Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
35


__ADS_3

“Baiklah, apa kalian sudah paham rencananya.” Saat ini aku tengah memberitau rencana yang baru saja aku buat untuk mereka.


“Eh… Bukannya itu hanya melakukan bunuh diri.” (Roy)


“Ya, maju seperti itu.” Memang ini sedikit tidak masuk akal, tapi rencanaku aku menyuruh mereka untuk menyerang lewat gerbang depan.


“Tenang saja, serahkan padaku. Oh ya… Apa disini ada yang jago dalam menembak?”


“Aku..” (Gil)


“Kalau begitu, gunakan ini.” Aku memberinya sebuah senapan yang baru saja aku buat dengan kemampuan ini.


“Senapan ini.”


“Senapan anti tank, dan pelurunya juga sudah aku tambahkan sedikit bahan peledak. Jadi, jika terbentur sesuatu dengan kecepatan tertentu peluru itu akan meledak.”


“B-Bukankah itu…”


“Ya, itu sedikit curang. Tapi, demi kemenangan setidaknya sedikit kecurangan tidak masalah selama itu dalam perang.” Ya, ini adalah perang. Sebuah perang yang harus dimenangkan, jika tidak dunia ini akan dalam masalah.


“Tunggu sebentar.” (Roy)


“Ada apa?”


“Kau memiliki kekuatan yang luar biasa, tapi kenapa kau masih membutuhkan bantuan kami. Bukannya kau bisa dengan mudah menghancurkan perusahaan itu dengan kekuatan itu.”


“Benar sekali, tapi kenapa kau malah menyuruh kami?”


'Ah… Mereka mulai menanyakan hal yang tidak perlu. Apa, aku haru jawab, ya. Kalian adalah karakter penting di dunia ini, jika aku sendiri yang melakukannya itu sama saja aku sudah merebut tempat kalian. Seperti itu.' Tapi, aku tak bisa berkata seperti itu. “Ada sesuatu yang cuma bisa kalian lakukan. Hanya itu.”


“Hanya itu?”


“Ya, ayo berangkat.” Aku langsung berangkat.


____________________


“Dewa Wan, sepertinya kau harus membuat cerita baru. Sepertinya dia ingin mengubah cerita yang sudah kau tentukan.”


“Hahahahaha… Bocah itu, aku mulai menyukainya. Tidak masalah, rusaklah dunia itu. Aku sudah tidak peduli, mau akhir yang bahagia atau tidak, saat ini aku hanya tertarik dengannya. Dia bisa mengetahui dengan mudah berkat apa yang sudah aku berikan padanya.”


“Haa. Dasar, dewa Wan. Tapi, aku tak menyangka kau akan memberinya sebuah gelar dewa sementara.”


“Hahaha… Gelar itu akan membuat tubuhnya mau tak mau harus menerimanya, dengan cara apapun. Jika tidak cocok, maka akan terus dipaksakan agar cocok.”


“Wah… Dewa Wan, bukankah itu sedikit kejam.”


“Bicara apa kau, bukankah kau sudah tau.”


“Eh… Aku kira kau memberinya kekuatan biasa, jadi aku pikir yang dialami olehnya itu karena ia tidak kuat dengan kemampuan yang kau berikan.”


“Hahaha… Kau sangat lugu, untuk manusia yang akan menjadi calon dewa. Hal seperti itu wajib dilakukan oleh para dewa untuk menguji, apa dia sebenarnya pantas atau tidak mendapatkan mahkota dewa itu.”


“Mahkota dewa, ya.” Sebenarnya itu bukanlah mahkota, hanyalah sebuah julukan saja untuk siapapun yang menjadi dewa. “Sudah terakhir kali sejak aku menjadi dewa, ya.”

__ADS_1


“Ya, dan kali ini mungkin gilirannya.”


_________________________


Sfx : Tembakan.


“Gil, bagaimana keadaan dari atas.” (Disk)


“Ada 20 musuh 20 meter di utara, dan 15 musuh di selatan.”


“Apa ada crborg.”


“Tidak ada, hanya tentara biasa.”


“Baguslah. Semuanya, ayo perlahan maju.” Mereka mulai maju.


“Sudah dimulai, ya. Sebisa mungkin aku tidak ingin ikut campur, tapi jika keadaanya sudah diluar kendali mungkin aku akan turun tangan.” Saat ini, aku sedang mengawasi mereka dari kejauhan. Semua rencana yang aku berikan pada mereka, bisa dilakukan dengan sangat baik.


“Semuanya, mulai rencananya.”


“Baik.” Seperti rencana yang aku buat, mereka menyerbu langsung dari arah depan.


“Ada musuh, tembak!!”


Sfx : Suara tembakan.


“Gil, giliranmu.”


“Baik.” Hal yang harus dilakukan oleh seorang sniper adalah menjaga jarak, dan juga tetap tenang. “Bagaimana bisa aku melakukannya.” (Gil)


“B-Baik. Tapi, membunuh sebanyak mungkin dengan 1 peluru. Itu sangat mustahil.”


“Apa yang kau katakan.” Aku mendatanginya karena ia terlihat ragu-ragu. “Keraguanmu itu akan membahayakan seluruh kelompokmu.”


“Tapi, bagaimana caranya aku melakukannya.”


“Haa. Gunakan otakmu.” Meskipun begitu, ia masih terlihat kebingungan. “Ha… Baiklah, aku akan member contoh.” Aku mengambil alih senapannya. “Lihat baik-baik.”


Bidik, bidik bidik.


5 musuh berada di jarak yang berdekatan. Setidaknya itu adalah mangsa yang cukup mudah.


Swuuuuttt .


Jdakkk.


Peluru yang aku tembakkan aku tembakkan tepat di dekat pijakan mereka.


Duaaaarrr


“Begitu saja… Apa kau lupa, peluru itu bisa meledak jika terbentur sesuatu. Kau hanya perlu memanfaatkan hal itu. Dan masih tersisa 14 peluru lagi. Manfaatkan itu baik-baik. Jika tidak ada yang diperlukan, jangan buang-buang amunisi.”


“Baik.”

__ADS_1


Tapi, aku rasa 15 peluru itu terlalu banyak, seharusnya aku memberinya 10, tidak 7 peluru saja sudah cukup. Tapi… “Sudahlah.”


Beberapa menit kemudian.


Perlahan, seluruh area perusahaan itu mulai diambil alih. “Disk, didepan kalian ada 12 cyborg dan 8 tentara.”


“Terimakasih infonya. Semuanya, bersiap.” Tepat saat mereka melihat musuh. “Tembak…”


Sfx : Suara tembakan.


__________________


“Dewa Sha, bagaimana?” (Dewa Wan)


“Sepertinya sudah hampir selesai, kita hanya perlu menunggu sedikit lagi.”


“Begitu.”


“Oh, ya… Dewa Wan, bagaimana dengan dunia milikmu ini selanjutnya. Apa kau memiliki rencana lain?”


“(tersenyum) Tentu saja. Jangan meremehkanku, semuanya sudah aku pikirkan.”


“Begitu.. Kalau begitu, tidak masalah.”


“Aku juga akan sedikit melihatnya. Apa yang dia bisa tunjukkan, pertunjukan menarik apa yang akan ai berikan padaku. Aku sangat penasaran dengan hal itu.” Dewa Wan melihat ke dunia miliknya. “Hm… Dia tidak melakukan apapun? Apa maksudnya ini?”


“Mungkin, dia berfikir kalau yang harus menyelesaikan masalah ini adalah mahluk didunia itu sendiri. Dan dia hanya ingin melakukannya dibalik layar.”


“Hahaha… Itu bagus sekali.”


“Huh? (bingung) Bagus, kenapa?”


“Dia mulai bersikap seperti seorang dewa, apa kau menyadari. Dia hanya mengawasi dari balik layar dan akan bertindak jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan yang ia rencanakan. Itu sangat mirip dengan apa yang dewa disini lakukan.”


“Begitu…”


“Tentu saja, sikap itu berbeda denganmu yang suka turun tangan langsung kedunia milikmu.”


“Begitu, ya… Aku tidak menyadarinya.”


“Sudah kuduga, kau terlalu sibuk melihat perkembangan kemampuannya sampai kau lupa melihat perkembangan emosi dan sikapnya.”


“Hahahaha… Aku sangat ceroboh.”


____________________


Sore hari.


“Disk, didepanmu. Disana ruangan pemilik gedung ini.”


“Baik, kami segera kesana.” Dan, setelah memakan waktu cukup lama. Akhirnya misi ini hampir selesai, dan tinggal 1 langkah lagi.


“Sepertinya aku tidak perlu turun tangan.” Mereka melakukannya dengan sempurna, bahkan melebihi dugaanku. “Oh, ya. Aku harus melakukan itu.” Aku menghampiri Alicia yang tengah terbaring. “Aku harus merubahnya kembali kewujudnya yang semula.” Aku memengang tangan kanannya.

__ADS_1


Dan setelah beberapa saat. “Selesai.” Luka yang ada ditubuhnya perlahan menghilang. “Dengan begini, janjiku sudah aku tepati.” Yang harus aku lakukan adalah melihat kehancuran ketidakstabilan itu, dan setelah itu tugasku didunia ini selesai.


“A-Apa yang sebenarnya terjadi?!! Kenapa aku… Kembali.” Didalam kebingungan ini, aku melihat sesuatu yang seharusnya belum aku lihat saat ini.


__ADS_2