Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
41


__ADS_3

Beberapa hari setelah itu.


Pagi hari yang cukup cerah.


“Ha, akhirnya tubuhku pulih.” Akibat perbuatan dari dewa Sha, hanya berselang beberapa hari setelah dewa Sha menemui dan mengobatiku, tubuhku pulih tapi masih belum pulih seutuhnya. “Tapi, dewa Sha mau pergi kemana, ya?” Saat aku bertanya ingin kemana sebelum dewa Sha pergi, ia bilang kalau ia ingin mengunjungi sebuah tempat. “Haa, sudahlah.”


Aku bangun dari tempat tidurku. “Aku lapar.” Aku pergi menuju ruang makan.


----------------------


Sebuah tempat.


“Disini tidak ada yang berubah, ya.” (Ai) Sebuah tempat yang dikunjungi oleh dewa Sha adalah tempat tinggal pertama dewa Sha dan Ai didunia ini.


“Tempat ini hampir tidak pernah tersentuh oleh siapapun, makanya tidak ada perubahan sedikitpun.”


“Meskipun begitu, tempat ini adalah tempat tinggal pertamaku didunia ini. Aku cukup senang karena tidak ada yang berubah.”


“Syukurlah kalau begitu.”


“Dan lagi…” Ai keluar dari gua, dan dewa Sha mengikutinya. “Bunga-bunga itu.”


“Bunga yang kau beri nama, dan bunga pertama yang kau suka didunia ini.”


“Ya. Aku tak tau kalau bunga-bunga itu bisa tumbuh subur disini.”


“Itu semua berkat dia.” Dewa Sha menunjuk ke arah Ken. “Selama beberapa tahun terakhir, dia yang sudah menjaga tempat ini.”


“Kalau begitu, terimakasih karena sudah menjaga tempat ini.”


“Ah… Tidak masalah, dewa yang sudah memberiku tugas untuk menjaga tempat ini.”


“Meskipun begitu, terimakasih. Karena sudah menjaga tempat yang sangat berharga bagiku.”


-----------------------


Pagi hari.


Beberapa hari telah berlalu, dan tubuhku sudah kembali seperti semula.


Ruang makan.


“Lia masih belum kembali?”


“Belum, sepertinya dia ingin tinggal selama beberapa hari. Mungkin karena lama tidak menemui orang tuanya.” (Sia)


“Hmm, begitu.” Aku lanjut makan. “Oh ya, Rin dan Emilia, kemana mereka. Tidak biasanya mereka tidak sarapan bersama, apa ada yang terjadi?”


“Mungkin mereka kelelahan, kemarin banyak sekali laporan daeri desa-desa kecil di sekitaran kerajaan yang harus mereka kerjakan. Dan mereka terus bekerja sepanjang malam.”


“Begitu. Ha, mereka berdua kerja lembur.”


“Ada apa?”


“Tidak ada apa-apa. Oh ya, bagaimana dengan Inori?”


“Dia sudah berangkat ke sekolah barusan.”


“Ahh, begitu.” Aku kembali makan.


Pagi hari

__ADS_1


Groaaarrrr.


Saat ini aku tengah berada di atas punggung naga Shura. “Shura, apa ada yang aneh di area ini?”


Groooaaarrrr.


“Ha… Seharusnya aku tak bertanya padamu. Aku sama sekali tidak mengerti.” Aku sedang berjalan-jalan sambil mengawasi sekitaran kerajaan, aku ingin membantu meringankan pekerjaan mereka dengan turun langsung kelapangan. Tapi… “Ha… Tidak ada yang terjadi.” Aku sudah berkeliling cukup lama, tapi aku belum menemukan kejadian yang aneh.


“Tunggu sebentar…” Terlintas sesuatu dipikiranku. “Shura…”


Grooaarrrr


Perlahan naga Shura turun.


Hutan.


“Sepertinya disini bagus.” Aku turun didekat hutan agar Shura tidak ketahuan oleh penduduk. “Shura, tunggu disini. Aku akan segera kembali.”


Groaarrrr


Aku keluar dari hutan, dan pergi menuju ke pemukiman yang dekat dari tempatku mendarat.


“Y-Yang mulia…” (???)


“Ahhh… Aku lupa menyamar.” Seorang penduduk melihatku.


“Yang mulia, apa yang anda lakukan disini? Dan tanpa satupun pengawal.” (???)


“Ah… Eee… Aku hanya ingin sedikit berjalan-jalan.”


“Tapi, kenapa datang kedesa ini?”


“Tidak ada hal yang khusus, aku dengar ditempat ini ada sedikit masalah. Jadi, aku ingin langsung memeriksanya.”


“Eh?” Aku sama sekali tidak tau. “Ah… Iya, kemarin aku memacanya. Dan karena penasaran, aku putuskan untuk datang ketempat ini.”


“Kalau seperti itu, saya akan mengantarkan anda ke tempat kepala desa. Anda pasti ingin membicarakan sesuatu dengannya.”


“Y-Ya. Baiklah.” Aku diantarkan olehnya menuju ke tempat kepala desa yang ada didesa ini.


Beberapa menit kemudian.


“Jadi, anda adalah kepala desa disini.”


“Paduka raja, saya tidak menyangka kalau anda akan datang ke desa kecil ini.”


“Tidak perlu dipikirkan. Tapi, sepertinya seluruh penduduk yang ada didesa ini terlihat sangat kebingungan saat aku datang ketempat ini. Apa ada masalah?”


“Mungkin mereka sedikit terkejut, karena paduka raja terlihat lebih muda dari apa yang digosipkan.”


“B-Begitu.” Jika seperti itu alasanya, sudah wajar. “Oh ya, apa yang sebenarnya terjadi pada desa ini?”


“Eh? Seharusnya anda sudah melihat apa yang ditulis dikertas laporan yang sudah kami kirim.”


“Wahh… Ini akibat aku berbohong. Apa yang harus aku katakan.”


“Paduka, apa ada malasah?”


“Ah, tidak. Ah, begini. Aku ingin mendengar langsung darimu, meskipun kau sudah menulisnya tapi masih ada beberapa point yang belum aku pahami. Oleh karena itu…”


“Begitu ternyata. Baiklah, saya akan menjelaskannya.”

__ADS_1


Setelah cukup lama menjelaskan


“Seperti itulah keadaan desa ini saat ini paduka. Oleh karena itu, jika berkenan maukah paduka membantu desa kecil ini.”


“Hmm.. Begitu.” Permasalahannya cukup rumit. Desa ini sama sekali kekurangan SDM, dan juga mereka kesulitan untuk mencari bahan baku karena sekarang pergerakan monster semakin aktif.


Jika hanya mengurus monster, aku bisa melakukannya. Tapi, untuk urusan SDM itu bukan bidangku dan sepertinya aku tidak bisa melakukan apapun untuk urusan yang satu ini. “Ha… Sepertinya pekerjaan kerajaan tidak cocok denganku.”


“Paduka, anda sudah ingin kembali.”


“Aku ingin pergi ketempat lain lagi. Dan untuk masalah didesamu, mungkin aku akan melakukan sesuatu.”


“Paduka, terima kasih.”


Aku pergi dari desa ini.


“Haaa. Shura, apa pergerakan monster ada-… Lupakan saja.” Meskipun dia paham dengan apa yang aku katakan, tapi aku tidak paham dengan apa yang dia katakan, dan itu adalah hal yang percuma. Mengatasi monster, dan masalah SDM. Setelah dipikir-pikir, sebagai seorang raja aku sama sekali tidak melakukan apapun yang seharusnya aku lakukan sebagai seorang raja. “Sepertinya aku harus banyak belajar lagi.”


_________________


“Sepertinya, sudah hampir waktunya. Bagaimana Sha, apa dia sudah siap?”


“Ya, aku pastikan dia sudah siap.”


“Kalau begitu, katakan juga syarat yang aku berikan padanya.”


“Baik-baik.”


__________________


Malam hari.


Pada akhirnya, aku hanya bisa membasmi monster yang ada didekat desa itu dan tidak bisa menyelesaikan masalah SDM yang mereka alami. “Papa, ada apa?”


“Tidak ada apa-apa.” Ini waktunya makan malam, dan semua berkumpul disini (kecuali Lia). “Rune, kau akan pergi besok, ya.”


“Iya.” Besok Rune akan pergi ke kerajaan Slvy seperti yang sudah direncanakan sebelumnya oleh Ai. Dia kesana untuk belajar hal baru sekaligus untuk mencari pasangan.


“Jika mau, kau bisa menggunakan Shura untuk mempersingkat perjalananmu.”


“Eh, aku? Apa boleh?”


“Tentu saja, tapi… Jika kau sendiri mungkin akan berbahaya. Mengingat sepertinya Shura tidak menyukai orang lain menaikinya, tapi jika bersama dengan orang yang dikenalnya mungkin bisa.”


“Kalau begitu, aku yang akan menemaninya.” (Emilia)


“Emilia, kenapa?”


“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin menemui orang tuaku.”


“Kalau begitu-…”


“Aku juga ingin ikut.” (Inori)


“Inori, bagaimana dengan sekolahmu?”


“Karena ada pertemuan antar guru dari kerajaan lain, sekolah besok diliburkan.”


“Pertemuan? Mungkin pertemuan itu.” (Rin)


Sepertinya Rin mengetahui sesuatu, tapi sebaiknya aku biarkan. “Kalau begitu, Emilia tolong jaga mereka berdua.”

__ADS_1


“Ya, serahkan saja padaku.”


__ADS_2