi Rin. (SINGKAT AJA)


-------- Sekitar 10-15 menit menyuapi Rin --------


Akhirnya aku selesai menyuapinya. "Terima kasih, makanannya."


Entah kenapa Rin meminta hal seperti ini kepadaku, dan yang pasti aku tak ingin memikirkan hal itu lagi.


Tepat setelah selesai makan Rin kembali tertidur. "Hari ini Rin kenapa?" aku mulai bingung dengan sikapnya hari ini.


Dan karena hari sudah mulai gelap aku putuskan untuk tidur, Rin tidur di kasur milikku dan aku tidur di kasur milik Garden.


"Selamat malam Rin." Akupun tidur.


..........


.....


...


Pagi hari, jam - -.- -


Pagi yang cerah, sinar matahari mengenai wajahku dan itu membuatku bangun dari tidurku yang cukup lelap. "Hoaamm... (menguap sambil mengucek mata)"


"Pagi Hiroaki."


"Pagi juga Rin."


Sepertinya Rin bangun lebih awal dariku.


Akupun bangun dari tempat tidur Garden, setelah itu turun kebawah untuk mencuci muka dan kembali ke kamar.


Saat aku masuk kembali ke kamar, aku melihat Rin kelihatan sangat rapi dan juga cantik pagi hari ini.


Aku menghiraukannya, tapi sebenarnya ku ingin memujinya dengan kata-kata mautku dan menurutku hal itu tidak di perlukan untuk saat ini.


"Hey Rin.. Apa kau mau ikut denganku ke guild?" Aku menanyakan hal itu karena mengingat kemarin sikap Rin yang cukup aneh.


"Aku ikut."


"Baiklah." Akupun mengambil semua pedangku yang ada di bawah kasur milikku dan setelah itu aku pun berangkat ke guild.


------- Beberapa manit berjalan dan akhirnya sampai di depan guild -------


"Ayo Rin kita masuk."


Gdubak, gdubak, gdubak. suara langkah kaki kuda.


Sebuah kereta kuda yang di kawal oleh banyak sekali prajurit yang tak asing dan sudah pasti, itu adalah milik pangeran dari kerajaan Slavic.


Kereta itu berhanti tepat di depanku. Dan pangeran itu keluar dari kereta kudanya, lalu berdiri di depan pintu kudanya sambil membukakan pintu. "Silahkan masuk calon istriku. (melihat ke arah Rin)" Tatapannya tertuju pada Rin.


Mendengar hal itu, membuatku sangat marah. Aku menghampiri pangeran itu dan mengangkat kerah bajunya.


"Woywoywoywoy!!!!!! APA MAKSUD PERKATAANMU ITU!!!! (emosi)"


"Prajurit!"


Para prajurit yang bersama pangeran itu menarikku dan membuat genggamamku terlepas dari kerah baju sang pangeran itu.


"Hajar dia!"


Para prajurit itu menghajarku.


"Hentikann!!!! Jangan sakiti Hikari!!" (Rin)


Rin berteriak cukup keras kearah pangeran itu.


"Prajurit, berhenti!"


Para prajurit itu berhenti memukuliku. Rin menghampiriku. "Aku minta maaf Hikari, aku sungguh minta maaf." Rin menangis dan air matanya jatuh mengenai wajahku.


"Baiklah, calon istriku, sekarang saatnya kita pergi."


Dengan wajah sedih Rin barjalan ka arah kereta kuda. "K-kumohon R-Rin, j-jangan p-pergi."


Rin tak mendengar kata-kataku, dan ia pun masuk ke dalam kereta kuda itu, dan sebelum sang pangeran ikut masuk ke dalam kereta kuda itu dia memberitaukan sesuatu yang cukup membuatku terkejut. "Wahai para rakyat dan petualang yang ada di sini. 3 hari lagi, aku pangeran pertama dari kerajaan Slavic akan mengadakan pesta pernikahan. Dan aku akan merasa senang bila kalian semua bisa datang ke acara pernikahanku."


Setelah mengatakan hal itu, pangeran itu masuk ke dalam kereta kudanya dan langsung pergi.


Entah kenapa setelah menengar hal itu membuat hatiku sangat sakit.


Tak lama kemudian, ada seseorang yang menyembuhkanku. "Cahaya penyembuh, Heal"


Aku tak tau siapa yang sudah menyembuhkanku, tapi aku sungguh berterima kasih pada orang itu.


Sementara itu, aku dengan perasaan marah, kesal dan juga sakit hati pergi ke hutan bagian utara.


------ Setelah beberapa jam berjalan (Area hutan bagian utara) -------


Aku masuk ke dalam hutan itu, dan pikiranku kosong.


Grrrrrrr. (gerangan hewan)


Seekor hewan iblis berada tepat di depanku, kemudian hewan itu melompat dan berniat menyerangku.


Entah kenapa saat melihat hewan iblis itu, aku seperti melihat pangeran sialan itu. "AHHHHHHH!!!!!" Aku pun menebasnya menggunakan semua pedangku dengan sekuat tenaga.


Srhaassss. (tebasan)


Hewan iblis itu, terpotong menjadi bagian-bagian yang sangat kecil. Seketika itu juga air mataku keluar. "Eh? Ada apa ini.(menghapus air mata) Ada apa denganku?"


Darah hewan iblis itu mengenai sedikit bagian dari bajuku. "AAAAHHHHHHHH!!! Kenapa denganku, ada apa denganku, hatiku sangat sakit dan belum pernah sesakit ini."


Akupun duduk dan memejamkan mata. "Yo bocah dunia lain, sepertinya kau dalam sebuah masalah yang cukup rumit."


Aku mendengar suara yang tak asing bagiku. Akupun memuka mataku dan aku melihat Sha sang dewa sedang berada di depanku.


Aku melihat sekeliling dan aku sudah berada di dalam gua. "K-kenapa aku bisa ada disini?"


"Ya, karena aku yang memanggilmu."


"Ada apa kau memanggilku?"


"Aku hanya ingin mengabulkan permintaanya yang waktu itu belum bisa aku penuhi."


"Permintaan? Permintaan apa itu?" aku tak ingat kalau aku punya permintaan yang belum terpenuhi.


"Mengembalikan ingatanmu."

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2