
Mungkin Yokai adalah asal dari sumber masalah ini, dan jika aku bisa membasminya, maka tugasku mungkin akan selesai.
Dimalam hari yang begitu tenang.
“Hiroaki, kau mau pergi kemana?”
“Aku mau mencari angin sebentar. Oh ya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu.”
“Apa?”
“Para Yokai itu, sebenarnya darimana mereka berasal?”
“Ada yang bilang kalau sarang mereka ada di tengah hutan, dan ada juga yang bilang kalau di gua.”
“Tapi, banyak yang percaya kalau asal Yokai itu dari gerbang yang ada di balik gunung Akaku.” (Rury)
“Gunung Akaku?”
“Gunung yang tinggi dan besar itu, ada yang bilang kalau disana ada sebuah gerbang dan disaja juga para Yokai muncul.”
“Begitu.” Dengan begini, tujuanku sudah ditetapkan. “Aku ingin jalan-jalan sebentar, dan terima kasih makannya. Itu sangat enak.”
-------------------------
“Gunung itu, ya.” Saat ini, aku tengah berada di tengah hutan. Dan dari sini aku bisa melihat jelas gunung Akaku yang Rury sebutkan itu. Tapi, hutan disini sangat aneh. Seluruh pohonnya mongering dan tak ada tumbuhan satupun yang hidup disini.
Saat aku ingin lebih mendekat ke gunung itu, tiba-tiba. “Yokai.” Banyak sekali Yokai yang berkumpul. “Ini cukup banyak.” Setidaknya ada sekitar 1000 Yokai disini. “Apa mereka akan meyerbu?”
Aku merasakan ada yang mendekat. “Yokai? Shirame.” Shirame muncul di tangan kananku. “Tidak, itu bukan Yokai. Tapi…”
“Hiroaki, apa yang kau lakukan disini? Tempat ini sangat berbahaya.”
Itu Rein dan ternyata dia membuntutiku. “Aku yang seharusnya bertanya, kenapa kau mengikutiku.”
“Yokainya, banyak sekali. (terkejut)”
“Kemungkinan besar mereka akan segera menyerang ke tempatmu. Sebaiknya kau segera kembali, dan katakan pada orang-orang untuk bersiap. Dan juga, lindungi keluargamu.”
“Bagaimana denganmu?”
“Kau tak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja.” Rein sangat lemah, menghadapi 1 Yokai saja ia kesulitan apa lagi harus menghadapi 1000 Yokai.
“Kalau begitu, kau hati-hati. Aku akan segera memanggil bantuan.”
“Ya.” Dan tepat saat bantuan itu datang, para Yokai itu menghilang. Setidaknya itulah yang aku inginkan. Tapi aku rasa ini tidak akan semudah itu, apalagi aku belum tau kemampuan yang diberikan oleh dewa Sha padaku.
Rein pergi. “Dengan begini, ayo kita lihat. Seberapa banyak Yokai yang bisa aku basmi.”
--------------------------
Altar pertemuan (nama sementara).
“Rein, ada apa? Kau terlihat sangat panik.” (Ketua guild)
“Ketua, ada banyak Yokai yang berkumpul di dekat gunung Akaku. Kita harus segera menyerangnya, jika tidak mereka yang akan merenyang kita.”
“Haa?! Bicara omong kosong apa kau. Disana adalah tempat yang kosong, bahkan tumbuhan saja tidak bisa hidup di tanah itu.” (Preman)
“Ketua, aku mohon. Ada seseorang disana yang sedang mencoba untuk menghadang para Yokai itu.”
“Apa katamu. Kalau begitu, kita harus bersiap.”
__ADS_1
“Ketua, apa-…”
“Lure, kau harus bersiap juga.”
“Baik.” Sang ketua pergi. “Kau, lihat saja setelah ini. Aku pasti akan membalasmu.”
------------------------
“Haa. Dengan ini, sudah berapa, ya.” Entah berapa Yokai yang aku bunuh, tapi ini masih saja terus berlanjut.
Tumpukan pecahan Kristal sudah menumpuk banyak sekali disini. "Ini akan memakan banyak waktu.” Setiap aku membunuh Yokai itu, mereka terus saja berdatangan tak ada habisnya. “Sepertinya aku harus segera pergi langsung ke sumbernya.”
Perlahan tapi pasti, aku membunuh Yokai yang mendekat ke arahku.
Beberapa lama kemudian.
“Rein, dimana tempatnya?”
“Disana ketua.”
“Kalau begitu, semuanya. Segera menuju ke tempat itu.”
“BAIK.”
-----------------
“Ketua, disini tidak ada apa-apa. Dia pasti berbohong.” (Lure)
“Rein, dimana Yokainya?”
“Hilang, mereka semua lenyap. Aku yakin tadi mereka semua berkumpul disini.”
“Halah, kau berbohong. Kau membuang-buang waktu para pasukan.”
“Ada apa?”
“Lihat sebelah sini.”
“Ini (terkejut)…” (Lure)
“Pecahan kristal Yokai.” Yang mereka lihat adalah banyaknya pacahan Kristal Yokai yang sudah dibunuh oleh Hiroaki.
“Ini, banyak sekali.”
“Kalian semua, segera berpencar. Cari, apa masih ada Yokai yang lolos.”
“Baik.” Mereka semua berpencar.
--------------------------
“Jadi disini tempatnya, ya.” Di balik gunung ini, terdapat sebuah gua.
Aku melihat ke arah langit. “Ah sudah malam, ya. Sudahlah, kapan-kapan saja aku lanjutkan.” Hari sudah semakin larut, jika aku melanjutkannya mungkin akan sedikit berbahaya. Lagipula aku masih belum mengetahui secara pasti tempat apa ini, dan jika ini memang benar markas para Yokai itu. Aku harus menyiapkan segalanya.
“Banyak juga yang sudah aku bunuh.” Entah berapa jumlanya, tapi sepertinya dengan begini para Yokai itu tidak akan jadi menyerbu.
“Sepertinya segini sudah cukup.” Sebelum kembali, aku mengambil beberapa Kristal Yokai itu. Itu karena sebelumnya Rein juga mengambil Kristal ini, dan sepertinya Kristal ini ia tukarkan dengan uang.
_______________
“Dewa Sha, bagaimana keadaan disana?” (Dewa Yu)
__ADS_1
“Tidak ada masalah, semuanya baik-baik saja. Kita hanya tinggal menunggu hasilnya saja.”
“Begitu…”
“Yokai, ya. Sudah lama aku tidak mendengar nama itu.” (???) Seseorang menghampiri dewa Yu dan juga dewa Sha yang sedang mengawasi Hiroaki.
“Dewa Ren, bagaimana kabarmu?”
“Aku baik-baik saja. Jadi dia ya, orang yang datang keduniaku. Apa dia bisa menyelesaikannya?”
“Ya sepertinya begitu, lagipula kekuatannya sudah hampir menyamai 20% kekuatan dari seorang dewa. Jadi hal seperti ini akan sangat mudah untuknya.”
“20%, bukannya itu terlalu besar untuk ukuran manusia.” (Dewa Ren)
“Jadi begitu.” (Dewa Yu)
“Dewa Yu, ada apa?”
“Dewa Sha memberikan kekuatan itu pada kedua pedangnya, jika seperti itu bahkan 60% masih bisa.”
“Hahaha. Kau hebat dewa Yu, bisa mengetahuinya.”
“Begitu, tapi… Bukankah dia juga harus bisa mengendalikannya. Jika tidak…”
“Tenang saja, dia sudah berhasil. Sekarang kita tinggal lihat saja, apa kemampuannya akan berkembang.”
“Jika kemampuannya terus berkembang, ada kemungkinan dia akan menjadi seorang dewa. Dewa Sha, apa itu tujuanmu?” (Dewa Yu)
“Entahlah, aku hanya ingin membantunya saja. Tapi, menjadi dewa kedengarannya tidak buruk juga untuknya.”
“Dewa baru akan terlahir lagi, ya. Untukmu aku sudah cukup terkejut, tapi jika masih ada manusia yang menjadi dewa selain dirimu. Aku tak tau harus berkata apa lagi.” (Dewa Ren)
“Apa aku harus menganggap itu sebagai pujian?”
“Terserah kau saja.”
“Dewa Sha, waktunya sudah hampir tiba.” (Dewa Rai)
“Ah, benar juga.”
“Ada apa?” (dewa Ren)
“Sesuatu yang sudah aku tunggu sangat lama, atau bisa dibilang separuh kehidupanku. Aku pergi dulu, dewa Yu bisa tolong awasi Hiroaki.”
“Ya.” Dewa Sha pergi.
“Haaa. Dewa Yu, dewa Sha selalu merepotkanmu apa kau tidak masalah dengan hal itu, bukannya kau masih memiliki pekerjaan lain yang harus kau lakukan.”
“Biarkan saja, aku bisa melihat sesuatu yang menarik. Apa yang lebih baik dari hal itu, melihat perkembangan manusia yang menuju ke singgasana para dewa. Tak ada hal yang lebih menarik daripada hal itu.”
“Begitu. Hiroaki, ya. Apa dia bisa melakukan tugas yang akan diberikan oleh para dewa lainnya?”
“Entahlah.”
“Duniaku ini dunia yang sangat mudah, jadi aku tidak terkejut jika ia bisa menyelesaikan tugas ini hanya dalam hitungan hari. Tapi, jika di dunia dewa lain.”
“Ya, kau benar. Apalagi dunia itu… Tapi, tidak ada salahnya melihatnya melakukan hal yang luar biasa.”
“Sikap aslimu mulai keluar dewa Yu.”
“Tidak masalah. Lagipula tidak ada dewa lain yang tau sikap asliku ini.”
__ADS_1
“Haha. Seperti yang diharapkan dari sang dewa penghancur.”
“Perjalannya akan semakin sulit setelah ini, mungkin ada saatnya dia akan merasakan yang namanya keputusasaan. Dan aku ingin melihat, apa saat waktunya tiba ia bisa mengatasinya atau tidak.”