
Perbatasan benua Iblis dan benua manusia.
"Ah... Kita sudah sampai." Setelah cukup lama berjalan, akhirnya kami sampai juga. Sebenarnya, jika aku mau aku bisa saja langsung dengan sekejap sampai di tempat ini, tapi jika aku melakukan hal itu mungkin Ai akan merasa sedikit kebingungan dan ia mungkin saja akan menanyakan banyak hal lagi padaku.
"Ini... Bukannya ini hanya gua. Kenapa kau mengajakku ke tempat ini, jangan-jangan kau..."
ctak.
Aku sedikit menjeltikkan jariku ke dahinya. "A-Aduh..."
"Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu. Sudahlah, ayo cepat masuk."
"B-Baiklah." Sambil memengang dahinya, Ai ikut masuk kedalam gua itu bersamaku.
Di dalam gua.
"Wah... Ternyata ada tempat seperti ini di dalam gua."
Sebelum sampai di tempat ini, aku sebenarnya sudah mengubah gua ini menjadi tempat yang bisa ditinggali. Di dalam gua ini, terdapat sebuah rumah kecil yang setidaknya bisa tempati. "Kau bisa masuk dulu, aku akan pergi sebentar."
"T-Tunggu."
Tiba-tiba saja ia memengang tanganku. "Ada apa?"
"Bagiamana kalau ada mahluk aneh yang datang."
"Ah. Begitu, ya." Aku lupa kalau Ai tidak memiliki kemampuan apapun, jadi jika aku tinggalkan dia sendiri dia pasti tidak akan bisa melindungi dirinya. "Tenang saja, selama kau tidak keluar dari gua ini. Kau akan tetap aman."
"Kenapa kau bisa seyakin itu? Bagaimana kalau ada monster yang tiba-tiba datang ke tampat ini."
"Tenang saja, tempat ini aman. Aku yang menjaminnya."
"Begitu, ya. Baiklah." Perlahan, Ai mulai maju menuju ke rumah itu, tapi saat sudah sampai di depan pintu. "Sha, apa kau akan kembali?"
Aku berencana untuk meninggalkannya disini karena aku sudah memberi pelindung untuk tempat ini, jadi monster seperti apapun tidak akan bisa masuk ke dalam gua ini. Aku juga masih memiliki urusan untuk mengawasi ke-4 orang yang lain itu, dan juga beberapa urusan lainnya. "Iya, aku akan kembali." Entah kenapa disini, untuk pertama kalinya aku merasa dibutuhkan.
"Kalau begitu. Baiklah, jangan lama-lama, ya." Ai kemudian masuk ke dalam.
"Ha... Baiklah." Aku perlahan keluar dari gua ini. "Aku harus menemui dewa Yu." Aku langsung menghilang dan menuju ke tempat dewa Yu.
-----------------
Di tempat dewa Yu.
"Dewa Yu."
"Ah. Sha, ada apa?"
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Silahkan."
"Apa ada cara untuk mengembalikan seseorang kedunia asalnya?"
"Hm? Memangnya ada apa? Bukannya selama ini kau selalu "Masa bodoh" dengan apa yang terjadi pada duniamu. Kenapa sekarang kau..."
"Ada seseorang yang ingin aku kembalikan ke dunia asalnya."
"Begitu. Jika seperti itu, kau hanya berbicara dengan dewa yang menjaga dunia asal seseorang yang ingin kau kembalikan itu."
"Ah, berbicara dengan dewa lain."
__ADS_1
"Tapi, untuk melakukan hal itu. Sebaiknya kau melakukan persiapa yang matang."
"Persiapan? Untuk apa, bukannya aku hanya harus bicara dengan dewa itu."
"Kau berkata itu seperti hal yang mudah, tapi cobalah sendiri."
"Baiklah." Mendengar hal itu dari dewa Yu, aku memutuskan untuk melakukan persiapan lagipula tidak ada salahnya melakukan hal itu.
----------------
"Baiklah, aku sudah siap." 3 pedang buatanku sudah aku bawa, aku tak tau ini penting atau tidak tapi... "Sudahlah, ini juga termasuk persiapan."
Setelah itu, aku langsung berencana untuk pergi menemui dewa yang menjaga dunia asal Ai. "Dewa yang menjaga dunia Ai... Kalau tidak salah dewa Nii. Baiklah." Ini pertama kalinya aku akan berhadapan dengan dewa selain dewa Yu, dan karena dewa Yu sudah bilang untuk melakukan persiapan dengan matang. Aku rasa hal ini sudah bisa dikatakan persiapan yang matang, meskipun aku tak tau ini akan berguna atau tidak.
--- Di tempat Dewa Nii ---
Aku sudah sampai ditempat dewa Nii. "Ah, dewa Sha. Ada apa tiba-tiba datang kemari." (dewa Nii) Aku melihatnya sedang duduk mengawasi dunianya sambil meminum secangkir teh. "Kenapa kau membawa banyak senjata? Apa kau ingin memberiku senjata itu?"
"Eh?"
"Aku hanya bercanda. Tenang saja, lagipula aku sama sekali tidak tertarik dengan yang namanya kekerasan." Sedikit menyeruput tehnya, ia menaruhnya di atas meja. "Lalu, ada urusan apa seorang dewa datang ke tempat dewa lain?"
"Aku..."
"Ah. Sebelum kau menjawab pertanyaanku, ayo duduk dulu, kita nikmati teh ini bersama." Dewa Nii tiba-tiba saja menyeduhkan 1 cangkir teh lagi, dan menyuruhku untuk duduk.
"B-Baik." Aku mengikuti apa yang dikatakan olehnya, aku duduk dan menyeruput teh yang sudah disipakan oleh dewa Nii. "Ini sangat enak."
Teh ini berbeda dari teh biasanya, rasanya sangat enak. "Ini adalah teh khusus, kau hanya bisa menemukan teh ini disini."
"Wah. Hebat."
"Jadi..." Aku kemudian menceritakan tentang Ai pada dewa Nii.
----- Setelah bercerita -----
"Tidak bisa."
"Tunggu dewa Nii... Kenapa? Aku hanya ingin megembalikannya ke dunia asalnya, aku tidak yakin dia bisa bertahan sendirian di duniaku."
"Itu urusanmu, dan ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan padamu."
"Sesuatu? Apa itu?"
"Lihat itu baik-baik." Dewa Nii menunjuk ke dunia yang dujaga olehnya.
Saat aku melihatnya. "Pemakaman?"
"Lihat baik-baik siapa nama orang yang dimakamkan itu."
"I-Itu... Ai." Namanya tertulis Shiraku Ai. "Tapi."
"Ingat ini, jika seseorang dari dunia sebelumnya dipanggil kedunia lain. Maka secara otomatis orang yang dipanggil kedunia lain itu akan mati di dunia sebelumnya, entah karena sebab apa."
Mendengar penjelasan itu, aku jadi mengerti tentang sesuatu. "Ai tidak bisa kembali."
"Ya, kau harus menjaganya sendiri. Jika tidak dia tidak akan bertahan bahkan jika hanya 2 hari."
"Baiklah."
"Oh ya, ada sesuatu yang ingin aku katakan lagi padamu."
__ADS_1
"Apa itu?"
"Sebaiknya kau segera hentikan pemanggilan dari dunia lain, jika mahluk yang kau ambil dari duniaku mungkin aku tidak begitu mempermasalahkannya, tapi tidak dengan dewa yang lain. Oleh karena itu kau harus segera menaganinya."
"Baik, aku akan berusaha." Meskipun begitu, aku tidak bisa menghapus langsung sihir pemanggilan itu. Karena jika seperti itu, pasti akan terjadi sesuatu diluar dugaanku lagi.
Aku perlahan mulai bagun dari posisi dudukku. "Kau sudah ingin pergi?"
"Iya, aku harus melakukan sesuatu."
"Begitu... Datanglah lagi jika ada waktu, aku akan menyuguhkan teh lagi padamu."
"Terima kasih." Akupun langsung pergi.
-------------
Sore hari
Gua tempat Ai berada.
Saat urusanku sudah selesai, ternyata hari didunia ini sudah sore. "Sudah sore, ya. Ahh.. Aku lupa menaruh pedangku." Aku langsung pergi tanpa menaruh pedangku ini. "Sudahlah." Aku kemudian perlahan masuk ke dalam gua itu.
---- Di dalam rumah ----
"Dia tertidur." Aku melihat Ai tertidur lelap di kursi. "Ini hari yang sangat melelahkan untuknya, wajar saja ia kelelahan." Akupun mengambil sesuatu untuk menyelimutinya.
"Siapa?" Aku merasakan kalau ada seseorang yang masuk ke dalam gua ini. "Sebaiknya aku harus melakukan sesuatu." 'Clik' Aku membuat rumah ini tidak terlihat.
"Dimana orang itu?" (???) Terlihat kebingungan, ia terlihat seperti sedang mecari sesuatu.
"Sebaiknya aku harus segera mengusrinya. Akan berbahanya jika ada orang lain yang melihatku." Aku mulai melakukan sesuatu untuk mengusrinya dari tempat ini.
"HEY MANUSIA, APA YANG KAU LAKUKAN DI TEMPAT SUCI INI." Aku membuat suaraku menggema untuk mebuatnya sedikit ketakutan.
"Tempat suci, kalau begitu. APA BENAR KAU ITU SEORANG DEWA. ORANG YANG AKU LIHAT MASUK KEDALAM GUA INI, APA KAU BENAR-BENAR SEORANG DEWA."
"Cih, aku ceroboh." Ternyata ada seseorang yang melihatku.
"Aku adalah seorang raja dari ras manusia, aku ingin meminta padamu agar aku bisa memenangkan perang ras yang sudah sangat lama terjadi ini."
"Raja dari ras manusia, sepertinya dia bisa aku gunakan." Aku mencoba sesuatu. "TAPI, DENGAN 1 SYARAT."
"Syarat? Syarat apa?"
"KAU HARUS MENGHENTIKAN PEMANGGILAN DARI DUNIA LAIN, JIKA KAU MASIH MELAKUKAN HA ITU. BUKAN KEMENANGAN YANG AKAN KAU DAPATKAN, MELAINKAN KEHANCURAN KERAJAAN DAN SELURUH RASMU." Sepertinya aku sudah terlalu berlebihan, tapi jika tidak begitu aku akan mendapat masalah dengan dewa lain.
"BAIK, AKU AKAN MENURUTI KEINGINANMU. MULAI SAAT INI, AKU RAJA YANG MEMIMPIN RAS MANUSIA AKAN MENGHENTIKAN PEMANGGILAN UNTUK MENCAPAI KEMENAGAN."
"KALAU BEGITU, KAU BOLEH PERGI SEKARANG."
"Terima kasih dewa." Dia pergi.
"Ha... Hampir saja. Tapi, memenangkan perang antar ras, ya." Tentu saja aku hanya membual soal membuatnya memenangkan perang ini. Perang ini akan berakhir yang diakhiri oleh 4 orang itu, aku akan mambuatnya seperti itu.
"Sha..."
"Ehh? Hanya mengigau, ya." Untuk sesaat aku mengira kalau Ai bangun, tapi ia hanya mengigau saja.
".... Terima kasih."
Bersambung....
__ADS_1