
"Nah. (wajah seram) Sekarang, akan aku mulai penyembuhannya." (dewa Sha)
Dewa Sha pun memulai penyembuhan Hiroaki. "Ehem. (melihat ke arah Shin & Felicia yang tengah memperhatikan dengan serius) Bisa kalian berdua mengambilkan pedang naga biru yang di pegang oleh Rin di luar." Meskipun dewa Sha tau kalau orang yang tak mempunyai hubungan apa-apa dengan Hikari tak bisa membawa pedang itu, tapi dia tetap menyuruh Shi dan Felicia mengambil pedang naga biru itu dari Rin.
"Baiklah dewa. (pergi)"
Tanpa mengetahui hal itu, Shin dan juga Felicia pergi untuk mengambil pedang itu karena ini adalah perintah langsung dari dewa.
"Ha~ (menghela nafas) Sepertinya mereka berdua sudah pergi. Nah, (wajah seram) sekarang, akan aku mulainya." (dewa Sha)
"(melihat ke arah Hiroaki yang sedang berbaring di kasur) Baiklah, aku mulai dari bagian jantung dulu. 'Clik' (menjeltikkan jari) Selesai."
Jatung Hikari kembali berdetak. "Nah. Sekarang, bagian sel-sel dan tulang-tulang. 'Clik' Wah. (heran) Otot perutnya juga bermasalah dan paru-parunya sepertinya retak. Sepertinya ini akan lumayan lama. 'Clik'"
--------- Di luar gua ----------
Shin dan Felicia sudah sampai di tempat Rin. "Rin, bisa aku minta pedang naga biru itu. (menunjuk ke arah pedang yang di bawah oleh Rin)" (Felicia)
"Kenapa?"
"Dewa yang menyuruhku?" (Felicia)
"T-t-tunggu, kau barusan bilang 'pedang naga biru'? Apa pedang naga biru yang legendaris itu? (kaget)" (Emilia)
"Iya, dan dewa menyuruhku untuk membawa pedang itu padanya."
"Baiklah. (Menyerahkan pedang itu pada Felicia)" (Rin)
Dan saat Felicia berniat mengambil pedang itu."B-b-berat.." Felicia sangat kesusahan mengangkat pedang itu dan pedang itu terjatuh ke tanah, kemudian Shin memutuskan untuk membantu Felicia. Dan bahkan pasangan legendarispun tak bisa mengangkat pedang itu.
---------- Beberapa menit kemudian -------
Shin dan Felicia masih belum bisa mengangkat 1 cm pedang itu dari tanah dan bahkan mereka berdua tak bisa menyeret pedang itu. "Ada apa dengan pedang ini? (bingung)" (Shin) Mereka berdua kebingungan, itu sudah wajar, karena mereka tak memiliki hubungan apa-apa dengan Hiroaki dan dewa tak memberitaukan hal itu peda mereka berdua.
"Shin, Felicia. Cepat kalian kembali ke dalam." Suara keras yang terdengar dari dalam gua.
"Suara apa itu? (bingung)" (Emilia)
"Tapi, kami masih belum mengambil pedang-." (Felicia)
"Sudah, lupakan itu. Kalian cepat kembali kedalam."
"Baik dewa." (Shin & Felicia)
Shin dan Felicia kembali masuk ke dalam gua seperti yang dikatakan oleh dewa Sha. "Dan untuk kalian berdua, tunggulah sebentar lagi." (dewa Sha)
"Baiklah." (Rin & Emilia)
Mereka berdua mengikuti apa yang dewa Sha katakan.
--------- Di dalam gua ------
Shin dan Felicia sudah sampai di tempat dewa Sha. "Sekarang, 'Clik' selesai."
"Ada apa dewa?" (Shin)
"Aku ingin kalian menjaganya sampai di sadar, dan juga kalian bisa memanggil mereka berdua."
"Baiklah dewa. (pergi)" Felicia pergi menemui Rin dan juga Emilia yang sedang ada di luar gua.
"Aku akan pergi sebentar, karena aku ada sedikit urusan. Jadi, bisa kau suruh mereka untuk menungguku sampai aku kembali, Shin."
"Baik dewa." (Shin)
"Kalau begitu, aku berangkat. (menghilang)" Dewa Sha menghilang entah kemana.
-----------
Aku membuka mataku perlahan-lahan. "Dimana aku? (mengingat kembali kejadian demi kejadian) Oh benar, aku sudah mati. Jadi, apa aku sekarang berada di surga?"
Sebuah tempat luas yang hanya berwarna putih. "Apa ini yang namanya surga, ini tak seperti yang aku bayangkan. Aku kira surga itu adalah tempat yang indah dan tempat dimana aku bisa bersama gadis-gadis cantik yang akan menemaniku selamanya."
Tiba-tiba sebuah kertas jatuh tepat di hadapanku, dan akupun mengambil kertas itu. "Kertas apa ini?"
Terdapat sebuah tulisan di kertas itu, dan isi tulisan itu adalah.
------------
Mana yang akan kau pilih?
'Memiliki Harem' atau 'Hidup sendirian'
-------------
"Itu Sudah jelas, aku memilih memiliki harem." karena aku pernah merasakan sendirian, jadi aku tau rasanya sendirian, dan aku tak mau merasakan hal mengerikan seperti itu lagi, lagipula mana ada orang bodoh yang tak tergiur dengan pilihan seperti ini.
Setelah aku memilih, kertas yang aku pegang tadi seketika lenyap. "A-ada apa ini.." Kemudian, aku merasakan kepala dan dadaku sakit sangat-sangat sakit, bahkan melebihi apa yang pernah terjadi padaku sebelumnya. "Ahhhhh!! (menjerit kesakitan)" Dan aku kemudian pingsan.
"Hiroaki!!"
"Hi-chan!"
Aku mendengar suara Rin dan juga Emilia yang memanggil namaku. Kemudian, aku membuka mataku perlahan-lahan.
"Hi-chan. (menangis dan memelukku yang sedang dalam keadaan terbaring)"
"Hiroaki. (menangis dan memelukku juga)"
"Dimana aku? (bingung)" Aku cukup heran, karena seblumnya aku berada di tempat yang serba putih dan sekarang aku berada di tempat yang tak asing bagiku.
"Kau sekarang sedang berada di dalam gua." (Shin)
Suara yang tak asing bagiku terdengar. "Gua?"
"Iya, aku yang membawamu dan mereka berdua kesini."
"Oh, begitukah."
"Sepertinya aku tidak jadi mati, dan tempat yang aku lihat tadi berarti bukan surga. Jadi, tempat apa itu?" pikirku.
Sementara itu, Rin dan Emilia masih memelukku dengan cukup erat. "Kalia-"
"Hiroaki. (menangis) Aku mohon, jangan lakukan hal itu lagi, aku takut kalau aku akan kehilangan orang yang aku sayangi lagi."
"Hi-chan. (menangis) Aku tak mau kehilangan Hi-chan, lagi."
Mendengar hal itu dari mereka berdua, aku hanya bisa diam dan tak bisa berbuat apa-apa.
--------- Beberapa menit kemudian --------
"Kelihatannya mereka berdua sudah mulai tenang." pikirku.
"Rin, Emilia, sekarang bisa kalian melepaskanku?"
"Tunggu, sebentar lagi." (Rin)
"Iya." (Emilia)
"Ha. (menghela nafas) Baiklah.."
Beberapa saat kemudian, mereka melepaskan pelukannya. "Jadi, apa yang tejadi padaku?"
"Saat kau jatuh ke dalam sungai, kami mencarimu dan menemukanmu tergeletak di pinggir sungai." (Emilia)
"Oh."
"Dan saat aku memeriksa keadaanmu, jantungmu berhenti berdetak."
"Hmmm..."
"Aku mencoba menekan-nekan dadamu. Tapi, jantungmu masih tak berdetak."
"Oh begitu."
"Jadi, jantungku berhenti berdetak, ya. Tapi, bagaimana aku bisa hidup? Apa ini perbuatan dewa Sha?" pikirku. Mengingat dia adalah dewa di dunia ini, dewa Sha pasti bisa dengan mudah menghidupkanku kembali.
"J-jadi. (wajahnya memerah)"
"Jadi?"
"A-aku memberimu n-nafas buatan. (wajahnya makin memerah)"
"Oh. Ehh?!!! (terkejut)"
Aku tak tau kalau Emilia memberiku nafas buatan, dan itu berarti aku sudah berciuman dengan Emilia. "Tidak tidak tidak, itu bukan ciuman namanya. Itu hanya sebuah usaha penyelamatan. Iya, itu betul." pikirku
"Maaf membuat kalian menunggu.." (???)
Suara yang tak asing bagiku terdengar dari bagian gelap gua ini. "Dewa Sha."
"Yo, bagaimana keadaanmu?"
"Aku rasa, aku sudah baik-baik saja."
"Peramal. (melihat ke arah dewa Sha)"
"Hah? Peramal? (bingung)" Setelah Emilia berkata seperti itu, sekarang aku tau sebabnya ia bisa tau tujuanku, itu karena ulah dewa.
"Woy, woy, woy, dewa Sha, apa maksudnya ini?"
"Tidak ada maksud khusus."
"Haaa."
Aku tak tau maksud dan tujuan dewa Sha malakukan hal ini. "Nah, sepertinya sudah saatnya." (dewa Sha)
"Hah? Apa yang-" Tiba-tiba saja dadaku terasa sangat sakit. "A-ada apa ini? Aaaaa!!! (menjerit kesakitan)"
"Hi-chan kau k-. Aaaa!!! (menjerit kesakitan)" (Rin)
"Hiroaki, Rin, ada apa dengan kal-. Aaaa!!! (menjerit kesakitan)" (Emilia)
Aku mencoba menahan rasa sakit itu. "A-pa yang sebenarnya terjadi?" Rin dan Emilia juga menjerit kesakitan. "A-da apa dengan mereka, ke-napa mereka. Aaaa!!!"
"Efek pasangan." (dewa Sha)
"E-fek pasangan. Bukannya k-au sudah me-nghilangkan efek-."
"Yang kau katakan itu memang benar, dan karena kau sudah pernah mengalami masa kristis, mau tak mau efek pasangan itu akan ada kembali. Jadi, tahanlah, sebentar lagi akan selesai."
Meskipun berkata saperti itu, tapi ini sangat menyakitkan. Dan karena tak tahan dengar rasa sakit ini, Rin dan Emilia pingsan. "Rin!!! Emilia!!!"
---------- Beberapa saat kemudian ---------
Rasa sakit yang menyakitkan ini hilang. "Ha, ha, ha, ha, ha, (terengah-engah)" Nafasku yang kacau semakin lama semakin membaik. Rin dan Emilia tergeletak pingsan.
Aku menghampiri mereka berdua dan berusaha untuk menyadarkan mereka. "Rin!! Emilia!! Bangun!!"
"Tenang saja, nanti mereka akan bangun dengan sendirinya, kau tak perlu khawatir. 'Clik' (Rin dan Emilia menghilang)"
"Kemana mereka? (melihat ke arah dewa Sha) Apa yang kau lakukan pada mereka!!"
"Tenang, aku memindahkan mereka berdua ke tempat yang lebih nyaman, dan saat mereka sudah sadar, mereka akan berada di sini dengan sendirinya."
"Benarkah?"
"Ya, tentu saja. Hahahaha."
Aku cukup tenang setelah mendengar penjelasan dewa Sha. "(melihat ke arah Shin & Felicia) Kalian boleh pergi." (dewa Sha)
"Baik dewa. (pergi)" (Shin & Felicia)
Sesuai apa yang dikatakan oleh dewa Sha, Shin dan Felicia pergi. "Ha. (menghela nafas) Sekarang hanya ada kau disini."
"Ha? (bingung)"
__ADS_1
"Apa tak ada yang ingin kau tanyakan padaku?"
"Tanyakan padamu?" Sebenarnya aku punya banyak sekali pertanyaan, tapi aku tak tau harus memulainya dari mana.
"Baiklah, bagaimana kalau kita mulai dari bayi yang kau temukan itu dulu."
"Bayi? Maksudmu Inori!!?"
"Betul."
"Ada apa dengan Inori?"
"Bayi itu adalah salah satu keturunan dari ras serigala suci."
"Serigala suci? Apa itu?"
"Ras serigala suci adalah salah satu ras terkuat dari sekian banyak ras yang ada di sini."
"Memangnya kenapa."
"Ras sergala suci memiliki pertumbuhan yang sangat cepat, tapi pertumbuhan itu akan terhenti saat mereka sudah tumbuh seperti manusia yang sudah berusia 17 tahun."
"Oh, begitu."
"Dan satu hal lagi."
"Apa?"
"Jangan sekali-kali kau membuat ras ini merasakan penderitaan, kemarahan, atau kebencian."
"K-kenapa. (khawatir & panik)"
"Ras ini akan berubah menjadi serigala raksasa yang mampu membantai seluruh mahluk yang ada di sekitarnya."
"Apa!!" Dan, lagi lagi aku mendapatkan sebuah masalah yang sangat besar dan tak terduga.
"Tenang saja, kau hanya perlu menghindari hal-hal yang akan membuat bayi Inori merasakan hal-hal yang aku sebutkan tadi."
"Tapi, jika seandainya hal itu terjadi, apa ada cara untuk mengatasinya"
"Hmmm. Mengatasinya, ya. Sepertinya ada caranya."
"Apa?"
"Kau hanya perlu membuatnya sadar atau kau bisa menggunakan sihir tingkat tinggi untuk membuatnya tak sadarkan diri, dan jika hal itu berhasil, ras serigala suci akan kembali ke wujudnya yang semula."
"Oh bagitukah. (tenang)" Aku agak tenang setelah mendengar hal itu, aku kira hanya ada satu cara, yaitu membunuhnya. Aku tak menginginkan hal itu, tapi aku cukup berksyukur karena aku tak perlu melakukan hal itu karena ada cara yang lebih baik dari pada membunuh.
"Tetapi."
"Masih ada lagi?"
"Jika semua itu tak berhasil, mau tak mau kau harus membunuhnya."
"Apa!!! (terkejut)"
"Tapi kau bisa menggunakan cara itu bila cara-cara yang aku bilang padamu tak berhasil, dan jika berhasil, kau tak perlu melakukan hal yang aku katakan barusan."
"Begitukah."
"Ya. Dan sekarang adalah tentang Emilia."
"Iya, hal itu yang ingin aku tanyakan padamu. Kenapa-."
"Kenapa aku memberi tau gadis yang bernama Emilia tentang dirimu dan bahkan mengatakan kalau kau adalah pasangannya. Begitukah?"
"Iya." Aku cukup penasaran tentang hal itu, dan mungkin ada maksud tersembunyi di balik semua ini.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Bertanya? Bertanya apa?"
"Apa yang kau pilih?"
"Yang aku pilih? (bingung)" Aku tak paham apa yang dikatakan oleh dewa Sha. "Apa kau pernah memberi pilihan padaku?
"Yap, dan itulah yang akan terjadi di masa depanmu nanti."
Aku masih tak paham apa yang dikatakan oleh dewa Sha. "Oh ya, ada sesuatu yang hampir aku lupa beri tau padamu."
"Apa?"
"Mulai saat ini, Emilia adalah pasanganmu."
"Haaa!!! Jangan bercanda dewa Sha, bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi." Tidak, yang dikatakan dewa tidak sepenuhnya salah, dan jika aku ingat-ingat lagi, tadi Emilia juga merasa kesakitan.
"Coba lihat apa yang ada di dadamu."
"Di dadaku?" Akupun melihat dadaku. "Apa ini?!! (terkejut)"
"Itu adalah tanda milikmu dan Emilia sebagai bukti bahwa kau adalah pasangannya."
Sebuah tanda dengan bentuk bintang persis seperti yang ada di pipiku dulu. "T-t-tunggu dulu, tapi aku'kan sudah punya pasangan..."
"Terus? (ekspresi wajah tak bersalah)"
"Bagaimana mungkin aku bisa punya 2 pasangan?!!! Itu tidak wajar!!"
"Memangnya kenapa? Itu wajar-wajar saja."
"Huh?"
"Lagi pula, aku tak pernah bilang kalau hanya akan ada 1 laki-laki dan 1 perempuan untuk setiap pasangan yang ada di dunia ini."
"I-itu memang benar, tapi kenapa harus aku?"
"Tenang saja, di dunia ini masih banyak yang seperti dirimu, contonya para bangsawan yang ada di dunia ini."
"Itu sudah wajar." Mengingat jabatan bangsawan yang cukup tinggi, tidak heran mereka memiliki lebih dari 1 pasangan. "Tapi aku'kan bukan bangsawan."
"Kau berkata seperti itu, tapi kenapa kau melakukan hal ini padaku?"
"Tapi kau adalah calon raja."
"Haaaa, calon raja?"
"Setelah tugas ini selesai, kau'kan akan membangun sebuah kerajaan."
"I-itu memang benar, tapi itukan masih lama." Aku memang berencana untuk membuat sebuah kerajaan, dimana seluruh rakyatnya bisa hidup dengan damai. Tapi, itu masih cukup lama menurutku, lagi pula, membangun kerajaan tak semudah menjeltikkan jari.
"Tak ada salahnya menyiapkan sesuatu lebih awal."
"T-tapi-"
"Ah, mereka sudah sadar. (mengalihkan pembicaraan)"
"Mereka?"
Tiba-tiba Rin dan Emilia muncul kembali di tempat semula sebalum ia dipindahkan oleh dewa Sha.
Mereka berdua perlahan membuka mata. "Rin, Emilia, Apa kalian baik-baik saja?"
"Hiroaki. Aku baik-baik saja."
"Hi-chan. Apa yang terjadi?"
"Jangan katakan apa yang kau dengar tentang bayi itu dariku pada mereka." (telepati dewa Sha)
"*Kenapa?"
"Sudah, turuti saja kata-kataku. Jika kau ingin bilang, bilang saja tentang hal lain yang aku bicarakan denganmu tadi."
"Hal lain?"
"Ya, misalnya, kalau kau juga sudah menjadi pasangan Emilia."
"Haaa. Kenapa aku harus bilang hal itu*?"
"Ada apa denganmu Hi-chan?"
"Hiroaki, ada apa?"
"Aaa, tidak ada apa-apa."
"*Sudah, rahasiakan saja."
"Baiklah*." Aku hanya bisa menuruti kata-kata dewa Sha untuk cari aman.
"Merahasiakannya, ya. Apa aku bisa melakukannya." pikirku
"Apa yang kau rahasiakan Hi-chan?" (Rin)
"Rahasia apa itu?" (Emilia)
Aku lupa kalau efek pasangan sudah kembali padaku dan mereka pasti sudah mendengar apa yang aku pikirkan barusan. Dan aku khawatir kalau mereka juga ikut mendengar telepati yang dewa lakukan padaku. "*Dewa Sha, apa mereka sudah mendengar apa yang kita bicarakan tadi?"
"Kau tenang saja, mereka tak akan bisa mendengar apa yang kita bicarakan, karena aku sudah memberikan sihir yang bisa menghalangi mereka untuk bisa tau tentang telepati yang aku lakukan."
"Benarkah.. Syukurlah*." Aku cukup tenang karena mereka tak bisa mendengar apa yang dikatakan dewa melalui telepati.
"Kau juga bisa mendengarnya Emilia?" (Rin)
"Iya, apa kau juga?" (Emilia)
"Bagaimana bisa?"
"Nah, sudah-sudah.." (dewa Sha)
Dewa Sha menghentikan pembicaraan Rin dan Emilia. "Emilia.." (dewa Sha)
"Y-ya."
"Rin."
"I-iya."
"Mulai saat ini, kalian berdua adalah pasangannya."
"Haa!! Kenapa kau bilang hal itu pada mereka dewa Sha?" Saat dewa Sha berkata seperti itu, aku merasa sesuatu yang sangat buruk akan segera terjadi.
"A-a-aku menjadi pasangan Hiroaki.!!"
"Jadi, (mengabaikanku) Emilia, Rin, apa ada yang ingin kalian tanyakan? Misalnya, salah satu dari kalian tidak setuju dengan hal ini, begitu.?" (dewa Sha)
Mereka berdua diam. "Woy woy, yang benar saja."
"Nah,(melihat ke arahku) seperti janjiku padamu sebelumnya Hikari." (dewa Sha)
"Janji? Janji apa?" Aku tak ingat mempunyai sebuah janji dengan dewa Sha.
"Baiklah, aku akan mulai. 'Clik' Nah, sudah selesai."
"Apa yang kau lakukan dewa Sha? (bingung)" Aku tak tau apa yang sudah dilakukan dewa Sha padaku.
"Hiroaki, tanda yang ada di pipimu menghilang. (bingung)" (Emilia)
Kalau diingat-ingat, aku pernah meminta dewa Sha untuk menghapus peraturan mutlak yang ada padaku, dan ia juga melakukan hal yang sama saat ini padaku. "(melihat ke arah Emilia) Tenang saja, aku hanya menghilangkan peraturan mutlak dan kau masih menjadi pasangan Hikari."
"Peraturan mutlak? Apa itu? (bingung)"
Emilia terlihat kebingungan. Aku pun bertanya padanya. "Emilia, apa ini pertama kalinya kau mendengar peraturan mutlak?"
"Iya."
"Hmm. Begitukah, baiklah aku akan menjelaskan padamu." Dewa Sha pun menjelaskan apa itu peraturan mutlak pada Emilia.
__ADS_1
--------- Beberapa menit kemudian --------
"Apa sekarang kau sudah paham?"
"Kurang lebih aku sudah paham. 'Setiap orang yang sudah memiliki pasangan, jika salah satu pasangan terluka, maka pasangan lainnya akan mendapatkan dampak yang sama, itulah peraturan mutlak.' Begitukah?"
"Ya, betul. Oh ya, ada sesuatu ingin aku sampaikan pada kalian semua."
"Ada apa dewa Sha?"
"Tunggu sebentar, aku akan segera kembali. 'Clik' (menghilang)"
"Kemana dia? (bingung) Apa itu sebuah sihir, dan apa bisa sihir melakukan hal seperti itu?" (Emilia)
Emilia terlihat kebingungan, dan akupun menjelaskan padanya. "Emilia."
"Y-ya."
"Dia adalah Sakusha."
"Sakusha? Apa dia berarti-."
"Ya, aku adalah dewa di dunia ini." Dewa Sha kembali sambil membawa sebuah busur yang berwarna hitam pekat.
"Kau sudah kembali, cepat amat. (melihat ke arah busur yang di bawa dewa Sha) Kenapa kau membawa busur?"
"Oh ini. (menghampiri Emilia) Ini untukmu." Dewa Sha memberikan busur itu pada Emilia.
"Untukku?"
"Ya."
"Tapi kenapa? (bingung)"
"Aku lihat, kau mempunyai kemampuan yang menakjubkan dalam hal memanah..."
"Tapi, kenapa anda memberikannya padaku?"
"Bisa dibilang, ini adalah sebagai pertukaran."
"Pertukaran? Apa maksud perkataanmu dewa Sha, pertukaran apa?" Dewa Sha tiba-tiba berkata tentang pertukaran, dan sudah jelas aku tak paham apa yang dikatakan olehnya.
"Oh Hiroaki, kau belum tau, ya."
"Tau apa?" Apa ada sebuah rahasia diantara dewa Sha dan juga Emilia. Aku cukup penasaran dengan hal itu.
"Emilia itu, tidak bisa menggunakan sihir."
"Apa kau bilang?!! (kaget) (melihat ke arah Emilia) Apa yang di katakan dewa Sha itu benar Emilia?"
Emilia hanya diam dan ia tak menjawab pertanyaanku.
"Untuk apa aku berbohong, lagi pula takkan ada untungnya aku membohongimu."
"Tapi, bagaimana bisa Emilia tak bisa menggunakan sihir. Bukannya semua mahluk yang ada di dunia ini bisa menggunakan sihir."
"Oh, soal itu. Kau memang benar. Tapi, dia sudah aku berikan beberapa kelebihan, (melihat ke arah Emilia) benar'kan."
"Y-ya."
"Kau pasti juga sudah diberitau tentang kelebihan itu oleh dia."
"Tidak, aku tidak tau." Aku tak tau kelebihan apa yang dewa Sha maksud itu.
"Oh, seperti itu kah, ya sudah. (cuek)"
"Oy oy, apa kau tak berniat untuk memberitauku atau semacamnya."
"Ha, baiklah baiklah. 'Clik'."
Sejumlah informasi tiba-tiba masuk ke dalam kepalaku dan karena informasi itu, kepalaku sedikit kesakitan. "A-apa ini?"
"Itu adalah informasi yang ingin kau tau tentang kelebihan Emilia, apa kau sudah puas sekarang?"
"Wooow, hebat. Reflek, kecepatan, bahkan akurasi yang sempurna. Luar biasa.. (kagum)" Aku cukup kagum dengan kelebihan yang di berikan dewa Sha pada Emilia.
"Oh ya, Emilia."
"A-ada apa dewa?"
"Sepertinya, kau sudah salah paham tentang dirimu sendiri."
"Salah paham?"
"Kau bukannya tak memiliki sihir, tapi kau hanya tak bisa menggunakan sihir saja."
"Aku, memiliki sihir?"
"Ya."
"Bukannya itu sama saja bohong. Meskipun memiliki sihir, tapi jika tak bisa menggunakannya, untuk apa memiliki sihir." pikirku
"Tenang saja, meskipun kau tak bisa menggunakan sihir, kau bisa menggunakan busur itu sebagai alat bantu untuk memakai sihirmu. Dan lagipula busur itu menggunakan sihir sebagai sumber kekuatannya."
"Wah, gawat.. dewa ini membaca pikiranku." pikirku.
"Oh ya dewa Sha, bagaimana caranya Emilia menggunakan busur itu, dia'kan tak bisa menggunakan sihir."
"Oh, benarkah? (melihat Emilia) Emilia, coba tarik busur itu."
"Baik." Emilia menuruti kata-kata dewa Sha dan menarik busur itu.
"A-apa ini? (kaget)" (Emilia)
"Apa yang terjadi?" (Rin)
Akupun cukup terkejut setelah melihat Emilia menarik tali busur itu. Sebuah anak panah dengan warna gelap tiba-tiba muncul di busur yang siap di tembakkan oleh Emilia. "Nah, sekarang coba kau tembakkan anak panah itu ke arah batu itu. (menunjuk ke arah batu besar di dalam gua)" (dewa Sha)
"B-baik." Emilia pun menembakkan anak panah itu ke batu yang ditunjuk oleh dewa Sha.
Jduuaarr. (ledakan)
Sebuah ledakan yang cukup besar terjadi setelah anak panah itu tepat mengenai batu yang di target oleh Emilia. "Hebat. (kagum)" (Emilia) Batu itu hancur menjadi bagian-bagian kecil.
"Bagaimana, hebat bukan.. Itu adalah salah satu senjata buatanku, 'Busur kegelapan'."
"Busur kegelapan? Bukankah namanya sedikit lebay." Itulah menurutku, karena padang biru yang aku gunakan juga memiliki nama yang lebay juga, yaitu 'Pedang naga biru'.
"Jadi, (melihat ke arahku) apa kau mempunya saran nama yang bagus?"
"Eh, ah." Aku tak memiliki nama yang menurutku cukup bagus.
"Ada apa? Jika kau tak mempunyai saran, sudah diam saja!! Jangan tanyakan hal yang tak perlu. (marah)"
"Ah. (memengang kepala)" Aku membuat dewa Sha, dewa dunia ini marah, dan itu sangat menakutkan. Aku seperti merasakan aura yang sangat mencekam saat ia marah.
"Ah, lupakan saja. Sebaiknya kau segera pergi, kau mungkin akan sampai ke kerajaan Chamos dalam beberapa hari jika kau berangkat sekarang."
"Dewa Sha, kau memberikan Emilia sebuah senjata, tapi kenapa kau tak memberikan Rin senjata juga?" Aku merasa dewa Sha sudah berlaku tidak adil disini, karena ia memberikan Emilia senjata tapi ia tak memberi Rin senjata.
"Kenapa kau bilang seperti itu? Apa kau yakin, Rin tak memiliki sebuah senjata?"
"Itu sudah jelas, mau dilihat dari manapun Rin tak memiliki senjata apapun."
"Oh, benarkah. Baiklah akan aku tunjukkan padamu."
Dewa Sha menghampiri Rin. "Rin, apa kau sudah siap?"
"Siap? Siap untuk apa dewa.."
"Untuk ini. (melompat jauh ke belakang Rin)"
Dewa Sha melompat cukup jauh kebelakang dan melepaskan sebuah bola api besar yang sangat panas ke arah Rin.
Duaaarr.
"RIN!!!!!" (Emilia)
"Dewa Sha, apa yang kau lakukan pada Rin?!!! (marah)" Sesuatu yang di tunjukkan oleh dewa Sha ini membuatku sangat marah.
"Tenang saja, coba lihat baik-baik api itu."
Baju milik Rin menyerap semua api yang membakar di sekitanya, dan ia juga tak terluka sedikitpun. "A-apa yang terjadi? (terkejut)" (Emilia)
"Itu adalah senjata miliknya."
Meskipun dewa Sha berkata seperti itu, aku masih tak melihat sebuah senjata pada Rin. "Mana?"
"Setelah melihat hal seperti itu, kau masih belum sadar."
"Tunggu, apa mungkin. Ah, tapi bagaimana itu mungkin." Untuk sesaat aku memikirkan hal yang tak mungkin terjadi.
"Ya, yang kau pikirkan itu benar."
"Hah? Jadi baju yang digunakan oleh Rin itu-"
"Iya, itu adalah senjata miliknya."
"Tapi, bagaimana bisa baju milik Rin memiliki kekuatan seperti itu, itukan hanya baju biasa." Baju Rin adalah baju sekolah yang berasal dari duniaku, dan aku rasa sangat mustahil baju itu memiliki sihir.
"Apa kau sudah lupa."
"Lupa?"
"Apa kau ingat saat kau dan Rin datang ke tempat ini, dan Rin masih menggunakan baju pengantin."
"Ya. Tunggu, jangan-jangan."
"Ya, tepat saat aku mengganti baju pengantin milik Rin ke baju sekolahnya, aku menanamkan sedikit sihir pada baju milik Rin."
"Sedikit." Dewa Sha berkata sedikit, tapi aku merasa sudah melihat sebuah cheat di sini.
"Tenang saja. Hahahaha."
"Dewa ini bilang, dia tak akan memberikan sebuah kekuatan overpower. Tapi nyatanya, saat ini ia melakukannya." pikirku.
"Tenang, aku memang tak memberi kalian sebuah kekuatan overpower. Hanya saja, aku memberi kalian sebuah senjata overpower yang harus kalian kuasai terlebih dahulu. Jadi, aku tak pernah melanggar janjiku. Benar'kan."
"Cih. Dia membaca pikiranku, lagi." pikirku. Tapi, aku rasa itu sama saja, dan itu tak ada bedanya dengan mendapatkan sebuah kekuatan overopower.
"Ah.. Aku ada urusan mendadak jadi aku harus pergi.."
"Baiklah."
"Oh, aku hampir lupa. (mendekat ke arah Rin)"
"Dewa Sha pasti akan memberikan sesuatu pada Rin juga." gumamku. Aku merasa dewa Sha sudah berlaku tidak adil, ia memberi Rin dan Emilia sebuah senjata yang hebat. "Dan aku hanya mendapatkan. Ah, tidak, pedang naga biru itu adalah senjata buatan dewa juga." Aku hampir lupa kalau dewa juga memberiku sebuah pedang, tapi pedang yang sangat berbahaya. Karena jika aku memakainya, pedang itu akan memakan energiku dan bahkan bisa membuatku merasa kesakitan setelah memakainya.
"Ini Rin. 'Clik' (dewa Sha memberikan bayi Inori yang tiba-tiba muncul entah darimana pada Rin) Ingat pesanku ini, jaga bayi ini baik-baik."
"Ba-baik dewa. (mengambil bayi Inori)"
Dan aku baru sadar kalau Rin tak memegang Inori mulai tadi. "Ternyata itu." Aku sudah salah sangka pada dewa Sha.
"Oh, ini untukmu juga. (berbalik ke arahku dan melemparkan 2 buah pedang ke arahku 'Shirame & Pedang naga biru')"
"Oh sial." Aku tak siap akan hal ini karena dewa Sha tiba-tiba saja melakukan hal itu sebelum aku siap.
Aku menangkap kedua pedang itu. "Ehh. Ringan. (sedikit kaget)" dan kedua pedang ini terasa cukup ringan terutama 'Shirame' yang beratnya mencapai 5kg sekarang sudah terasa lebih ringan, sedangkan pedang naga biru itu sudah ringan sejak pertama kali aku mencabutnya dari gua.
"Baiklah, aku pergi dulu. (menghilang)" Seperti biasa, ia menggunakan cara-cara keren seperti menghilang untuk pergi.
"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang."
Bersambung
__ADS_1