Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
70


__ADS_3

Pagi hari, 09,25 di kolam renang.


“Ini.” Aku memberikannya es krim.


“Terima kasih.”


“Kau, tidak beli juga?”


“Tidak usah.”


“Begitu, ya... Maaf... Awww.”


“Sudahlah.”


“Hiroaki, kau mau pergi kemana?”


“Toilet sebentar.”


“Begitu. Kalau begitu, aku akan menunggu disini.”


“Ya.”


Toilet pria


“Ha, ha, ha... A-apa yang terjadi.” Nafasku terasa begitu sesak, dan ini sudah terjadi sejak kemarin malam. Menahan sakit, aku memengang erat dadaku.


Beberapa saat kemudian.


Rasa sakitnya menghilang. “Apa yang sebernarnya terjadi.” Rasa sakit ini, tiba-tiba muncul dan tiba-tiba menghilang. “Ha, sudahlah.” Meskipun ini menyusahkan, setidaknya aku masih bisa menahannya.


Dan karena sudah terlalu lama disini, aku putuskan untuk kembali.


“Hey Nona manis, bagaimana kalu kita bermain-main sebentar.”


“Ayolah nona, ini sangat menyenangkan.” Aku melihat Amane tengah dikerumuni oleh beberapa pria yang terlihat garang.


“Haa!! Hiroaki...” Amane memanggilku dan seketika pandangan pria yang mengerumuni Amane melihat ke arahku.


“Haa, aku terlibat masalah baru lagi.”


“Hee... Jadi kau, ya.”


“Hahaha... Lihat dia, bagaimana dengan tubuh seperti itu dia bisa melindungi nona cantik ini.”


“Hey onii-san, bagaimana kalau kau biarkan kami saja yang melindunginya. (tersenyum) Tentu saja, kami juga akan memberikan kesenangan untuknya.”


“Haa, ucapan kalian terlalu vulgar. Minggirlah, kalian menghalangi jalanku.”


“Wah, wah... Berani sekali kau bicara seperti itu. Apa kau belum tau siapa kami.”


“Aku tidak tau, dan aku tidak peduli.” Aku memilih untuk mengabaikan mereka.


“Hey, jangan mengalihkan padanganmu dari kami bocah tengik.” Tapi, mereka sendiri yang meminta hal ini.


Bugg


Baggg


Duggg


Jeggerrrr. Sfx : pukulan.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian.


“Amane, ayo pergi.”


“T-tapi, kolam renangnya...”


Menghajar mereka tidak membuatku merasakan apa-apa. “Hari ini, ada tempat yang ingin aku kunjungi. Apa kau mau ikut? Jika tidak, kau bisa tetap disini.”


“Tempat yang ingin kau kunjungi. Aku ikut!!”


Di dalam perjalanan.


Karena tempatnya tidak begitu jauh, aku memilih untuk berjalan kaki sekaligus membiarkan tubuhku sedikit bergerak supaya tidak kaku.


Area apartemen.


“Hiroaki, kemana tujuan kita?”


“Kau ikut saja, jangan banyak tanya.”


“Baik.”


Beberapa saat kemudian


“Ah.. sepertinya disini.” Aku berhenti tepat di salah satu apartemen yang ada disini.


“Hiroaki, apartemen siapa ini?”


“Sudah, jangan banyak tanya. Kau diam saja.”


“Baiklah.” Aku perlahan masuk kedalam rumah itu.


“Permisi.” Aku tau ini memang sedikit tidak sopan, tapi ada sesuatu yang harus aku ketahui disini.


“Sebaiknya kau tidak berkata seperti itu.”


“Hiroaki, ada apa? Koujo-kun!!”


“Sepertinya dia pingsan.” Koujo Kotaro, aku menemukannya tergeletak pingsan dilantai.


Beberapa lama kemudian.


“Koujo-kun, kau sudah sadar.”


“Shirayuki-san, bagaimana kau bisa ada disini?”


“Sebaiknya kau jangan banyak bicara dulu.” Aku menghampirinya sembari membawakan air putih untuknya. “Minum ini dulu.”


“Terimakasih.”


“Koujo-kun, apa penyakitmu kambuh lagi?”


“Ya, seperti itulah.”


“Hee, penyakit, ya.”


“Kau, apa yang sebenarnya kau inginkan, dan bagaimana kau bisa tau tempat ini?”


“Itu sangat mudah.” Karena aku yang mendapatkan informasi ini dari dewa Sha, entah kenapa saat aku meminta informasi tentangnya dia malah tanpa ragu memberitahuku semuanya tentang Koujo Kotaro. “Ada sesuatu yang ingin kau katakan padamu.”


“Apa itu?”

__ADS_1


“Sebelum itu... Amane, bisa kau keluar sebentar.”


“Ehh, aku juga ingin mendengarnya. Awww..”


“Sudah, ikuti saja apa yang aku katakan.”


“Baiklah.” Amane keluar.


“Sepertinya kau sangat akrab dengannya.”


“Ya, begitulah. Dia memintaku untuk melatihnya, dan entah kenapa mulai saat itu dia mulai dekat denganku.”


“Begitu, dia cukup beruntung.”


“Baiklah, kembali ketopik. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”


“Apa untungnya untukku menjawab pertanyaanmu?”


“Sebagai gantinya aku juga akan menjawab semua pertanyaanmu, sebanyak yang aku tanyakan padamu. Bagaimana, apa kau setuju?”


“Baiklah.”


“Hmm, apa alasanmu memberitahu mereka tentang bencana itu?”


“Ternyata kau juga mengetahuinya, ya.”


“Aku tak butuh jawaban lain, jawab pertanyaanku.”


“Alasanku, aku membutuhkan kekuatan lebih. Mengalahkan iblis itu sangat sulit, bahkan kekuatan penuhku masih belum bisa mengalahkannya.”


“Iblis? Apa kau pernah melawannya?”


“Ya, aku sudah sering melawannya. Setidaknya sudah lebih dari 100 kali aku melawannya.”


“Begitu, ya.” Aku tak begitu terkejut mendengarnya, jika saja aku tidak mengetahui informasi yang diberikan oleh dewa Sha tentangnya, mungkin saat ini aku akan kebingungan dan akan menanyakan hal itu padanya.


“Apa hanya itu yang ingin kau tanyakan.”


“Tidak, masih ada beberapa pernyaan lagi.”


“Begitu..”


“Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan? Apa alasanmu melakukan semua itu?”


“Apa aku bisa bilang kalau itu adalah 2 pertanyaan.”


“Boleh saja.”


“Kalau begitu, akan aku jawab. Yang ingin aku lakukan, tidak ada. Dan tentang alasanku melakukan semua itu, bisa dibilang untuk melindungi seseorang.”


“Begitu.” Setidaknya aku sudah mendapatkan informasi yang cukup. “Ini pertanyaan terakhir. Kau tadi bilang iblis, monster macam apa yang sebenarnya menyerang dunia ini?”


“Monster yang sangat kuat seperti yang aku katakan. Kemampuan guardian tidak mempan pada monster itu.”


“Begitu. Baiklah, itu saja yang ingin aku tanyakan. Sekarang giliranmu. Aku akan menjawab 5 pertanyaanmu, itu sesuai dengan jumlah pertanyaan yang aku tanyakan padamu.”


“Kalau begitu, siapa sebenarnya dirimu.”


“Aku tidak bisa menjawabnya.”


“Kau tadi bilang semua pertanyaanku akan kau jawab, apa kau ingin melanggarnya.”

__ADS_1


Ucapan adalah pisau yang tajam, sepertinya aku terkena pisau dari apa yang aku ucapkan tadi. “Hmm... Sudahlah, lagipula mungkin orang yang tau tentang dirimu hanyalah kau. Baik, aku akan mengatakannya.” Aku mengambil nafas panjang. “Aku…”


__ADS_2