
Sore menjelang malam (petang), jam - -.- -
"Emilia, awas!!!" (Rin)
Satu hewan iblis yang tersisa, melompat dengan cepat ke arah Emilia, dan dengan gerakan hewan iblis itu yang cukup cepat, Emilia tak memiliki banyak waktu untuk memakai busurnya.
Shassh. (tebasan)
"Apa yang terjadi? (bingung)" (Emilia)
Tubuh hewan iblis itu terbelah menjadi potongan-potongan kecil.
"Apa kau yang melakukan itu Rin?"
"Iya."
"Wah. Hebat, andai saja aku juga bisa menggunakan sihir."
"Ada apa? Apa kau tak bisa menggunakan sihir?"
"Iya, sejak lahir aku memang tidak memiliki kekuatan sihir."
"Tapi, bagaimana bisa?"
"Aku juga tak tau, tapi aku juga punya kelebihan dalam pergerakan, penglihatan dan juga, saat aku memanah, aku tak pernah meleset sekalipun dari targetku."
"Hebat. (kagum)"
"(tersenyum) Jadi, bangkai ini mau di apakan? (melihat ke arah bangkai hewan iblis yang berserakan dimana-mana)"
"Akan aku bakar. Lagi pula, sebentar lagi matahari akan terbenam, dan kita juga butuh perapian."
"Begitukah, ya sudah."
Rin pun membakar semua bangkai hewan iblis itu dengan sihir api, dan Emilia memangku Hiroaki yang sedang pingsan.
--------- Beberapa menit kemudian ---------
Rin selesai membakar semua bangkai hewan iblis itu.
"(melihat ke arah Emilia yang sedang memangku Hikari) A-a-apa yang kau lakukan?!! (bingung)"
"Aku hanya memangkunya. (tersenyum)"
Rin hanya bisa pasrah, mengingat ia juga sedang menggendong Inori dan tak bisa memangku Hiroaki. "Ha. (menghela nafas) Ya,sudah."
--------- Beberapa jam kemudian --------
Malam hari, jam - -.- -
Aku perlahan-lahan mulai terbangun karena sentuhan lembut yang aku rasakan di kepalaku. Aku juga merasakan sedikit ada rasa panas yang menghangatkan tubuhku.
Aku membuka sedikit mataku, dan juga aku merasakan sesuatu yang tak asing yang ada di kepalaku. "Rin mungkin sedang memangku kepalaku lagi." pikirku. Lagi pula aku sudah agak terbiasa dengan hal ini.
Dan tepat saat itu juga, aku merasa sangat mengantuk. "Aku sangat mengantuk, apa ini juga termasuk efek samping dari kekuatan pedang itu, padahal aku baru saja bangun." pikirku.
Aku merasa sangat mengantuk, padahal aku baru saja bangun. Dan setelah beberapa saat aku menutup mataku kembali karena aku sudah sangat mengantuk, dan akupun tertidur, lagi.
----------
{Area bagian hutan selatan kerajan Roman: Benua demi-human, menuju ke kerajaan Chamos selatan}
Pagi hari, jam - -.- -
Aku perlahan-lahan mulai bangun, dan aku masih merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan tadi malam. "Ternyata, Rin masih memangku kepalaku." pikirku. Aku perlahan-lahan membuka mataku.
"Apa kau sudah bangun hikari..?" (???)
"Haa?!! Hikari." pikirku. Aku merasa ada yang aneh saat ia memanggilku dengan sebutan namaku. Kemudian membuka mataku dan melihat ternyata Emilia yang memangku kepalaku.
"A-a-a-apa yang kau lakukan. (panik dan langsung bangun dari pangkuan Emilia)"
"Hi-chan, kau kelihatan sangat nyaman tidur di pangkuannya, dan bahkan kau tertidur sangat nyenyak. Apa kau menikmatinya. (tatapan menakutkan)" (Rin)
"Haa!!! Jadi, yang memangku kepalaku tadi malam bukan Rin, tapi Emilia. (panik)" pikirku
"Tidak-tidak-tidak-tidak. (menggelengkan kedua tangan) Aku tak merasa seperti itu."
"Oh, begitukah? (tatapan menakutkan)"
"Iya. (menganguk)"
"Ya sudah. (tatapannya kembali seperti semula)"
"Haa, hampir saja aku dalam bahaya besar." pikirku
Dan Emilia hanya tersenyum, entah hal apa lagi yang dipikirkan oleh gadis itu.
-------- Beberapa saat kemudian ------
Emilia berdiri dari posisi duduk. "Ayo, kita lanjutkan perlanannya, lagi."
"Ayo. Tapi, apa kau sudah baik-baik saja, Hi-chan?"
Aku tak tau apa yang Rin maksud, tapi sepertinya aku sudah merasa lebih baik. "Aku baik-baik saja, kau tenang saja, aku tak apa-apa."
"Baiklah kalau begitu."
"Ayo!! Nanti kalau kalian tidak cepat, akan aku tinggalkan!!" (Emilia)
Emilia sudah berada cukup jauh di depan. "Tunggu!! (melihat ke arahku) Ayo Hi-chan. (tersenyum setelah itu pergi berjalan menyusul Emilia)"
Aku pun berjalan di belakang mengikuti mereka berdua.
---------- Beberapa menit kemudian ---------
Setelah beberapa menit berjalan, aku merasakan rasa sakit di dadaku. "A-ada apa ini?" Dadaku terasa sangat sakit. "Apa ini termasuk dari efek samping senjata buatan dewa ini." pikirku
Uhuk-uhuk. (batuk)
Darah keluar dari mulutku dan membuat aku terpaksa untuk duduk. Rin dan Emilia, mereka berdua berbalik dan melihat ke arahku yang sedang duduk lemah. "Apa yang terjadi Hi-chan?!! (panik, berlari menghampiriku )"
"Hikari, kau kenapa?! (panik, berlari menghampiriku)"
Aku merasa cukup senang karena mereka berdua mengkhawatirkan diriku, dan mereka berdua cukup manis saat sedang panik. "T-tenang saja, aku tak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat sebentar."
Tiba-tiba Emilia menggandeng tanganku. "Apa yang kau lakukan?!" (Rin)
"Di sekitar sini, ada sungai. Kita bisa gunakan aliran sungai itu untuk membersihkan darah yang ada di tubuhmu."
"Baiklah."
Emilia membawaku sendiri, karena Rin memengang Inori dan ia tak bisa membantu Emilia.
---------- Beberapa menit kemudian --------
Aku mendengar suara aliran air yang cukup deras. "Kita hampir sampai, tunggu sebentar lagi."
Mendengar hal itu dari Emilia, membuatku sedikit merasa malu. Entah kenapa, setelah aku mengganggapnya sebagai pengganggu ia masih baik terhadapku.
Kamipun sampai di pinggiran aliran sungai yang cukup besar yang ada di hutan ini. Setalah itu, Emilia menyandarkanku di salah satu pohon yang ada di pinggir sungai. "Tunggu sebentar, aku akan segera kembali. (pergi)" (Emlia) ia pergi ke piggiran sungai, dan aku menaruh semua pedangku di sampingku.
Aku melihat Emilia memotong sedikit pakaiannya. "Apa yang dilakukan wanita itu?" Pikirku.
__ADS_1
Uhuk-uhuk. (batuk)
Aku kembali muntah darah, dan melihat hal itu, Emilia bergegas kembali dan segera mengelap darah yang ada di bagian mulut dan tanganku, karena berusaha untuk menghentikan darah agar tak mengenai bagian tubuhku yang lain.
-------- Beberapa menit kemudian -------
Sepertinya, tubuhku sudah mendingan. "Aku sudah baik-baik saja, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan ini."
"T-tapi, kau kan masih belum pulih Hi-chan. (khawatir)" (Rin)
"Jangan bodoh. Kau harus istirahat dulu, sebelum kau pulih, kita tak akan melanjutkan perjalanan ini. (marah)" (Emilia)
"Tapi, ada hal penting yang..."
"Sudah, aku tak mau mendengar kau berkata apa-apa lagi. Aku akan pergi untuk mengambil air sebentar. (pergi)"
"Haa. (menghela nafas panjang)"
Emlia pergi ke pinggir sungai dan mengambil sedikit air dengan sesuatu yang ia bawa.
Kresek, kresek. (suara di balik semak)
Aku mendengar sesuatu yang berada di balik semak, dan aku merasa akan terjadi hal yang cukup buruk.
Tiba-tiba, seekor babihutan yang cukup besar berlari dengan cepat ke arah Emilia yang sedang mengambil air, dan parahnya lagi, Emilia tak sadar akan hal itu, dan yang lebih parah, ia juga tak membawah busurnya dan malah menaruhnya di salah satu pohon yang cukup jauh dariku.
Dan karena itu, aku berlari dengar cepat ke arah Emilia. "Emilia, awass!!"
Emilia melihat ke arahku dan saat itu pula, babihutan itu sudah semakin dekat dengan Emilia. Dan saat babihutan itu sudah berada beberapa meter dengan jarak Emilia.
Gubbrakk.
Sesaat sebelum babihutan itu menabrak Emilia, aku menghadangnya dengan tubuhku dan di saat yang sama, rasa sakit di dadaku mendadak kambuh. "Ahh, siall!! Di saat seperti ini." pikirku.
Dan karena tubuhku yang sudah tak kuat karena merasakan rasa sakit ini, akhirnya aku terpental dan jatuh ke bagian tengah sungai yang alirannya sangat deras.
"Hi-chan!!! (panik)"
"Hiroaki!!!"
"Ahhh, sepertinya ajalku sudah dekat." pikirku sesaat sebelum terjatuh ke dalam sungai. Mengingat aku tak bisa berenang dan juga dadaku yang terasa sangat sakit, mungkin hari ini adalah akhir hidupku.
Jbuuaaarrr.
-----------
Hikari tenggelam di sungai akibat ulah satu babihutan yang menabrak dirinya cukup kuat dan membuatnya terpental cukup jauh.
Setelah menabrak Hikari, babihutan itu pergi melarikan diri.
"Hi-chan!! (panik)"
"Hiroaki!!! (panik)"
"Emilia, cepat bantu Hi-chan!! Hi-chan tak bisa berenang."
"Tapi, aku juga tak bisa berenang."
"T-Tidak mungkin. (air mata Rin menetes)"
Emilia melihat sekeliling. "Hutan ini, aku tau!! Rin ayo ikut denganku."
"Kemana? (air matanya masih mengalir)"
"Aku tau dimana Hiroaki berada."
"Benarkah? (air matanya mulai berhenti menetes)"
"Baik."
Mereka berdua segera mengambil kedua pedang milik Hiroaki dan juga Emilia mengambil busur miliknya.
Emilia berusaha mengangkat pedang berwarna biru milik Hiroaki. "Be-berat. Pedang apa ini? Pedang ini sangat berat." Emilia kesulitan mengangkat pedang naga biru milik Hikari.
"Benarkah?" Rinpun mengangkatnya dengan mudah menggunakan satu tanganya.
"Wahh, hebat. (kagum)"
"Sudah, sebaiknya kita segera pergi."
"Baiklah."
Rin membawa pedang naga biru, sedangkan Emilia membawa pedang Shirame yang dirasanya cukup ringan, dan setelah itu, mereka berdu pergi.
-------- Beberapa menit kemudian ----------
Mereka berdua sampai di sebuah aliran sungai yang cukup tenang dari yang sebelumnya.
"Hiroaki!! Kau ada dimana?"
"Hi-chan!!!"
Mereka berdua berteriak memanggil nama Hikari. Dan beberapa menit mencari.
"Itu Hiroaki. (menunjuk ke pinggir sungai)"
"Dimana?" Rinpun melihat dengan teliti. "Itu Hi-chan."
"Ayo Rin."
"Iya."
Mereka berdua bergegas menuju ke arah Hiroaki yang sedang terkapar tak sadarkan diri di pinggir sungai.
----- Beberapa saat kemudian ------
Emilia langsung menghampiri Hikari yang tak sadarkan diri. "Hiroaki!! Hiroaki!! (panik)"
"Hi-cha!! Bangun!! Hi-chan!! (panik)"
Mereka berdua panik dan tak lama kemudian, Emilia menempelkan telinganya di dada Hikari untuk mendengarkan detak jantungnya. "Emilia, apa yang kau lakukan?"
Setelah itu, Emilia terlihat sangat panik dan dengan segera ia menekan dada Hikari dengan kedua tanganya. "Hiroaki, ayo sadar.. ayo.. (tanpa sadar air matanya menetes)" Jantungnya berhenti berdetak.
"Emilia..."
"Hiroaki.. Ayo sadar Hiroaki!!" Ia kembali menempelkan telinganya di dadanya, dan jantungnya masih tak berdetak suhu tubuhnya juga semakin menurun.
Dan tanpa pikir panjang Emilia langsung memberikan nafas buatan pada Hikari berharap ia bisa kembali sadar.
Rin hanya bisa terdiam melihat hal itu, ia tak mempedulikan apa yang dilakukan oleh Emilia, dan ia lebih mempedulikan keselamatan Hikari.
"Hiroaki, ayo sadar!! (air matanya menetes)"
Beberapa saat kemudian, Emilia kembali menempelkan telinganya di dada Hikari, dan setelah itu ia terus mengulangi kedua hal itu.
---------- Beberapa menit kemudian ---------
"(menekan dada Hikari) Hiroaki, ayo bangun.. (menangis) Ayo, bangun.."
Kemudian, Emilia menangis histeris di dada Hikari. "Hiroaki!!!"
"Tidak mungkin, Hi-chan sudah." Mendengar Emilia menagis seperti itu, membuat Rin meneteskan air mata.
__ADS_1
Groooaarrr
Suara raungan terdengar dari langit. Mendengar suara itu, mereka berdua melihat ke asal suara itu dan seekor naga menghampiri mereka.
"Naga, bagaimana seekor naga bisa ada di sini.(terkejut)" (Emilia) Dan naga itu adalah naga Alfa.
"Alfa." (Shin)
Naga Alfa mendarat di dekat Rin dan juga Emilia. Dan setelah itu, Shinpun turun dari naga Alfa dan mendekat ke arah Hikari yang sedang tak sadarkan diri.
"Siapa kau?!!. (dalam keadaan air mata yang masih menetes)" Emilia yang tak tau siapa Shin terlihat sangat waspada lalu menyiapkan busurnya dan hendak menyerang Shin yang mendekat ke arahnya.
"Tenang saja, aku bukan musuh. Aku kesini karena tugas dari dewa."
"Apa, dewa?"
"Shin, ayo kita segera pergi ke tempat dewa, dewa pasti bisa melakukan sesuatu pada Hi-chan."
"Baiklah. Tapi, sebelum itu, bisa kau turunkan anak panah itu? (melihat ke arah Emilia)"
"Baiklah." Emilia pun menuruti kata-kata Shin dan menurunkan anak panahnya.
"Sebaiknya kalian berdua segera naik karena sebentar lagi kita akan segera berangkat.."
"Naik? Maksudmu ke atas naga itu." (Emilia)
"Tentu saja.. Apa kau kesulitan untuk bisa naik ke atas naga Alfa."
"T-tidak."
"Kalau begitu, kau bisa naik sekarang.."
"Baiklah." Emilia cukup ketakukan, karena ini adalah pertama kalinya ia menaiki seekor naga.
Shin melihat ke arah Rin yang kelihatan kesulitan untuk naik ke punggung naga Alfa karena ia membawa seorang bayi (Inori).
"Alfa."
Grooaaarr.
"K-k-kenapa?!!" Mendengar naga Alfa meraung, Emilia ketakutan.
Naga Alfa menurunkan kedua sayapnya agar mempermudah Rin dan juga Emilia untuk naik ke punggungnya.
"Kalian berdua, cepat naik."
"B-baik." (Rin & Emilia)
-------- Beberapa saat kemudian -------
Rin dan Emilia sudah berada di atas naga Alfa, dan Emilia masih terlihat ketakutan sedangkan Rin mulai terbiasa dengan hal ini.
"Nah, sekarang adalah giliranmu Hiroaki-san."
Shin menggandeng Hiroaki yang sedang tak sadarkan diri naik ke atas punggung naga Alfa. Dan tak lama kemudian Shinpun sudah berada di atas punggung naga Alfa bersama dengan Hikari yang ia gandeng. "Baiklah... Alfa."
Grooaaarr.
Naga Alfa perlahan-lahan mulai terbang, dan saat naga Alfa sudah berada cukup tinggi dari permukaan tanah. "Alfa, ayo cepat!!"
Grooaaarr..
Naga Alfa, terbang dengan cukup cepat, dan karena Rin, Shin, Emilia, dan juga Hiroaki berada di punggung naga Alfa, mereka sama sekali tak merasakan angin, karena semua udara di pantulkan oleh tubuh besar naga Alfa.
-------- Beberapa menit kemudian --------
[Benua manusia: Hutan bagian timur kerajaan Slavic]
"Shin, apa kita masih belum sampai. (panik)" (Rin)
"Tenang, sebentar lagi."
Beberapa saat kemudian, tepat di tengah hutan ada sebuah gua. "Alfa, ayo turun."
Grooaarr.
Naga Alfa perlahan turun tepat di depan gua, dan saat naga Alfa sudah berada beberapa meter dari permukaan tanah. "Shin!! Ayo cepat.!" (Felicia)
"Siapa dia?" (Emilia)
"Kau tenang saja, dia adalah pasanganku."
Naga Alfa pun mendarat, dan Felicia langsung menghampiri Shin dan juga yang lainnya.
"Bagaimana keadaan Hiroaki?" (Felicia)
"Sepertinya cukup parah." (Shin)
"Kalau begitu, kita harus segera membawanya pada dewa."
"Baik."
Shin dan juga Felicia mengangkat Hikari yang sedang tak sadaran diri, dan membawa Hikari ke dalam gua.
Rin dan juga Emilia ikut masuk kedalam gua. "Kalian berdua tunggu di sini saja." (Felicia)
"Ada apa? Kenapa kami tidak boleh ikut masuk kedalam?" (Emilia)
"Aku tidak tau alasannya, tapi dewa yang melarang kalian untuk masuk ke dalam gua ini untuk sementara."
"Tapi-." (Rin)
"Tenang saja, saat dewa sudah mengizinkan kalian untuk masuk aku akan langsung memanggil kalian berdua."
"Apa dia akan baik-baik saja? (khawatir)" (Emilia)
"Itu pasti, kalian berdua tak perlu khawatir, dewa pasti akan menyelamatkannya bagaimanapun caranya." (Shin)
"Begitukah.. kalau begitu, tolong selamatkan Hi-chan." (Rin)
Setelah mendengar hal itu, Emilia dan Rin kelihatan sedikit lebih tenang. "Baiklah, kalau begitu kami akan masuk dulu ke dalam." (Felicia)
"Baiklah."
Shin dan Felicia masuk ke dalam gua sambil membawa Hikari. "Hi-chan, aku harap kau baik-baik saja."
"Dewa, aku mohon tolong selamatkan Hiroaki. (menggenggam kedua tangannya di depan dada)"
-------- Di dalam gua ------
Shin dan Leona sampai di tempat dewa. "Dewa aku sudah membawa Hikari." (Shin)
"Bagus. 'Clik' (menjeltikkan jari)"
Seketika, sebuah kasur muncul di hadapan dewa Sha. "Kalian bisa taruh dia di sini. (menunjuk ke arah kasur)"
"Baik dewa." (Shin & Felicia)
Shin dan Felicia pun menuruti kata-kata dewa Sha dan membaringkan Hikari di atas kasur.
"Nah. (wajah seram) Sekarang, akan aku mulai penyembuhannya." (dewa Sha)
Bersambung.
__ADS_1