
Beberapa hari berlalu, pagi hari.
Diruang makan.
“Lia, dimana Hiroaki?”
“Nona Emilia, Hiroaki-sama sedang ada ditaman..”
“Begitu...” Mendengar hal itu, mereka menjadi murung.
Sementara itu.
Di taman.
Aku sedang mencoba untuk menikmati ketenangan disini. “Haa, ini sangat, menyebalkan.” Aku bahkan tidak bisa tidur nyeyak akibat ingatan itu, ingatan itu seakan terus menghantuiku. “Kapan ini akan berakhir.” Aku rasa keadaan mentalku saat ini sudah semakin memburuk, jika dibiarkan mungkin akan berbahaya. “Aku harus mencari cara untuk mengatasinya.” Tapi, sampai saat ini aku tak menemukan apapun.
----------------
“Dewa Sha, bukannya dia sedikit tertekan?”
“Biarkan saja, ini termasuk ujian yang harus dilewatinya.”
“Ujian, ya.”
“Aku sudah berbaik hati dengan tidak membiarkan keluarganya terluka, tapi aku hanya sedikit menanam ingatan itu padanya. Sisanya tergantung padanya, jika ia bisa bertahan dan terbiasa maka mentalnya akan hancur, tapi sebaliknya jika dia tidak bisa bertahan maka kesadarannya akan hilang.”
“Tidak ada pilihan lain selain 2 hal itu?”
“Dewa Yu, aku tidak pernah memberikan pilihan padanya tapi dia sendiri yang harus memilih pilihan yang akan dia pilih itu. Baik dan buruknya pilihan itu, setidaknya dia sudah memilihnya.”
“Bukannya ujian kali ini terlalu berat untuknya?”
“Aku dulu pernah kehilangan Ai selama berates-ratus tahun. Aku sudah membiarkannya bersama dengan keluarganya yang lengkap, apa aku masih kurang baik? Lagipula dewa Yu, kau terlalu lembut seperti biasa. Aku bukannya tidak menyukai hal itu, tapi setidaknya pilihlah waktu yang tepat. Ini adalah ujian, jika aku permudah maka ini tidak bisa dikatakan sebagai sebuah ujian.”
“Haa, baiklah. Tapi, jika sampai terjadi sesuatu yang tak terduga olehmu? Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku akan melakukan apa yang aku perlu lakukan, itu saja.”
“Begitu.”
-------------
“H-Hiroaki.”
“Emi, ya. Ada apa?”
“Matahari sudah hampir terbenam, sebaiknya kau segera masuk. Jika tidak, kau akan terkena flu.”
“Sebentar lagi, aku ingin disini sedikit lebih lama.”
“Begitu.” Emilia pergi.
Di dalam istana.
Ruang administrasi.
“Emilia, ada apa? Apa yang terjadi padamu?” (Rin)
“(menangis) Aku tidak bisa lagi. Aku tidak kuat jika melihatnya seperti itu terus.”
“Emilia, tenanglah.” (Sia) Sia mencoba untuk menenangkan Emilia. “Saat ini kita juga sedang berusaha keras agar dia bisa kembali seperti semula. Kau tenanglah.”
“Tapi, jika melihatnya seperti ini terus, aku tidak kuat lagi.”
Beberapa hari setelah itu.
Pagi hari, taman kerajaan.
“Hi-chan, buka mulutmu..” Saat ini Rin sedang mencoba untuk menyuapi Hiroaki. Tapi ia sama sekali tidak memakan sedikitpun makanan yang disuapkan oleh Rin.
“Hi-chan, kau harus makan, jika tidak kau akan sakit.”
Tak ada jawaban darinya.
“Hi-chan, aku akan mengambil minuman dulu.” Rin pergi.
Di dalam istana, ruang makan
“Rin, bagaimana?” (Sia)
“Maaf, tapi ia sama sekali tidak menyentuh makannya. Jika seperti ini terus, aku khawatir dia akan sakit.”
“Mama, apa yang sebenarnya terjadi dengan papa? Kenapa papa tidak menjawab saat aku panggil?”
“Mama tidak tau.”
Saat ini, mereka sudah mulai putus asa karena mereka belum menemukan solusi untuk menyembuhkan Hiroaki, dan semakin hari keadaanya semakin memburuk.
Beberapa hari kemudian.
Hiroaki terbaring lemah di kamarnya.
“Ahh, ini sangat menyebalkan, ingatan ini terus-terusan berluang. Bahkan saat aku sadar aku masih mengingat ingatan ini dengan sangat jelas, ini sangat membosankan.” (Ai)
“Ingatan? Ingatan apa itu?” (Rin)
“Entahlah, tapi setidaknya hanya itu yang bisa aku ketahui untuk saat ini.” Saat ini, Ai dan Sia yang memiliki energy sihir yang besar mencoba untuk mengirimkan mana mereka ke dalam tubuh Hiroaki agar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padanya, dan hasilnya mereka hanya mengetahui hal itu.
“Ai, Sia, apa kalian tidak mendapatkan hal lain lagi selain hal itu?”
“Tidak bisa, ingatan lainnya seperti terkuci di sebuah tempat yang sangat aman. Kami tidak bisa menemukan hal lain, jika ada sedikit celah saja mungkin kita bisa melihatnya.”
__ADS_1
“Celah, ya. Tapi, bagaimana cara kita membuat celah itu?”
“Aku tidak tau.”
“Wah wah. Apa kalian sebegitu ingin taunya terhadap ingatan suami kalian.” Dewa Sha muncul.
“Dewa.”
“Dewa Sha, apa kau tau sesuatu tentang yang terjadi pada Hiroaki?”
“Dewa, tolong selamatkan dia. Aku mohon.”
“Dewa aku mohon.”
“Aku tidak bisa melakukannya.”
“Bukannya kau seorang dewa, mana mungkin kau tidak bisa menyelamatkannya.”
“Yang bisa menyelamatkannya hanyala dirinya sendiri, jika dia memilih pilihan lain maka pilihan itu yang akan dia tempuh. Aku hanya bertugas sebagai pengawas.”
“T-Tidak mungkin.”
“Oh ya, kalian bilang ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padanya’kan.”
“Dewa.”
“Kalau begitu, aku akan memperlihatkannya, semua ingatannya pada kalian semua. Tapi, pertama. Yang harus kalian lakukan adalan memengang tangannya.”
“Baik.” Mereka semua memengang tangan Hikari. Emilia dan Sia, di tangan kiri, dengankan Ai dan Rin di tangan kanan.
“Baiklah. Lalu, pejamkan mata kalian.” Mereka mulai menuruti apa yang dikatakan oleh dewa Sha. “Baiklah, sekarang rasakanlah. Apa kalian sudah bisa melihatnya?”
“I-ini.” (Ai)
“Ingatan milik Hi-chan..” (Rin)
“Bukan hanya ingatan, tapi… Perasaan ini juga.” (Sia)
“Ya, aku bisa merasakannya. Sedih, senang, kecewa, dan masih banyak lagi.” (Emilia)
“Jadi, selama ini dia melakukan semua ini sendirian. Tugas yang sangat berbahaya seperti itu.”
“I-Ini…” (Ai)
“Ahh. Kalian sepertinya sudah melihatnya.”
“Bagaimana mungkin.” (Emilia)
“Baiklah, hanya itu ingatan yang bisa aku berikan pada kalian.”
“Dewa Sha, yang terakhir itu... Tentang aku dan Ai.” (Emilia)
“Jika itu ingatan, berarti sebelumnya dia pernah mengalaminya. Jangan-jangan.”
“Hoo, sepertinya kalian sudah mulai tau apa yang menyebabkannya seperti ini. Kalau begitu, aku pergi dulu. Masih ada beberapa hal yang harus aku lakukan, dan sepertinya kalian sudah tau harus melakukan apa.” Dewa Sha pergi.
“Ai, Rin, Sia. Ayo.” (Emilia)
“Baik.”
Mereka menggenggam tangan Hikari. “Aku mohon, bekerjalah.” Mereka secara bersamaan mulai mengaliran sihir yang besar pada Hiroaki.
Beberapa lama kemudian.
“I-Itu, sudah terlihat. Ingatan itu sudah terlihat.” (Emilia)
“Kita hanya perlu menghapusnya, dengan begitu, Hi-chan akan kembali seperti biasa. Semuanya, ayo lakukan.” (Rin)
“Baik.”
---------------
Sementara itu.
‘Haa, ini membosankan, ingatan ini terus saja mengangguku.’ Entah apa yang terjadi pada tubuhku saat ini, tapi yang pasti saat ini aku sedang berada di alam bawah sadarku. ‘Mengulangi ini terus menerus, aku sudah bosan.’ Entah sudah berjuta-juta kali ingatan ini menghantuiku, dan entah kenapa sekarang aku merasa sudah tidak peduli lagi dengan hal itu.
Aku bukannya sudah membuang sisi kemanusiaanku, hanya saja aku sudah mulai terbiasa dengan hal ini. ‘Haa, kapan ini akan berakhir.’ Ingatan ini, mimpi ini, aku harap ini segera berakhir.
--
Pagi hari.
Aku perlahan membuka mataku. “Huh? Ada apa ini?” Rin, Emilia, Sia dan Ai. Mereka semua ada di kamarku. “Apa yang mereka lakukan disini?” Tapi, sepertinya mereka sedang tertidur dengan pulas. Aku ingin meninggalkan mereka tapi... “Tubuhku, tidak bisa digerakkan.” Seluruh bagian dari tubuhku tidak bisa aku gerakkan, dan aku mengingat sesuatu. “Jadi seperti ini rasanya, ya.” Pelemasan otot.
Jika hal seperti ini terjadi, itu berarti tubuhku sedang menyesuaikan diri. Setidaknya itulah yang terjadi. “Menyesuaikan diri, ya.”
Setelah cukup-cukup lama setelah itu.
Sore hari.
Aku berencana untuk membangunkan mereka, tapi karena mereka terlihat begitu lelah aku tidak membangunkannya hingga sekarang. Lagipula, entah kenapa aku merasakan kenyamanan saat melihat mereka.
“Emilia, kau sudah bangun.” Yang bangun pertama kali adalah Emilia.
“H-Hiroaki. K-kau benar-benar Hiroaki’kan.”
“Apa aku terlihat berbeda?”
“H-Hiroaki… Hiroaki!! (peluk)”
Karena suara Emilia yang cukup keras, membuat yang lainnya terbangun. “Hi-Hi-chan..”
__ADS_1
“Sayang…”
“Sayang.”
“Eh? Kalian kenapa?” Mereka tiba-tiba saja menangis.
“K-Kami tidak apa-apa. Kami hanya senang kau baik-baik saja.”
“Begitu.” Aku tak begitu paham tapi sepertinya, aku sudah membuat mereka cemas. “Emi, bisa kau melepaskanku.”
“Tunggu, sebentar lagi.”
“Haa, terserah kau saja.”
Beberapa menit kemudian, mereka semua pergi karena ingin memberiku waktu untuk istirahat. Aku tak menanyakan apapun pada mereka karena mereka terlihat tidak ingin mengatakan apapun padaku. ‘Haa, setidaknya, ini akan sembuh dalam beberapa hari.’
“Yo.” Dewa Sha secara tiba-tiba muncul di kamarku. “Bagaimana keadaanmu?”
“Dewa Sha, ya. Seperti yang kau lihat, aku mengalami pelemasan otot.”
“Begitu. Kalau untukmu, hal kecil seperti itu tidak masalah untukmu’kan.”
“Tidak masalah apanya. Jika dibiarkan nyawaku bisa dalam masalah.”
“Kalau begitu, kenapa kau tidak meminta mereka untuk melakukan hal itu padamu.”
“I-Itu karena…”
“Hmmm?”
“Itu, memalukan.”
“Memalukan?”
“Coba kau bayangkan, aku saja yang pernah melakukan hal seperti itu malunya minta ampun, apalagi jika saat ini aku yang akan dibegitukan oleh mereka. Mau ditaruh dimana mukaku.”
“Alasan yang tidak logis. Tapi, sudahlah.”
“Huh?”
“Itu akan sembuh besok. Oh ya, beberapa minggu setelah ini akan terjadi hal menarik padamu?”
“Hal menarik? Apa itu?”
“Kau akan mendapatkan wanita baru.”
Entah kenapa aku terpikirkan sesuatu yang mengerikan. “J-jangan bercanda!! Mereka pasti akan membunuhku jika hal itu benar-benar terjadi.”
“Heee, aku jadi ingin benar-benar melihatnya. Seseorang yang bahkan dijuluki raja terkuat bisa menjadi takut seperti itu.”
“M-Mereka jauh lebih menyeramkan saat marah, dan aku tak ingin hal itu sampai terjadi.”
“Hahaha. Tenanglah, aku hanya bercanda.”
“T-Tolong jangan bercanda dengan hal seperti itu.”
“Hahaha, baik-baik.”
“Lalu, tentang hal menarik itu, apa yang sebenarnya akan terjadi?”
“Aku tidak ingin memberitahu, lagipula jika kau mengetahuinya itu tidak akan menarik. Benar’kan.”
“Benar juga sih, tapi…”
“Sudahlah, aku akan pergi dulu. Aku kesini cuma ingin melihat keadaamu saja, meskipun aku juga bisa melakukannya dimana saja.”
“Terimakasih. Oh ya, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu sebelum kau pergi dewa Sha.”
“Huh? Ada apa?”
“Kau tadi bilang raja terkuat? Dan orang yang di rapat itu juga bilang hal seperti itu? Apa maksudnya?”
“Seperti yang kau dengar, pada masa ini raja terkuat adalah dirimu. Dengan kata lain, di dunia ini tak ada yang bisa mengalahkanmu.”
“B-Bukannya itu sedikit berlebihan? Lagipula, bagaimana aku bisa mendapatkan julukan raja terkuat sedangkan aku sama sekali tidak berbuat apa-apa.”
“Apa kau sudah lupa dengan penyerangan tempo hari. Mungkin bukan tempo hari, lebih tempatnya beberapa bulan yang lalu. Saat pesta.”
“Ahhh, maksudmu itu.” Saat aku, Shin, Felicia, Garden, dan Leona melawan monster dan juga iblis yang tengah menyerang kerajaan ini dulu.
“Membasmi keseluruhan dari mereka adalah hal yang mustahil, dan setidaknya butuh ribuan petulang tingkat tinggi untuk membasmi semua monster dan juga iblis itu. Tapi, kau bisa melakukannya sendiri.”
“Bukannya itu karena Ryuga, dan aku juga meniru jurus hebat milikmu (pemusnahan). Jika aku tidak menggunakannya mungkin saja aku mati saat itu juga.”
“Tapi, tidak bisa dibantahkan kalau kau yang sudah mengabisi monster dan iblis itu.”
“Garden, Leona, Shin, dan Felicia juga ada disana membantuku. Itu berarti mereka juga mendapatkan dampak sepertiku’kan.”
“(tersenyum) Ya, begitulah. Untuk Garden dan juga Leona, mereka sekarang menjadi petualang tingkat kesatria (SS).”
(Jika lupa : Petualang tingkat pemula – D. Petualang tingkat Senior – C. Petualang tingkat Master – B. Petualang tingkat Elite – A. Petulang tingkat atas – S. Petualang tingkat Kesatria – SS. Petualang tingkat legenda – SSS.)
“Wah, itu sangat hebat.” Dibandingkan dengan tingkatan petualangku, aku hanya ada di peringkat C. “Lalu, bagaimana dengan Shin dan Felicia?”
“Hmm? Untuk mereka berdua, mereka sudah memiliki tingkat petualang Legenda jadi tidak perlu hal seperti itu.”
“Hooo.”
“Sudahlah. Jika ada sesuatu yang kau butuhkan, jangan hubungi aku, ya. Dadah.” Dewa Sha pergi.
“Jika ada sesuatu jangan hubungi aku, jika seperti itu kenapa dia mengatakannya!!”
__ADS_1