
"Shura, lebih cepat!"
Groooaarrrr
---------
Shura bergerak begitu cepat, dan hanya dalam beberapa menit, aku sudah sampai ditempat tujuan.
"Jadi, ini adalah dewa kematian." Dengan bentuk tengkorak yang begitu besar, bahkan lebih 5 kali lipat besar daripada naga Shura. "Jadi dia yang sudah menyebabkan kekacauan yang paling buruk dalam sejarah di dunia ini." Dengan ukuran besarnya itu, pasti ia juga memiliki kekuatan yang sangat luar biasa kuat.
"Shura, serang dia."
Groooaarrrr
Shura mengeluarkan bola api raksasa dan menyerang dewa kematian itu.
Duaaarrr
"Tidak berefek." Serangan kuat milik naga Shura tidak bisa menghentikannya. "Shura, mendekat ke mahluk itu."
Groooaarrrr
Aku berencana untuk menyerangnya secara langsung, jika serangan sihir tidak bisa memberikan dampak, setidaknya serangan fisik bisa dilakukan.
----- Beberapa saat kemudian -----
Di ketinggian yang sama dengan dewa kematian. Tapi, pergerakannya perlahan berhenti. "Apa yang terjadi?"
Aku tak tau apa yang terjadi. "Ini kesempatanku." Aku melompat dan langsung mencoba untuk menyerangnya secara langsung menggunakan pedangku.
Ctanggg
"Keras." Tubuhnya begitu keras, dan sama sekali tidak tergores. "Shura!!" Dengan sigap Shura langsung berada tepat di bawahku. "Tubuhnya keras sekali. Bahkan pedang naga tidak bisa menggoresnya sedikitpun." Karena tubuhnya begitu keras, aku jadi penasaran dengan cara yang digunakan oleh orang-orang yang pernah mengalahkan dewa kematian ini.
Truuuuuuuuuuuuuuut
Dan lagi, suara trompet yang ketiga. "Ini gawat!!" Hanya tinggal 1 tiupan terompet lagi, dan semuanya akan berakhir. "Shura..."
Groooaarrrr
Aku kembali mencobanya, tapi tidak ada satupun serangan yang berhasil.
---- Beberapa menit kemudian ----
Truuuuuuuuuuuuuuut
"Tidak!!!" Suara trompet ke-empat terdengar, dan tepat setelah itu dewa kematian itu bergerak.
Dan disaat bersamaan, aku juga melihat sebuah cahaya yang begitu terang di atas awan yang gelap gulita. "Itu..." Cahaya itu semakin membesar. "SHURA!!!"
Groooaarrrr
Dengan cepat, aku mengabaikan dewa kematian dan lebih memilih untuk mendatangi cahaya besar itu.
Semakin aku mendekatinya cahaya itu semakin membesar. Dan aku begitu terkejut setelah melihatnya. "Shura, cepat hancurkan itu!!"
Groooaarrrr
Sebuah batu meteor raksasa, itulah yang aku lihat.
Duuuaarrrr
__ADS_1
"Tidak berhasil." Serangan terkuat Shura tidak berefek. "Sial..." Batu meteor itu tepat menuju ke kerajaanku, dan jika tidak segera ditangani maka seluruh kerajaanku akan musnah akibat meteor ini.
Dari atas punggung naga Shura, aku mencoba untuk membelahnya menggunakan kemampuan pedang naga milikku. "Haaaaaaa!!!"
Aku mengayunkan pedangku berkali-kali tanpa jeda dan itu aku lakukan terus menerus.
Krakkk... Duaaarrr.
Meteor itu meledak dan terpecah menjadi bagian-bagian kecil.
"Ghuaaahhh..." Mulutku mulai mengeluarkan darah. "Sepertinya aku terlalu banyak mengeluarkan count, aku sudah sampai pada batas. Tapi setidaknya aku sudah berhasil menghancurkannya." Aku kemudian terkapar di atas punggung naga Shura.
Tubuhku begitu berat, dan aku rasa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku untuk beberapa saat.
Truuuuuuuuuuuuuuut
"Ini... Kenapa? Bukannya sudah selesai." Suara trompet itu kembali berbunyi dan ini adalah suara ke-lima. Dan tepat setelah itu...
"I-Ini..." Bukan hanya 1, tapi aku melihat lebih banyak meteor yang datang menuju ke arah kerajannku.
Aku mencoba untuk memaksakan tubuhku untuk kembali bangun. "Ha ha ha..." Rasanya begitu berat.
"Apa yang harus aku lakukan saat ini." Pilihanku adalah menghancurkan meteor itu, tapi aku sudah tidak memiliki kekuatan untuk melakukan hal itu.
"Shura... Kembali ke istana."
Groooaarrrr
Aku dan Shura kembali.
Aku tak punya banyak waktu, aku tidak bisa menghancurkan semua meteor itu. "Ini, adalah pilihan yang sulit."
------- Beberapa menit kemudian ------
"Hiroaki-sama..."
"Lia, cepat bawa yang lain pergi dari istana ini!!"
"Tapi Hiroaki-sama..."
"Lia!" Tanpa sadar aku membentaknya, dan karena itu Lia menunduk. "Maaf sudah membentakmu, tapi aku minta tolong untuk membawa yang lainnya pergi dari sini."
"Tapi Hiroaki-sama... Kita tidak perlu meninggalkan tempat ini."
"Apa yang kau katakan.!?"
"Sewaktu anda pergi, nona Rin, nona Sia, dan nona Ai sudah memberikan sihir pelindung yang akan melindungi kerajaan ini dari serangan apapun."
"Dan kau tenang saja..." Suara yang tak asing terdengar olehku. "Seluruh bagian di kerajaan ini sudah terlindungi, mungkin jika terkena meteor itu hanya bagian luar kerajaan ini yang akan terkena efeknya."
"Dewa... Sha."
"Tuan Sha... Terima kasih atas sarannya waktu itu. Jika anda tidak memberikan saran itu, mungkin saat ini kami akan dalam kekacauan."
"Begitu, ya." Jika yang dikatakan oleh dewa Sha seperti itu.
Gubbraak
Tubuhku terjatuh. "Aku sudah kehabisan tenaga. Jadi, biarkan aku tidur seben..." Sebelum menyelesaikan ucapanku, mataku tertutup dan aku tertidur.
"Hiroaki-sama, Hiroaki-sama... Apa yang terjadi pada anda? Hiroaki-sama!!"
__ADS_1
"Tenang saja, dia hanya kelelahan... Mungkin dia akan tidur sedikit lebih lama dari biasanya."
"Begitu."
"Bisa kau membawanya kedalam."
"Baik." Lia kemudian membawa Hiroaki yang pingsan kedalam.
"Baiklah..." Dewa Sha naik ke atas punggung naga Shura. "Baiklah Shura. Ayo.."
Groooaarrrr
Dewa Sha pergi bersama dengan naga Shura, mereka menuju ke arah sang dewa kematian.
------- Beberapa menit kemudian ------
Duarrrr
Duarrrr
Duarrrr
Meteor yang menyentuh pelindung yang ada di area kerajaan Riel meledak. Dan itu tak membuat kerusakan apapun selain di area luar kerajaan.
"Pergilah dari sini. Bukannya kau sudah hampir menghancurkan dunia ini beberapa abad lalu." Dewa Sha mulai berbicara dengan dewa kematian itu.
"Siapa kau..." Suaranya menggema.
"Pergilah, sebelum aku berubah pikiran."
"Aku memiliki tugas untuk menghancurkan kerajaan ini, dan aku tidak akan pergi sebelum kerajaan ini rata dengan tanah."
"Hm... Begitu. Kalau begitu, bersiaplah..."
Menjeltikkan jarinya, sang dewa kematian itu menghilang.
Kemudian dewa Sha melihat ke atas langit yang gelap gulita. Perlahan warna langit kembali seperti semula. "Pengiriman monster dewa tingkat B. Selesai." Mengatakan hal itu, dewa Sha sedikit tersenyum. "Sisanya, aku serahkan pada kalian, para pahlawan yang ada di dunia lain." Setelah mengatakan itu, dewa Sha pergi menghilang bersama dengan naga Shura.
( Di suatu tempat.)
"Sha, kau membuat masalah lagi kedunia milik dewa lain."
"Hahaha... Sudahlah, nanti aku yang akan mengatasinya."
"Ini sudah kedua kalinya kau melakukan hal yang sama. Aku tidak yakin kali ini-..."
"Tenang saja... Serahkan padaku."
"Kalau begitu, terserah kau saja... Oh ya, kapan kau akan mengajaknya?"
"Mungkin kalau sudah waktunya..."
"Apa kau yakin? Aku yakin kau sudah tau resikonya?"
"Ya, aku sudah tau. Dan aku rasa dia juga akan siap."
"Begitu... Aku akan menunggu kedatangannya, tapi aku tidak tau bagaimana dengan dewa yang lain. Mungkin mereka akan menentang keputusanmu ini."
Dewa Sha sedikit tersenyum. "Hah... Aku sudah memiliki rencananya."
Melihat tingkah dewa Sha, seseorang yang diajak bicara olehnya tersenyum. "Dewa baru yang menarik. Aku menunggu kejutan lain darimu."
__ADS_1
Bersambung....