Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
17


__ADS_3

Sore hari, jam - -.- -


------- Perjalanan ke timur menuju ke benua demi-human (area hutan) ------


"Ahhhh, capek."


Ini adalah petualangan pertamaku di dunia ini, dan aku kira ini tak semudah yang aku bayangkan. Dan saat ini aku sedang duduk di bawah sebuah pohon yang cukup tinggi dan besar yang ada di dalam hutan.


"Hi-chan, kau tak apa-apa?"


"Y-ya, aku tak apa-apa, aku hanya sedikit kelelahan saja." 


Itu sudah jelas. Karena sejak aku berjalan menuju ke benua demi-human yang ada di timur, di setiap perjalanan aku selalu medapatkan masalah, baik bertemu kawanan hewan iblis, melawan monster yang menyeramkan, dan juga dikejar oleh **** hutan raksasa. Dan sudah jelas itu membuatku sangat kelelahan.


"Dalam satu hari ini sudah banyak yang terjadi, kira-kira habis ini, apa lagi yang akan terjadi padaku?" pikirku.


Tiba-tiba.


"Hi-chan, apa kau dengar suara itu?"


Entah apa yang di dengar oleh Rin, dan yang pasti aku tak mendengar suara apapun. "Aku tak mendengar apapun, memangnya apa yang kau dengar?"


"Aku mendengar. (diam sejenak) Itu. Suara tangisan. (pergi)"


"Mau kemana kau Rin?!"


Rin bebergegas berlari menuju ke arah itu, dan yang pasti, aku tak mendengar suara apapun. Aku pun bergegas mengikutinya karena khawatir terjadi sesuatu padanya.


Semakin dekat dan suara itu mulai bisa aku dengarkan. Suara itu berasal dari semak yang cukup jauh dari tempatku beristirahat tadi. 


Rin tanpa merasa curiga sedikitpun menghampiri asal suara itu, dan ia pun melihat ke arah semak asal suara tangisan itu. "Hi-chan, ini. (melihat ke arah di balik semak)"


Aku pun ikut melihat apa yang ada di balik semak itu."Itu kan, bayi!!! (terkejut) Bagaimana ia bisa ada di tempat seperti ini."


Rin menemukan bayi di balik semak itu, dan yang pasti itu bukan bayi manusia, karena bayi itu memiliki ekor dan juga telinga yang mirip seperti serigala atau bisa dibilang, bayi itu adalah bayi setengah manusia (demi-human). 


Rin tanpa ragu mengambil bayi kemudian menggendongnya. "R-Rin apa yang kau lakukan?!! (panik)" Aku tak tau kenapa bayi demi-human itu bisa ada di hutan ini. Tapi yang pasti, aku rasa ini adalah sebuah perangkap, lagipula, kenapa ada seorang bayi yang ditinggalkan di sebuah hutan sendirian, dan itu membuatku cukup curiga.


Tangisan bayi demi-human itu berhenti. "Nee Hi-chan, boleh aku rawat bayi ini?"


"Haaaaaaa!!!!!! A-a-apa yang kau katakan?!!!" Aku cukup terkejut mendengar Rin mengatakan hal itu.


"Apa tidak boleh, aku kasihan melihat bayi ini berada di hutan yang sangat berbahaya ini sendirian, jika terjadi sesuatu pada bayi ini bagaimana?" 


"Tapi-" Rin memotong kata-kataku.


"Sudah, jika kau tak mau merawat bayi ini bersama, biar aku saja yang merawatnya sendiri. (kesal)"


"Baiklah, terserah kau saja. (pasrah)" Setelah mendengar hal itu, aku hanya bisa pasrah, karena aku tak ingin Rin kesal padaku.


"Makasih. (tersenyum)"


"Ayo kita lanjutkan perjalanannya."


"Iya."


Aku pun melanjutkan perjalanan menuju ke benua demi-human, dan di tengah perjalanan Rin juga kelihatan cukup bahagia karena ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. 


"*-*-*-t-t-tunggu duluuuuu!!!! Jika seperti ini, aku dan Rin akan menjadi orang tua." pikirku.


---------- Membayangkan ----------


"Ayah."


Seorang gadis kecil yang berlari ke arahku, dan memanggilku dengan sebutan ayah.


----------- End ---------


Dan saat membayangkan hal itu, tanpa sadar aku terseyum sendiri. "Hi-chan, ada apa denganmu?"


"Ehh, tidak ada apa-apa."


"Tidak mungkin aku memberi tau, bayanganku tentang hal itu pada Rin." pikirku


Sore menjelang malam hari (petang), jam - -.- -


Matahari mulai terbenam dan hawa dingin mulai terasa. "Sepertinya kita harus bermalam disini, karena hari sudah mulai terbenam, dan itu akan sangat berbahaya jika kita meneruskan perjalanan ini."


"Baiklah."


Tiba-tiba bayi demi-human yang di bawa oleh Rin menangis. "Ada apa Rin?"


"Aku tak tau, tiba-tiba saja bayi ini menangis. (panik)"


Aku melihat keadaan bayi itu. "Hm... Sepertinya dia lapar."


"Lapar? Kalau begitu, kita harus memberinya makan. (panik)"


Entah kenapa Rin kelihatan sangat manis saat ia panik. "Hi-chan, jangan diam saja, ayo bantu aku."


"Ehh, ah. Baiklah."


"Tapi, aku harus cari makanan dimana, lagi pula aku tak tau mana makanan yang bisa di makan dan makanan yang tak bisa dimakan." pikirku.


"Sepertinya kau sedang kerepotan." Sebuah suara tiba-tiba muncul di kepalaku.


"Dewa Sha."


"Sepertinya kau butuh bantuan.."


"Benar, apa kau bisa membantuku."


"Tentu, aku adalah dewa di dunia ini, tak ada yang tidak bisa aku lakukan di dunia ini."


"Terima kasih dewa Sha."


"Haha. Baiklah, untuk sekarang kau lanjutkan saja perjalanan menuju ke benua demi-human."


"Tapi, hari 'kan sudah mulai gelap."


"Tenang saja, setelah beberapa menit berjalan, kau akan menemukan sebuah penginapan."


"Penginapan? Tunggu, yang lebih penting, kenapa bisa ada penginapan di dalam hutan?"


"Ahhh, itu adalah penginapan untuk para petualang ataupun pedangang yang sedang melakukan perjalanan antar benua. Karena membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk bisa sampai ke benua lainnya, jadi para penduduk di sekitar membuat sebuah penginapan untuk tempat istirahat para petualang maupun pedagang yang ingin bepergian ke benua lain dan yang pasti mereka membuat penginapan itu, untuk mendapatkan sebuah ke untungan."


"Oh begitu. Baiklah, terima kasih infonya dewa Sha."


"Oooh, sama-sama."


Dewa Sha menutup telepatinya.


"Rin, sebaiknya kita lanjutkan perjalanannya."


"Tapi, hari 'kan sudah mulai gelap."


"Tidak apa-apa, tepat di depan sana ada ada sebuah penginapan."


"Penginapan? Bagaimana mungkin ada penginapan di dalam hutan."


 Rin bertanya sama seperti yang aku tanyakan  pada dewa Sha barusan. "Sudah, jangan banyak tanya, sebaiknya kau ikuti aku saja."


"Ehh, t-tung-."


Aku kemudian berjalan dan tak mendengarkan apa yang ingin Rin ucapkan padaku.


---------- Beberapa menit berjalan --------


Dan tepat seperti yang dikatakan oleh dewa Sha, ada penginapan di dalam hutan ini dan bayi yang di pegang oleh Rin kelihatannya sudah berhenti menangis. "Kita istirahat di sini untuk malam ini."


"Ba-baiklah."


Rin masih terlihat tak percaya akan apa yang sudah ia lihat. 


Akupun masuk ke dalam penginapan itu.


Kring. (bel di balik pintu)


"Selamat datang, tuan. Ada yang bisa kami bantu?" 


2 orang gadis demi-human yang berpakaian seperti seorang pelayan menyambut kami dengan cukup ramah. "Aku ingin memesan kamar untuk semalam."


"Baiklah, tuan. Anda bisa ikut dengan saya."


"Baiklah."


Aku dan Rin mengikuti salah satu pelayan demi-human itu.


Dan setelah beberapa saat, kami sampai di sebuah kamar yang ada di penginapan ini. "Ini ruangan anda, tuan."

__ADS_1


Aku pun membuka kamar itu, dan aku melihat dua buah tempat tidur yang tersusun rapi. Aku rasa penginapan ini cukup sederhana, karena hanya ada satu lilin yang ada di meja tepat dibagian tengah-tengah kasur sebagai alat penerangan dan tak ada hal yang lain lagi.


"Terima kasih."


"Sama-sama, tuan. Biaya untuk menginap di sini semalam 50 koin perak."


"Wooow, mahal amat." pikirku


Ya, mengingat kalau aku selalu mendapatkan sesuatu dengan harga yang lumayan murah, aku cukup terkejut setelah mendengar biaya menginap semalam di sini. 


"Ini. (memberi koin)" (Rin)


Rin memberi pelayan itu 50 koin perak. "Terima kasih, nyonya. Saya permisi dulu. (pergi)"


Aku tak tau darimana Rin mendapatkan koin itu, dan kalau di ingat-ingat, aku merasa Rin sama sekali tidak memengang koin.


"Ayo Hi-chan kita masuk."


"Baiklah."


Dan aku masih penasaran, darimana Rin mendapatkan koin itu.


Akupun masuk ke kamar itu, dan bayi yang di pengan oleh Rin kembali menagis.


"Hi-chan, dia menagis lagi. (panik)"


Sepertinya dia tadi tertidur, dan karena dia sudah bangun, bayi yang di pegang oleh Rin kembali mengangis.


"Sebaiknya, kita harus meminta makanan pada pelayan tadi untuk bayi ini."


"Kalau begitu, Hi-chan saja yang minta pada pelayan tadi."


"Ehh?!!"


"Apa Hi-chan mau berganti posisi denganku?"


"Tidak, baiklah aku yang akan memintanya."


Aku menolak, tentu saja aku menolak. Karena aku belum pernah berurusan dengan seorang bayi selama aku hidup, dan jika di beri pilihan seperti ini, aku lebih memilih menolaknya, karena, aku rasa hal itu akan cukup merepotkan untukku. 


"Kalau begitu, cepat!!"


"Baiklah. (pergi)"


Aku keluar dari kamar dan pergi ke tempat para palayan itu berada.


-------- Beberapa saat kemudian --------


Aku melihat kedua pelayan itu sedang membersihkan sebuah ruangan, dan karena aku membutuhkan sesuatu aku memanggil palayan itu. "Pelayan..."


Kedua pelayan itu melihatku, itu wajar, karena aku memanggil mereka. "Ada apa, tuan?" (salah-satu pelayan)


"Apa aku bisa minta makanan?"


"Tentu saja, tuan. Saya akan segera ambilkan. (Pergi)"


Salah satu dari pelayan itu pergi. 


"Anda bisa menunggu di kamar anda, tuan. Kami akan segera mengantarkannya."


"Baiklah." Karena di suruh untuk kembali ke kamar, akupun kembali.


------ Setelah beberapa saat berjalan kembali menuju ke kamar dan akhirnya sampai -------


Aku membuka pintu kamar.


Kreekkk. (Pintu terbuka)


Rin kemudian melihat ke arahku. "Hi-chan, apa kau sudah dapat makanannya?"


"Kata pelayan itu, aku di suruh untuk kembali ke kamar dan mereka akan mengantarkan makanananya ke kamar."


"Tapi, apa kau sudah bilang kalau makanan itu untuk bayi?"


"Wahhhh, gawat aku tak bilang kalau makanan itu untuk bayi!!! (panik)" pikirku.


"Ehh, ah."


"Kenapa Hi-chan?"


"Maaf, aku akan kembali lagi.(pergi)" Karena aku melakukan kesalahan, aku memutuskan untuk kembali menemui pelayan itu untuk meminta makanan bayi.


Aku kembali mendatangi pelayan itu dan pelayan itu sepertinya sudah menyediakan makanan yang sudah siap untuk di antarkan ke kamarku. Dan dengan berat hati aku berkata. "Maaf, makanan yang aku minta tadi sebenarnya adalah makanan untuk bayi."


"Oh, seperti itukah. Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu di kamar."


"Baiklah, tuan. (tersenyum)"


Dan aku kembali ke kamar, dan dalam hati aku merasa cukup malu dengan apa yang aku lakukan barusan. "Ha. (mengela nafas)"


------------ Beberapa saat kemudian ----------


Aku sampai di depan pintu kamar, aku membuka pintu.


Kreeekkk. (pintu terbuka)


Aku masuk kekamar, dan aku melihat Rin masih menggendong bayi yang ia temukan tadi, dan kelihatannya bayi itu masih menangis.


"Bagaimana Hi-chan? Apa kau sudah dapat?"


"Sudah, sebentar lagi makanannya akan mereka antarkan."


"Begitukah.. Baiklah."


--------- Beberapa menit menunggu ---------


"Maaf tuan dan nyonya, makanananya sudah siap." Suara di balik pintu.


"Sepertinya makannanya sudah mereka antarkan." 


"Hi-chan, cepat suruh mereka masuk."


"Baiklah." Aku hanya bisa menuruti kata-kata Rin.


Aku menghampiri pintu. "Silahkan.." Dan menyuruh pelayan yang berada di luar untuk masuk.


"Permisi, tuan." (pelayan)


Pelayan itu masuk dan menaruh beberapa makanan yang ia bawa di atas meja yang ada di kamar yang aku tempati ini. Dan setelah pelayan itu meletakkan semua makanan yang ia bawa di atas meja dan tak lupa ia juga meletakkan sepiring bubur untuk makanan bayi, ia kemudian pergi tanpa meminta koin untuk bayaran makananya. Ya, mengingat kalau biaya menginap di sini sudah sangat mahal, dan kalau makanan juga harus beli aku rasa itu sebuah penipuan.


Pelayan itu menaruh cukup banyak makanan di atas meja, dan aku rasa itu terlalu banyak untuk aku makan bersama Rin dan aku rasa bayi yang sedang di pegang oleh Rin hanya bisa memakan bubur yang sudah di sediakan oleh pelayan.


"Sepertinya makanan ini terlalu banyak." pikirku.


Rin langsung mengambil bubur yang ada di atas meja dan langsung menyuapi bayi yang di pegangnya. 


--------- 10-15 menit kemudian ------- 


(Malas mendeksripsikan adengan ini.)


Bayi yang di pegang oleh Rin sudah berhenti menangis dan kelihatannya bayi itu sudah kenyang, karena bubur yang tadi di sediakan oleh pelayan itu sudah habis. Dan Rin tak kelihatan memakan sedikitpun makanan yang ada di atas meja.


"Rin, kenapa kau tak makan?"


"Aku nanti saja, kalau bayi ini sudah tidur."


"Ah, bagitu. Ya, sudah."


Entah kenapa Rin sangat peduli pada bayi yang baru ia temukan tadi, padahal ia tak tau asal bayi itu, dan bisa jadi bayi itu akan menjadi sumber masalah baru kedepannya. 


Dan yang pasti, aku tak ingin terjadi begitu banyak masalah di kehidupanku. Karena aku rasa, terlalu banyak masalah akan sangat merepotkan dan aku tak suka dengan sesuatu yang terlalu merepotkan untukku.


---------- Beberapa menit kemudian --------


Bayi yang pegang oleh Rin tertidur.


"Sepertinya, bayinya sudah tidur." (Rin)


"Sepertinya begitu. Lebih baik, kau taruh saja bayi itu di kasur, dan juga, sebaiknya kau segera makan supaya kau tidak sakit."


"Baik."


 Rin meletakkan bayi itu di salah satu kasur  yang ada di kamar, dan setelah itu Rin kemudian memakan sedikit makanan yang ada di meja. 


Dan setelah Rin selesai makan, ia kemudian tidur bersama dengan bayi yang ia taruh di salah satu tempat tidur. Tak lama kemudian langsung Rin tertidur dengan pulas, mengingat kalau ini sudah cukup larut dan tadi siang saat perjalanan kami juga mendapatkan beberapa masalah, sudah wajar Rin terlihat kelelahan dan ditambah lagi sekarang ia mengurus seorang bayi.


"Sebaiknya aku juga segera tidur, karena besok perjalananku masih panjang dan aku harus istirahat dengan cukup."


Akupun tidur di satu kasur yang kosong.

__ADS_1


________________________


Pagi hari, jam - -.- -


Aku membuka mataku secara perlahan, dan mulai bangun dari tidurku yang nyenyak. Aku kemudian melihat sekeliling kamar, dan aku masih melihat Rin yang masih tertidur pulas di kasurnya bersama dengan bayi yang berada tepat di sampingnya.


Aku tak tega untuk membnagunkannya, jadi aku biarkan Rin untuk bangun dengan sendirinya. 


Aku kemudian bergegas turun dan berniat untuk mencuci wajahku, supaya lebih segar.


Saat aku berada di pintu keluar dari penginapan, aku melihat seorang pelayan yang sedang menyapu di depan penginapan, dan aku memutuskan untuk bertannya. "Apa di penginapan ini ada kamar mandinya?"


Dan pelayan itu menjawab dengan jawaban yang cukup mengejutkan. "Maaf, tuan. Penginapan ini tidak menyediakan kamar mandi."


"Jadi, dimana aku harus membasuh wajahku, jika tak ada kamar mandi di penginapan ini?"


"Kalau untuk itu, anda tidak perlu khawatir, tuan. Agak jauh di belakang penginapan ini ada sebuah sungai yang mengalir langsung dari mata air. Anda bisa menggunakan air di sungai itu untuk keperluan anda."


"Ah, begitu. Baiklah."


Aku kemudian berjalan menuju belakang penginapan untuk menuju ke sungai yang ada di belakang penginapa ini.


Di belakang penginapan ini, hanya ada pepohonan dan aku sedikit juriga kalau ada sebuah sungai di daerah seperti ini, aku juga melihat sebuah jalan setapak yang cukup kecil dan aku pun mengikuti jalan setapak itu, siapa tau itu adalah jalan menujuk ke tempat sungai yang dikatakan oleh pelayan tadi.


------- Beberapa menit berjalan --------


Aku mendengar suara air yang mengalir cukup deras, dan aku pun mendekati asal suara itu.


Dan benar apa yang di katakan oleh pelayan tadi, bahwa di belakang penginapan ini ada sebuah sungai. Dan tanpa basa-basi aku  langsung mengambil air suangai itu dan langsung membasuhkannya ke wajahku. "Whaaa!!!! (menggigil) D-Dingin!!!!!" Air sungai itu sangat dingin, ya, kalau di ingat-ingat pelayan itu bilang kalau air sungai ini berasal langsung dari sumber mata air, jadi tidak heran kalau air sungai ini terasa sangat dingin.


Setelah aku selesai membasuh wajahku, aku berjalan kembali ke penginapan.


--------- Beberapa menit kemudian --------


Aku sampai di belakang penginapan, dan aku berjalan ke depan penginapan untuk masuk kembali ke dalam penginapan. 


Saat aku sudah berada di depan penginapan, aku tak melihat pelayan tadi, dan mungkin karena tugasnya sudah selesai ia  kembali masuk ke dalam. Kemudian aku langsung masuk ke penginapan.


Aku langsung berjalan menuju ke kamar, dan saat aku sudah berada di depan pintu kamar.


"Ahhh!!!" (???)


Aaku mendengar suara teriakan dari dalam kamar yang aku duga itu adalah suara Rin. Aku kemudian membuka pintu.


Kreeekk. (pintu terbuka)


Aku melihat Rin yang sedang memakai handuk dan kelihatanya ia baru selesai mandi. Rin melihat ke arahku. "Tidaaakkk!!! Jangan masukk!!!" (Rin) 


Sebuah kayu berukuran cukup besar tiba-tiba muncul di dalam kamar dan terbang dengan cepat terbang menuju ke arahku, aku duga itu adalah ulah dari sihir milik Rin dan ia melakukannya tanpa melakukan rapalan sihir seperti yang dilakukan oleh orang-orang. 


Mau tak mau, aku dengan cepat aku menutup pintu kamar dan dengan segera berlari untuk menyelamatkan diri. 


----------- Saat berada di luar penginapan -------- 


"Ha, ha, ha. (terengah-engah) A-apa itu tadi? Ada apa dengan Rin? (bingung)" Aku tak tau kenapa Rin seperti itu. Tapi yang pasti, yang baru saja terjadi itu sangat mengerikan.


------------ Beberapa menit kemudian ------------


Karena aku rasa keadaan sudah agak aman, aku memutuskan untuk kembali kekamar.


Kreeekk. (membuka pintu)


Aku membuka pintu secara perlahan, dan mulai melihat keadaan di dalam kamar. 


Aku melihat Rin yang sedang menggendong bayi, dan Rin melihatku. "Ada apa Hi-chan?" 


Entah apa yang terjadi pada Rin, dia seakan tidak menyadari apa yang ia akan lakukan padaku tadi dan bersikap seperti biasanya. "T-tidak ada apa-apa."


Aku perlahan masuk ke kamar. "Hi-chan.."


"Y-ya, ada apa? (tegang)"


"Sebaiknya, sekarang kita berangkat untuk melanjutkan perjalanannya."


"Baiklah."


"Kalau begitu, aku akan menunggu di luar." Setelah mengatakan hal itu, Rin pergi.


Aku memutuskan untuk melupakan hal itu, dan mengganggap hal itu tidak pernah terjadi.


Aku mengambil kedua pedangku yang seperti biasa aku taruh di bawah kasur. Dan setelah itu, aku keluar dari kamar dan langsung menemui Rin yang sudah menungguku di luar penginapan.


Saat aku ingin kluar dari penginapan itu, 2 pelayan yang sedang menyapu di dalampenginapan melihat ke arahku. "Anda sudah mau pergi, tuan?" (salah satu pelayan)


"Ah, ya, aku ingin melanjutkan perjalananku ke benua demi-human."


"Kalau begitu, semoga perjalanan anda menyenangkan, tuan. (tersenyum)"


Aku kemudian bergegas keluar dari penginapan itu.


---------- Di luar penginapan ----------


"Hi-chan, ayo kita segera berangkat."


"Ya, baiklah... 


Akupun melanjutkan perjalanan..


---------- Beberapa jam berjalan (Benua demi-human bagian hutan) ------


Siang hari, jam - -.- -


Aku merasa bingung, kenapa Rin bisa menggunakan sihir tanpa merapalkannya, dan aku putuskan untuk menayakannya pada dewa Sha. "Halo dewa Sha.."


Tak ada jawaban dari dewa Sha, dan aku putuskan untuk memanggilnya lagi.


"Dewa Sha."


"Ahh, ada apa? Apa kau sudah sampai?"


Akhirnya ia menjawab. "Belum."


"Oh begitu. Jadi, ada urusan apa kau menghubungiku?"


"Aku ingin bertanya sesuatu padamu dewa Sha."


"Tentang Rin yang bisa menggunakan sihir tanpa merapalkan matranya.."


"Ya, bisa kau beri tau aku alasannya dewa Sha."


"Hmmm. Sebenarnya, untuk melakukan sihir kau tak perlu mengucapkan mantra atau merapalkan apapun, kau hanya perlu membayakan apa yang ingin kau buat dan dengan otomatis sihir itu akan bekerja tanpa perlu merapalkan mantra."


"Jadi beitu, tapi-."


"'Tapi, kenapa orang yang ada di dunia ini melakukan rapalan mantra sebelum melakukan sihir?'. Apa itu yang ingin kau tanyakan?"


"Ya, benar."


"Memang benar. Kenapa orang yang ada di dunia ini melakukan rapalan sihir sebelum mereka melakukan sihir,  padahal mereka bisa langsung menggunakan sihir tanpa perlu merapalkan apapun. Aku rasa, mereka merapalan sihir untuk memperkuat efek dari sihir itu."


"Apa benar begitu?"


"Tentu saja tidak!! Meskipun kau mau merapalkan sihir ataupun tidak, kekuatan sihir yang akan kau gunakan akan sama saja. Tapi, jika kau memiliki keyakinan bahwa kekuatan sihir akan menjadi sangat kuat saat di rapalkan. Maka benar, sihir yang di keluarkan akan menjadi lebih kuat, tapi itu karena kau yakin kalau kau merapalkan sihir, maka sihir yang kau gunakan akan lebih kuat. Oleh karena itu, hampir seluruh atau bahkan mungkin seluruh ras di dunia ini melakukan rapalan sebelum melakukan sihir."


"Jadi, jika aku percaya kalau dengan merapalkan sihir itu, bisa membuat sihir yang aku gunakan itu menjadi lebih kuat. Maka sihir yang aku gunakan itu akan menjadi lebih kuat. Begitu?"


"Ya. Tapi, kau juga bisa menggunakan hal yang sama saat menggunakan sihir tanpa rapalan, itu juga bisa membuat kekuatan dari sihir yang kau gunakan akan menjadi lebih kuat. Tapi, tak ada yang mengetahui hal itu dan aku hanya memberi tau salah satu rahasia kecil di dunia ini padamu. Apa sekarang kau sudah mengerti?"


"Aku rasa, sekarang aku sudah sedikit paham dengan apa yang kau jelaskan barusan."


"Kalau begitu, aku sudahi dulu. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku lakukan."


"Baiklah.."


(Dewa Sha menutup telepatiku)


 Rin tiba tiba berhenti berjalan. "Ada apa Rin?"


"Hi-chan, sepertinya kita sudah sampai."


"Hah?"


Aku melihat ke arah depan dan jauh-jauh di depan, aku melihat sebuah kerajaan yang cukup besar. "Apa kita sudah sampai di benua demi-human?"


"Kalau begitu, sebaiknya kita segera bergegas Hi-chan."


"Baiklah."


Aku pun berjalan menuju kerajaan itu yang aku duga kalau kerajaan itu adalah kerajaan Chamos, tempat yang harus aku datangi.

__ADS_1


Kemudian, aku melanjutkan perjalanan menuju ke arah kerajaan yang aku lihat itu.


Bersambung....


__ADS_2