
Pagi hari di taman.
“Hiroaki, hari ini kau latihan lagi.” Emi menghampiriku.
“Emi, ya. Ya, seperti yang kau lihat.” Yang bisa aku lakukan hanyalah latihan ringan seperti mengayunkan pedang setiap paginya.
“Kau sudah melakukan ini setiap hari, apa yang sebenarnya akan terjadi?”
“Entahlah. Tapi waktu berjalan lebih cepat dari apa yang aku bayangkan.” Ya, 3 hari mendatang akan menjadi waktu yang tepat 2 bulan setelah dewa Sha memberitahuku. Tapi, sampai sekarang dewa Sha tidak memberitahu apapun yang akan terjadi padaku seakan ia mencoba untuk menyembunyikan sesuatu.
“Hiroaki, apa kau akan pergi lagi?”
“Ya, sepertinya begitu.”
“Apa kau akan pergi lama?”
“Hmm. Entahlah, aku juga tidak tau.”
“Hiroaki, perasaanku tidak enak jika kau pergi, bisa kau tidak pergi untuk sementara waktu.”
“Meskipun aku menginginkannya, tapi aku tetap harus pergi. Lagipula dewa sendiri yang menyuruhku untuk bersiap-siap. Pasti ada hal besar yang akan terjadi.”
“Tapi, aku merasa sangat khawatir jika kau pergi.”
“Tenanglah, kau tidak seperti biasanya. Aku akan baik-baik saja.”
“Sungguh?”
“Iya. Lagipula, aku sudah sering kali bepergian jauh. Kau tak perlu khawatir.”
“Tapi…”
Aku mengelus kepala Emi. “Tenanglah, aku pasti akan baik-baik saja. Percaya padaku.”
“B-Baiklah.”
Aku tak tau apa yang akan terjadi padaku setelah ini, tapi karena aku sudah sering mengalami hal dan kejadian yang tak terduga aku rasa aku tidak akan terkejut jika sesuatu terjadi padaku.
---------------
Sementara itu.
Di rapat antar dewa.
“Dewa Sha, bagaimana dengan persiapannya?” (Dewa Ray)
“Persiapannya sudah selesai.”
“Dewa Sha, kapan itu siap untuk digunakan.” (Dewa Kuu)
“Kapanpun, sekarang juga sudah bisa.”
“Dewa Yu, bagaimana?”
“Perang suci ini akan dimulai sesuai rencana.” (Dewa Yu)
“Perang suci, ya. Dewa Yu, apa kau tidak memiliki nama yang lebih cocok dari itu. Dewa Ken, apa kau memiliki nama yang cocok?” (Dewa Ra)
“Perang antar pemeran utama.”
“Ahh, maaf dewa Ken, aku lupa kalau kau memiliki kebiasaan buruk dalam menamai sesuatu.”
“Hey, tidak sopan.”
“Para dewa, aku kan sudah pernah bilang sebelumnya kalau namanya adalah Last Battle (pertempuran terakhir).” (dewa Sha)
“Itu hanya sebuah julukan, dewa Sha kau harus memikirkannya dengan lebih baik lagi. Dewa Kei, apa kau memiliki saran.”
__ADS_1
“Hmmm, dunia dimana waktu tidak berguna. Bagaimana dengan...”
“Ahh. Maaf dewa Kei, sepertinya nama yang akan kau ajukan tidak masuk dalam kriteria.”
“Cih. Jika seperti itu, kenapa kau menanyakannya padaku. Ngajak gelud…”
“Hahahaha.”
“Dewa Ra, sudahlah. Kita ribut hanya karena masalah kecil seperti ini.” (dewa Rai)
“Dewa Rai, apa kau memiliki saran? Nama yang bagus?”
“Aku tidak punya.”
“Hee, bukannya kau hebat dalam menamai sesuatu. Kau pasti sudah memiliki nama yang keren saat ini, ayo katakan saja.”
“Haa.. baiklah, bagaimana kalau Pertempuran terakhir saja.”
“Wah, itu nama yang bagus.”
“Njirrr…” (dewa Sha)
“Baiklah, apa para dewa yang lain setuju.”
“Hmm. Pertempuran terakhir, sepertinya tidak buruk juga.” (dewa Kuu)
“Itu bagus, lagipula itu juga pertarungan terakhir.” (Dewa Kei)
“Dewa yang lain setuju, dewa Sha bagaimana denganmu.”
“Terserah.”
“Nah. Baiklah, kalau begitu sudah di putuskan. Pertarungan terakhir (Last Battle), itu namanya.” Dan setelah perdebatan panjang, akhinya Last battle dipilih sebagai nama dunia itu. Dunia dimana pertarungan terakhir akan dimulai, pertarungan dimana pemenangnya akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga.
--------------
Tanpa aku sadari, besok adalah harinya. Hari dimana aku akan pergi. “Hiroaki, kau masih latihan?”
“Iya.”
“Hiroaki, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”
“Huh? Ada apa Emi? Tidak biasanya.”
“Sini duduk dulu.”
“Haa, baik.” Aku berhenti mengayunkan pedangku dan duduk disebelah Emilia. “Ada apa?” Emilia mendekat ke arahku. “Jangan dekat-dekat denganku, aku baru selesai latihan. Keringatku banyak.”
“Tidak apa.”
“Haa, sudahlah. Lalu, apa yang ingin kau bicarakan?”
“Aku ingin kau menjawab dengan jujur.”
“Eh? Kenapa?”
“Sudahlah, berjanji dulu.”
“Haa, baik-baik. Aku janji.”
“Baiklah, kalau begitu. Hiroaki, kau sebenarnya akan pergi kemana?”
“Entahlah, tapi aku hanya disuruh untuk bersiap-siap oleh dewa Sha. Tidak ada lagi selain itu.”
“Apa dia memberitahumu kau akan pergi kemana?”
“Tidak.”
__ADS_1
“Apa tempatnya berbahaya?”
“Aku juga tidak tau.”
“Apa kau akan pergi lama?”
“Haa, sepertinya aku sudah pernah bilang tentang hal itu.”
“Sudah, jawab saja.”
“Aku juga tidak tau dengan hal itu.”
“Apa kau akan kembali dengan selamat?”
“Iya.” Setidaknya aku bisa dengan pasti menjawab hal ini.
“Begitu.”
“Apa hanya itu saja yang ingin kau tanyakan?”
“Iya, hanya itu.”
Kiss
Sebuah ciuman dia berikan padaku. “Terimakasih sudah menjawab pertanyaanku.” Perlahan Emi mulai pergi.
Aku hanya bisa tersenyum melihat apa yang dia lakukan barusan. Aku tak tau harus berkata apa lagi. “Ha, ini sangat menyebalkan.”
Dan waktunyapun tiba.
Pagi hari di ruang makan.
Tepat saat aku sedang makan bersama dengan yang lainnya. “H-Hi-chan, tubuhmu.”
Saat aku melihat ke arah tubuhku, tubuhku perlahan mulai menghilang. “P-papa!! Papa!! Apa yang terjadi dengan papa!!”
“Inori, tenanglah. Papa akan baik-baik saja.” Aku melihat ke arah mereka. “Rune, Lia. Tolong jaga mereka saat aku pergi, jangan sampai mereka bekerja hingga lupa waktu.”
“Tenang saja kak, serahkan padaku.”
“Aku senang mendengarnya. Lia, jika ada orang yang menurutmu mengancam kerajaan, kau bisa mengurusnya. Tidak, tapi kau harus mengurusnya, jangan sampai ada sesuatu yang bisa membahayakan keluargaku.”
“Baik, Hiroaki-sama. Aku akan melakukannnya.”
“Sayang, berhentilah bicara seolah kita tidak akan bertemu lagi.”
“(tersenyum) Maaf. Haa, jaga diri kalian baik-baik selama aku pergi.” Entah kenapa aku merasa kalau ini akan menjadi perjalanan panjang pertamaku, dan untuk itu. “Semuanya, aku berangkat.”
---------------
Sebuah dimensi ruang dan waktu.
“Huh? Tidak biasanya.” Setiap aku dipanggil aku pasti selalu berakhir di tempat itu, tapi untuk saat ini aku malah berada di dimensi ruang dan waktu. “Ughhh. A-apa ini?” Sebuah suara yang tak asing mulai terdengar di kepalaku. “S-Suara ini, dewa Sha.”
“Bertahan hiduplah. Dan gunakan seluruh kemampuan kalian untuk menang, untuk 10 dari 3 miliar pejuang yang berhasil bertahan akan berikan kesempatan untuk dikabulkan 1 keinginannya, apapun itu. Oleh karena itu, gunakanlah seluruh kekuatan yang kalian miliki dan menangkan pertarungan ini. Para karakter utama dari masing-masing dunia, berjualanglah dan menang, buat keinginan terbesarmu menjadi kenyataan. Bertarunglah, 10 tahun, 100 tahun, atau bahkan 1000 tahun. Sampai ada 10 pemenang maka pertempuran ini akan berakhir. Dan selamat datang...” Aku sudah sampai, dan ini cukup mengejutkan. “Di Last Battle... Dan selamat berjuang para pahlawan (MC) dari dunia yang berbeda.”
Swutttt
“G-Gawa…”
Duarrrrr
“Gwahhhhh..” Aku masih sempat menghindarinya, tapi serangannya sangat kuat.
“Sepertinya aku gagal membunuh yang satu ini.”
“S-Sial.” Pertarungan ini, adalah sebuah permainan. Dimana hanya ada 10 pemenang dari 3 miliar pemain dan 1 hal yang pasti. “Ini, sangat menyebalkan.” Menyuruhku untuk menghunuskan pedang, dan membuatku melakukan hal seperti ini. “Dasar.” Tapi, jauh di dalam hatiku aku merasa sangat senang. Dimana aku bisa serius menggunakan kekuatan yang aku miliki, tanpa mempedulikan apa yang ada di sekitarku. Gejolak ini, tidak tertahankan. “(tersenyum) Hahaha. Baiklah, aku akan ikuti permainan ini. Shirame…”
__ADS_1
Last Battle, pertarungan terakhir sudah dimulai dan hanya akan ada 10 orang yang bisa bertahan dan menang. Bertarung sendiri (solo) atau membuat sebuah kelompok (party). Kedua pilihan itu adalah pilihan yang harus dipilih oleh masing-masing pemain. Dan ayo kita mulai, permainan sebenarnya.