
Pagi hari, jam - -.- -
Hari ini adalah hari terakhirku berada di kerajaan ini. "Hoamm.." Pagi cerah yang indah. Dan seperti yang sudah direncanakan kemarin, aku dan yang lainnya akan pergi dari kerajaan pagi ini.
Aku bangun dan segera bersiap-siap.
-------- 10-15 menit kemudian -------
Aku sudah selesai bersiap-siap. "Jika kau ingin pergi dari kerajaan itu, pergilah ke hutan barat." (telepati dewa Sha)
"Hutan barat, tapi kenapa harus ke hutan?"
"Aku akan menunjukka sesuatu padamu."
"Hmm, baiklah. Aku akan pergi kehutan barat."
"Kalau begitu, sampai jumpa nanti."
"Ya." (dewa Sha menutup telepatinya) Pagi-pagi dewa Sha sudah menghubungiku, dan ia juga bilang kalau aku harus pergi ke hutan barat. "Sebaiknya, aku ikuti saja apa yang dikatakan olehnya."
Akupun keluar dari kamar, dan sebelum pergi, aku memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu.
-------- Beberapa saat kemudian -------
Aku sampai di ruang makan, aku melihat yang lainya sudah berada disini dan mereka sedang makan. "Papa! (melihat kearahku)"
"Hiroaki, akhirnya kau datang juga. Jika kau tak datang aku tadi berencana untuk menjemputmu."
"Oh begitu, (berjalan mencari tempat duduk) pagi ini kita akan pergi."
"Pergi? Pergi kemana?" (Emilia)
"Kita akan pergi kemana, Hiroaki-sama?"
"Kita akan berjalan ke hutan barat."
"Hutan barat? Kenapa harus ke hutan Hi-chan?"
"Hmmm. Bagaimana aku menjelaskannya, ya. Sudahlah jangan banyak tanya, yang penting setelah selesai makan kita akan pergi kesana."
"Baiklah, terserah padamu saja." (Emilia)
--------- 10-15 menit kemudian -------
Aku dan yang lainnya selesai makan, dan setelah itu aku dan yang lainnya keluar dari penginapan dan pergi ke hutan barat.
[Area hutan barat : Kerajaan Chamos - Tengah hutan]
"Papa, kenapa kita datang kesini?"
"Eh, kalau itu." Aku tak tau harus menjawab apa, dan dewa Sha hanya bilang padaku untuk pergi kehutan barat dan tak ada apa-apa disini.
------- Beberapa saat kemudian ------
Grooaarr.
Aku mendegar suara yang tak asing bagiku. "Apa itu naga Alfa?"
"Yo kalian!!"
Shin datang bersama dengan naga Alfa, dan Alfa perlahan turun.
"N-naga?! (terkejut)" (Lia) Aku tau kalau Lia akan terkejut setelah melihat hal ini.
"Papa, apa itu? (menunjuk ke arah Alfa)"
"Itu adalah naga."
"Naga?"
Shin turun dari Alfa. "Yo, lama tak jumpa, bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja Hikari?" (Shin)
"D-dia menaiki seekor naga! Siapa sebenarnya orang itu?" (Lia)
"Aku baik-baik saja, ada urusan apa kau datang kesini?"
"Aku disuruh oleh dewa untuk membawamu ke sebuah tempat."
"Tempat? Tempat apa?"
"Aku tak tau, aku juga tak diberitahu tentang hal itu oleh dewa. Tapi, dewa bilang kalau kita akan pergi ke area selatan di benua manusia."
"Kira-kira, aku akan dibawa kemana?"
"Area selatan di benua manusia..." (Emilia)
Sepertinya Emilia mengetahui sesuatu. "Emilia, apa yang kau ketahui tentang area itu?"
"Yang aku tau, disana hanya ada hutan yang luas, dan tak jauh dari tempat itu terdapat sebuah pantai."
"Pantai?"
"Iya."
"Sebaiknya kita segera berangkat sekarang. Karena tempatnya yang cukup jauh, meskipun menggunakan naga Alfa sebagai kendaraan kita butuh waktu setidaknya setengah hari untuk sampai disana."
"Apa tempatnya sejauh itu?"
"Tentu saja. Ayo cepat, sekarang kita harus berangkat."
"Baiklah."
Aku dan yang lainya kemudian naik ke punggung naga Alfa. "Kau tak apa-apa Lia?"
"A-aku tidak apa-apa, Hiroaki-sama." Ya, meskipun Lia terlihat ketakutan saat pertama kali naik ke punggung naga Alfa, tapi ia berusaha terlihat tenang.
-------- Beberapa menit kemudian ---------
Kami semua sudah berada di atas punggung naga Alfa. "Alfa."
Grooaarr.
Naga Alfa perlahan terbang dan pergi menuju ke arah selatan.
---------- Berjam-jam kemudian ---------
Sore hari, jam - -.- -
Tepat seperti yang Shin katakan, padahal hari sudah sore. "Hey Shin, apa kita belum sampai?"
"Tunggu, sebentar lagi kita akan sampai."
Karena terlalu lama duduk, aku menjadi sangat bosan. "Aku bosan, apa tak ada sesuatu yang bisa aku lakukan di atas sini." Saat ini, aku tengah terbang dengan naga Alfa dengan kecepatan tinggi.
Rin, Emilia, Inori dan Lia tertidur pulas dipunggung naga Alfa. "Bagaimana mereka bisa tidur nyenyak begitu?"
------- Beberapa menit kedudian -------
"Sepertinya kita sudah sampai."
"Benarkah?" Aku melihat ke depan, dan aku melihat sebuah kerajaan yang sangat besar jauh berada di depan. "Kerajaan? Apa itu tempat yang akan kita datangi?"
"Sepertinya begitu..."
"Tapi, kenapa di kerajaan?" Aku merasa heran dan aku curiga, jika aku akan diberi misi lagi oleh dewa Sha saat sampai di kerajaan itu.
"Hiroaki, apa kita sudah sampai?" (Emilia) Emilia dan yang lainya mulai bangun.
"Papa, apwa tempatnya masih jauh?"
"Kita sudah sampai."
"Benarkah, dimana tempatnya, pa?"
"Itu di depan."
Mereka melihat ke depan. "Mustahil..." (Emilia)
"Ada apa Emilia? Apa ada yang salah?"
"Aku dengar kalau area ini adalah sebuah hutan yang lebat dan juga dipenuhi oleh monster-monster yang kuat, tapi aku tak tau kalau di area ini ada sebuah kerajaan besar seperti itu."
"Apa yang kau katakan itu benar, Emilia?"
"Aku juga tak tau hal itu benar atau tidak, tapi jika ada kerajaan besar seperti itu di area ini, mungkin saja itu hanya kebohongan. Lagipula, area ini dekat dengan laut, pasti kerajaan itu akan jadi kerajaan yang sangat kaya akan hasil lautnya."
"Kita hampir sampai. Semuanya, pegangan yang erat!"
"Pegangan? Kenapa?"
"ALFA!! (berteriak)" (Shin)
__ADS_1
Groaarr.
"WAAAAAA!!!!!" Naga Alfa menambah kecepatannya, dan itu membuatku dan yang lainnya kesulitan berada di punggung Alfa.
------- Beberapa menit kemdian --------
Sore menjelang malam (petang) hari, jam - -.- -
"Afal, turun."
Groaarr.
Naga Alfa perlahan turun, dan setelah beberapa saat kaki Alfa menyentuh tanah. "Baiklah, kalian bisa turun sekarang.
Kami turun di hutan tak jauh dari kerajaan itu. "Baiklah, aku akan pergi karena masih ada yang harus aku kerjakan. Sampai jumpa lagi!" Shin pergi.
"Ha ha ha. Tadi itu, hampir saja aku terjatuh." Saat Alfa menambah kecepatannya, tak ada yang bisa aku gunakan untuk pegangan dan aku hampir saja terjatuh.
"Hiroaki, hari sudah mulai gelap. Sebaiknya kita harus segera pergi dari hutan ini."
"Baiklah, ayo kita berangkat." Kamipun berjalan menuju ke kerajaan itu.
------- Beberapa menit kemudian -------
Aku berada tak jauh dari gerbang. Dan seperti biasa, gerbang dijaga oleh 2-3 prajurit.
Akupun berjalan untuk masuk ke dalam kerajaan itu. "Raja sudah kembali!! (meberi hormat)" (prajurit)
[Hmmm... Kaya hormat ala kerajaan tu.]
Prajurit yang menjaga gerbang memberi hormat, padaku? Dan mereka juga memanggilku dengan sebuatan raja. "Kami sudah menunggu kedatangan anda, yang mulia."
"Eh? (bingung) Aku?"
Sebuah kereta kuda mewah datang dari dalam kerajaan, dan berhenti tepat di depanku. Seseorang keluar dari dalam kereta kuda itu. "Yang mulia, silahkan masuk. Kita akan pergi menuju ke istana."
"B-baiklah." Aku dan yang lainnya masuk ke dalam kereta kuda itu, dan ternyata di dalam kereta kuda ini sangat mewah, dan bahkan kereta kuda ini bisa menampung lebih dari 8 orang.
------ Beberapa menit kemudian ------
Kami sampai di sebuah gerbang masuk istana yang ada di dalam kerajaan ini. "Kita sudah sampai yang mulia."
Akupun turun dari kereta itu. "Waaah. Besar sekali istananya. Ini pertama kalinya aku melihat istana sebesar ini." (Emilia)
Ini memang istana yang besar. "Yang mulia, silahkan masuk." Kami disambut oleh puluhan pelayan atau bahkan lebih banyak lagi.
Kamipun masuk ke dalam istana yang besar ini.
------- Beberapa saat kemudian ------
[Di dalam istana]
"Yang mulia, anda bisa mengikuti saya." (salah satu pelayan)
"B-baik" Karena sepertinya ada sesuatu yang ingin pelayan ini tunjukka padaku, aku memutuskan untuk mengikutinya.
"Hi-chan, kau mau pergi kemana?"
"Aku akan mengikuti pelayan ini dulu."
"Baiklah."
"Para selir dari sang raja..." (pelayan)
"A-a-apa?! S-s-se-selir?" (Emilia)
"Bisa ikut dengan para pelayan ini, mereka semua akan mengantarkan anda ke kamar."
"Baik." (Rin) Rin terlihat tenang.
"Aku akan bersama mama."
"Baiklah, tuan putri."
Akupun meninggalkan mereka dan mengikuti pelayan ini.
------- Beberapa menit kemudian --------
Kami sampai di sebuah ruagan. "Kita sudah sampai, yang mulia."
"Ruang apa ini?" Ruangan ini terlihat mewah, bisa dilihat dengan pintu yang dilapisi oleh emas ini, yang membuat kesan super mewah pada ruangan ini.
"B-baiklah." Pelayan itu pergi, dan karena penasaran, aku memutuskan untuk masuk kedalam ruangan itu. Dan benar saja, di dalam ruangan ini sangat mewah, dan juga aku melihat sebuah meja panjang yang di desain dengan sangat bagus dan juga terdapat beberapa kursi persis seperti tempat untuk rapat, dan juga satu kursi mewah yang dilapisi oleh emas.
"Yo.." Seseorang muncul dari balik kursi emas itu.
Dan karena aku sudah tak asing lagi dengan suara itu. "Dewa Sha.."
"Bagaimana kerajaanmu? Bagus bukan."
"Apa!! Kerajaanku? Ini?"
"Tentu saja. Aku'kan sudah berjanji padamu untuk membuatkanmu kerajaan kalau misi dariku sudah selesai."
"Ini, ini kerajaan milikku sendiri."
"Ehem. Jadi, mana bayarannya?"
"Baik, aka aku berikan." Aku mengambil 1 berlian yang ada di kantongku dan memberikannya pada dewa Sha sesuai kesepakatan. "Tapi dew Sha, kenapa kau memberikan koin itu jika kau mengambilnya kembali."
"Hmmm.. Pertanyaan yang bagus. Tapi, anggap saja berlian yang kau berikan padaku ini sebagai ganti dari pembuatan kerajaan ini."
"Apa seorang dewa juga butuh bayaran?"
"Sebenarnya sih tidak, tapi anggap sebagai hobiku saja."
"Aku tak paham."
"Kalau begitu lupakan saja. Oh ya, luas kerajaan ini sekitar 50km."
"50km? Memangnya kenapa?"
"Kerajaan ini adalah salah-satu kerajaan terbesar ke-3 di dunia ini."
"Ke-3 terbesar. Memangnya kerajaan lain berapa besarnya?"
"Hmmm... Sekitar 20-30km saja. kalau begitu, dan buatlah kerajaan ini berkembang dengan pengetahuanmu di dunia sebelumnya. Oh ya, jumlah penduduk yang ada di kerajaanmu ini semuanya berjumlah sekitar 900 ribu jiwa, dan mungkin jumlah itu akan terus bertambah."
"A-a-apa!! (terkejut) 900 ribu jiwa.."
"Dan Jangan lupa juga untuk menamai kerajaanmu."
"Nama kerajaan milikku." Aku tak pernah berfikir untuk memberikan sebuah nama untuk kerajaan milikku, dan yang aku pikirkan adalah bagaimana kerajaanku akan berkembang.
"Sebaiknya kau berikan nama yang bagus untuk kerajaan ini, dan aku yakin kalau kerajaan ini akan berkembang pesat lebih dari apa yang aku bayangkan."
"Dewa Sha.."
"Ada apa?"
"Bisa kau saja yang memberikan kerajaan ini nama? Aku tak mempunyai nama yang bagus."
"Aku tak akan membantumu untuk masalah ini, dan sebaiknya kau pikirkan saja dulu nama yang bagus untuk kerajaanmu ini. Kalau begitu, aku akan pergi."
"Baiklah.."
"Oh ya, untuk 1 bulan ke depan aku tak akan menganggumu, dan setelah 1 bulan itu berakhir sebaiknya kau siap-siap. Buatlah kerajaan ini berkembang dalam waktu 1 bulan."
"Memangnya aku ini siapa, bisa membuat sebuah kerajaan besar berkembang cuma dalam waktu 1 bulan saja. Dan lagi, kau berkata siap-siap? Apa akan ada ritual pemanggilan lagi?" Itu hanya opiniku saja, aku tak tau itu benar atau tidak.
"Benar. Pemanggilan itu akan dilaksanakan di kerajaan Ality yang ada di bagian barat benua Elf."
"Banua Elf, ya."
"Mungkin itu akan sedikit menyusahkan."
"Menyusahkan? Kenapa?"
"Kau harus pergi sendiri untuk menghentikan ritual pemanggilan itu. Dan kau pasti sudah tau alasannya."
"Ya, aku sudah tau. Aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada mereka, dan aku akan berusaha untuk menghentikan ritual pemanggilan itu."
"Baguslah. Kalau begitu, aku akan pergi. Selamat bersenang-senang selama 1 bulan. (menghilang)" Seperti biasa, dewa Sha selalu menggunakan cara yang keren untuk pergi.
"Hi-chan, apa kau akan pergi?"
"Eh, Rin..." Sepertinya Rin mendengar pembicaraanku dengan dewa Sha. "A-apa yang kau lakukan disini?"
"Jawab pertanyaanku Hi-chan!! (marah) Apa kau akan pergi?!"
"Ehhh..."
__ADS_1
"Hi-chan, jawab!!"
"I-iya, aku akan pergi. Tapi, itu masih lama kok, jadi kau tenang saja." Aku berusaha membuat Rin tidak marah.
"Tapi intinya, kau tetap akan pergi'kan!"
"I-iya."
"Kalau begitu.. Saat kau pergi, aku akan ikut denganmu."
"Tidak!! Kau tidak boleh ikut!" Tiba-tiba saja Rin mengajukan diri untuk ikut denganku menjalankan misi dari dewa Sha, dan karena dewa Sha sendiri yang bilang untuk tak membawa mereka dalam masalah ini atau hal buruk akan menimpa mereka, sudah jelas aku menolak tawarannya. "Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu saat kau ikut denganku?"
"Kalau itu. Aku akan mengatasinya sendiri."
Entah kenapa, mendengar hal itu membuatku merasa kesal. "Aku ingin kau tetap diam di kerajaan ini saat aku pergi."
"K-kenapa?" Aku membuat Rin menangis lagi. "Memangnya, 'hiks' apa yang akan terjadi jika aku ikut denganmu?"
"Sesuatu yang mungkin tak pernah terbayangkan olehmu. Oleh karena itu kau tidak boleh ikut."
"T-tapi-.."
"Lagipula meskipun kau ikut, kau tak akan bisa membantuku." Meskipun Rin ikut, dia tak akan banyak membantuku. Lagipula, dalam misi ini, aku diharuskan menyamar dan Rin tak bisa menyamar.
"Begitu.. Ternyata aku ini memang tak beguna." Rin berlari pergi.
"Apa aku terlalu berlebihan? Tapi, aku mengatakan untuk kebaikan dirinya." Aku pikir kalau ada sesuatu yang salah dengan ucapanku barusan.
"Cepat kejar dia." (telepati dewa Sha)
Tiba-tiba dewa Sha menggunakan telepati padaku dan menyuruhku untuk mengejar Rin. "Apa yang kau tunggu, cepat kejar dia!"
"Baik." Akupun berlari mengejar Rin.
Aku keluar dari ruangan itu dan melihat sekitar. "Dimana dia?" Aku tak melihat Rin, padahal tak sampai 1 menit tapin aku sudah kehilangan jejaknya. "Aku harus menemukan Rin secepatnya." Akupun mulai mencari Rin.
---------- 10-15 menit kemudian --------
"Rin!! Dimana kau?" Aku terus berteriak memanggil namanya, dan karena istana ini terlalu besar, aku cukup kesulitan untuk mencari keberadaan Rin.
"Hiroaki, kenapa kau berteriak?"
"Papa, ada apa?"
"Hiroaki-sama, apa yang terjadi?"
"Kebetulan sekali. Apa kalian melihat Rin?"
"Rin? Aku tak melihatnya."
"Aku juga tak melihat mama, mulai tadi aku bersama mama Emilia."
"Bagaimana denganmu Lia, apa kau melihat Rin?"
"Eh. Aku tidak melihatnya Hikari-sama."
"Begitu, ya. Ya sudah." Akupun bergegas untuk mencari Rin kembali.
"Tunggu Hiroaki..." Aku menghentikan langkah kakiku karena Emilia memanggilku.
"Apa yang terjadi dengan Rin?"
"Rin menghilang, dan aku tak tau dia berada dimana sekarang."
"Apa!! Rin hilang?! Kalau begitu, sebaiknya kita suruh para pelayan untuk membantu mencari Rin."
"Baiklah, terima kasih Emilia."
"Tidak usah berterima kasih, kita ini adalah keluarga, sudah seharusnya membantu."
Setelah mendengar kata-kata Emilia, mengingatkanku pada sesuatu yang sangat penting. Apun pergi untuk mencari Rin.
------- Beberapa saat kemudian -------
Malam hari, jam - -.- -
"Cih, hari sudah gelap, sebaiknya aku harus segera menemukan Rin." Dan untuk sesaat, aku ingat siapa yang bisa menyelesaikan masalah ini dengan mudah. "Dewa Sha, aku butuh bantuanmu."
"Baiklah, akan aku beritahu. Dia ada di bagian paling atas di istana ini."
"Terima kasih dewa Sha." Seperti yang diharapkan, ia memang tau tentang segalanya.
Setelah mendengar itu, aku bergegas untuk pergi kebagian paling atas di istana ini.
-------- Beberapa menit kemudian --------
Saat ini aku sudah ada di sebuah ruangan yang ada di lantai paling atas di istana ini. Di sini, aku hanya melihat sebuah ruangan kosong dan aku tak melihat Rin disini.
Dan untuk sesaat aku memikirkan sesuatu yang tak masuk akal. "Bagian paling atas, jangan-jangan." Aku mengira saat ini Rin ada di atas atap, karena itulah bagian paling atas di kerajaan ini.
Akupun melihat sekeliling dan aku melihat salah satu jendela yang terbuka. "Woy woy, yang benar saja." Aku memutuskan untuk menghampiri jendela yang terbuka itu.
Di luar jendela itu terdapat sebuah balkon yang cukup luas dan juga terdapat tangga menuju ke atas. "Mungkin Rin ada di atas situ." Akupun naik ke tangga itu.
--------- Beberapa saat kemudian ---------
Aku berada di atas atap, dan saat aku melihat kebawah. "Hii!! Tinggi sekali disini." Saat ini aku sedang berada di bagian paling atas di istana ini (atap).
Aku melihat sekeliling. Aku melihat Rin yang sedang duduk di atap (termenung) dan aku tak tau apa yang sedang ia lakukan, akupun memanggilnya. "Rin! Apa yang kau lakukan disini?" Akupun berjalan mendekat ke arahnya.
"Aku hanya berfikir, apa mungkin aku hanya akan menjadi beban untukmu."
"Kenapa kau berfikiran seperti itu?"
"Itu karena. Aku selalu di selamatkan olehmu, dan saat kau sedang melakukan sesuatu, aku malah tidak bisa membantumu dan aku hanya bisa berdian diri saja. Padahal.. (meneteskan air mata) Padahal aku sangat ingin membantumu."
"Yang kau katakan itu tidak benar."
"Kalau begitu, kau bisa katakan kapan aku pernah membantumu?"
"Eh, itu.." Aku tak menemukan jawaban yang cukup tepat.
"Kenapa kau diam! Ternyata benar, aku ini memang tak berguna."
"Bukan begitu."
"Lalu, kenapa kau diam. Itu membuktikan kalau aku memang tak pernah sekalipun berguna untukmu."
"Aku hanya berfikir, kalau keberadaanmu bersamaku itu istimewa."
"Jangan mengalikan pembicaraan."
"Tidak, aku tidak mengalihkan pembicaraan. Aku hanya mengatakan yang sejujurnya. Seandainya aku tak pernah bertemu denganmu, aku tak tau apa yang akan terjadi denganku, hidup dengan kehilangan ingatan itu cukup menyusahkan. Dan aku cukup bersukur karena kau meminta dewa Sha untuk mengembalikan ingatanku, dan itu sudah cukup atau bahkan sangat cukup membantuku untuk mendapatkan apa yang selama ini aku ingin dapatkan."
"Tapi..." Tiba-tiba ada sebuah angin yang cukup kencang datang, dan membuat Rin terjatuh.
"Hi-chan!!"
"RIN!!!!" Dengan cepat aku melompat untuk menangkap Rin.
Gubrak.
"A-ku, tepat waktu." Aku berhasil menangkap Rin dan membiarkan tubuhku ditindih olehnya, agar ia tak merasakan rasa sakit yang cukup menyakitkan ini.
"Hi-chan! K-kau tidak apa-apa? (panik)"
"T-tenang saja, aku baik-baik saja." Meskipun aku jatuh dari tempat yang sangat tinggi, aku hanya merasakan sakit ringan di punggungku dan juga aku sedikit merasakan rasa sakit di kepalaku. Aku tak menderita luka yang berat. Tapi, rasa sakit di punggungku membuatku kesulitan untuk bangun. "Rin, bi-bisa kau bangun. Aku tak bisa menggerakkan tubuhku."
Rin bangun. "A-aku minta maaf Hi-chan."
"Ti-tidak perlu minta maaf. Kita ini keluarga, sudah seharusnya kita saling membantu."
"Aku minta maaf Hi-chan. Andai saja aku tak egois, pasti hal ini tak akan terjadi padamu (hiks). Aku sungguh minta maaf." Aku kembali membuatnya menangis lagi.
"Sudahlah tidak apa-apa, yang penting kau baik-baik saja. Kau tenang saja, aku baik-baik saja, dan sebaiknya kau berhenti menangis."
--------- Beberapa menit kemudian -------
"Itu mereka!!" (Emilia) Emilia datang besama yang lainya, mereka semua menghampiri kami. "Hikari, apa kau baik-baik saja?"
"Papa... Papa tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja." Aku mencoba untuk bangun, dan rasa sakit ini masih membuatku kesulitan untuk bangun.
"Aku akan menyembuhkanmu, Hiroaki-sama. Cahaya penyembuh, Heal." Aku tak tau kalau Lia bisa menggunakan sihir penyembuh, dan setelah beberapa saat, tubuhku tak merasakan rasa sakit lagi, dan aku kemudian bangun.
"Baiklah, sebaiknya kita masuk kedalam. Udara di sini sudah mulai dingin." Aku berusaha bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, dan aku masuk kedalam istana milikku.
[Dan mereka semua hidup bahagia selama sebulan, selesai.]
Bersambung.
__ADS_1