
“Eh… Emilia, apa aku harus melakukan ini?”
“Tentu saja, ini akan membuatmu tenang.”
“Itu memang benar, tapi… Kenapa aku harus diam dibawah air terjun ini dipagi hari yang sangat dingin ini.”
“Sudah aku bilang, ini agar kau bisa mengontrol emosimu.”
“Mengontrol emosi? Aku rasa aku tidak memerlukannya.”
“Apa yang kau katakan!” Sambil bertapa dibawah air terjun yang entah kenapa berada di dekat kerajaan ini, aku berbicara dengan Emilia.
“Ya, lagipula aku sudah bisa mengontrol emosiku sendiri.”
“Begitukah, jika seperti itu… Latihan ini jadi tidak berguna.”
“Ha…” Semua yang aku lakukan disini hanyalah percuma. ‘bersin’
---------------------
“Ini jahe hangatnya.” (Emilia)
“Terima kasih.” Saat ini aku tengah berbaring dikasur, karena terkena demam akibat bertapa di bawah air terjun yang dingin di pagi hari.
“Aku tak menyangka kau akan sakit juga.”
“Aku juga manusia, tentu saja aku akan sakit jika dipagi hari yang dingin aku disuruh diam di bawah air terjun yang dingin seperti itu.”
“Ahh… Aku minta maaf.” Aku kira Emilia memiliki ide yang bagus, ternyata tidak. Jika seperti ini terus. Aku sangat khawatir dengan apa yang dikatakan dewa Wan padaku. ‘Kau sudah hampir kehilangan sisi kemanusiaanmu’ Jika sampai hal itu terjadi, aku tak tau apa yang akan aku perbuat selanjutnya. Aku tak tau kalau kedua pedang ini memiliki resiko seperti itu. Tidak, seharusnya aku sudah menyadari kalau kekuatan yang besar juga butuh sebuah pengorbanan. Tapi, aku telat untuk menyadarinya.
“Emilia, dimana yang lain?”
“Mereka sedang mengerjakan tugas masing-masing.”
“Lalu, bagaimana denganmu?”
“Eh, aku… Ah, tugasku sudah aku selesaikan kemarin, jadi hari ini aku tidak memiliki tugas.”
“Begitu…” Entah kenapa tubuhku semakin terasa dingin. “Mandi air dingin dipagi hari, ternyata tidak sehat.” Setidaknya itulah yang aku pikirkan. “Emilia, bisa kesini sebentar.”
“Eh.. Ada apa?”
“Kesini…”
“Baiklah.” Menuruti kata-kataku, Emilia mendekat ke arahku. “Hiroaki, ada apa?” Ia berada tepat disampingku saat ini.
“Tanganmu...”
“Tanganku?” Perlahan Emilia mulai menjulurkan tangannya.
__ADS_1
Aku menggenggam tangannya dan menempelkannya dipipiku. “Hangat…” Rasanya sangat nyaman.
“Hiroaki, tubuhmu panas sekali. Aku akan-…”
“Jangan pergi..” Aku memengang tangannya dengan erat. Aku tak tau apa yang akan terjadi saat aku tertidur, tapi mungkin saja bagian lain dari diriku akan bangun saat aku tertidur. Oleh karena itu… “Tetaplah disini, aku akan baik-baik saja.” Aku hanya perlu seseorang menemaniku, itu saja sudah cukup.
Mataku mulai terasa sangat berat. “Aku sangat mengantuk.” Ini membuatku ingin memejamkan mata dan tidur. “Emilia, jika terjadi sesuatu padaku. Lakukan apapun yang bisa menghentikanku, ya.” Sebuah mimpi, mimpi yang sangat buruk aku alami didunia itu. Dan aku tak ingin hal itu terjadi, sebuah mimpi yang sangat aku takutkan.
Menjelang sore hari.
Sentuhan lembut terasa di kepalaku, dan karena hal itu aku perlahan membuka mataku. “Hiroaki, kau sudah bangun.” Saat aku sadari, ternyata Emilia sedang mengelus kepalaku, dan sensinya mirip dengan seseorang.
“Maaf, kau pasti terus-terusan ada disini…” Emilia, ia pasti berada disini selama aku tidur tadi.
“Tidak masalah…”
Gubrakk.
Pintu kamar terbuka dengan cukup keras. “Papa.” Dan ternyata itu adalah Inori, ia datang kemari.
“Inori, ada apa?”
“Mama Ai…” Melihat sikapnya yang sedikit panik, membuatku ikut panik juga.
Aku mencoba untuk perlahan bangun dari tempat tidur. “Jangan, kau masih belum pulih. Istirahat saja, biar aku yang melihatnya.” Emilia menahanku agar tidak meninggalkan kamar.
“Baiklah..” Aku terpaksan mengikutinya, dan kembali berbaring.
“Baik.” Emilia pergi dan Inori yang menggantikan menjagaku.
Inori mendekat ke arahku. “Inori, apa yang terjadi?”
“Mama Ai mual-mual..”
“Mual-mual, apa keracunan? Tapi, jika memang benar seperti itu… Siapa, dan yang paling penting, apa tujuannya. Kenapa hanya Ai.” Berbagai macam pertanyaan itu seketika muncul dikepalaku. “Ahh… Sial.” Entah kenapa aku merasa mengantuk lagi, padahal aku baru saja bangun. “Inori, jika terjadi sesuatu. Bisa kau membangunkan papamu in-…” Aku seketika kembali tidur terlelap.
___________________
Istana langit kerajaan dewa Sha.
“Sebentar lagi, ya...” Dewa Sha sedang bergumam.
“Sha, ada apa?”
“Ahh… Tidak ada apa-apa.”
“Maaf membuatmu menunggu, ini cemilannya.”
“Ah… Terimakasih. (memakan cemilan) Hmmm… Sudah kuduga cemilan buatanmu sangat enak.”
__ADS_1
“Benarkah. Terima kasih. Oh ya, bukannya sekarang sudah waktunya kau memberitahunya.”
“Hmm… Aku rasa tidak perlu.”
“Kenapa?”
“Dia akan mengetahuinya sendiri sebentar lagi, lagipula jika aku yang memberitahunya. Bukankah itu bukan sebuah kejutan untuknya.”
“Begitu. Benar juga, lebih baik mengetahunya sendiri lagipula itu berita yang sangat bahagia.”
_______________________
“Dewa Yu, untuk tugas manusia itu selanjutnya.” (Dewa Rai)
“Dewa Sha sudah memikirkannya.”
“Dan saat ini, kemana dewa sialan itu. Tidak datang dipertemuan yang penting ini, dia sangat sangat mengecewakan.” (Dewa Ra)
“Tenanglah dewa Ra, pertemuan ini adalah pertemuan tidak resmi. Jadi wajar saja jika dewa Sha tidak datang, lagipula ada beberapa dewa yang juga tidak ikut datang ke pertemuan ini. Jadi, itu tidak akan jadi masalah besar.” (Dewa Yu)
“Dewa Yu, kau selalu membelanya. Sekali-kali berhentilah memanjakannya.” (Dewa Ken)
“Haa… Sudahlah. Jadi, apa alasan perkumpulan tidak resmi ini diadakan. Aku tidak memiliki banyak waktu.” (Dewa Nii)
“Baiklah. Aku akan mulai menjelaskan, tentang apa yang akan dibahas dalam pertemuan ini.” (Dewa Ken)
________________
Sore hari yang cukup cerah.
“Benarkah?”
“Iya, aku berkata yang sebenarnya.” Entah kenapa hari ini aku begitu senang, tidak mungkin sangat senang. “Ai hamil…”
Ya, diusiaku yang masih 18 tahun ini. Aku akan menjadi seorang ayah, mungkin itu sedikit aneh tapi didunia ini tidak. Hal seperti itu bisa saja terjadi.
Setelah mendengar hal itu, aku langsung pergi menuju ke kamar Ai.
-------------------
Kamar Ai.
“Ai, apa itu benar.”
Ia tersenyum saat melihatku dan satu kata ucapannya membuatku sangat senang. “Ya.”
Setelah mendengar hal itu, aku tak tau ekspresi apa lagi yang bisa aku keluarkan. “B-Begitu, ya.” Rasa senang ini, bergejolak bersamaan dengan rasa bahagia yang aku rasakan. “Terimakasih…”
“Tidak perlu berterima kasih, dan hapus air matamu itu.”
__ADS_1
“Ah… M-Maaf.” Aku sangat senang sampai tidak sadar air mataku mengalir.
“Aku akan menjaganya, dan aku yakin kelak dia akan menjadi orang yang hebat dan kuat sepertimu.”