
Pagi hari, jam- -.- -
Aku terbangun di kamar baruku yang cukup besar. "Hoaamm. Apwa yang terjadi tadi malam, ya?" Aku tak ingat kejadian tadi malam, dan aku juga tak begitu peduli dengan apa yang terjadi tadi malam, mungkin yang terjadi tadi malam itu bukanlah sesuatu yang penting.
Aku kemudian bangun dari kasurku, dan segera mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamar ini.
------- 10-15 menit kemudian -------
Aku selesai mandi, dan aku kembali memakai baju seragam milikku. Aku menghampiri kasur, dan meraba bagian bawah kasurku. "Hah! Tidak ada." Aku berencana mengambil pedangku yang biasanya selalu aku taruh di bawah kasur saat ingin tidur. Tapi, sekarang pedang milikku itu hilang. "Siapa yang mencuri pedangku?!" Aku bergegas keluar dari kamar.
Diluar kamar, aku melihat Emilia yang sedang berjalan-jalan di dekat area kamarku. Aku memutuskan untuk menghampirinya dan menayakan sesuatu tentang kedua pedang milikku, siapa tau dia tau sesuatu.
Aku berlari ke arah Emilia, dan berteriak memanggil namannya. "EMILIA!!!!"
"Huh? Ada apa Hiroaki? Kenapa pagi-pagi kau sudah berteriak?"
"A-Apa kau melihat pedangku?"
"Pedangmu? Oh, pedang yang selalu kau bawa itu.."
"Iya benar, apa kau melihat pedangku?"
"Bukannya ada di ruang pertemuan?"
"Ruang pertemuan? Bagaimana bisa ada di situ?" Aku tak tau kenapa pedangku bisa ada di ruangan itu.
"Hah.. Bukannya kemarin malam, kita mengadakan rapat untuk membahas tentang rencana apa yang akan kita lakukan hari ini, setalah itu kau pergi kekamarmu tanpa membawa pedangmu. Apa kau lupa?"
"Rencana? Rencana apa?" Aku tak ingat sudah merencanakan hal itu. Tapi, sepertinya aku tidak ingat kejadian yang sudah terjadi tadi malam. Dan oleh karena itu, aku tak tau rencana yang dimaksud oleh Emilia.
"Pagi ini kita akan pergi ke aula untuk rapat dan melakukan peresmian nama kerajaan kita, setalah itu kita akan sekilas melihat-lihat apa saja yang ada di kerajaan ini. Bukannya kau yang merencanakan itu, bagaimana bisa kau tak ingat?"
Aku tak ingat akan hal itu, seakan ingatanku tentang kemarin malam sudah terhapus dan aku tak bisa mengingat apapun yang terjadi kemarin malam. Dan ada satu hal yang membuatku penasaran yang itu tentang nama kerajaan ini. "J-jadi, aku menamai kerajaan ini dengan nama apa?"
"Kalau tidak salah, kau menamai kerajaan ini dengan nama Riel. Aku tak tau kenapa kau menamai kerajaan ini dengan nama itu. Tapi sepertinya kau sudah memikirkannya dengan keras, dan menurutku nama itu bagus."
"Riel? Apa aku yang memberi nama itu?"
"Iya. Kemarin kau berpikir sangat keras untuk mencari nama kerajaan ini, dan setelah beberapa saat, kau menegaskan kalau kau menamai kerajaan dengan nama Riel. Tapi, kenapa kau menamai kerajaan ini dengan nama Riel?"
"Eh, kalau itu. Rahasia, mungkin." Sebenarnya aku tak tau alasanku menamai kerajaan ini dengan nama Riel, tapi yang pasti, kenapa aku bisa tidak ingat kejadian kemarin.
"Oh begitu kah. Ya sudah, kalau begitu sebentar lagi kita akan berkumpul di ruang tahta. Sebaiknya kau segera bersiap."
"Baiklah. Tapi sebelum itu, aku ingin mengambil pedangku dulu."
"Ya sudah. Kalau begitu, sampai ketemu di ruang tahta." Emilia pergi dan aku bergegas keruang pertemuan.
------- Beberapa menit kemudian --------
Aku sudah berada di runag pertemuan. "Itu dia.." dan benar yang dikatakan Emilia, kedua pedangku memang ada di ruangan ini.
Akupun mengambil pedangku dan segera keluar menuju ke ruang tahta.
------- Beberapa menit kemudian ------
[Di tengah perjalanan menuju ke ruang tahta]
"Dewa Sha.." Aku mencoba untuk menanyakan kenapa aku bisa kehilangan ingatanku tentang kejadian kemarin malam.
"Ada apa? Apa kau ingin bertanya kenapa ingatanmu hilang?"
Sepertinya dewa Sha tau sesuatu tentang hal ini. "Iya, bisa kau beritahu aku."
"Itu karena rasa sakit kepala yang kau alami kemarin, tepat saat kau jatuh bersama Rin."
"Tapi, apa hubungannya dengan ingatanku tentang kemarin yang tidak bisa aku ingat sama sekali."
"Sebenarnya itu sedikit berhubungan. Rasa sakit yang kau alami di kepala itu, menandakan kalau otak besarmu mengalami sedikit kerusakan."
"Apa!!!" Mengingat otak besar adalah bagian yang bisa digunakan untuk menyimpan ingatan, dan setelah mendengar kalau otak besarku bermasalah aku sangat ketakutan. "Apa tak ada cara untuk menyembuhkannya?"
"Tenang saja, dalam 1 hari itu akan sembuh dengan sedirinya."
"Benarkah?"
"Iya."
"Syukurlah." Aku kira tak ada cara untuk menyembuhkan ini, dan aku cukup takut kalau aku akan hidup dengan melupakan berbagai kejadian yang penting.
"Sudah dulu, aku ada pekerjaan. Oh ya, mungkin untuk 1 bulan kedepan kau tak akan bisa menghubungiku."
"Memangnya kenapa dewa Sha? Apa kau memiliki urusan?"
"Ya, dan mungkin saat kau memiliki sebuah masalah, kau harus bisa menyelesaikannya sendiri. Lagipula kau sekarang sudah memiliki kerajaan, dan kau tak harus bertanya padaku. Kau bisa membuat struktur pemerintahan agar kau tak kerepotan untuk mengurus kerajaanmu ini."
"Baiklah, aku terima saran darimu itu dewa Sha." Dewa Sha enutup telepatinya, dan saat ini aku tepat berada di depan ruang tahta. "Mungkin ini tempatnya.." Sebuah ruangan dengan pintu yang cukup bagus yang dilapisi dengan emas. Aku sebenarnya tak tau ini ruang tahta atau bukan, tapi sepertinya aku merasa ini adalah ruang tahta. Aku juga tak tau kenapa aku bisa begitu yakin dengan ini.
Kreeekk.
Akupun membukan pintu. "Yang mulia raja sudah datang..." (???)
__ADS_1
Dan benar, ini adalah ruang tahta. Aku juga melihat cukup banyak orang yang berkumpul di ruangan ini, dan juga Rin, Inori, Emilia, dan juga Lia ada di ruangan ini, dan mereka semua duduk tepat di samping tempat duduk raja yang ada di bagian yang cukup tinggi di ruagan ini.
Akupun berjalan menuju ke arah mereka, dan semua orang (kecuali Rin dan yang lainnya) memberi hormat padaku. Aku merasa sedikit gugup, karena sebelumnya aku sama sekali tidak pernah membayangkan hal seperti ini terjadi padaku.
------- Beberapa saat kemudian ---------
Akupun sampai. "Hi-chan, kenapa kau lama sekali? (berbisik-bisik) Bukannya kau janji tidak akan telat hari ini."
"Ehh.." Aku tak tau kalau aku sudah membuat janji seperti itu. "S-sebelum kesini, aku mengambil pedangku yang ada di ruang pertemuan. Oleh karena itu aku sedikit terlambat."
"Begitu, ya sudah. Sekarang, kau bisa mulai pembukaanya Hi-chan."
"Eh.. Pembukaan? Aku?" Aku tak tau kalau aku harus melakukan ini, dan mentalku belum siap. Lagipula aku belum pernah berbicara di hadapan orang banyak.
"Ada apa Hikari? Bukannya kemarin kau setuju untuk melakukan ini?"
"Eh?"
"Aku tak tau apa yang aku katakan semalam, tapi untuk hal ini mustahil bisa aku lakukan." Cukup banyak orang yang berkumpul di ruangan ini, dan ang paling penting adalah aku tak bisa berbicara dihadapan semua orang ini. "R-Rin.."
"Ada apa?"
"Bisa kau gantikan aku untuk melakukan pembukaan."
"Tapi, bukannya kemarin kau yang bilang ingin melakukan pembukaan."
"Eh, itu... Aku tak menduga kalau akan ada banyak orang yang akan datang, dan lagipula aku tak tau apa yang ingin aku sampaikan." Aku mencoba untuk membuat alasan, karena aku tak bisa berbicara dihadapan orang banyak dan aku takut kalau aku akan mempermalukan diriku sendiri(Social Phobia/Social anxiety disorder).
[Sedikit penjelasan: (Social anxiety disorder adalah suatu kondisi kesehatan mental kronis yang menyebabkan kecemasan irasional atau takut berada di tempat umum yang ramai. Biasanya juga memiliki ketakutan bahwa akan mempermalukan atau menghina diri sendiri jika berada di tempat umum). Tapi, dalam kasus ini tidak begitu parah, melainkan hanya sebatas takut untuk berinteraksi dihadapan orang banyak.]
"Tapi, bukannya kau..."
"Aku mohon Rin.... (mata berkaca-kaca)" Aku memohon pada Rin agar dia mau melakukannya untukku.
"Ha, baiklah. Aku akan melakukannya untukmu."
"Terima kasih Rin."
Akupun duduk di kursi raja dan Rin maju untuk memulai pembukaanya. "Baiklah semuanya, sekarang kita mulai rapat pertama hari ini." (Rin)
Semua orang diam, dan ada satu orang yang mengangkat tangannya. "Ada apa? Apa da masalah?" (Rin)
Yang mengangkat tangan adalah seorang lelaki muda yang berusia sekitar 15 tahun. "Kenapa bukan raja yang memulai pembukaanya?" Ia tiba-tiba saja menanyakan sesuatu.
"Itu..." Rin terlihat tidak bisa memjawab pertanyaan lelaki itu.
"Kenapa anak muda sepertinya bisa ada di ruangan ini?!! (terkejut)" Mengingat ini adalah ruangan tahta, dan tak mungkin lelaki muda biasa bisa masuk ke dalam ruangan ini. Ia pasti memiliki sebuah gelar tertentu yang membuatnya bisa dengan mudah masuk ke dalam ruangan ini.
"Bukankah itu yang kau katakan kemarin Hiroaki."
Aku tak tau apa yang dikatakan Emilia. Tapi seperinya, aku sudah mengatakan sesuatu terkait hal ini padanya kemarin. Tapi, aku tidak bisa ingat.
"Memilih diantara kami?"
"Iya, raja sedang memilih siapa yang pantas untuk membantu membangun kerajaan ini."
"Tapi, bukannya raja hanya akan memilih anggota keluaraga bangsawan saja untuk membantu dalam tugasnya. Dan sedangkan kami, rakyat golongan menegah kebawah hanya bisa menerima perlakuan tidak adil ini."
"Apa!!" Seisi orang yang ada di dalam ruangan ini kaget mendengar pengakuan dari anak muda ini.
"Sepertinya ia termasuk dari golongan tingkat bawah." Ia mengaku kalau ia adalah rakyat dari golongan menengah kebawah dengan jelas. Dan saat itu pula aku merasa heran. "Menurut informasi yang aku dapatkan, kerajaan ini baru saja dibangun. Tapi, kenapa anak itu berkata seolah-olah ia sudah berada cukup lama disini."
"Kau sebelumnya berasal dari kerajaan mana?" (Emilia) Emilia menduga kalau anak ini adalah orang yang baru saja pindah ke kerajaan ini.
"Aku dari kerajaan Slevic..."
"Kerajaan Slavic. Bukannya, itu adalah kerajaan pengeran yang sombong itu."
"Pangeran magnus murka karena anda, telah mengacaukan pesta pernikahanya. Dan karena itu pula, pangeran meminta lebih banyak pajak dan itu sangat menyiksa seluruh rakyat yang ada di kerajaan, dan tak sedikit pula yang memilih untuk pergi meningalkan kerajaan Slavic..."
"Jadi, kepindahanya kemari diakibatkan oleh ulahku, begitu?"
"Semua kerajaan di dunia ini memang sama saja. Jika saja aku terlahir di keluarga yang mampu, pasti aku akan membuat sebuah kerajaan dimana semua orang bisa hidup dengan bahagia."
"Jangan lancang kau bocah sialan." (???) Seluruh orang yang ada di dalam ruagan mencacimaki anak itu dan ada yang sampai ingin menghajarnya.
Ia mengatakan sesuatu yang menarik, dan ia berfikiran sama seperti yang aku pikirkan 'membuat kerajaan dimana semua orang bisa hidup bahagia'. Aku rasa aku dan anak ini akan cocok.
Akupun memberanikan diri, aku berdiri dan menatap anak itu. "Y-yang mulia." (orang-orang) Entah kenapa orang-orang yang ada di dalam ruangan ini terlihat ketakutan denganku. Apa tatapanku terlihat sangat mengintimidasi mereka.
Akupun memulai apa yang ingin akau katakan. "Bisa kau beritau siapa namamu?"
["Aku adalah Shiva." Wkk.]
"Namaku Rune."
"Rune, ya. Apa kau mau menjadi penasehatku?" Aku menawarkan ia untuk menjadi penasehatku, karena ia memiliki tujuan yang sama denganku.
"Kenapa kau menawarinya dengan tawaran seperti itu Hikari? (bisik-bisik)"
"(bisik-bisik) Karena ia memiliki tujuan yang sama denganku."
__ADS_1
"Apa yang anda katakan barusan itu serius, yang mulia?" (???)
"Tentu saja, dan juga aku akan menegaskan 4 peraturan yang harus dipatuhi di kerajaan ini."
"5 peraturan?"
"Ya. Peraturan pertama, perbudakan dilarang di kerajaan ini. Kedua, setiap orang yang melakukan kejahatan baik orang luar maupun orang dari dalam kerajaan, akan mendapatkan hukuman. Ketiga, setiap ada penyerangan dari luar, utamakan keselamatan seluruh warga dan bagi yang bisa ikut bertarung, bertarunglah untuk melindungi kerajaan ini. Keempat, dilarang melakukan ritual pemanggilan di kerajaan ini. Kelima, setiap orang yang ada di kerajaan ini patut mematuhi peraturan pertama dan kedua, dan ketiga."
"Bukannya itu cuma 4 Hikari."
"Entahlah, aku tak peduli tentang hal itu."
Semua orang yang ada di ruangan kebingungan. "Apa ada yang tidak setuju?"
"T-tidak, kami semua setuju." (???) Entah kenapa aku merasa ada yang kurang dengan peraturan yang aku buat itu.
"Oh ya, ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan. Jangan sekali-kali pernah berfikiran untuk memberontak, karena aku akan melakukan segala cara untuk membuat kerajaan ini seperti yang aku inginkan. Dan sesuatu seperti pemberontakan, (mengeluarkan pedang) akan aku atasi dengan ini."
Semua yang ada di dalam ruangan ini ketakutan. Wajar saja sih, soalnya saat ini aku sedang mengancam mereka semua. Dan aku langsung saja mulai ke inti rapat ini. "Baiklah, mulai saat ini, aku memberi nama kerajaan ini, Riel."
Entah kenapa aku mengingat sesuatu saat mengatakan Riel. "Rin, Inori, Emilia, Lia. (tersenyum) ternyata aku menamai kerajaan ini dengan nama huruf depan mereka."
"Hi-chan, ada apa denganmu? Kenapa kau tersenyum sendiri?"
"T-tidak ada apa-apa." Aku kembali duduk di kursi raja. "Rapat hari ini sudah selesai, kalian boleh bubar."
Semua orang yang ada di ruangan ini keluar. "Rune, kau bisa diam disini sebentar, ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan denganmu."
"B-baiklah."
--------- Beberapa saat kemudian --------
Seluruh orang sudah keluar dari ruangan ini, daan hanya tersisa aku, Rune. Rin dan yang lainya ikut keluar, karena aku bilang pada mereka, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Rune.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu?"
"Apa?" Meskipun dia tau kalau aku adalah seorang raja, ia sama sekali tak menunjukkan rasa hormat padaku. Tapi, aku tak begitu peduli dengan hal itu.
"Apa yang kau katakan tadi itu serius?"
"Tentu saja. Aku akan membuat kerajaan dimana semua orang bisa hidup bahagia. Aku tak main-main dengan kata-kataku itu."
Seperti yang aku duga, ia memiliki tujuan yang sama denganku. "Kalau begitu, aku akan menawarkan sekali lagi padamu. Apa kau mau menjadi penasehatku?" Sebelumnya ia tak menjawab pertanyaan itu dariku.
"Kenapa kau menawariku hal seperti itu? Lagipula aku ini masih anak-anak, dan aku ini adalah bagian dari golongan orang yang tak mampu, aku ini bukan bangsawan."
"Aku tak peduli dengan statusmu. Tapi, alasan aku memilihmu ialah... Karena kau memiliki tujuan yang sama denganku."
"Tujuan yang sama? Apa kau juga berencana untuk membuat kerajaan seperti yang aku impikan?"
"Tentu saja, kerajaan dimana semua orang bisa hidup bahagia. Itulah tujuanku mendirikan kerajaan ini. Oleh kerana itu, kau mungkin bisa membantuku karena kau dan aku memiliki tujuan yang sama."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Jika kau mau menerima tawaranmu, kau bisa tinggal disini bersama denganku."
"Disini? Maksudmu di istana ini?"
"Ya.."
"Tapi, apa orang dari gologan kecil sepertiku bisa tinggal di istana yang megah ini."
"Tentu saja bisa. Jika kau mau menjadi penasehatku, kau dan kekluargamu tidak akan dianggap sepbagai orang dari golongan bawah lagi dan juga kau bisa tinggal disini. Lagipula, di istana ini aku hanya tinggal berempat, juga ada para pekerja yang ada di istana ini. Aku akan senang jika ada yang akan tinggal disini."
"(meneteskan air mata) Terima kasih yang mulia." Rune mulai memanggilku dengan sebutan yang mulia. Tapi aku lebih senang kalau ia bersikap seperti tadi. "Aku akan menerima tawaran darimu."
"Baiklah. Oh ya, kau bisa bersikap seperti sebelumnya. Aku lebih senang jika kau tetap seperti sebelumnya." Ya, kerana aku rasa itu akan mempermudahkanku untuk berkomunikasi dengannya jika ia bersikap seperti tadi.
"Tapi yang mulia. Aku tidak bisa melakukan hal itu pada orang yang sudah menolongku."
"Kalau begitu, anggap saja aku ini sebagai kakakmu."
"Kakak.."
"Iya, mulai saat ini kau adalah bagian dari keluarga kecilku ini."
"Baiklah, kakak."
Aku cukup senang karena ia mau memanggilku kakak. Lagipula, sebenarnya aku ini ingin punya sseorang adik, apalagi seorang adik perempuan yang imut. "Kalau begitu, kau juga bisa mengajak orang tuamu tinggal disini."
"Benarkah."
"Iya. Aku rasa mereka akan senang jika bisa tinggal disini bersama denganku."
"Baiklah, kalau begitu aku akan menjemput ayah dan juga ibu untuk tinggal disini."
"Sebaiknya kau segera pergi, mereka pasti akan bahagia."
"Terima kasih, kakak." Rune pergi keluar dari ruangan ini.
Rune terlihat sangat senang. "Setelah ini aku masih ada kegiatan, ya. Sepertinya ini akan melelahkan."
__ADS_1
Bersambung