Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
71


__ADS_3

“Aku adalah Akarui Hiroaki, seorang manusia yang diberi tugas oleh seorang dewa untuk mencegah terjadinya ketidak stabilan yang terjadi di dunia lain. Setidaknya itulah diriku sekarang.”


“Apa kau dari dunia lain?”


“Ya. 2 pertanyaan sudah aku jawab. Sisanya hanya tinggal 3.”


“Apa kau tau cara untuk mengalahkan iblis itu?”


“Sayang sekali, aku tidak mengetahuinya.”


“Begitu.”


“Tersisa 2  pertanyaan lagi.”


“Aku akan mengorbankan 2 pertanyaan ini untuk 1 permintaan. Apa boleh?”


“Hmm? Permintaan? Permintaan apa itu?”


“Saat aku melawan iblis bersama yang lainnya. Apa kau bisa melindungi Sylvi.”


Aku sedikit tak mengira kalau dia akan meminta hal itu, aku kira dia akan memintaku untuk mengalahkan iblis yang akan menyerang dunia ini, tapi setidaknya itu juga sejalan dengan tugasku. “Baiklah.”


“Haa, syukurlah.”


“Kalau boleh tau, kenapa aku harus melindunginya?”


“Saat aku pergi menyerang iblis itu bersama guardian lain, disaat itu tidak ada yang bisa melindunginya. Begitupula denganku. Perbedaan kekuatan yang begitu besar membuat kami kesulitan untuk melindugi diri sendiri.”


“Jadi?”


“Seperti yang sudah pernah kau lihat, pertahan Sylvi begitu lemah. Aku sudah berulang kali melihat kematiannya, dan itu menyebabkanku menjadi seperti ini.”


“Begitu, ya. Jika sudah berulang kali, berarti pertemuan ini kau sudah mengetahuinya.”


“Tidak, pertemuan ini baru pertama kali terjadi. Ini berbeda dari sebelumnya, oleh karena itu waktu itu aku menemuimu.”


“Jadi begitu.” Untuk kemampuan Amane, sepertinya dia sudah bisa melindungi diri sendiri dan aku tak perlu khawatir tentang hal itu. “Baiklah, aku akan menerima tawaranmu. Aku akan menjaganya saat iblis itu menyerang.”


“Terimakasih. (batuk)”


Jika dilihat, keadaannya sudah cukup parah. “Apa kau bisa bertarung saat waktunya tiba nanti?”


“Ya, aku sudah terbiasa dengan hal ini. Setidaknya aku bisa menahan rasa sakit ini.”


“Begitu.” Pembicaraan selesai, dan aku pergi dari tempat ini.


“Hiroaki, apa sudah selesai?”


“Ya.”


“Apa yang kalian bicarakan? Dan bagaimana keadaan Koujo-kun, apa dia baik-baik saja?”


“Dia baik-baik saja, dia hanya butuh sedikit istirahat saja.”


“Begitu, ya.”


“Ada apa?”


“T-Tidak ada apa-apa. Aww… Kenapa?”


“Kau tidak bisa membohongiku, siapapun yang melihat wajahmu pasti akan langsung sadar kalau kau sedang berbohong.”


“Benarkah?”


“Iya. Lalu, apa yang kau khawatirkan? Apa ada masalah?”


“Aku, lapar.”


“Ha... Ternyata itu.”

__ADS_1


“Tadi aku barusaja selesai berenang, wajar kalau sekarang aku lapar.”


“Ha... Baiklah. Kau pilih saja dimana tempat kita akan makan.”


“Asik.” Kamipun berangkat menuju ke tempat yang dipilih oleh Amane.


Beberapa lama kemudian


Saat ini aku tengah melihat Amane memakan dengan lahap makanan yang ia pesan. “Ada sesuatu yang disembunyikan olehnya.” Ia berkata lapar karena ia tidak ingin aku mengetahui apa yang sedang dicemaskan olehnya. “Sudahlah.” Jika dia tidak ingin aku tau, maka aku tidak akan memaksanya.


Hari ini hingga sore hari, terasa begitu tenang dan damai. Tak ada monster menyerang selama beberapa minggu terakhir dan itu membuat suasana disini mirip dengan di dunia tempat asalku. “Amane, ada apa?” Mulai tadi, ia terlihat begitu murung. “Apa ada masalah?”


“T-Tidak ada.”


“Begitu.” Ia masih tidak ingin memberitahukannya padaku. “Sudahlah.”


Hari ini berlangsung seperti hari-hari sebelumnya, ketenangan ini membuatku seakan lupa dengan bencana yang akan datang kurang dari 2 minggu lagi.


1 minggu berlalu


Seluruh tempat yang ingin dikunjungi oleh Amane di musim panas ini sudah semuanya, dan sepertinya dia tidak memiliki kegiatan lain hari ini.


Teras samping rumah.


“Amane, apa yang sedang kau lakukan?”


“Seperti yang kau lihat, aku sedang membersihkan pedang hadiah darimu.”


“Hmm, begitu.” Kalau diingat-ingat, aku sama sekali belum pernah membersihkan Shirame ataupun Ryuga setelah selesai pertarungan. “Shirame, Ryuga.”


“Huh, Hiroaki ada apa?”


“Tidak ada, aku hanya ingin membersihkan mereka saja.” Setidaknya itu yang ingin aku lakukan, tapi...


“Wah, mereka terlihat begitu bersinar. Yang asli memang luar biasa.” Tak ada lecet, atau apapun pada Shirame ataupun Ryuga.


“Hm... Amane, mau mencoba pedang itu?” Dewa Sha bilang kalau kemampuan pedang replika itu adalah 15% dari yang asli, dan sebenarnya aku juga sedikit meragukan hal itu.


“Bagaimana kalau kita coba dulu.”


“Kalau begitu, aku akan bersiap-siap dulu.”


“Eh? Bersiap-siap?”


Disebuah padang rumput tepat dimana aku pertama kali melawan 4 guardian itu.


“Wah, aku tidak tau kalau ada tempat seluas ini disini.”


“Amane, coba kau gunakan pedang itu.”


“Eh, bagaimana caranya?”


“Bagaimana kalau kau tebaskan saja dulu.”


“Hmm, kalau begitu baiklah. Ini dulu.” Ia memulai dengan replika pedang Ryuga.


Seettt


Satttt


“Pedangnya menjadi cukup ringan saat aku gunakan.”


“Begitu.” Dari yang aku lihat, tidak terjadi apapun saat Amane menggunakan replika Ryuga. “Ha, sebaiknya aku mencobanya.” Aku menghampiri Amane.


“Hiroaki, ada apa?”


“Bisa aku pinjam sebentar.”


“Eh, baiklah.”

__ADS_1


“Hmm, ini lebih ringan dari dugaanku.” Setidaknya replika ini lebih ringan daripada Ryuga. “Baiklah.” Aku mulai menebaskannya secara vertikal.


Sattt


Ctrakkkk. Sfx : retakan.


Tanahnya terbelah sejauh beberapa meter. “H-Hebat.” Setidaknya yang dikatakan oleh dewa Sha benar, kemampuannya berkali-kali lipat lebih kecil dibandingkan Ryuga. Tapi, aku masih belum menggunakan kemampuan pedang replika ini secara maksimal, setidaknya pedang ini terlalu kuat jika digunakan di dunia ini. “Hikari, bagaimana caramu melakukannya?”


“Hmm, entahlah, mungkin saja pedang itu hanya berfungsi padaku.”


“Ya... Padahal aku juga ingin menggunakan pedang itu.”


“Setidaknya, pedang ini tidak cocok denganmu.” Jika tebakanku benar, pedang ini hanya akan berfungsi jika aku yang menggunakannya, dan ketidakseimbangan yang aku khawatirkan itu sepertinya tidak perlu lagi. “Baiklah, ayo kembali.”


“Ehh? Hanya seperti itu?”


“Ya, hanya seperti itu.” Aku cuma ingin mengetahui seberapa besar kekuatan pedang ini, dan aku sudah melihatnya sendiri. Oleh karena itu, ini sudah selesai.


“Waktuku tidak banyak lagi.” Hanya tinggal 1 minggu lagi sebelum bencana itu datang, dan setelah itu aku masih memiliki sisa waktu 3 hari saja sebelum kembali. “Aku ingin mencoba sesuatu.”


“Shirame.” Aku dengan cepat menyerang Amane yang tengah lama keadaan lengah, dan juga penuh celah.


Ctanggg


“H-Hiroaki... A-apa yang ingin kau lakukan?!” Dia berhasil menangkisnya dengan senjatanya, jika seperti itu setidaknya tidak ada yang perlu aku khawatirkan.


“Hanya ujian terakhir.”


“Ujian terakhir?”


Aku mendekat ke arahnya, dan mulai mengelus kepalanya. “Kau sudah bertambah kuat sekarang, dan aku yakin kedepannya kau pasti bisa melindungi dirimu sendiri.”


“A-Ada apa sih, tiba-tiba...”


“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin melakukannya. Sudahlah, ayo kembali.”


Butuh persiapan yang sangat matang untuk menghadapi lawan yang 1 ini, tapi sayangnya aku tidak bisa ambil bagian dalam hal ini kecuali keadaanya sudah diluar kendali. Jika saja aku diizinkan untuk ambil bagian dari awal, pasti aku tak perlu melibatkan orang lain dalam hal ini. Saat ini, aku memiliki 2 orang yang harus aku lindungi, pertama Sylvi Angelia, ya karena dia dari awas adalah tujuan dari aku dikirim kedunia ini. Dan kedua...


“A-ada apa.. kenapa kau menatapku seperti itu?”


“Tidak ada..” Shirayuki Amane, orang yang harus aku lindungi berdasarkan keegoisanku.


Hari-hari berlalu, dan waktunya sudah tiba..


Malam hari, 20,21


“Amane..”


“Ada apa?”


“Bersiap-siaplah untuk besok.”


“Huh? Memangnya ada apa?”


“Goncangan besar akan dimulai besok, dan aku ingin kau bisa bertahan dengan kemampuanmu. Setidaknya itulah alasanku menerimamu sebagai muridku.”


“Goncangan? Goncangan apa? Gempa bumi?”


“Kau akan mengetahuinya besok.”


Aku bangun dari posisi dudukku.


“Hiroaki, kau mau pergi kemana?”


“Aku akan pergi sementara waktu.”


“Pergi, kemana?”


“Kemana? Sebuah tempat. Tenang saja, dengan kemampuanmu sekarang aku yakin kau bisa melindungi dirimu sendiri dengan baik. Jika kau kesulitan, aku akan membantumu.”

__ADS_1


“Baiklah... Menghilang.” Hiroaki menghilang tanpa meninggalkan jejak.


__ADS_2