Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
22


__ADS_3

Siang hari, jam - -.- -


Saat ini, aku sedang di antar oleh Shin menuju ke kerajaan Chamos dengan menaiki naga Alfa.


--------- Beberapa menit yang lalu ------


Saat aku sedang berjalan keluar dari gua bersama Rin dan juga Emilia, aku melihat Shin sedang bersandar di dinding gua bagian luar. "Yo." (Shin)


Aku pun menghampirinya. "Apa yang kau lakukan disini Shin? Dan dimana Felicia?" Aku hanya melihat Shin saja di sini.


"Oh dia, dia sudah pergi duluan."


"Kemana?"


"Aku juga tak tau?"


"Oh begitu. Jadi, apa yang kau lakukan disini?"


"Oh, aku ingin mengantarkan kalian."


"Mengantarkan kami?" (Rin)


"Apa dia tau tempat yang akan kami datangi?" pikirku.


"Baiklah, sebaiknya kita berangkat sekarang."


"Apa kau tau tempat yang akan aku datangi?"


"Tentu saja."


"Baiklah kalau begitu." Akupun menurutinya, mengingat ia mungkin akan mengantarkan kami menggunakan naga Alfa, dan mungkin itu akan menghemat waktu perjalanan kami.


"Alfa." (Shin)


Grooaarrr.


-------------


Dan begitulah kejadiannya.


kurang lebih, sudah 3 jam aku menaiki naga Alfa menuju ke kerajaan Chamos dan hari sudah semakin sore. "Hey Shin, kapan kita akan sampai?"


"Sebentar lagi, kau bersabarlah sebentar."


"Baiklah."


Rin dan Emilia sedang berbingcang-bincang dan aku tak bisa mendengarkan apa yang mereka berdua bicarakan, karena naga Alfa melaju cukup cepat hingga aku tak bisa mendengar pembicaraan Emilia dan Rin. Dan aku juga sedang berada di dekat Shin yang berada di dekat kepala naga Alfa.


-------- Beberapa menit kemudian --------


"Nah kita sudah sampai."


"Dimana? (melihat sekeliling) Oh itu, aku melihatnya." Sebuah kerajaan yang cukup besar lihat dari kejauhan.


"Baiklah, kita akan turun disini. Alfa."


Grooaaaarr.


Naga Alfa perlahan turun. "Kenapa kita turun disini? (bingung) Bukannya kerajaannya masih cukup jauh."


"Ha. (menghela nafas) Coba kau pikir, apa yang akan terjadi jika seseorang melihat naga."


"Ah. Begitu, ya. Aku lupa." Saat pertama kali melihat naga Alfa, aku kaget dan bahkan para prajurit kerajaan Slavic juga sangat terkejut dengan kemunculan naga Alfa, dan jika naga Alfa menampakkan diri di kerajaan Chamos, mungkin akan terjadi sebuah keributan yang cukup besar.


Naga Alfa pun mendarat.


"Nah kalian bisa turun sekarang."


"Bagaimana denganmu? Apa kau tak akan ikut dengan kami?"


"Maaf, aku harus segera menyusul Felicia, jika tidak dia akan marah lagi padaku."


"Oh begitu. Baiklah."


Kamipun turun dari naga Alfa. "Terima kasih sudah mau mengantarkan kami." (Rin & Emilia)


"Tidak masalah. Baiklah, aku akan pergi sekarang, jaga diri kalian baik-baik, ya."


"Ya, kau juga."


"Alfa."


Naga Alfa perlahan mulai terbang dan pergi.


"Nah, ayo kita berangkat, hari sudah mulai gelap."


"Baiklah." (Emilia & Rin)


--------- Beberapa menit kemudian -----------


Rin dan Emilia berada cukup jauh di belakang, da kalihatannya mereka sedang membicarakan sesuatu. "Apa yang mereka berdua bicarakan." Aku sebenarnya penasaran, dan aku rasa aku tak bisa mengetahui apa yang mereka berdua bicarakan, karena jika aku memaksakan hal itu, ada kemungkinan mereka bedua akan melakukan sesuatu yang tak pernah aku bayangkan karena telah mencampuri urusan pribadi seorang wanita.


------------ Benerapa jam kemudian ------------


Sore menjelang malam (petang), jam - -.- -


Akhirnya kami sampai di depan gerbang kerajaan Chamos. "Ah.. Akhinya kita sampai di tempat tujuan kita."


"Ya, ini adalah kerajaan Chamos." (Emilia)


"Ternyata benar, ini adalah kerajaan Chamos, hebat juga Shin." pikirku.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita masuk sekarang."


"Baik." (Rin & Emilia)


Dan seperti biasa, gerbang utama di jaga oleh beberapa prajurit penjaga dari ras demi-human. "Aku baru pertama kali melihat kalian? Apa kalian baru saja datang ke kerajaan ini?" (Penjaga 1)


"I-iya, kami baru pertama kali ke kerjaan ini."


"Bisa tunjukkan kartu milik kalian."


"Kartu?"


"Oh, mungkin yang dia maksud adalah kartu petualang." pikirku.


"Ini. (memperlihatkan kartu petualang)"


"Hmmm. Baiklah, (melihat ke arah Rin & Emilia) bisa tunjukkan kartu kalian juga."


Rin dan Emilia menunjukkan kartu milik mereka pada penjaga itu. "Baiklah, kalian bisa lewat. Semoga hari kalian menyenangkan."


Aku kira penjaga itu adalah penjaga yang memiliki sifat dingin, tapi ternyata ia cukup ramah.


Saat ini aku sudah berada di dalam kerajaan Chamos, hari sudah mulai gelap. "Baiklah, sebaiknya kita cari penginapan dulu, ayo." Dan karena aku masih tak bisa membaca tulisan yang ada di dunia ini, seperti biasa, aku menyerahkan tugas seperti ini pada Rin.


---------- Beberapa menit kemudian ---------


Kami sampai di sebuah penginapan yang cukup mewah yang aku tak tau apa nama penginapan ini. "Hi-chan, ayo masuk."


"Uh, baiklah." Akupun masuk ke dalam penginapan itu.


"Selamat datang tuan, nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" (pelayan demi-human pr)


"Kami ingin memesan 2 kamar." Sudah jelas, 1 kamar untukku dan 1 kamar untuk Rin dan juga Emilia.


"Baiklah, tuan. Anda bisa ikut dengan saya."


"Baiklah." Akupun mengikuti pelayan itu dan aku juga melihat-lihat bagian dalam penginapan ini yang terlihat sangat mewah atau bahkan ini adalah penginapan mewah pertamaku saat aku hidup di dunia ini.


Pelayan itu berhenti berjalan. "Ini kamar yang anda pesan, tuan. (menunjuk ke arah kamar)"


"Berapa biayanya?" Aku menanyakan bianyanya siapa tau penginapan ini akan cukup mahal.


"Untuk biayanya, anda bisa membayarnya pada sekertaris yang ada di depan, tuan."


"Oh begitu. Baiklah."


"Kalau begitu, saya izin untuk pergi, tuan, nyonya. (pergi)"


Pelayan itu pergi. "Kalian berdua tunggu di sini saja, aku akan membayar sewa penginapannya sebentar."


"Baiklah." (Emilia)


"Hi-chan, jangan jupa, pesan juga makanan." (Rin)


"Baik. Kalau begitu, aku pergi dulu."


"Selamat jalan Hiroaki."


"Hati-hati di jalan Hi-chan."


"Ahh. Mereka mengatakan hal yang tak perlu, padahal aku hanya akan pergi ke depan saja. Lagipula tempatnya dekat." pikirku.


---------- Beberapa saat kemudian ---------


Aku sampai di depan, aku melihat seorang pelayan yang sedang bersih-bersih dan aku putuskan untuk bertanya padanya. "Maaf mengganggu. Kalau boleh tau, dimana ruang sekertaris di penginapan ini?"

__ADS_1


Pelayan itu berhenti bersih-bersih. "Maaf, tuan. Anda bisa ikut dengan saya, saya akan mengantarkan anda."


"Baiklah." Aku rasa itu tawaran yang cukup bagus, karena tempat ini cukup luas dan jika tak ada yang memanduku, aku mungkin akan kebingungan. Akupun mengikuti palayan itu.


Aku sampai di sebuah ruangan yang berada di lantai atas penginapan ini. "Ini adalah ruangan sekertaris, tuan."


"Terima kasih."


"Tidak apa-apa, tuan. Kalau begitu, saya izin pergi karena masih ada tugas yang harus saya kerjakan."


"Baiklah."


Pelayan itu pergi.


Tok tok tok. (mengetuk pintu)


"Permisi, apa ada orang di dalam?" Tak ada jawaban, dan aku putusakan untuk membuka pintu ini.


Kreeekkk.


Seorang Onee-san cantik tengah tidur pulas di atas meja kerjanya. "Apa dia sekertarisnya?" pikirku.


"Permisi. (dengan suara pelan)"


"Ah. Ternyata ada pengunjung." Ia bangun mendengar suaraku yang cukup pelan.


"Apa aku mengganggu?"


"Tidak apa-apa. Jadi, apa yang kau inginkan?"


"Aku ingin memesan 2 kamar untuk 5 hari."


"Oh begitu. Baiklah. (menghitung)"


Ia terlihat seperti sedang menghitung sesuatu. "Semuanya 13 koin emas."


"Whaaattt. 10 koin emas, mahal amat."pikirku. Dan jika dihitung, 1 hari biaya menginap di sini adalah 1300000 koin perak. Meskipun tempat ini cukup bagus, tapi jika memasang tarif seperti itu, pasti tak akan ada yang menginap di sini.


"Tenang saja, itu sudah termasuk biaya makan kok."


"Oh begitu, aku pikir itu hanya biaya menginap saja. Baiklah."


"Tapi, meskipun begitu, harga segini ini masih terlalu berlebihan." pikirku.


Akupun mengeluarkan kartu yang aku dapat dari resepsionis guild di kerajaan sebelumnya karena sudah menabung di guild. "Apa aku bisa menggunakan ini untuk membayar sewa penginapannya? (menunujukkan kartu)" Aku rasa itu bisa, karena resepsionis guild di kerajaan sebelumnya bilang seperti itu 'kalau aku bisa menggunakan kartu ini untuk keperluan sehari-hariku'.


"K-k-kartu biru?!! (terkejut)"


"Ada apa?"


Tiba-tiba, ia mengambil kartu biru milikku dari tanganku. "Baiklah, tunggu sebentar." Onee-san sekertaris itu, menggunakan sebuah sihir kepada kartu biru milikku.


--------- Beberapa saat kemudian --------


"Ini. (mengembalikan kartu milikku) Terima kasih sudah mau datang kemari. (tersenyum)"


"Ada apa dengan orang ini." Dan setelah aku melihat onee-san itu dengan jelas, ia ternyata seorang demi-human, yang hampir mirip dengan seorang gadis manusia biasa, ia tak memiliki telinga ataupun ekor hewan, dan aku cukup terkejut melihat kenyataan seperti itu.


Setelah itu, aku pergi dari ruangan itu dan kembali ke tempat Rin dan Emilia berada.


---------- Beberapa menit kemudian ----------


Karena tak ada yang memanduku, aku cukup kesulitan saat mencari jalan menuju ke tempat Rin dan Emilia berada, dan lagi pula penginapan ini sangat luas. Itulah yang membuatku kebingungan.


Aku melihat pelayan demi-human yang pertama kali aku temui di penginapan ini sedang berdiam diri dan aku putuskan untuk meminta bantuannya.


"Pelayan."


"(melihat ke arahku dan menghampiriku) Ada yang bisa saya bantu, tuan."


"Bisa kau antarkan aku ke kamarku, penginapan ini cukup luas, jadi mungkin aku tersesat."


"Baiklah, tuan. Anda bisa mengikuti saya."


"Baiklah."


Akupun mengikuti palayan itu.


----------- Beberapa saat kemudian -----------


"Kita sudah sampai, tuan."


Aku sampai di sebuah yang sama seperti sebelumnya. "Apa ini benar, kamar yang aku pesan tadi?" Aku tak tau apakah ini adalah kamar yang benar, karena semua kamar yang ada di penginapan ini sama antara satu dengan yang lainnya.


"Benar, ini adalah kamar yang anda pesan, tuan."


Emilia sedang berada di salah satu kamar yang ada di depanku. "Ahh. Terima kasih sudah mengantarkanku."


"Sama-sama, tuan. Saya izin pergi karena masih ada tugas yang belum saya selesaikan."


"Baiklah."


Pelayan itu pergi.


"Ada apa Hiroaki?"


"Ah.. Tidak ada apa-apa, aku tadi hanya sedikit tersesat."


"Oh, bagitu. Ya sudah. (masuk kembali ke dalam kamar)"


"Sebaiknya aku liat, seberapa mewah sih kamar seharga 3 koin emas ini."


Akupun memasuki kamar.


Kreeekkk.


Saat aku membuka pintu kamar. "Woow, bagus banget." Kamar ini sangat bagus dengan tatanan yang sangat mewah dan seperti biasa, terdapat 2 kasur di dalam kamar ini, dan saat aku melihat ke sekeliling kamar. "Ada kamar mandinya juga." ya, mengingat semua penginapan yang aku tempati sebelumnya tak memiliki kamar mandi di dalam kamar seperti saat ini, aku cukup senang karena 10 koin emas tidak terbuang percuma.


Aku perlahan berjalan mendekati salah satu kasur yang ada di kamar ini. "Waah. Kasurnya empuk banget, dan selimutnya juga terasa hangat." Seperti biasa, aku menaruh semua pedangku di bawa kasur, dan setelah itu, aku berbaring di atas kasur empuk dan nyaman.


Saat merasakan sesuatu seperti ini, aku rasaini adalah pertama kalinya aku merasakan yang namanya kepuasan batin.


Guuubraaakk.


Pintu kamarku terbuka dengan cukup keras, dan Rin masuk ke kamarku "Hi-chan!! Mana makanannya?!! (kesal)"


"Wah gawattt. Aku lupa. (panik)"pikirku.


"Maaf, aku akan segera kembali." Aku bergegas keluar kamar dan mencari pelayan untuk mengantarkan makanannnya.


Aku melihat seorang pelayan di depanku. "Maaf, apa aku bi-."


"Makan malamnya sudah siap, tuan. Anda bisa datang ke ruang makan yang ada di ruangan paling ujung di lantai ini."


"Oh begitukah."


"Padahal aku berniat untuk meminta makanan, tapi malah sudah di siapkan duluan. Sungguh pelayan yang cekatan." pikirku. Setelah aku pikir masalah ini telah selesai, aku putuskan untuk kembali ke kamar dan memeberitahukan Rin dan juga Emilia kalau makanannya sudah siap.


----------- Beberapa menit kemudian --------


Malam hari, jam - -.- -


Aku sampai di depan pintu kamar Rin dan Emilia. "Rin!! Emilia!! Makanannya sudah siap, jika kalian lapar, aklian datang saja ke ruangan paling ujung di sini. Aku akan menunggu kalian di sana."


"Baiklah, kau duluan saja, kami akan menyusul nanti."


"Baik." Akupun pergi duluan ke tempat yang sudah di beri tau oleh pelayan tadi.


------- Beberapa saat kemudian --------


Aku sampai di sebuah tempat yang mewah, dan juga ada sebuah ruangan yang di tutupi oleh pintu dengan sebuah ukiran yang aku tak tau apa itu, tapi yang pasti ukirannya cukup indah.


Kreeekk.


Akupun membuka pintu itu. "Wow. (terkejut + kagum)" Sebuah ruangan yang cukup besar berada di balik pintu itu, dan juga terdapat sebuah meja makan panjang yang diisi oleh cukup banyak makanan yang kelihatan sangat mewah dan juga lezat.


"Selamat datang, tuan. Silahkan duduk." (pelayan pr D-H)


Akupun duduk di salah satu meja makan yang ada di ruangan ini, saat aku melihat sekeliling aku hanya melihat beberapa pelayan di ruangan ini, dan aku tak melihat ada orang lain selain para pelayan yang berada di ruangan ini. "Kenapa tak ada orang lain yang datang ke ruangan ini? Padahal penginapan ini cukup besar, dan pasti banyak yang menginap disini. Tapi, kenapa ruangan makan ini terlihat sepi." pikirku


Aku melihat ke arah salah satu pelayan yang ada di ruangan ini. "Ada yang bisa saya bantu, tuan?"


"Ah. Tidak, aku hanya sedikit bingung."


"Ada apa, tuan?"


"Para pengunjung yang lain kemana? Kenapa ruangan makan ini sepi?"


"Oh, ruangan ini diberikan khusus untuk anda dan juga wanita yang bersama anda, tuan."


"Diberikan khusus untukku?"


"Ya, sekertaris penginapan memberi tau pada seluruh pelayan yang ada disini, untuk menggunakan tempat makan istimewa beserta hidangan istimewa ini pada anda."


"Wah. Tempat makan istimewa, ya. Tapi, kenapa ia melakukannya?" pikirku. Aku cukup heran, kenapa sekertaris penginapan menyiapkan semua ini.


--------- Beberapa menit kemudian --------

__ADS_1


Kreekkk.


"Wahh. Mewah sekali tempatnya." (Emilia)


"Selamat datang, nyonya. Silahkan duduk."


"Uh. B-baik." (Rin)


Rin dan Emilia pun duduk, mereka berdua duduk di sampingku. "Silahkan di nikmati hidangannya, tuan, nyonya."


"Baik." Aku tanpa ragu mengambil beberapa makanan yang di sediakan di meja makan ini.


"Nee Hi-chan. (bisik-bisik) Apa kau yang pesan tempat makan yang mewah ini?"


"Aku tak memesannya, tapi sepertinya ini merupakan pemberian dari sekertaris penginapan ini padaku."


"Memangnya, apa yang kau lakukan, Hikari." Emilia mendengarkan percakapanku dengan Rin.


"Hmm. Aku tak tau, tapi karena sudah di siapkan seperti ini, sebaiknya ayo kita makan. Selamat makan." Akupun langsung menyantap makanan yang aku pilih barusan.


"Dasar Hikari, bagaimana kalau makanan ini terdapat racunnya?"


"Twnang saja, makwanannya aman'kok."


Karena melihat aku makan dengan nyaman dan aman, mereka pun ikut makan juga. "Sepertinya tidak apa-apa. Benar'kan Emilia."


"Uh. Ya."


Dan seperti biasa, Rin mendahulukan Inori untuk menyuapinya makan dulu setelah itu baru dirinya.


-------- 1 jam kemudian di kamar -------


Malam hari, jam - -.- -


Saat ini aku tengah terbaring di atas kasur yang empuk dan nyaman. "Ahhh.. Aku kekenyangan." Aku makan cukup banyak tadi, karena makanannya yang sangat enak, bahkan lebih enak dari yang yang pernah aku makan sebelumnya.


"Sebaiknya, aku mandi dulu sebelum tidur." Akupun pergi ke kamar mandi, dan setelah itu berganti pakaian menggunakan pakaian tidur yang ada di lemari yang telah di sediakan oleh penginapan ini.


Aku melihat baju sekolah yang selalu aku gunakan. "Baju ini sudah kelihatan kotor, apa aku harus mencucinya, ya jika hanya mencuci baju, aku pasti bisa melakukannya dengan mudah. Tapi besok aja deh." Mengingat saat ini sudah larut malam, aku rasa meskipun dicuci, baju ini tak akan kering besok.


Sebelum tidur, aku mengambil semua kartu milikku, baik kartu pertualang maupun kartu yang berwarna biru itu, dan aku taruh di bawah bantal.


"Hoammm. (menguap) Sebaiknya aku tidur sekarang." Akupun langsung berbaring di atas kasur, karena kasur itu sangat nyaman, dan aku bisa langsung tidur nyenyak dengan selimut hangat yang menutupi tubuhku.


Tengah malam, jam - -.- -


Kreeekk. (pintu terbuka)


Aku medangar pintu kamarku terbuka dan aku membuka mataku yang dalam keadaan setengah sadar. "A-pa it-." Aku kembali tertidur tanpa mengetahui siapa yang membuka pintu kamarku.


Pagi hari, jam - -.- -


Matahari perlahan mulia terbit, dan aku mulai membuka mata perlahan. "Hoaammm. (menguap) Apa yang terjadi tengah malam kemarin?" Aku tak mengingat apa yang sudah terjadi tengah malam kemarin, karena aku terbangun dalam keadaan setengah sadar.


"A-da apa ini? Tubuhku berat." Pagi ini tubuhku terasa cukup berat tak seperti biasanya. Aku mencoba untuk bergerak, dan merasakan sesuatu bergerak di balik selimut yang aku gunakan.


Akupun membuka selimut itu. "A-a-a-apa ini!!!? (terkejut)" Seorang gadis demi-human berusia kira-kira 5 tahun tidur di atas tubuhku, dan parahnya lagi, ia tak memakai pakaian apapun. "Woy woy woy woy dewa Sha, apa kau sedang bercanda denganku?" pikirku.


Gadis demi-human itu bangun. "Hoammm. (menguap) Selamat pagi papa. (mengucek kedua matanya)"


"Hah? (bingung)"


"Ia memanggilku dengan sebutan papa. Apa aku tak salah dengar." pikirku.


Gubbraakk. (pintu tebuka keras)


Rin masuk ke kamarku. "Hi-chan, Inori menghilang!!! (panik)"


"(melihat ke arah Rin) Selamat pagi mama."


"Eh? (bingung) Mama?"


"I-nori." (Rin)


"Inori?" Aku melihat gadis DH ini memang mirip seperti Inori. "Tapi, Inori'kan masih bayi." pikirku.


"Inori. (berlari ke arah Inori)" (Rin)


Dan jika di ingat-ingat. Hal ini tidaklah mustahil, dewa juga pernah berkata, kalau ras serigala suci memiliki pertumbuhan yang sangat cepat, tapi tak kusangka akan jadi seperti ini.


"(memeluk Inori) Kau Inori'kan?" (Rin)


Rin sepertinya masih sedikit tak percaya dengan apa yang diliha olehnya. Ya, itu wajar, mengingat kemarin Inori masih bayi dan sekarang sudah menjadi gadis berurmur 5 tahun.


Gubbraakk.


Dan lagi-lagi seseorang membuka pintu kamarku cukup keras. "Rin, aku tak menemukan Inori, aku sudah tanya pada-. (melihat ke arah Rin yang sedang memeluk Inori) Um. Rin, siapa anak itu?"


"Mama Emilia."


"Mama. (terkejut) Jangan-jangan, Inori!!"


Dan Emilia juga terkejut melihat hal ini, dan aku sudah duga hal ini.


Grrrrr. (perut Inori berbunyi)


"Mama, aku lapar."


"Baik, ayo kita makan sekarang. Tapi sebelum itu, kita ke kamar mama dulu, ya."


"Baik ma."


"Rin, ambil ini. (melemparkan selimut yang aku pakai) Tutupi tubuh Inori dengan selimut itu."


"Terima kasih Hi-chan."


"Makasih papa. (melihat ke arahu dan tersenyum)"


Rin pun menggunkakn selimut itu untuk menutupi tubuh Inori dan pergi keluar kamar.


Wajahku sedikit memerah mendengar Inori memanggilku dengan sebutan papa, lagi pula ini adalah pertama kalinya adad yang memanggilku dengan sebutan papa di usia yang masih cukup muda ini. "Emilia, ada apa denganmu?" Emilia masih terlihat kebingungan dengan apa yang telah terjadi.


"Ahh, tidak apa-apa. Aku akan pergi ke kamar. (pergi)"


"Baiklah."


Aku kemudian bangun dan berjalan menuju ke tempat aku menaruh bajuku kemarin malam. "Ehhh. (terkejut)" Tiba-tiba bajuku yang kemarin kotor sekarng sudah bersih dan harum. "Siapa yang melakukan ini?" Aku tak tau siapa yang melakukan ini, tapi yang pasti, aku sangat berterima kasih padanya karena sudah membersihkan pakaian milikku.


Akupun berganti pakaian.


--------- Beberapa menit kemudian --------


Aku sudah selesai mengganti baju dan saat ini aku sedang berada di luar kamar, sedang menunggu Rin dan yang lainnya untuk makan bersama. "Rin, apa kau sudah selesai?!!"


"Sebentar lagi."


Akupun menunggunya.


--------- 10 menit kemudian, mungkin -----------


Kreeekkk.


"Kami sudah selesai." (Rin)


Rin dan yang lainnya keluar dari kamar.


"Papa, bagaimana pakaianku? (memutar tubuhnya)"


"B-bagus, kau terlihat sangat cantik."


"Benarkan Inori." (Rin)


"Iya, yang dikatakan mama benar."


Entah apa yang Rin dan Inori bicarakan, aku tak mengerti tapi. "Apa menang ada pakaian seperti itu (yang dipakai Inori) di dunia ini?" pikirku. Karena ini pertama kalinya aku melihat pakaian seperti itu di dunia ini, wajar saja itu membuatku sedikit penasaran.


"Mama Emilia, mama, papa.. Ayo kita makan bersama."


"Baiklah, ayo Emilia, Hi-chan."


"Un.. Baik." (Emilia)


Mereka berjalan didepan sedangkan aku dibelakang sambil memikirkan sesuatu. "Bagaimana Inori bisa langsung berkomunikasi dengan lancar, apa ini juga termasuk kemampuan milik ras serigala suci?" pikirku. Dan di saat aku kebingungan seperti ini, dewa Sha tak menghubungiku untuk menjelaskan apa yang terjadi sekarang, meskipun aku sudah mengerti sebagian kecil apa yang sudah terjadi. Tapi tak seperti biasanya, dia tak menghubungiku sejak aku bertemu dengannya kemari, dan aku rasa dia masih marah padaku. "Aku penasaran, kira-kira apa yang di lakukan dewa Sha saat ini, ya?" gumamku.


-------------- Di dalam gua --------


Dewa Sha sedang melihat anime kesukaannya.


"Sayonara."


"Jangan, jangan!!!!!..."


(adengan tusuk)


"Tidaaaakkkk!!!! Kenapa? 'hiks' (menagis) Kenapa, kenapa dia harus dibunuh. 'hiks' Ini tidak adil... KENAPA?!!!!" Dewa Sha adalah dewa yang sangat mudah terbawa suasana saat menonton sebuah anime.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2