Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
72


__ADS_3

Pagi hari, 04,22


Di suatu tempat.


“Waktunya sudah tiba, ya.” Hewan-hewan mulai bertingkah aneh, dan itu menandakan kalau bencana itu memang akan datang hari ini. Tapi... “Dewa Sha, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”


“Apa itu?”


“Dari sekian banyak tempat, kenapa harus dinegara ini?”


“Pertanyaan yang cukup bagus. Itu karena kebanyakan guardian berada dinegara ini.” Mendengar jawaban dari dewa Sha, itu terdengar sedikit aneh.


“Tujuan iblis itu, apa dia ingin membasmi para guardian?”


“Bisa dibilang seperti itu. Jika guardian musnah, itu berarti kehancuran untuk dunia ini.”


“Begitu, ya.” Jika diingat, monster yang sering muncul hanya bisa dikalahkan dengan kekuatan guardian dan jika guardian musnah. Itu berarti akhir dari dunia ini. “Jadi, tujuan iblis itu adalah menghancurkan dunia, ya.”


“Ya, seperti itulah. Jika tidak ada lagi yang ingin kau tanyakan, sudah dulu. Aku masih memiliki banyak urusan.”


“Baiklah.” Dewa Sha menutup telepatinya. “Haa...Baiklah, waktunya mengawasi.” Tugasku kali ini adalah mengawasi, tidak lain hanya itu. Tapi, jika terjadi kejadian yang tidak diduga mau tak mau aku harus ikut turun tangan juga.


Beberapa lama setelah itu.


Pagi hari, 07,21


Tengah kota.


“Sudah dimulai, ya.” Langit perlahan menjadi gelap, dan suasana dikota berbeda.


Seluruh orang panik melihat kejadian ini, dan secara bersamaan setelah sekian lama, alarm munculnya iblis berbunyi. Mereka semua segera bergegas pergi menuju ke tempat perlindungan.


Beberapa menit setelah itu.


Suasana kota begitu sepi, dan terlihat seperti kota mati. “Baiklah..” Langit sudah menghitam seluruhnya, dan selang beberapa saat petir mulai menyambar kesegala arah.


Srashhhh.


Suara pertarungan mulai terdengar beberapa tempat. “Sylvi Angelia, dia adalah target utamaku.” Setidaknya aku harus melindunginya agar misiku ini selesai. “Baiklah, mengawasi dari sini sangat tidak nyaman.” Aku memilih untuk mencari tempat yang lebih tinggi agar aku bisa dengan leluasa mengawasinya.


Di atas menara Tokyo.


Pagi hari, 09,21


“Haa, ini tempat yang luar biasa.” Aku bisa mengawasi sekaligus melihat yang lain sedang menghadapi para monster.


“Hiroaki, gunakan ini untuk misimu kali ini.”


“Eh, dewa Sha.” Tidak biasanya dewa Sha menghubungiku duluan.


Sebuah busur muncul didepanku, dan ini terlihat tak asing bagiku. “Bukannya ini, sama seperti milik Emilia.”


“Gunakan itu, dan bantu mereka dari jarak jauh. Ingat, jangan maju ke garis depan sebelum situasinya menjadi gawat.”


“Baik.” Busur ini sangat ringan. “Kalau tidak salah, busur ini hanya membutuhkan sedikit sihir untuk bisa mengaktifkannya. Baiklah.” Aku mulai menarik busur itu, dan langsung muncul sebuah anak panah.

__ADS_1


Aku melepaskannya ke sekumpulan monster yang berada sangat jauh dari tempatku berdiri saat ini.


Duarrrr


“Waoow.” Berhasil mengenai sasaran, dan daya hancurnya juga lumayan besar. “Jaraknya lebih dari 1 km, senjata buatan dewa memang sangat hebat.” Tapi, jika seperti ini aku tidak bisa membantu mereka. Daya ledaknya begitu besar, jadi setidaknya aku harus membuat daya ledaknya berkurang. “Tapi, bagaimana.” Sedari awal, aku memang tidak bisa mengontrol energi sihir milikku. Apalagi sekarang aku memiliki kekuatan dari Shirame dan juga Ryuga. Tapi... “Apa aku memiliki sihir?” Itulah yang aku penasaran sejak lama.


Lia bilang kalau aku memiliki mana, tapi mana digunakan untuk menggunakan senjata buatan dewa dan itu tidak membutuhkan sihir, bisa dibilang kalau sihirku hanya terdapat pada Shirame dan Ryuga yang dalam artian. “Aku tidak memiliki sihir.” Berarti, aku menggunakan busur ini bukan menggunakan sihir melainkan mana. “Kalau begitu.”


Swuuttt


Ctak


Duarrr


“Ledakannya mengecil, setidaknya tidak seperti sebelumnya.” Jika mengendalikan mana, sepertinya aku sudah sering melakukannya.


Beberapa lama setelah itu.


Siang hari, 13,22


“Huh, Koujo Kotaro. Mau pergi kemana dia?” Aku melihatnya tengah terburu-buru pergi menuju ke suatu tempat.


Dan beberapa saat kemudian.


“A-Apa yang terjadi.” Sebuah goncangan besar terjadi. “Bukan gocangan ini yang aku maksud.” Sebuah lubang besar muncul dilangit, sebuah sosok mulai muncul dari sana. “I-Itu...”


“Shinigami yang asli.” (???)


“Koujo Kotaro, sejak kapan kau...” Aku tak menyadarinya, tapi ia berada didekatku saat ini.


“Begitu, ya.” Jika melihatnya, aku sudah tidak terkejut lagi. “Monster tingkat dewa.”


“Monster tingkat dewa?”


“Ya, monster itu adalah monster yang pernah menyerang duniaku dulu.”


“Dia juga menyerang duniamu. Lalu, bagaimana caramu mengalahkannya?”


“Sejujurnya, aku tak  bisa mengalahkannya.”


“Lalu, bagaimana...”


“Seorang dewa membantuku.”


“Dewa, begitu ternyata, ya. Mengalahkannya memang adalah hal yang mustahil.”


“Tenang saja, karena ini diluar dugaan, aku juga akan ikut membantu.”


“Tapi, kau juga bahkan tidak bisa mengalahkannya.”


“Itu dulu. Sekarang aku memiliki kekuatan untuk mengalahkannya. Tapi, aku butuh bantuanmu.”


“Bantuanku, baiklah.”


Beberapa saat kemudian.

__ADS_1


“Begitu. Baiklah, akan aku usahakan. Aku hanya harus memancingnya ke area hutan kan, dan setelah itu kau akan mengurus sisanya.”


“Ya. Kalau begitu. Kita mulai rencana ini.” Dia pergi, sementara aku masih masih mengawasi mereka semua dari sini. “Monster tingkat dewa.” Aku tak menyangka kalau bencana yang disebutkan oleh dewa Sha adalah ini. “Lebih dari 100 kali melihat dunia ini hancur, aku tak bisa merasakan apa yang sebenarnya dia rasakan. Dia begitu terpuruk dalam keputusasaan, dan disaat dia melihat ada cahaya harapan. Ia melupakan yang sudah terjadi dan melangkah menuju jalan yang lebih baik.” Aku tak bisa menyimpulkan Koujo Kotaro sebagai orang yang seperti itu, karena kematian terlihat seperti hal biasa baginya. Dan itu juga yang membuat mentalnya menjadi seperti yang sekarang. “Kapan aku bisa menjadi sepertinya, seorang karakter utama yang sempurna.”


--------------


“Bagus.” Koujo berhasil menarik perhatian monster dewa itu, tapi...


Duar


Duarr


“Rasakan ini!!!”


“Hoy, apa yang kalian lakukan!!” Para guardian yang lain menyerang monster itu, dan akibatnya perhatiannya tertuju pada mereka.


Perlahan, monster dewa itu mendekat kearah mereka. “Kalian, cepat larilah!!”


“Ini sudah keluar dari rencana.” Aku putuskan untuk mendekati mereka.


“Shirayuki, sekarang giliranmu.”


“Baiklah, rasakan ini!!”


Swuutttt


Dak


Duarrrrrr


Tembakan Shirayuki mengenai monster dewa itu dengan telak. “Shirayuki, tembakan yang bagus.”


“Apa sudah berhasil?”


“T-Tidak mungkin, serangan terkuatku.”


“Kalian, cepatlah pergi dari sana!!” (Kotaro) Serangan mereka tidak mempan, dan bahkan tidak berefek apapun.


Monster dewa mulai menyerang balik dengan senjatanya.


“Semuanya, menghindar!!”


Duarrrr


Ledakan besar terjadi, dan itu menyebabkan goncangan yang cukup besar dan juga tanahnya berlubang cukup dalam.


Untungnya mreka semua berhasil selamat. “K-kekuatannya sangat besar.”


“Bagaimana cara kita mengalahkannya.”


“Dia menyerang lagi.”


DUarrrrr


Mereka terpisah, dan disinilah aku mulai diuji. “A-Apa-apaan ini...”Amane terluka cukup parah, sedangkan Sylvi aku melihatnya sedang kesulitan melawan para monster dan jika dibiarkan dia akan mati. Tapi, jika aku meninggalkan Amane dia juga akan mati karena monster bermunculan didekatnya.

__ADS_1


__ADS_2