Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
24


__ADS_3

Malam hari.


Di dalam markas.


“Hiroaki, bangun, waktunya rotasi.” (Selvi)


Aku perlahan membuka mataku. “Giliranku, ya?”


“Iya. Sebaiknya kau bergegas, yang berjaga sekarang adalah ketua.”


“Ketua, baiklah.” Aku bangun dan keluar untuk melakukan rotasi.


Di luar markas.


Suhu diluar cukup dingin. “Pergantian rotasi sekarang, Hiroaki, ya.” (Itsuki)


“Hoaaammm.”


“Hiroaki, kau masih mengantuk?”


“Tidak, karena aku baru saja bangun. Aku butuh pasokan oksigen, makanya aku menguap.”


“Begitu. Kalau begitu, aku pergi dulu. Saat ada yang mencurigakan kau bisa langsung laporkan padaku.”


“Baik.” Ketua Itsuki pergi dan aku yang menggantikan rotasi malam ini sampai 4 jam mendatang.


Beberapa lama kemudian.


Di atas pohon.


“Haa. Tidak ada yang aneh, sepertinya masih belum ada yang melewati pembatas yang aku buat.” Tak ada reaksi apapun, dan setidaknya malam ini aman.


“Hoaaamm.” Tidak bisa dipungkiri kalau tidurku masih belum cukup. “Aku tidak boleh terlelap.” Aku tak tau apa yang akan terjadi jika sampai aku terlelap, bisa saja ada musuh yang datang tanpa aku sadari jika aku terlelap saat berjaga. Itu akan menyusahkan. “Haa, ini sangat menyebalkan.”


Beberapa jam setelah itu.


Gubrakkkk


Sfx : Jatuh


“A-Awwww. A-Apa yang terjadi? Apa ada musuh?”


“Kau sudah bangun?”


“K-Ketua. M-maaf, aku ketiduran saat sedang rotasi.” Ternyata aku tertidur saat sedang berjaga, betapa cerobohnya diriku.


“Hiroaki, kau bisa kembali kemarkas.”


“T-Tapi, ini masih belum waktunya pergantian rotasi.”


“Malam ini biar aku yang melakukan rotasi, kau dan yang lainnya istirahat saja.”


“Tapi ketua...”


“Aku tak ingin mendengar apapun lagi, kau bisa kembali kemarkas.”


“Baiklah.” Menuruti apa yang dikatakan olehnya aku kembali.


Markas.


Entah kenapa aku merasa bersalah karena sudah ketiduran saat sedang berjaga. “Ha.”


“Hiroaki, kau sudah kembali? Bukannya ini bukan waktunya pergantian rotasi?” (Ersen)


“Ketua menyuruhku untuk kembali, dia bilang mala mini dia yang akan melakukan rotasi.”


“Begitu, ya.”


“Sepertinya penyakit ketua mulai kambuh.” (Iras)


“Penyakit? Penyakit apa?” Aku sama sekali tidak menyangka kalau orang seperti ketua mempunyai penyakit.


“Tidak usah kau anggap serius ucapannya, dia hanya bergurau.” (Ersen)


“Hahaha.”


“Mungkin ketua sedang bosan.”


“Bosan?”


“Itu sering terjadi, setidaknya selama kami bertemu dan memutuskan untuk membuat peraturan tentang rotasi ini, dia sudah melakukan hal seperti ini cukup sering. Membiarkan anggota istirahat sedangkan dirinya yang menjaga semalaman.”


“Tunggu, itu berarti ketua sama sekali tidak istirahat?”


“Ya, begitulah. Aku tak tau apa yang sudah pernah dia alami didunianya tapi sepertinya ia sudah terbiasa dengan hal semacam ini.”


“Begitu.” Jika memang begitu, itu berarti aku tak perlu mencemaskannya. Lagipula ketua adalah orang yang lebih kuat dariku, tentu saja dalam banyak hal. “Oh ya, kalian masih belum tidur?”


“Kami sedang melakukan rapat.” (Ersen)


“Rapat?”


“Iya, apa kau mau ikut bergabung?”


“Rapat apa?”


“Menebak yang akan menjadi anggota anggota selanjutnya, laki-laki atau perempuan.”


“Apa untungnya melakukan itu?”


“Tidak ada, hanya mengisi waktu luang.” (Iras)


“Begitu. Kalau begitu aku tidur dulu.” Itu hanya membuang-buang waktu, aku putuskan untuk tidur.


“Haa, kira-kira apa yang sedang dibahas para gadis itu, ya.” (Ersen) Kamar laki-laki dan perempuan terpisah, dan masing-masing kamar dilengkapi oleh penyadap. Jadi, apapun yang di bicarakan tidak akan bisa terdengar dari luar.


“Seorang ahli sihir tertarik pada gadis? Sangat lucu, aku kira ahli sihir hanya tertarik dengan sihir saja.”


“Matamu. Aku ini laki-laki sudah wajar memiliki ketertarikan pada lawan jenis.”


“Hahaha.”


“Kalian, bisa kecilkan suara kalian saat berbicara. Aku kesulitan untuk tidur.”


“Ahhh. Hiroaki, apa kau memiliki pacar atau semacamnya?”


“Kenapa tiba-tiba membahas hal itu?”


“Jika kau punya, sebaiknya kau pamerkan pada ahli sihir yang jomlo ini. Dia’kan seorang ahli sihir sudah pasti ia seorang jomlo, ia mengabdikan hidupnya hanya untuk membuat dan mengembangkan sihir. Orang sepertinya mana mungkin memiliki pacar atau semacamnya.”

__ADS_1


“Kau, sialan…”


“Hahahaha. Tebakanku benar. Dasar ahli sihir jomblo.”


“Kusumbat mulutmu baru tau rasa.”


“Haa? Kau berani!”


“Haa, sudah kuduga akan jadi seperti ini.” Mereka mulai ribut. “Selamat tidur.” Aku memilih untuk tidur dan mengabaikan apa yang mereka lakukan, karena itu hanya akan membuatku lelah.


Pagi hari.


Aku perlahan membuka mataku. “Njirrr...” Kamar ini menjadi berantakan, dan itu pasti ulah Ersen dan Iras yang ribut kemarin. “Sudahlah..” Yang merusak harus membereskan. Aku keluar dari kamar.


Beberapa saat kemudian.


Di luar markas.


“Ahh, Hiroaki, kau sudah bangun.”


“K-Ketua, siapa mereka.” Ketua Itsuki membawa orang lain.


“Ahh, mereka anggota baru kita.”


“A-Anggota baru.” Baru kemarin Ersen dan Iras membahasnya dan pagi ini percakapan mereka benar-benar terjadi. Tapi… “Mereka, terluka.”


“Ahh. Aku menemukan mereka sedang di hajar habis-habisan oleh kelompok lain. Kemarin mereka ber-4 kewalahan melawan kelompok yang beranggotakan 10 orang. Dan karena aku berada di tempat kejadian aku putuskan untuk memberikan bantuan pada mereka.”


“B-Begitu.” Meskipun begitu, 1 bantuan tidak akan berpengaruh apa-apa. Tapi, jika itu ketua Itsuki mungkin beda cerita.


“Kalian masuklah kedalam, didalam ada gadis yang bisa menyembuhkan kalian.”


“Terimakasih.” Mereka masuk kedalam markas.


“Ketua, apa yang sebenarnya terjadi?” Aku tak begitu yakin dengan apa yang dikatakan oleh ketua, ia terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.


“Hiroaki, kadang lebih baik kau tidak mengetahui sesuatu karena itu mungkin bisa berakibat buruk.”


“Hmmm. Ada benarnya, tapi aku penasaran.”


“Haa, kau itu. Ikut denganku, aku akan menceritakannya.”


“Baik.”


Beberapa lama setelah itu.


“Begitu, jadi mereka anggota yang tersisa.”


“Ya, seperti itulah.” Dari cerita yang aku dengar dari ketua, tentang penyerangan anggota baru itu memang benar adanya. Tapi tentang melawan kelompok beranggotakan 10 orang dengan 4 orang ketua berbohong. Lawannya memang kelompok berjumlah 10 orang, tapi anggota kelompok baru itu juga sebelumnya memiliki kelompok yang beranggotakan 10 orang. Jadi bisa dikatakan pertarungan yang seimbang.


Tetapi, mereka mengalami kekalahan dan harus kehilangan 6 orang anggota termasuk ketua mereka, dan saat ini mereka tidak berada dikelompok manapun. Dan karena itu ketua yang tanpa sengaja ikut kedalam pertempuran itu, mengambil anggota yang tersisa untuk dijadikan sebagai anggota kelompok. “Ha, tanpa sengaja, ya.” Setidaknya itulah yang dikatakan oleh ketua.


“Hahaha.”


“Tapi, aku sama sekali tidak merasakan ada yang menembus pembatas yang aku buat.”


“Ahh, tentang itu, pertempuran itu terjadi di luar pembatas yang kau buat. Setidaknya jauhnya sekitar 100km dari pembatas yang kau buat.”


“Begitu, pantas saja.” Jika jaraknya sejauh itu wajar jika aku tidak menyadarinya, tapi..” Ketua, bagaimana kau menyadarinya?” Jika dihitung maka jaraknya sekita 160km dari sini, dan ketua bisa menyadari hal itu.


“Ahahaha, aku sedikit berjalan-jalan kemarin, dan tak sengaja bertemu dengan mereka.”


“Hahaha. Sudahlah, aku lelah.. Aku akan istirahat dulu. Malam ini pergantian rotasi akan di atur ulang, katakan itu pada Ersen. Biar dia yang mengatur jadwalnya.”


“Baik. Eh, ketua kau mau kemana?”


“Istirahat, istirahat dimarkas tidak begitu nyaman.”


“Begitu.”


“Kalau begitu, sampai jumpa nanti.” Ketua Itsuki pergi.


“Misterius.” Dan ada 1 hal yang aku bingung. “Bagaimana bisa di melewati pembatas yang aku buat.” Meskipun termasuk sihir tingkat rendah, tapi jika ada pergerakan pada pembatas itu setidaknya aku akan menyadarinya tapi sebaliknya. Aku malah tidak menyadarinya, baik saat ketua keluar dari pembatas atapun saat kembali sambil membawa anggota baru. “Apa dia mematahkan sihir pembatasku?” Jika melakukan hal itu, setidaknya aku akan menyadari jika ada kerusakan pada pembatas yang aku buat tapi aku tak merasakan apapun.


“Itsuki, siapa sebenarnya dia.” Kekuatan yang lebih besar dariku, kemampuan yang lebih dariku, pengalaman yang lebih dariku, dan bisa disimpulkan kalau dalam segala hal aku kalah darinya. Bisa dibilang, jika dia menjadi lawanku jika aku tidak melawannya dengan serius sudah dipastikan kalau aku akan kalah, tapi tidak ada kemungkinan meskipun aku serius aku akan menang melawannya. “Menyeramkan.” Membayangkan dia menjadi lawanku saja sudah membuatku merinding. Saat ini aku merasa bersyukur bisa menjadi satu kelompok dengannya.


Beberapa lama kemudian.


Di tepi sungai.


Aku tengah berbaring di tepi sungai. “Haa, tempat ini sangat tenang.” Sebuah tempat yang cocok untukku beristirahat. Setidaknya itulah yang aku pikirkan.


“Ahhh. Hiroaki, kau ada disini.”


“K-Ketua.” Lagi-lagi aku bertemu dengan ketua Itsuki. “Huh? Apa itu?” Ia sedang memakan sesuatu.


“Ahh, ini.” Dia menghampiriku. “Ambil ini dan bagikan pada yang lain.”


“Huh? Apel?” Tapi bentuknya lebih besar dari yang biasanya. Ketua memberiku cukup banyak.


“Bagikan dengan yang lain, terutama anggota baru itu. Ah, jika kau mau kau bisa makan buah itu juga.”


“B-Begitu.”


“Kalau begitu, sampai jumpa lagi.”


“Ketua, kau mau pergi kemana lagi?”


“Hmm. Anggap saja aku sedang berjalan-jalan mencari sesuatu yang bisa dimakan.”


“B-Begitu.”


“Jangan lupa bagikan itu pada yang lain, ya.”


“Baik.” Ketua Itsuki pergi dan aku kembali untuk membagikan buah ini.


Di markas.


“Dimana anggota barunya?”


“Mereka sedang beristirahat didalam, aku yang menyuruhnya.” (Karen)


“Begitu.”


“Wah, buah apa itu?” (Selvi)


“Ahh, ketua menyuruhku untuk membagikan ini pada kalian, terutama pada anggota baru itu.”


“Begitu, ya.”

__ADS_1


“Hmm, apa yang sedang kalian bahas?”


“Tentang aggota baru itu.” (Ersen)


“Ada apa? Apa ada yang aneh dengan mereka?”


“Saat perkenalan tadi, mereka seperti menutupi sesuatu.”


“Menutupi sesuatu? Apa tentang kemampuan mereka?”


“Tidak, bukan itu. Tapi kami bertanya kenapa mereka bisa bertemu dengan ketua.”


“Mereka bilang, dikelompok mereka sebelumnya mereka melakukan pertarungan kelompok dan mereka kalah. Lalu mereka bertemu dengan ketua, dan ketua mengajak mereka bergabung. Bukannya itu sedikit aneh?”


Setidaknya apa yang dikatakan ketua dan penjelasan dari Ersen cukup mirip. Tapi... “Memangnya apa yang aneh dari itu?”


“Kau tau tentang penyusup yang menghancurkan kelompok dari dalam.”


“Tidak.” Aku tidak tau, bahkan ini pertama kali aku mendengarnya.


“Kelompok dengan anggota lengkap, membuat skenario seakan terjadi pertarungan antar kelompok. Dan berpura-pura kalah, dan setelah itu mencari kelompok lain dengan anggota yang sedikit setelah itu melenyapkannya.”


“Melenyapkannya.”


“Ya. Kau tidak lupa’kan kalau tujuan permainan ini adalah untuk membunuh dan bertahan sampai akhir.”


“Ya.”


“Kalau begitu, baguslah.”


“Tapi, kenapa ketua mau mengambil resiko sebesar itu? Jika dia sudah menyadarinya bukannya lebih baik langsung habisi saja mereka.”


“Entahlah, ketua itu adalah orang yang misterius. Tidak ada yang tau jalan pikirannya.”


“Misterius, ya.” Ersen sampai bilang seperti itu, berarti bukan hanya aku yang menganggap ketua misterius kurasa yang lain juga.


Beberapa hari setelah itu.


Di dekat sungai.


“Ha, hari ini sangat damai.” Tak ada serangan atau apapun, hari ini damai seperti hari-hari sebelumnya dan itu membuatku merasa sangat senang. Jadwal rotasi mengalami perubahan karena kedatangan anggota baru. Ren, Lui, Think, dan Miko. Untuk kekuatan mereka, tak ada yang istimewa mereka sangat berguna di dalam pertempuran kelompok. Masing-masing dari mereka memiliki kekuatan daya penghancur yang kuat.


“Hiroaki.”


“Ahh, ketua, ada apa?” Tiba-tiba saja ketua menghampiriku.


“Panggil Ersen, Iras, Karen, dan Selvi. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mereka. Suruh mereka untuk berkumpul disini.”


“Huh? Baiklah.” Pertemuan di luar ruangan, aku rasa ini tidak buruk juga. Aku kembali ke markas.


Markas.


Disini ada Ersen, Iras, Karen, dan Selvi sedang membicarakan sesuatu. “Hiroaki, ada apa?” (Karen)


“Ketua menyuruhku untuk memanggil kalian, katanya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan.”


(!!!)


Tiba-tiba saja raut wajah mereka berubah. “Hiroaki, apa yang kau katakan barusan benar?”


“Eh? Y-Ya... Ehh? Ada apa ini?” Ini membuatku sangat bingung. “Apa yang terjadi?”


“Ahhh, tidak ada apa-apa. Ayo, pergi menuju ke tempat ketua.”


“Ren, Lui, Think, dan Miko. Bagaimana dengan mereka?”


“Mereka sedang beristirahat didalam, melakukan rotasi pertama kalinya bagi mereka mungkin sedikit sulit.” (Selvi)


“Begitu.”


“Hiroaki, ayo pergi. Antarkan kami.”


“Baiklah.” Aku pergi untuk mengantarkan mereka ketempat ketua berada.


Beberapa lama kemudian.


“Huh? Dimana ketua?” Aku sudah sampai di tempat ketua, tapi aku sama sekali tidak melihatnya.


“Hiroaki, tutup telingamu.”


“Huh? Kena...” Tiba-tiba saja aku mendengar suara yang sangat-sangat bising, dan suara itu seakan ingin memecahkan gendang telingaku.


Sfx : Ledakan.


“A-Apa yang terjadi?” Tepat saat suara bising itu berhenti, terjadi sebuah ledakan besar. “M-Markas kita…” Asal ledakan itu tepat dari markas kami.


“Hiroaki, berhenti.” (Iras) Saat aku ingin melihat apa yang terjadi, Iras menghentikanku.


“Kenapa? Ren, Lui, Think, dan Miko. Mereka masih ada di markas.”


“Haa, bagaimana mengatakannya, ya.”


“Kadang lebih baik kau tidak mengetahui sesuatu, karena bisa saja jika kau mengetahuinya kau akan terluka. Seperti itu.”


“K-Ketua.” Ketua Itsuki datang. “Markas kita.”


“Hiroaki, tenanglah. Itu hanyalah sebuah tempat, kita bisa mencari penggantinya nanti. Yang saat ini kita harus lakukan..”


“A-Apa ini?” Aku merasakan aliran sihir kuat yang tengan mengelilingi tempat ini.


“Kita sudah terkepung, ya. Sangat merepotkan.” (Ersen)


“Terkepung?”


“Kau ingat apa yang pernah kita bicarakan beberapa hari lalu. Tentang penyusupan di kelompok kecil.”


“T-Tunggu, jangan-jangan…”


“Ya, mereka adalah penyusup itu.” (Itsuki)


“T-tunggu ketua, jika kau sudah tau kenapa kau masih nekat membawa mereka?!”


“Hmm, bagaimana aku menjelaskannya, ya. Ahh. Anggap saja ini jebakan untuk jebakan.”


“Aku tidak mengerti.”


“Tidak masalah jika kau tidak mengerti, tapi asalkan kau ikut bertempur saja itu sudah cukup. Semuanya, siapkan senjata kalian.”


“Baik.” 10 orang termasuk Ren, Lui, Think, dan Miko. Mereka semua mengepung kami.

__ADS_1


“Baiklah. Kita mulai pestanya.” (Itsuki)


__ADS_2