
Siang hari, jam 13.54
Saat ini sedang berbaring di pungung naga Shura yang sedang menuju ke hutan iblis. "Apa tempatnya masih jauh?"
Sudah berjam-jam perjalanan, tapi naga Shura belum berhenti, dan itu menandakan kalau aku masih belum sampai di tempat tujuan. "Apa sebaiknya aku tidur dulu. Ya sudah, aku tidur saja" Karena perjalanan ini sepertinya akan cukup lama aku memutuskan untuk tidur di punggung naga Shura, sebentar.
-------- Setelah berjam-jam tidur --------
Sore hari, jam 17.25
Groaaarrr.
Suara raungan naga Shura membuatku terbangun. "Apa sudah sampai?" Aku melihat ke sekitar dan dibawahku terdapat sebuah hutan yang menyeramkan dan juga hutan ini sangat luas. "Apa benar ini tempatnya."
Naga Shura perlahan turun. "Jika seperti itu, berarti benar ini tempatnya." Sepertinya aku sudah sampai di hutan iblis, tempat yang dikatakan oleh dewa Sha.
Akupun turun dari punggung naga Shura, dan naga Shura pun pergi. Dan seketika aku mengingat sesuatu yang sangat penting. "Kemana aku akan pergi mencari buah itu?.." Dewa Sha tidak memberitahu tentang hal itu, dan itu sangat membuatku kebingungan. "Aku harus mulai dari mana dulu..?"
Grrrrrr.
Aku mendengar suara dari semak, dan aku curiga itu adalah seekor monster. Dan benar saja, seekor monster melompat keluar dari semak itu. "Monster apa itu..." Itu adalah monster yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Monster itu cukup aneh, ia berbentuk seekor kucing dengan taring panjang tajam, dan juga tubuhnya cukup kecil. Monster itu pergi, dan karena penasaran akupun mengikutinya.
--------- Setelah beberapa menit -----------
"Gua?" Monster kucing itu masuk ke dalam sebuah gua besar yang ada di hutan ini. Dan tanpa sadar, hari sudah mulai gelap dan hawa di sekitar sini mulai manjadi dingin, dan suasana di hutan ini mejadi sangat mencekam.
Dan karena hari sudah mulai gelap, mau tak mau aku harus masuk ke dalam gua ini, karena akan berbahaya jika saat ini aku berjalan malam hari.
--------- Beberapa menit kemudian -----------
Aku masuk ke dalam gua ini, dan di dalam gua ini tidak ada apa-apa. Dan setelah aku cukup jauh berjalan, aku melihat sebuah cahaya terang jauh di depanku. "Cahaya apa itu?" Semakin aku jauh berjalan, cahaya itu semakin terang.
Dan akupun sampai di ujung gua ini. Di dalam gua ini kosong, dan cahaya yang aku lihat tadi tiba-tiba menghilang. Keadaan gua ini sangat gelap karena tidak ada cahaya dan aku cukup kesulitan untuk keluar dari dalam gua ini.
Aku berjalan dalam kegelapan di dalam gua ini untuk keluar dari sini.
"Eh? Apa ini?" Aku menyentuh sesuatu yang keras, dan ini terasa seperti sebuah batu. Aku mencoba untuk memastikannya dan ternyata benar, ini hanyalah sebuah batu.
Dan sesaat setelah aku melepaskan peganganku dari batu itu, sebuah guncangan cukup besar terjadi. "Ada apa ini?! Apa ada gempa" Aku takut gempa dengan kekuatan yang cukup besar akan datang, karena saat ini aku sedang berada di dalam sebuah gua dan bisa saja aku tertimbun bebatuan saat gempa besar terjadi.
------- Beberapa saat kemudian --------
Goncangan itu berhenti dan di dalam gua ini sekarang terlihat sangat terang. "Ada apa ini?" Aku tak tau asal dari cahaya terang ini, tapi cahaya ini terpantul oleh bebatuan kristal yang ada di dalam gua ini.
Dan batu yang di pengang olehku tadi tiba-tiba saja bergerak. "Ada apa?" Seketika aku mundur beberapa langkah kebelakang.
Batu itu berubah menjadi monster batu yang sangat besar. "Monster batu?"
Monster itu bergerak dan meyerangku. Karena gerakannya yang lambat, aku dengan mudah menghindari serangannya.
Duaaarrr.
Sebuah ledakan cukup besar terjadi sesaat setelah tangan monster itu menyentuh tanah, dan sekeliling tanah itu terbentuk sebuah lubang yang cukup besar. "K-kuat... Meskipun gerakannya lambat, tapi serangannya sangat kuat. Aku harus berhati-hati."
Monster itu kembali bergerak menyerangku, aku kembali menghindarinya dan kemudian segera melancarkan serangan.
Ctanggg.
Saat aku coba untuk menebas tubuhnya. "K-keras..." Tubuh monster ini keras. Akupun melompat kebelakang.
Moonster itu kembali menyerangku, dan saat ini yang bisa kulakukan hanyalah menghindari semua serangannya dan mencoba untuk mencari titik lemah monster ini.
Duaaarr.
Duaarrrr.
Duaaarrr.
Ledakan dan lubang akibat serangan monster ini, mulai memenuhi tempat ini. Dan aku hanya bisa terus menghindari serangan monster ini, tapi ia tak pernah berhenti sekalipun untuk menyerangku.
---------- Setelah hampir setengan jam ---------
"Ha, ha, sial..." Tenagaku mulai habis, dan aku mulai kelelahan karena terus saja menghindari serangan monster ini. "Aku harus cepat menemukan kelemahannya, kalau tidak bisa gawat."
Secara tiba-tiba, monster itu kembali menyerangku. Akupun menghindari serangan moonster itu dengan cara melompat, dan tak di sangaka monster itu kembali menyerangku di udara dan aku mencoba untuk menghindari serangannya dengan menangkis menggunakan pedangku dan segera memutarkan tubuhku untuk menghindari cedera yang serius.
Aku berhasil menghindari serangan itu. Tapi, saat aku sudah menyentuh tanah, monster itu kembali menyerangku, dan aku tak bisa menghindari serangan itu. "Sial!!" Aku terpaksa menahan serangannya menggunakan ke dua pedangku.
Duaaarrr.
Aku terpentar dan menabrak dinding batu gua. "Uhuk, benar-benar lawan yang merepotkan, ia juga tidak punya kelemahan. Tunggu dulu..." Saat aku melompat tadi, aku melihat sebuah bunga yang ada di bagian punggung mnster itu. "Apa mungkin itu..."
Akupun berdiri. "Haha.. Kalau saja tebakanku ini salah, aku pasti akan berakhir mengenaskan." Akupun berjalan mendekati monster itu. "Lebih baik dicoba daripada tidak sama sekali.."
Akupun berlari dan monster itu menyerangku kembali.
Duaaarrrr.
Akupun menghidari serangannya, dan dengan cepat aku memutari tubuh monster ini dan melompat ke tempat dimana bunga itu ada di pungung monster ini.
"Rasakan ini!!" Dan saat aku ingin menebas bunga itu...
Monster itu berbalik dengan cepat dan menyerangku. "B-bagaimana bisa!!" Aku terkena serangan monster itu secara telak, da itu membuatku terpental ke dinding gua, lagi.
"Uhuk.. Te-ternyata dugaanku benar." Karena monster itu berusaha untuk melindunginya, aku yakin kalau itu adalah kelemahanya. "Kalau begini... Aku sudah tau apa yang harus aku lakukan sekarang. Menyerang bunga itu..."
Aku kembali menyerang monster itu. Aku menghindari setiap serangan yang monster itu tujukan padaku, dan akupun sampai di dekatnya.
Aku dengan cepat memutari tubuh monster itu dan mengincar bagian belakang tubuh monster itu. Monster itu dangan cepat berbalik dan menyerangku, aku melompat untuk menghindari serangannya, dan saat aku berada di udara aku sudah bersiap untuk menyerang bunga yang ada di tubuh monster itu.
Ia menyerangku tepat saat aku berada di udara. "Sudah kuduga.." Aku menduga kalau hal ini akan terjadi, karena sebelumnya monster ini juga menyerangku saat aku berada di udara.
__ADS_1
Aku dengan cepat melemparkan pedang Shirameku tepat menuju ke arah bunga yang ada di punggung monster itu.
Slaaasshh.
Lemparanku berhasil mengenai bunga itu, dan gerakan monster ini terhenti, tepat sesaat setelah bunga itu terlepas dari tubuhnya.
"Fuu... itu hampir saja.." Dan hanya berjarak beberapa 'cm' lagi sebelum serangan monster ini tepat mengenaiku.
"Ahh... A-ada apa ini..?" Tiba-tiba saja dadaku terasa begitu sesak, dan aku kesulitan untuk bernafas. "Ha, ha... Kenapa..? Tubuhku t-tidak bisa d-digerakkan.."
"Itu wajar, karena kau sudah memotong bunga beracun itu.." (???)
Suara itu menggema di dalam gua ini.
Tubuhku sudah tidak kuat lagi, rasa sakit ini terus menyiksa tubuhku. "Ha... Karena ulahmu, pekerjaanku jadi semakin banyak."
-------------------
Seseorang wanita datang menghampiri Hiroaki yang sedang terkapar. "Huh? Hey.. Bangun." Hiroaki pingsan karena efek racun dari bunga yang ia potong. "Hmm.. Dia pingsan."
Gadis itu berjalan mendekat ke arah Hikari yang sedang pingsan. "Akhinya kau datang juga... Aki."
____________
Malam hari, jam 23.34
Sementara itu, di dalam gua Hutan timur benua manusia tempat dewa Sha berada.
"Dewa, apa tidak ada tugas lagi yang harus kami lakukan?" (Shin) Saat ini, Shin sedang berada di dalam gua bersama dengan Felicia.
"Hmmm, bagaimana, ya. Untuk saat ini, sepertinya tidak ada yang perlu kalian lakukan."
"Begitu, ya. Dewa, ada yang ingin aku tanyakan." (Felicia)
"Hoo.. Apa yang ingin kau tanyakan."
"Sebelumnya, apa saya boleh tau dimana Rin dan Emilia berada? Saya tidak melihat mereka berdua disini, dimana mereka?"
"Ohh. Mereka berdua, ya. Kau tak perlu khawatir tentang mereka, aku menempatkan mereka di sebuah tempat yang istimewa."
"Begitu.."
"Ada apa.. Apa kau khawatir dengan mereka berdua."
"T-tidak, bukan begitu. Tapi, apa benar di dunia ini ada buah yang bisa membangkitkan orang yang sudah mati."
"Hooo.. Memangnya ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, hanya saja. Jika buah seperti itu memang ada, apa bisa dia mendapatkannya dengan mudah.."
"Jadi itu yang kau khawatikan, ya. Ya, memang benar, mungkin saja dia akan kesulitan untuk mendapatkanya."
"Begitu, ya." Bagi Felicia, Rin adalah sosok sahabat meskipun ia hanya beberapa kali bertemu denganya. Dan Ia memiliki kemiripan dengan Rin dalam hal yang sama.
"Hoo.." (Dewa Sha)
Buggg.
Felicia memberi pukulan tepat di perut Shin. "Uhuk.."
"A-a-apa yang kau katakan..."
"Hoo. Sepertinya kau terlihat senang dipuji olehnya."
"T-tidak... Ma-mana mungkin aku senang dipuji oleh orang bodoh sepertinya."
"Begitukah. Hey Shin, apa kau baik-baik saja."
"I-iya, aku baik-baik saja dewa. Lagipula aku sudah sering dipukul olehnya, jadi ini sudah biasa untukku."
"Ohh, begitukah."
"Iya, tapi..." Shin kelihatan penasaran tentang sesuatu.
"Ada apa?"
"Saat Felicia memukulku, kenapa ia tak merasakan sakit juga."
"Hah!! Apa kau mau aku kesakitan juga sama sepertimu!!"
"Wahh.. Gawat, dia marah. Ia sangat menakutkan kalau sedang marah." (Shin)
"Hmmm.. Begitu, ya. Itu'kan hal yang biasa, kenapa kau mempermasalahkan hal itu saat ini."
"Bu-bukan begitu, hanya saja.."
"Hah.. Baiklah, akan aku beritahu padamu."
"Benarkah.."
"Iya, kalau begitu dengakan baik-baik."
"Baik."
"Hmm... Alasannya cukup mudah."
"Mudah?"
"Iya, karena kau adalah pasanganya."
"Hah? (bingung) Bukanya kalau pasangan, Felicia juga akan merasa kesakitan saat memukulku."
"Kalau untuk itu, apa yang dilakukan pasangan pada pasangannya dengan kontak fisik langsung, maka pasangan lainnya tidak akan menerima apa yang dirasakan oleh pasangan lainnya."
__ADS_1
"Hmm.. Aku tak paham, penjelasanya begitu sulit untuk aku pahami."
"Hah.. Padahal aku sudah meringkasnya agar mudah di pahami, jika penjelasan semudah ini kau tidak paham, bagaimana caramu untuk mengatur kerajaanmu selama ini..?"
Shin adalah raja dari kerajaan Laurent, salah satu dari 3 kerajaan besar yang ada di dunia ini.
"Ahh.. K-kalau untuk masalah itu... Aku selalu menyerahkannya pada Felicia. Benarkan, Fel-chan."
"(tak ada jawaban.)" (Felicia)
"Sepertinya kau selalu kerepotan, ya." (dewa Sha)
"Ha.. Begitulah dewa. Kalau saja dia bukan pasanganku, pasti aku sudah cincang tubuhnya itu menjadi potongan yang kecil."
"Haha.. Bagitu, ya. Tapi, bukannya kau yang memilihnya." (dewa Sha) "Wih... Sadis juga nih cewek."
"I-itu memang benar, sih~..."
"Maaf dewa, kami harus segera kembali." (Shin)
"Ada apa Shin?" (Felicia)
"Apa kau lupa, malam ini kita harus menghadiri upacara itu."
"Iya, aku lupa. Kalau begitu, kami pergi dulu dewa."
"Iya.." Mereka berduapun pergi karena sebuah urusan, dan di dalam gua ini hanya ada dewa Sha sendiri.
"Haaa... Aku sendirian lagi." Dewa Sha memutuskan untuk keluar dari gua ini dan mencari udara segar di luar.
------- Beberapa menit kemudian -----------
Malam hari, jam 23.50
[Benua Elf: Bagian pegunungan area utara]
Saat ini, dewa Sha sedang memandangi langit malam yang indah dengan bintang-bintang yang banyak. "Hmm, Ai. Andai saja kau ada disini saat ini, aku pasti tidak akan kesepian seperti sekarang." Mengenang masala lalu di gunung Shiraku, adalah pekerjaan dewa Sha selama ini.
Gunung Shiraku adalah gunung yang ada di antara perbatasan benua Elf dan benua Manusia, dan gunung itu memiliki sebuah kisah kelam.
"Jika saja aku tak pergi saat itu, kau pasti-..." Di balik sosoknya sebagai seorang dewa, dewa Sha adalah seorang pemuda yang memiliki perasaan cinta dan kasih sayang.
"Dewa? Apa yang kau lakukan di tempat ini." (Difard)
Dewa Sha melihat ke arah suara itu. "Ternyata kau. Tidak ada, aku hanya memandangi langit malam yang indah ini."
"Begitu, ya. Boleh aku bergabung bersamamu?"
"Tentu saja." Difard berbaring di samping dewa Sha, dan ia juga melihat bintang dilangit malam.
"Apa yang kau lakukan disini, bukanya kau seorang raja. Apa boleh seorang raja berkeliaran tanpa satupun pengawal." (dewa Sha)
"Karena aku selalu sibuk dengan urusan kerajaan, aku jadi tak memiliki waktu untuk bersantai. Jadi, aku hanya ingin bebas dari pekerjaanku untuk sementara waktu. Dan aku berpikir kalau pergi ke gunung Shiraku ini adalah pilihan terbaik untuk menghilangkan rasa lelahku"
"Begitu, ya."
"Kalau kau, dewa. Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku hanya ingin mengenang kenangan lama."
"Kenangan lama?"
"Apa kau pernah mendengar tentang kisah, seorang gadis manusia yang jatuh cinta dengan seorang dewa?"
"Iya, itu adalah sebuah kisah yang sangat menyedihkan. Dan menurut bangsa Elf, kisah itu terjadi 1300 tahun lalu sebelum aku lahir..."
"..."
"... Kisah itu menceritakan tentang seorang gadis manusia yang mencintai seorang dewa, dan karena mencintai seorang dewa adalah sebuah penghinaan terhadap dewa itu sendiri. Maka, para penduduk mendatangi rumahnya dan membawanya ke gunung ini..."
"...." Dewa Sha hanya mendengarkan sepenggal kisah yang diceritakan oleh Difard.
"... Lalu, ia di eksekusi di gunung ini."
"Apa hanya itu yang kau ketahui?"
"Hmm... Kalau tidak salah, gunung ini diberi nama Shiraku karena gadis itu juga bernama Shiraku. Aku tak tau apa kisah itu benar, tapi menurutku, kisah itu adalah kisah yang menyedihkan."
"Ternyata kau cukup banyak mengetahuinya, ya."
"Tentu saja. Karena aku adalah ras Elf yang berumur panjang, aku jadi mengetahui banyak hal karena umur panjang ini, dan banyak juga hal yang harus aku pelajari dan aku ketahui tentang dunia ini."
"Hoo, begitukah. Kalau begitu, apa kau tau nama asli dari gadis yang kau ceritakan padaku tadi?"
"Ehh. Kalau itu, aku tidak tau. Tunggu dewa, apa mungkin kisah itu..."
"Ahh.. Waktuku beristirahat sudah habis."
"Tunggu dulu dewa!!"
"Tenang saja, jika aku bertemu denganmu lagi, aku akan menceritakannya." Dewa Sha menghilang.
___________________
Malam hari, jam 01.05
[Kembali lagi di dalam gua hutan timur benua manusia]
"Kisah seorang manusia yang mencintai seorang dewa, ya."
Dewa Sha berjalan menuju ke luar gua. "Andai saja aku mengetahui hal itu lebih cepat. Pasti hal seperti itu tak akan terjadi padamu, Shiraku Ai."
Dan di sebuah tempat di perpustakaan kerajaan milik raja Difard, sebuah buku usang yang terdapat dipojokan gedung dan hampir tak pernah tersentuh. Buku itu menceritakan, betapa kejamnya gadis itu di perlakukan sebelum akhinya di eksekusi, dan tanpa sebab yang jelas, semua orang yang berada di tempat kejadian terbunuh dengan sangat sadis, dan mayat si gadis menghilang.
__ADS_1
Bersambung