Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
64


__ADS_3

“Apa kau ingin bertarung melawanku?”


“Melawanmu tanpa memiliki rencana yang matang sama saja dengan bunuh diri. Aku hanya ingin menyapamu saja.”


“Begitu.” Pembicaraan ini sangat tidak penting, dan karena itu aku perlahan pergi meninggalkannya.


“Oh ya, apa kau yakin membiarkan seorang gadis berjalan dimalam hari sendirian?”


“Huh, apa yang kau katakan?”


“Aku bicara tentang gadis yang bersmamu tadi, apa kau yakin membiarkan dia sendirian.”


“Dia bisa menjaga dirinya sendiri, dan aku sangat yakin dengan hal itu.”


“Begitu, kalau seperti itu. Aku tidak begitu yakin dengan apa yang kau katakan.”


“Apa maksudmu?”


“Entahlah, jika kau butuh sesuatu. Cobalah cari kami, dan aku yakin kau tidak akan menemukan kami.”


“Apa yang kau katakan?!”


“Aku beri waktu sampai tengah malam, jika sampai tengah malam kau masih belum menemukan tempat persembunyian kami. Sesuatu yang sangat buruk akan terjadi.”


“Berhentilah bermain-main, aku tidak punya waktu untuk meladeni kalian.”


“Aku sudah peringatkan, kau memiliki waktu sampai tengah malam. Jika kau terlambat sedetik saja...” Dia menghilang dan aku tidak bisa merasakan hawa keberadaanya lagi.


“Amane.” Aku cukup khawatir dengannya setelah ia berkata seperti itu, dan aku putuskan untuk segera kembali.


Setelah cukup lama kemudian.


Aku melihat ibu Shirayuki sedang berada di depan pintu masuk. “Ah, Hiroaki-kun. Kau sudah kembali.”


“Amane, dimana dia, apa dia sudah kembali?”


“Eh? Bukannya dia bersama denganmu.”


“Cih, mereka sudah mulai menggunakan cara kotor untuk bisa menang.” Ini menandakan kalau mereka sudah mengajakku untuk bertarung dengan serius. “Maaf, aku akan segera kembali.”


“Y-Ya.”


Aku bergegas pergi. “Dewa Sha, dimana lokasi mereka?”


“Apa aku harus memberitahukan hal itu padamu?”


“Tentu saja, menyandra seseorang yang tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Itu membuatku sangat kesal.”


“Haa, baiklah, aku akan menuntunmu.”


“Terima kasih.” Dewa Sha menuntunku ke tempat 4 guardian itu.


Setelah cukup lama setelah itu.

__ADS_1


Sebuah pelabuhan.


“Dewa Sha, dimana mereka?”


“Mereka ada digudang pelabuhan, tapi hati-hati disana ada cukup banyak jebakan. Sudah cukup, itu saja yang bisa aku beritahu padamu.”


“Terimaksih dewa Sha.” Dewa Sha menutup telepatinya. “Baiklah, kalian. Aku akan mulai serius sekarang. Shirame, Ryuga.” Aku memanggil kedua pedangku, dan ini menandakan kalau aku sudah mulai sedikit serius.


Aku mulai berjalan menuju ke gudang yang dikatakan oleh dewa Sha, dan saat aku membuka gudang itu. “Cih.” Aku melihat Amane yang sedang tak sadarkan diri, tubuhnya terluka banyak bekas sayatan ditubuhnya dan sudah jelas ini membuatku marah. “Kalian, bisa tidak jangan libatkan orang luar dalam masalah ini?”


“Orang luar, apa kau bercanda. Dia juga termasuk dalam permainan ini.” Suaranya menggema disekitar sini, dan itu membuatku kesulitan untuk mencari keberadaanya.


“Kalian, sebaiknya aku tunjukkan pada kalian. Bagaimana cara bermain yang benar.” Aku mulai mengangkat pedang Ryuga. “Aku akan mengakhiri ini secepatnya.” Aku menancapkan pedang Ryuga ke tanah dan langsung bergegas membawa Amane pergi dari sini.


“Hey, kenapa kau kabur. Jangan pergi.”


Beberapa saat kemudian.


“Sepertinya ini sudah cukup jauh.” Aku berada sangat jauh dari tempat itu. “Baiklah. Ryuga.”


DUARRRRRR. Sfx : ledakan.


Sebuah ledakan besar terjadi tepat dimana aku menacapkan Ryuga. “Aku harap mereka semua tidak mati.” Karena mereka adalah bagian penting dari dunia ini, aku berharap mereka selamat meskipun harus mengalami luka yang fatal. Setidaknya tidak sampai tewas.


“Dewa Sha, bisa tolong sembuhkan dia.”


“Haa, kau ini banyak permintaan, ya.”


“Dewa Sha, aku mohon.”


“Dewa Sha, terima kasih.” Dewa Sha langsung menutup telepatinya. Tak ada reaksi dari dewa Sha, itu berarti mereka semua selamat. Tapi aku tak begitu yakin kalau mereka bisa selamat tanpa luka sedikitpun. “Mungkin dengan begini, mereka tidak akan berani untuk macam-macam denganku.” Setidaknya itulah yang aku inginkan.


-----------------


“Amane, kau sudah bangun.”


“H-Hiroaki, a-apa yang...”


“Jangan banyak bergerak.” Aku tengah menggendong Amane karena sebelumnya dia pingsan.


“T-Tapi...”


“Kalau kau sudah bisa bergerak bebas seperti itu, sepertinya aku tidak perlu lagi menggendongmu.” Saat aku berniat untuk menurunkannya.


“T-Tunggu, sebenarnya a-aku masih belum kuat untuk berjalan. Kaki dan seluruh tubuhku terasa mati rasa.”


“Haa, kalau begitu, jangan banyak bergerak.”


“B-baik.”


Begitu hening, tak ada pembicaraan selama di perjalanan ini. “Amane, apa yang sebenarnya terjadi padamu?”


“Huh? Memangnya ada apa?”

__ADS_1


“Kenapa tubuhmu tidak bisa bergerak.”


“Aku juga tidak tau, tadi aku melihat seseorang yang meminta bantuan, jadi aku menolongnya. Tapi, aku tidak ingat apapun setelah itu, dan tiba-tiba saja kau menggendongku.”


“Begitu.” Sepertinya dia dibius, dan obat bius yang mereka gunakan cukup kuat atau mungkin semacamnya. Tapi, kenapa mereka harus melukainya juga. Menjadikannya sandera tidak masalah, tapi jika sampai melukainya. Itu sangat membuatku kesal.


Beberapa lama kemudian.


Kami sudah sampai di kediaman Shiayuki. “Amane, apa yang terjadi denganmu?”


“M-Mama, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lemas saja.”


“Hiroaki-kun, apa yang sebenarnya terjadi padanya?”


“Dia...”


“Ayo, cepat antar aku kekamar.” Ia tidak membiarkanku berbicara.


“Baik.” Aku putuskan untuk mengantarnya terlebih dahulu.


Kamar Amane.


Ini adalah pertama kalinya aku kekamarnya. Aku menidurkannya di kasurnya. “Ha, sudah. Aku akan pergi.”


“T-Tunggu...”


“Ada apa?”


“A-A... Tidak jadi.”


“Haa, jika kau butuh sesuatu panggil saja aku.” Mungkin ini bisa dikatakan sebagai tanda permintaan maafku karena sudah membawanya kedalam masalah yang seharusnya itu menjadi masalah pribadiku.


“Eh? Benarkah?”


“Iya, kalau begitu, aku akan pergi dulu. Aku akan menjelaskan apa yang terjadi pada orang tuamu agar mereka tidak khawatir.”


“Baiklah.”


Aku memberitahukan apa yang terjadi pada Amane, dan tentu saja dengan sedikit bumbu kebohongan. “Jadi begitu...”


“Seperti itulah yang terjadi, oleh karena itu tadi aku kebingungan mencarinya.”


“Hiroaki-kun, maaf ya sudah merepotkanmu.”


“Tidak masalah, ini sudah menjadi bagian dari kewajibanku.”


“Melihat dirimu, mengingatkanku saat ayah Amane waktu muda dulu.”


“Eh?”


“Waktu muda dulu, ayahnya begitu perhatian dan juga bertanggung jawab dengan apa yang sudah diperbuatnya.”


“Ahh, sepertinya perbandingan itu sangat tidak cocok denganku. Suami anda itu sangat hebat.”

__ADS_1


“Haha..” Dan pembicaraan ini berlangsung selama hampir setengah jam.


__ADS_2