
Pagi hari, jam 06.12
"Hoamm.." Aku merasa sangat kelelahan, karena mereka berdua memarahiku habis-hiabisan hingga jam 12 malam. Aku tak tau apa yang mereka berdua katakan padaku, atau lebih tepanya sebenarnya aku sudah lupa apa yang mereka katakan padaku. "Sebaiknya aku segera bersiap-siap sekarang." Hari ini aku akan pergi untuk melakukan misi yang diberikan dewa Sha padaku.
------ 15 menit kemudian --------
Aku sudah selesai mandi dan juga aku sudah menyiapkan segala sesuatu yang aku perlukan. Ya meskipun sebenarnya aku tak memerlukan apa-apa selain kedua pedangku dan juga sedikit koin untuk bekalku. "Kau sudah siap, kalau begitu. Pergilah kehutan utara segera." (telepati dewa Sha)
Dewa Sha menghubungiku dan menyuruhku untuk pergi kehutan utara. "Baiklah."
Akupun keluar dari kamarku, dan aku juga tak lupa menggunakan jaket yang aku pakai kemarin, karena menurutku itu akan cukup keren jika aku yang memakainya. "Jadi, kau tetap akan pergi, ya." (Rin) Rin berada tepat di samping pintu kamarku.
"A-apa yang kau lakukan disini, Rin." Padahal aku berencana untuk pergi secara diam-diam.
"Aku ingin ikut denganmu."
"Tidak aku menolak tawaranmu." Entah kenapa akhir-akhir ini Rin sering memaksa untuk ikut denganku pergi menjalankan misi dari dewa Sha. Dan aku sudah sering menolaknya, karena akan berbahaya untuknya jika dia ikut denganku.
"Tapi, bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu?"
"Tenang saja, aku akan baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir." Aku melihat Rin memakai kalung yang tak asing bagiku. "Kalung itu.."
"Ini, ini adalah kalung yang kau berikan padaku dulu, aku selalu menjaga kalung ini karena kalung ini adalah pemberianmu yang sangat berharga untukku."
"Begitu, ya." Aku cukup senang karena Rin menjaga baik-baik satu-satunya harta milikku yang paling berharga. "Aku senang kau menjaga kalung pemberianku."
"Ini adalah pemberianmu, tentu saja akan aku jaga baik-baik."
"Aku senang mendengarnya." Sebenarnya aku ingin segera berangkat, tapi sebelum itu, ada sesuatu yang ingin aku berikan pada Rune. Jadi aku titipkan saja pada Rin. "Rin bisa kau berikan ini pada Rune."
"Kartu biru? Kartu apa ini?"
"Sudah, berikan saja. Suruh Rune untuk menggunakan karu ini selama aku pergi, dan buat kerajaan ini berkembang lebih pesat lagi."
"Apa kau akan berangkat sekarang? Apa aku masih tidak boleh ikut denganmu?"
Meskipun Rin memasang wajah sedih, aku masih tetap pada prinsipku. "Iya. Aku akan senang jika saat aku kembali, kerajaan ini sudah lebih berkembang dari saat ini." Entah kenapa secara reflek tanganku bergerak sendiri dan mengelus kepalanya.
Tapi Rin kelihatan senang. "Ini pertama kalinya kau mengelus kepalaku." (Rin) Bergumam.
"Ada apa Rin?"
"Tidak ada apa-apa. Baiklah, hati-hati di jalan."
"Ya. Katakan juga pada yang lain, untuk tidak usah mengkhawatirkanku. Oh ya, tolong lindungi keluarga kecil kita ini baik-baik saat aku pergi, ya. Aku akan segera kembali jika kau membutuhkan sesuatu."
"Baiklah. H-Hi-chan, apa aku boleh meminta sesuatu padamu?"
"Apa yang kau inginkan?" Ini pertama kalinya Rin meminta sesuatu pedaku, dan sudah seharusnya aku mendengarkan apa yang dia inginkan. Lagipula aku mungkin akan pergi agak lama.
"Eh.. Itu... Emm.."
"Ada apa Rin?"
"T-tidak ada apa-apa. Saat kau kembali nanti aku akan bilang keinginanku."
"Begitu, ya. Ya sudah.." Sepertinya Rin masih tidak tau apa yang dia inginkan, dan ia membutuhkan waktu untuk memikirkan itu. "Kalau begitu, aku berangkat."
"Hm, hati-hati jalan.." Setelah mengatakan itu, akupun berjalan keluar dari istana. Dan karena aku memakai jaket yang aku pakai kemarin, tak ada yang menyadari kalau aku 'sang raja' sedang pergi keluar dari istana dan kerajaan ini. Aku pergi menuju ke hutan utara seperti yang dewa Sha katakan padaku.
------- Setelah hampir 30 menit berjalan -------
Akhirnya aku sampai di hutan utara yang ada di kerajaanku. "Dewa Sha, aku sudah sampai di hutan utara."
"Kalau begitu, kau tunggu sebentar lagi."
"Baiklah." Entah apa yang harus aku tunggu, tapi karena dewa Sha yang menyuruhku untuk menuggu, jadi aku menurutinya saja.
------- Setelah lebih dari 20 menit menunggu -------
"... 11, 12, 13, 14, 15. Sepertinya hanya ada 15 ekor saja, yang aku kalahkan." Selama aku menunggu, aku di datangi oleh 15 monster yang aku tak tau jenisnya, dan karena aku tak punya sesuatu untuk aku kerjakan, jadi aku putuskan untuk membunuh semua monster itu dan juga sekaligus olahraga pagi.
Grooaarr.
"Suara naga?" Seekor naga mendekat kearahku, dan naga itu bukan naga Alfa. " Sepertinya ini akan sedikit menjadi lebih menarik. Melawan seekor naga yang mendekat ke kerajaanku." pikirku.
"Hey, apa yang kau pikirkan. Naga itu adalah 'Shura' peliharaanku."
"Apa! Peliharaanmu?"
"Iya, dia yang akan mengantarkamu ke tempat tujuan."
"Oh, begitukah. Baiklah." Ternyata naga itu adalah peliharaan milik dewa Sha, dan aku hampir saja melakukan sesuatu yang buruk terhadap peliharaan dewa Sha.
Naga Shura perlahan mendarat di depanku. "Apa aku harus naik naga ini?" Meskipun aku mulai terbiasa dengan naga Alfa, tapi naga Shura sedikit berbeda dengan naga Alfa, karena ia adalah naga yang lebih besar dari naga Alfa. Jika naga Alfa hanya memiliki ukuran sekitar 20-25 meter, maka naga Shura memiliki ukuran 2 kali lipat lebih besar dari naga Alfa.
"Hey. Apa yang kau tunggu. Cepat naik."
"B-baik." Meskipun begitu, aku merasa sedikit tidak terbiasa dengan naga yang satu ini karena ukurannya.
Akupun mulai naik ke punggung naga Shura.
Groaaarr.
Saat aku berada di atas punggung naga Shura, ia tiba-tiba saja terbang dan bergerak menuju ke arah utara dengan cepat, dan itu cukup membuat aku terkejut.
------- Beberapa jam kemudian ------
Siang hari, jam 12.54
"Dewa Sha, apa tempatnya masih jauh." Karena ini sudah siang, dan aku masih belum melihat apapun selain hutan di area ini.
"Sebentar lagi kau akan sampai. Sudah, jangan ganggu aku lagi, aku sedang sibuk saat ini. Oh ya, jika kau membutuhkan tumpangan untuk pergi kemanapun, kau bisa berteriak dan panggil Shura, naga ini akan mengantarkanmu ketempat yang ingin kau tuju."
"Bagitu, ya. Terima kasih dewa Sha." (dewa Sha menutup telepati)
"Sebentar lagi, ya. Tapi, apa yang akan aku lakukan kalau aku sudah sampai di sana?" Dan jika dingat-ingat, dewa Sha tidak memberitauku kapan tepatnya ritual itu akan dimulai. "Seharusnya aku menanyakan itu dulu tadi."
-------- Beberapa menit kemudian --------
Grooaaarrr.
Tiba-tiba saja naga Shura berhenti bergerak. "Ada apa? Apa kita sudah sampai?" Aku melihat kedapan dan aku tak melihat apapun.
"Kenapa naga ini berhenti bergerak?" Aku penasaran, apa yang membuat naga Shura berhenti untuk bergerak.
"Cepat!!! Ayo cepat kabur!!" (???)
Aku mendengar suara seseorang, suara itu berasal tak jauh dari sini. Kemudian naga Shura perlahan turun dan mendarat. "Kenapa kau turun?" Aku tak tau kenapa Naga Shura tiba-tiba saja turun.
"Apa kau akan mengantarku sampai di sini saja?"
__ADS_1
Groaaarr.
Entah kenapa aku merasa kalau naga Shura berkata 'Iya'. Akupun turun dari punggungnya.
Groaaarrr.
Dan benar saja, tepat saat aku turun dari punggungnya, naga Shura terbang menuju ke arah selatan. "Woy woy woy. Yang benar saja!!" Aku di tinggalkan sendiri oleh naga Shura di tengah hutan yang tak aku ketahui sama sekali.
"Tidakkk!!" (???)
"Suara itu lagi." Aku mendengar suara teriakan lagi, dan karena aku rasa akan ada sesuaru hal buruk yang akan terjadi, aku memutuskan untuk mendatangi asal suara itu.
------ Beberapa saat kemudian -------
Akupun sampai di asal suara itu, dan tepat seperti dugaanku. Seseorang gadis yang tak asing bagiku tengah di kelilingi oleh beberapa hewan iblis. "Aku mohon jangan mendekat!!! Siapa saja!! Tolong selamatkan aku!!" (???)
Para hewan iblis itu semakin mendekati gadis itu, dan gadis itu hanya gemetar ketakutan. " S-siapa saja, aku mohon.. Selamatkan aku!!" (???)
Akupun dengan cepat menghampirinya dan sekaligus membunuh semua hewan iblis yang ada di dekatnya menggunakan pedang 'Shirame'ku.
------ Setelah beberapa saat ------
Aku sudah membunuh semua hewan iblis yang ada di sekitar sini. "Apa kau tidak apa-apa?" Ternyata dugaanku benar, aku sudah pernah bertemu dengannya kemarin saat di guild, tapi aku lupa dengan namanya.
"I-iya, aku tidak apa-apa."
"Apa yang kau lakukan di hutan yang berbahaya ini sendirian?" Karena aku hanya melihatnya sendiri, jadi aku sedikit penasaran. Apa yang dilakukan seorang gadis Elf sendirian di dalam hutan yang cukup berbahaya ini.
"Aku tidak sendiri, aku kesini bersama dengan rekan partyku untuk menjalankan quest."
Oh ya, kalau diingat-ingat, ia kemarin memang pergi bersama dengan temannya yang lain. "Jadi, kemana rekan partymu yang lain?"
" Mereka, mereka sudah..."
"Begitukah..." Aku tau apa yang ingin dia katakan. Sepertinya rekannya yang lain sudah terbunuh oleh gerombolan hewan iblis yang aku bunuh barusan.
"Apa kau mau ikut dengaku?" Ya, aku menawarkannya untuk ikut bersama denganku. Lagipula, aku tak tega melihat seorang gadis berjalan sendirian dia hutan yang berbahaya ini.
"I-ikut denganmu?"
"Iya, saat ini aku sedang ingin pergi kebenua Elf. Apa kau mau ikut?"
"Benua Elf.." Aku tak tau kenapa, tapi sepertinya ia terlihat ketakutan saat tau kalau aku akan pergi ke benua Elf.
"Ada apa?"
"T-tidak ada apa-apa... Hmm.. Baiklah, aku akan ikut."
"Kalau begitu, ayo kita berangkat." Akupun berjalan menuju ke arah utara tempat dimana benua Elf berada.
------- Beberapa jam kemudian ------
Sore hari, jam 17,12
[ Benua Elf : Kerajaan ... ]
Setalah berjalan 5 jam non stop, akhirnya aku sampai di sebuah kerajaan yang ada di benua Elf.
Dan seperti biasa, setiap gerbang dijaga oleh 2 orang prajurit. Akupun berjalan ke arah gerbang untuk masuk ke dalam kerajaan itu. Tapi sebelum itu, aku melihat gadis Elf ini terlihat ketakutan. "Hey, apa yang kau lakukan. Ayo kita masuk."
"T-tapi...."
Tanpa mendengarkan kata-katanya aku memutuskan untuk berjalan masuk ke dalam kerajaan itu, sedangkan ia mulai berjalan mengikuti di belakangku.
"Siapa kau? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Apa kau pendatang baru?"
"Iya."
"T-tuan putri Sia. Anda sudah kembali, paduka raja sangat mengkhawatirkan tuan putri."
Aku baru ingat, kalau nama gadis ini adalah Sia. "Tuan putri?"
"Aku tidak ingin bertemu dengan ayah."
"Woy woy woy. Jadi ini alasanya ia terlihat takut saat aku ingin masuk kedalam kerajaan ini."
"Maaf tuan putri, tapi kami harus melakukan hal ini. prajurit, bawa tuan putri ke istana sekarang juga."
Para prajurit datang dan menyeret paksa Sia untuk kembali ke istana. "Tidak!! Aku tidak ingin kembali ke istana!! Lepaskan aku!!" Dia memberontak.
Melihat hal itu, entah kenapa aku merasa kasihan padanya. "Hey, bisa kalian lepaskan tangan kalian darinya..."
Duukk
Buggg
Karena mereka tak mendengarkan ucapanku, aku memberi sedikit pukulan ke arah para prajurit yang menyeret Sia dengan paksa. "Beraninya kau. Prajurit, tangkap dia dan seret dia ke depan paduka raja.!!"
Aku mencoba untuk melawan mereka. "Hentikan, jika kau melakukannya, aku akan dalam masalah besar." (dewa Sha)
"Baiklah." Karena dewa Sha bilang seperti itu padaku, akupun menurutinya, karena setiap apa yang dia katakan olehnya pasti benar.
Aku membiarkan diriku ditangkap oleh prajurit itu, dan setalah itu, mereka membawaku dan Sia ke dalam istana.
-------- Setelah lebih dari 30 menit (diseret) ------
Aku dibawa masuk kedalam ruang tahta dan disana juga ada seorang raja Elf yang duduk di tempat tinggi yang ada di ruangan ini.
Prajurit itu melemparkanku seperti melemparkan sebuah barang, dan itu membuatku jatuh tersungkur. "Cih, sial!! Tubuhku tidak bisa digerakkan." Entah kenapa, saat aku berada di dalam ruangan ini tubuhku tidak bisa di gerakkan sama sekali.
"Paduka raja, hamba sudah menemukan putri Sia."
"Sia, putriku." (Raja) Sepertinya Sia sedang kabur dari rumahnya, itulah yang bisa aku simpulkan setelah melihat keadaan ini. "Lalu, siapa pemuda manusia ini." (Raja)
"Dia adalah orang yang kesini bersama dengan tuan putri. Tapi, karena ia menyebabkan masalah, jadi kami putuskan untuk membawanya kehadapan anda untuk diberikan hukuman."
"Woy woy woy!!! Yang benar saja. Aku ini baru sampai disini, masa sudah akan diberikan hukuman!!"
"Masalah apa yang sudah ia perbuat?"
"Manusia ini sudah memukul dan melukai prajurit kita, paduka. Oleh karena itu, berikan hukuman yang pantas untuk manusia ini, agar para manusia yang lain tidak berani untuk berbuat macam-macam dengan ras kita." (prajurit)
"Kau terlalu berlebihan, aku hanya memukul mereka sedikit, dan bahkan aku tidak melukai mereka sama sekali."
"Baiklah, kalau begitu. Aku sebagai raja, akan memberikan hukuman pada manusia ini."
"Tidakkk!! Jangan hukum dia.." (Sia)
"Ada apa putriku? Kenapa kau melarang ayah untuk menghukum seorang manusia yang sudah melukai ras kita."
"Dia... (melihat ke arahku) Dia sudah menyelamatkan hidupku."
__ADS_1
"Apa yang kau katakan putriku?"
"Dia sudah menyelamatkanku dari gerombolan hewan iblis."
"Apa! (terkejut) Hewan iblis?"
"Bagaimana mungkin dikerajaan ini ada hewan iblis?" (prajurit)
"Benar, aku tidak bohong. Jika saja dia tidak datang ke kerajaan ini, aku, aku pasti sudah..."
"Sudah cukup putriku.."
"Paduka Raja.." (prajurit) Tiba-tiba datang seorang prajurit masuk kedalam ruangan tahta ini. "Hamba ingin melaporkan sesuatu yang sangat penting."
"Apa itu?"
"Hamba menemukan beberapa mayat hewan iblis di hutan selatan."
"Apa!!Baiklah, kalau begitu, lanjutkan penyelidikanmu."
"Baik paduka." (prajurit) Prajurit itu pergi.
"Ternyata yang dikatakan putriku itu benar. Kalau begitu, terima kasih kau sudah menyelamatkan putriku. Dan untuk hukumanmu, akan aku batalkan."
"T-tapi paduka raja..." (prajurit)
"Saat ini kita harus bersiap-siap, para hewan iblis sudah mulai bermunculan. Sebaiknya kita harus memperkuat penjagaan."
"Baik yang mulia."
"Kalian boleh bubar sekarang." Setelah mengatakan itu, seluruh orang yang ada di dalam ruangan bubar, dan hanya tinggal aku, Sia, dan juga sang raja yang merupakan ayah Sia.
"Tubuhku masih tidak bisa di gerakkan. Apa yang sebenarnya terjadi denganku?" Aku masih belum bisa menggerakkan tubuhku sama sekali.
"Kimi, sekarang kau bisa hentikan mantranya." (raja)
"Baiklah ayah." (???) Suara itu berasal dari belakang tempat duduk raja. Dan dari belakang tempat duduk itu, ada seorang anak kecil (Elf cewek) yang keluar.
"Kimi.." (Sia)
"Ahh, ternyata ada kakak juga, ya. Hehe.." (Kimi)
Tubuhku sudah bisa di gerakkan kembali, dan ternyata yang menyebabkan tubuhku tidak bisa digerakkan adalah ulah dari sihir anak itu.
Karena tubuhku sudah bisa di gerakkan, akupun berdiri. "Maaf sudah membuatmu menjadi seperti ini." (Raja)
Raja ini tidak seperti yang aku bayangkan, aku kira raja ini adalah raja yang kejam, tapi ia adalah raja yang rendah hari. "Tidak apa-apa."
"Aku terpaksa harus melakukan itu, kalau tidak akan terjadi sesuatu yang buruk terhadap kerajaanku. Aku sungguh minta maaf, dan aku juga berterima kasih karena kau sudah menyelamatkan putriku."
"Ahh. Tidak apa-apa, itu juga kewajibanku sebagi seorang petualang."
"Sepertinya, ini bukan kerajaan yang aku tuju. Tapi sebelum itu, aku harus memastikannya."
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Apa benar ini adalah kerajaan Ality."
"Bukan. Ini adalah kerajaan Gien, kalau kau sedang ingin pergi ke kerajaan Ality. Letaknya ada di sebelah timur kerajaan ini, dan setidaknya kau butuh waktu 2 hari perjalanan menggunakan kereta kuda untuk bisa sampai ke kerajaan itu." (Kimi)
"Oh, begitukah." Ternyata dugaanku benar, ini bukan kerajaan yang ingin aku tuju.
"Kalau boleh tau, siapa namamu?" (raja)
"Namaku Hiro." Aku tak mungkin menggunakan nama Hiroaki, karena itu adalah nama yang aku gunakan sebagi seorang raja di Riel, dan jika aku menggunakan nama itu, aku mungkin akan mendapatkan masalah saat kalau mereka tau aku adalah seorang raja.
"Hiro, ya. Namaku adalah Difard, seperti yang kau lihat, aku adalah seorang raja. Dan mereka berdua adalah putri kesayanganku, Kimi dan Sia."
Aku cukup senang karena raja Difard termasuk raja yang ramah. "Kalau begitu, aku akan segera pergi."
"Apa kau tidak berencana untuk menginap di sini, hari sudah mulai gelap, dan akan sangat berbahaya jika kau berjalan di malam hari." (Sia)
Tepat seperti yang Sia katakan. "Maaf, aku menolak tawaranmu." Tapi, karena aku tak tau kapan ritual itu akan dimulai, aku tak boleh menyia-nyiakan waktu.
"Kau bisa tinggal disini untuk sementara, karena ritual pemanggilan itu akan dimulai 4 hari lagi."
"Apa!! 4 hari.. Kenapa kau tidak bilang dari awal."
"Informasi yang aku dapatkan itu ternyata informasi palsu. Dan informasi yang benar adalah ritual itu akan dilakukan 4 hari lagi. Jadi, kau masih memiliki waktu 4 hari lagi untuk bersenang-senang, bersenang-senanglah karena saat ini kau ada di kerajaan Elf yang cukup maju. Kau bisa mencari beberapa referensi untuk membuat kerajaanmu lebih berkembang lagi saat kau kembali nanti."
"Ha.... Baiklah, terserah kau saja."
"Kalau begitu, sudah dulu." (dewa Sha menutup telepatinya)
"Ada apa Akarui?" (Kimi)
"Tidak ada apa-apa. Sepertinya aku akan menerima tawaran itu."
"Benarkah.. (senang)"
"Kalau begitu, Sia, bisa kau antarkan Akarui kekamar tamu."
"Baik ayah."
Siapun mengantarkanku ke tempat yang di sebutkan raja Difard.
------- Beberapa menit kemudian -------
Aku sampai di ruangan yang cukup besar dan di dalamnya juga ada tempat tidur yang kelihatan cukup empuk, meskipun itu tak sebanding dengan kasur yang aku miliki di istanaku. "Maaf, hanya ini ruangan yang kosong, aku harap kau menyukainya."
"Tidak apa-apa, ini sudah cukup." Akupun masuk kedalam, dan mencoba untuk tidur di atas kasur itu, dan tepat seperti duagaanku, kasur ini cukup lebut.
"Hey Sia.." Aku cukup penasaran dengan satu hal.
"A-ada apa?"
"Kenapa kau pergi dari istana ini?" Aku rasa ia memiliki alasan karena ia mau meninggalkan kehidupan mewah seperti ini dan lebih memilih untuk menjadi seorang petualang.
"I-itu, itu karena... (takut) Aku di jodohkan dengan orang yang aku tidak sukai, oleh karena itu aku kabur dari kerajaan ini dan lebih memilih untuk menjadi petualang. "
"Begitu, ya." Sepertinya itu alasan yang cukup bagus, untuk meninggalkan istana dan kerajaan ini. "Tapi, kenapa kau tidak suka denganya? Bukannya ia adalah pilihan dari orang tuamu."
"Itu memang benar. Tapi, mereka memilihnya karena suruhan dari para petinggi istana."
"Jadi seperti itu." Dan aku mengerti apa yang dikatakan Raja Difard padaku tadi. 'Jika ia tak melakukan hal itu, para petinggi kerajaan akan membuat suatu hal yang buruk terjadi pada kerajaan ini'. Tapi aku tak tau atas dasar apa mereka ingin melakukan itu, kerajaan yang sudah dibangun akan dihancurkan oleh para petinggi kerajaan itu sendiri. Itulah yang bisa aku simpulkan untuk saat ini.
"Tenang saja, aku akan membantumu untuk mengatasi masalah ini."
"Benarkah?!" Entah kenapa aku mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Cih siall!!! Aku mengatakannya hal yang tidak perlu lagi." Tapi Sia terlihat senang karena aku akan membantunya. "Tapi, bagaimana caranya aku membantunya?" Masalahku bertambah.
Bersambung