
“Berhenti melihatku, itu memalukan.”
“Ahh, jangan hiraukan aku, lanjutkan saja makannya.” Entah kenapa melihatnya begitu lahap memakan makanan itu membuatku merasakan sesuatu. “Apa makanannya enak?”
“Ya, makanannya sangat enak.”
“Begitu.” Saat aku mencoba untuk memakan makanan yang aku pesan. 'Haa, tidak ada rasanya.'
“Bagaimana dengan makanan yang kau pesan?”
“Lumayan, apa kau mau mencobanya?”
“Ehh, t-tidak perlu.”
“Begitu.”
Beberapa menit kemudian.
“Wah, hebat juga kau.” Makanan yang dipesannya sudah hampir habis, dan ia memakannya sendirian.
“Makananmu, kau tidak menghabiskannya? Nanti kau bisa sakit jika kurang makan.”
“Itu sudah cukup untukku.”
“Apa kau sedang diet atau semacamnya?”
“Ya, seperti itulah. Aku akan pergi untuk membayar ini semua, kau nikmati saja makanannya.”
“Baik.” Akupun pergi untuk membayar makanan yang sudah kami pesan.
“Wah.” Aku tak menyangkan kalau akan menghabiskan uang sebanyak itu. Untungnya aku menggunakan kartu ini, jika tidak mana bisa aku membayarnya.
Setelah membayar, akupun kembali tapi.. “Eh?” Makananku menghilang. “Amane, apa kau yang memakannya?”
“Kau tadi bilang sudah cukup, daripada dibuang lebih baik aku habiskan saja.”
“Haa, sudahlah.” Beberapa saat setelah itu, pelayan datang dan membereskan meja. “Amane, apa masih ada tempat yang ingin kau kunjungi?”
“Kalau begitu...”
Sore hari, 15.43
Sebuah kuil tua di dekat gunung
Amane terlihat sedang berdoa disana, dan setelah beberapa saat ia selesai melakukannya. “Kenapa ketempat ini?”
“Teman kelasku bilang, kalau dewa yang ada ditempat ini bisa dengan cepat mengabulkan permohonan.”
“Hoo, lalu, apa yang kau minta?”
“Rahasia (tersenyum). Oh ya, kau tidak berdoa juga?”
“Itu tidak perlu.” Lagipula aku sudah bertemu dengan dewa itu sendiri.
“Begitu, ya. Kalau begitu, ayo kita ketempat selanjutnya.”
“Eh, masih ada?”
“Tentu saja. Aku sudah menyiapkan jadwal untuk hari ini, dan besok, dan juga besoknya lagi, dan juga seterusnya. Dan aku juga sudah menyiapkan kegiatan apa yang akan aku lakukan saat musim panas tiba minggu depan.”
“Haa, aku bersemangat sekali.”
__ADS_1
“Tentu saja, dan aku berharap kalau permintaanku bisa segera dikabulkan oleh dewa.”
“Haa, iya.”
Malam hari, 20,33
Hari ini adalah hari yang melelahkan, Amane terus saja mengajakku berkeliling ke berbagai tempat, dan aku sangat terkejut mendengar ia sudah menyiapkan jadwal untuk besok. “Apa besok aku harus melakukan hal seperti itu lagi?” Tapi, hari ini ia terlihat begitu bahagia. “Waktuku hanya kurang dari 1 bulan lagi, dan setidaknya aku masih bisa merasakan musim panas sebelum kembali.”
“Hiroaki, ini tehnya.”
“Terimakasih.” Malam yang tenang dan damai, hari ini tidak ada yang aneh. Monster sudah semakin jarang muncul, dan keadaan ini sangat mirip seperti didunia tempat asalku saja. Seandainya para monster itu tidak muncul lagi, kemungkinan dunia ini akan sama seperti dunia tempat asalku.
“Hiroaki, untuk besok. Aku ingin kau menemaniku ke suatu tempat.”
“Hm, baiklah.” Lagipula aku tidak memiliki kegiatan, dan jika para monster itu tidak muncul aku tidak perlu mengawasi Sylvi, lagipula aku yakin si Shinigami itu sedang mengawasinya jadi aku rasa tidak ada masalah.
Esoknya.
Sore hari, 16,32
“Amane, kita mau pergi kemana?” Sebuah tempat, sudah lama aku tidak mengunjungi tempat itu.
“Begitu.” Aku tak tau tujuan kami, tapi sepertinya tempat itu adalah tempat yang cukup penting baginya.
Setelah cukup lama kemudian
“Pemakaman?”
Amane memasuki sebuah pemakaman, dan aku mengikutinya hingga beberapa saat kemudian ia berheti tepat di sebuah pemakaman yang ada disini. Dan disana aku melihat tulisan. “Shirayuki Ken.” Ya, ini adalah pemakaman milik kakak Amane.
Aku melihat Amane seakan sedang berbicara dengan kakaknya, dan karena sepertinya itu terlihat pribadi aku putuskan untuk menjauh.
Beberapa menit setelah itu.
“Iya.”
“Sebenarnya, apa yang menyebabkan kakakmu meninggal?”
“Kakakku memiliki sebuah penyakit yang langkah. Sejak kecil, tubuhnya begitu lemah dan itu membuat dirinya dikucilkan. Dan sejak saat itu...”
“Sudah, jangan dilanjutkan.” Setidaknya aku sudah tau kondisinya. “Ayo kembali sekarang.”
“Baik.”
Malam hari, 19,43
“Selamat makan.” Ternyata waktu kembali memakan waktu yang lebih lama dari yang dibayangkan, dan karena itupula kami makan malan disebuah restoran.
“Amane.”
“Huh?” Seseorang terlihat seperti memanggil Amane.
“Iroha.” Sepertinya ia adalah teman kelasnya.
“Wah, kebetulan sekali bisa bertemu disini.” Ia melihat ke arahku. “Lalu, siapa dia?”
“Dia, dia Hiroaki, Akarui Hiroaki.”
“Akarui, jangan-jangan dia orang yang sel...” Ia menyumpal mulut temannya itu sebelum ia berbicara lebih jauh.
“H-Hiroaki, maaf ada yang harus aku bicarakan dengannya.”
__ADS_1
“Begitu, ya sudah.” Mereka berdua pergi.
“Haa, ini menyebalkan.” Aku merasa kalau ada yang sedang mengawasiku, dan aku paling tidak suka dengan hal pengecut seperti itu. “Sepertinya, dia harus diberi pelajaran.”
Beberapa menit kemudian.
“Ahahaha, maaf sudah mengganggu makan malam kalian. Kalau begitu, aku pergi dulu, sampai ketemu lagi Amane.”
“Ya.”
“Apa yang kau katakan padanya?” Orang itu terlihat berubah. “Tidak ingin bicara, ya. Ya sudah.” Aku tidak punya hak untuk mengupas lebih jauh, lagipula aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan olehnya karena yang lebih penting. “Dia masih mengawasiku.” Orang itu masih mengawasiku, dan itu sangat membuatku muak.
Setelah selesai makan.
“Amane, kau kembalilah dulu, aku memiliki urusan yang harus aku selesaikan.”
“Eh? Baiklah.” Amane pulang duluan, sedangkan aku sedang mencoba untuk memberi pelajaran pada penguntit ini.
Beberapa saat kemudian.
“Dimana dia?”
“Hey, apa yang sedang kau cari?” Karena kehilangan jejakku, ia menunjukkan dirinya.
“Sial.” Ia kabur.
“Kau kira bisa lolos seperti itu, aku akan menangkapmu lalu menyerahkanmu pada polisi dengan sedikit hantaman di wajahmu tentunya.”
Beberapa saat kemudian.
“A-Aku mohon, lepaskan aku, aku mohon.” Setelah aku menangkapnya, dan memberikan hadia kecil untuknya ia meminta ampun padaku.
“Kenapa kau melakukan hal itu, siapa yang menyuruhmu?”
“Aku tidak tau.”
“Hoo, berniat untuk tutup mulut, ya. Baiklah, sepertinya kau ingin hadiah tambahan dariku.”
“B-Baiklah, akan aku katakan, tapi tolong jangan hajar aku lagi. Aku mohon.”
“Nah, seperti itu kan lebih baik. Lalu, siapa yang menyuruhmu?”
“Aku tidak tau nama mereka, tapi mereka hanya memberiku uang untuk memata-mataimu.”
“Mereka, ya.” Dari kata itu saja aku sudah tau siapa yang sudah menyuruhnya. “Kalau begitu, aku akan menyerahkanmu ke kantor polisi.”
“J-Jangan!!”
Beberapa lama kemudian.
“Terima kasih atas bantuannya.” (polisi)
“Ahh, tidak masalah pak polisi.” Aku sudah menyerahkannya pada polisi, dan sekarang saatnya kembali. Tapi...
Ditengah perjalanan kembali.
“Wah, tak kusangka kau akan melakukan hal itu.”
“Itu sudah wajar, lagipula dia sudah membuatku kesal. Dan seorang stalker sudah pantas mendapatkannya.”
“Hahahaha, kau sangat menarik.”
__ADS_1
“Lalu, apa urusanmu denganku. Apa kau ingin bertarung melawaku?”