Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 10


__ADS_3

“Abang,”


“Hmm?”


Vano menoleh sebentar ke sebelahnya ketika sang adik memanggilnya. “Kenapa, Dek?” tanya Vano pada adiknya yang seperti ingin menyampaikan sesuatu.


“Setiap hari Elvina ke kampus naik motor ya?”


“Iya selama ini sih yang Abang liat, dia senang naik motor, tapi beberapa kali sempat liat dia naik mobil, emang kenapa?”


“Ya ampun, Abang merhatiin El banget ya,”


“Ya harus dong, supaya bisa lebih tau dia kayak gimana orangnya,”


“Terus kenapa nggak tiap hari naik mobil aja?”


“Ya mungkin dia lebih nyaman naik motor, Dek. Makanya dia naik motor. Emang kenapa sih?”


“Ya nggak apa-apa. Sederhana banget gitu keliatannya. Tapi uangnya banyak. Buktinya rumah dia besar, punya mobil, terus tadi traktir makan, sama belanjain aku make up sama skin care. Dia nggak izinin aku untuk bayar pakai uangnya Abang. Jadi sekalian gitu, dia beli masker sama moisturizer nah aku belinya lebih banyak dari dia tapi sekalian dibayari sama dia, Bang,”


“Alhamdulillah, syukuri aja apa kebaikan yang udah orang lain kasih ke kamu,”


“Tapi aku nggak enak tadi, Bang,”


“Ya sama, Abang juga nggak enak. Tapi gimana dong? Dia nggak mau kalau semuanya abang yang tanggung. Dia nggak mau ngerepotin abang,”


“Kapan-kapan aku boemh main ke rumahnya Elvina, Bang?”


“Ya tanya aja sama El nya boleh atau nggak,”


“Tadi harusnya kita jangan ikutin El doang, kita masuk aja coba ke rumahnya,”


“Abang cuma pengen mastiin dia sampai rumah dengan selamat makanya Abang ikutin dia yang pulang naik motor, Dek. Kita ‘kan belum bilang ke dia kalau kita mau mampir, dan dia juga nggak tau kalau kita ikutin. Masa iya tiba-tiba kita mampir ke rumahnya? Nggak mungkin lah, Dek. Itu nggak sopan namanya,”


“Ya ampun, Abang udah kebucinan ih. Nggak salah aku ngomong kayak gitu ke Elvina tadi. Abang emnag bucin banget,”


“Eh kamu ngomongin Abang sama Elvina tadi?”


“Iya emang Abang nggak dnegar?”


“Nggak, kalian bisik-bisik kali ngerumpinya,”


“Abang budek berarti,”


“Eh enak aja,”

__ADS_1


Vano menarik daun telinga adiknya yang menyebalkan. Saat bersama Elvina sudah menyebalkan, sekarang tidak ada Elvina semakin menyebalkan.


“Kamu ya, tadi udah ngatain Abang tua di depan Elvina. Abang malu tau! Sembarangan aja tu mulut,”


“Hahahahaha ada yang sakit hati nie,”


“Iyalah, Abang tuh belum tua. Tapi dewasa aja,”


“Ya tapi ‘kan kalau dibandingin sama Elvina, Abang sebutannya tuh udah tua,”


“Ya udah terserah kamu deh mau nyebut abang apa. Yang penting Abang ganteng,”


“Dih kepedean. Abang, orang yang kepedean itu nggak baik tau. Nanti hidungnya jadi pesek,”


“Nggak lah, kalau udah daris ananya mancung ya mancung aja,”


“Ngomong-ngomong Abang pinter juga cari cewek,”


Vano mengernyitkan keningnya. Bertepatan dengan selesainya Davina bicara seprrti itu, laju mobil yang dikendarai oleh Vano harus dihentikan oleh lampu merah.


“Maksudnya?”


“Iya Abang pinter cari cewek. Elvina cantik orangnya,”


“Masa sih? Berarti abang nggak salah nilai dong ya? Selain cantik mukanya, cantik juga kelakuannya kalau abang lihat-lihat. Apa nggak pernah liat dia neko-neko, Dek. Hidupnya kayak luru aja gitu. Diantara banyaknya gempuran mahasiswa dikeluarin dari kampus karena amsalah ini dan itu, dia tetap stay aja di jalannya yang lurus itu. Datang ke kampus ya buat belajar, terus langsung ke parkiran kalau udah waktunya pulang. Abang belum pernah liat dia main-main dulu abis ngampus,”


*****


“El, kamu udahan jalannya sama Vano?”


“Udah, sama adiknya juga. Lama ya, Bun?”


“Nggak sih, malah Mama senang kamu jalan-jalan. Habisnya Mama tuh bosan liat kamu di rumah mulu. Emang nggak bosan, Nak?”


“Nggak, Bun. Kalau bosan ya tinggal jalan. Nah tadi kebetulan Pak Vano ngajakin aku pergi, tapi aku nggak mau kalau cuma berdua takut mahasiswa lain salah paham. Tapi Pak Vano bilang bisa ngajak adiknya. Ya udah aku mau akhirnya. Terus diajakin Pak Vano masuk mobil tapi aku bilang, aku pengen naik mobilnya Pak Vano di halte aja supaya nggak ada yang liat dan Pak Vano nurutin,”


“Ya ampun, segitunya kamu,”


Dini terkekeh mendengar cerita anaknya yang baru saja sampai di rumah. Elvina paling tidak mau orang lain punya anggapan negatif terhadap dirinya, Elvina punya seribu satu cara.


“Ya abisnya aku tuh nggak mau orang-orang salah paham, Bun. Kemarin aku pas makan berdua sama Pak Vano aja sebenarnya aku deg-degan, cuma aku berusaha santai aja. Aku takut banget ada yang kenal kami terus liat kami makan berdua, dan mikirnya macam-macam. Aku ‘kan mahasiswi nya Pak Vano, sensitif banget kalau udah keliatan dekat sama dosen, bisa jadi omongan takutnya,”


“Iya Mama paham, tapi bagus sih kamu menghindari itu. Terus gimana sama adiknya pak Vano? Berarti kamu udah kenal sama adiknya?”


“Iya aku udah kenal, Ma. Orangnya cantik, baik, masih SMA, Ma,”

__ADS_1


“Oh, berarti pertemuan pertama baik lah ya?”


Elvina menganggukkan kepalanya. Pertemuan pertamanya dengan Davina cukup menyenangkan. Davina anak yang mudah akrab, tidak pernah mau kehabisan topik obrolan, menyenangkan kenal dengan Davina.


*********


“Mama, aku mau kasih unjuk ke mama,”


Davina datang dari kamarnya dengan membawa paper bag berisi make up dan skincare hasil berburunya tadi di sebuah mall.


Ia mengganggu kedua orangtuanya dan juga Vano yang sedang menonton di ruang keluarga. Davina langsung mengeluarkan apa yang Ia beli kemudian Ia letakkan di atas meja yang ada tepat di hadapan orangtua dan juga kakaknya yang duduk.


“Ya ampun, ternyata ini hasil belanjaan kamu?”


“Iya, Pa,”


“Lumayan juga ya,”


“Ini mah belum seberapa, ada yang aku balikin gara-gara aku nggak enak sama Elvina. Soalnya dia yang mau bayarin, dia maksa. Jadi ya udah ada yang aku balikin deh beberapa,”


“Duh, nggak enak banget sama Elvin, Dav. Kok dia yang belanjain sih?”


“Abang gimana, Bang? Kok ngebiarin aja?“


“Pa, aku nggak ngebiarin. Dari mulai makan di resto, dia mau bayar bil berdua sama aku. Dia nggak mau aku yang bayarin full. Masa iya aku paksa supaya aku aja? Nanti kesannya aku nggak menghargai niat baik dia. Terus soal belanjaannya si adek, aku sebelumnya udah kasih dompet aku ke Davina tapi aku nggak tau kalau ternyata El yang bayarin belanjaannya adek,”


“Kamu nggak buru-buru dibayar sih,”


“Ih Papa, aku udah ngeluarin uang, Elvina nya maksa mau bayar, dan pegawainya nurut sama dia dibanding sama aku mungkin karena aku bocil kali, diliat masih pakai seragam. Dia lebih terima kartunya Elvina daripada uang cash yang aku sodorin,”


“Mana lumayan lagi belanjaannya. Mudah-mudahan Elvina nggak kapok pergi sama kamu, Dav,”


“Ih Papa jangan ngomong gitu. Nanti kalau dia jadi sama Abang, aku bakal sering dijajanin juga deh kayaknya, apa Papa bakal ngomong kayak gitu juga?”


“Ya kalau itu ‘kan udah beda, dia udah jadi ipar kamu. Lah kalau ini ‘kan belum, Sayang,”


“Ya tapi aku nggak minta, Pa. Aku juga udah mau bayar tapi Elvina nya yang nggak ngasih aku bayar,”


“Eh kamu kok manggilnya nama sih? Pakai sebutan yang sopan dong, Dek,”


Lisa dengar anak bungsunya itu berulang kali menyebut Elvina hanya dengan nama semnetara Elvina itu lebih dewasa di atas


“Lah orang Elvina maunya dipanggil nama kok, Ma,”


“Nggak boleh, harus sopan,”

__ADS_1


“Ya udah nanti aja aku panggil Kak kalau udah jadi ipar, boleh ‘kan? Soalnya kalau sekarang, El nya mau dipanggil nama karena umur kita nggak beda jauh katanya, Ma,”


“Udah aku tegur tadi tapi El emang mau dipanggil nama, Ma,” jelas Vano supaya mamanya tahu bahwa sang adik sebenarnya tadi sudah niat mengubah panggilan akan tetapi Elvina nyaman dipanggil hanya dengan nama saja.


__ADS_2