
“El, aku mau keluar bentar ya,”
Elvina menghalangi suaminya yang akan keluar dari kamar. Ia berdiri tegap dengan melipat kedua tangannya dan menatap Vano dengan mata memicing.
“Kok dihalangi? Aku mau keluar bentar,”
“Mau kemana? Mau ngapain?”
“Mau ngapain suka-suka aku, bukan urusan kamu,” ujar Vano dengan wajah jahil. Ia mengedipkan satu matanya dan menjulurkan lidahnya meledek Elvina.
Elvina berdecak dan memukul dada suaminya dengan kesal. “Mau kemana?!” Vano mendengus.
Ia mengusap dadanya yang berbalut kaos polos dan baru saja dipukul oleh istrinya hingga terdorong ke belakang.
“Ah kamu curang, mukulnya di dada. Aku ‘kan jadi enggak bisa balas,”
Elvina kini mencubit pinggang Vano dan kali ini Vano bisa membalas. Tapi Ia bukan mencubit, lebih kepada menggelitiki Elvina hingga Elvina bergidik kegelian dan minta Ia berhenti untuk jahil.
“Jangan iseng!”
“Kamu duluan yang mulai,”
Vano akan melanjutkan langkahnya lagi namun kembali dihalangi oleh Elvina. Istrinya itu menggelengkan kepala melarang Ia untuk keluar.
“Ini udah sore, mau kemana kamu?”
“Mau keluar sebentar, cari udara segar,”
“Bohong!”
“Beneran, El, masa aku bohong?”
“Aku tetap enggak percaya. Aku ikut dong kalau begitu,”
“Enggak ah, aku enggak ngajak kamu,”
Elvina menahan lengan Vano yang tetap ingin menerobos penghalang yang Ia buat dengan badannya sendiri. Elvina merentangkan kedua tangannya di depan pintu demi menghalangi suaminya pergi.
Vano tertawa tidak paham dengan kelakuan istrinya ini. Kenapa menggemaskan ya? Jujur Ia belum pernah dihalangi pergi sampai sebegininya oleh Elvina.
“Aku mau pergi, buru-buru nih, udah ada yang nungguin,”
“Siapa?!”
“Teman aku dong, aku mah punya teman, emang kamu aja yang punya teman,”
“Teman atau teman?”
Elvina mengikuti langkah Vano yang ingin ke kanan, dan kiri. Ia terus menghalangi sampai Vano berdecak jengah.
“Kamu jangan begini dong, El. Kamu mau jalan-jalan sama teman enggak pernah aku larang ‘kan?”
“Ya teman yang mana dulu?”
“Emang kamu kenal sama teman-teman aku? Hah?”
“Kenal, aku kenal,”
Vano bersedekap dada dan menatap istrinya dengan senyum. “Okay, coba sebutin siapa aja teman-teman aku, katanya kamu tau ‘kan?”
“Kamu aja yang sebutin siapa teman yang mau jalan sama kamu sekarang. Apa susahnya coba?”
“Ya kamu enggak bakalan kenal,”
“Biar aku kenal coba sebutin,”
“Eh, kamu kenal deh. Tolong enggak usah mikir yang aneh-aneh. Dia beneran teman aku. Udah ya, aku pergi dulu. Baik-baik di rumah, aku cuma sebentar aja kok,”
“Ini udah sore! Ngapain pergi-pergi sih?”
“Mau ngopi,”
“Ngopi terus perasaan. Kalaupun mau ngopi tinggal bikin aja kopi di rumah, apa susahnya?”
“Beda rasa kopinya, El. Kalau di kafe ‘kan sekalian bisa cuci mata. Maksudnya cuci mata tuh liat suasana di sekitar kafenya, jadi enggak bosan liat suasana di dalam rumah terus,”
“Aku aja yang bosan tetap berusaha untuk betah kok, kamu kenapa pengen banget keluar? Hmm?”
“Ya udah nanti aku ajak deh, tapi nanti enggak sekarang, okay?”
Vano mengusap lembut wajah istrinya setelah itu mendorong lembut badan Elvina agar benar-benar menyingkir tidak lagi menghalangi langkahnya yang ingin keluar menikmati sore seorang diri tanpa Elvina yang langsung menatap punggungnya dengan wajah datar dan gigi geraham yang beradu satu sama lain.
“Kamu pikir, kamu bisa bohongin aku lagi, Ken? Hah? Enggak akan bisa!”
Elvina tidak mau membiarkan suaminya bohong lagi tanpa Ia tahu. Ia harus mencari tahu untuk membuktikan benar atau tidak Vano pergi dengan teman yang kata Vano, Ia pun kenal dengan temannya itu. Elvina penasaran sekali, kira-kira siapa yang akan pergi dengan Vano saat ini.
Setelah Vano bergegas meninggalkan rumah dengan motornya, Elvina langsung masuk mobil. Ia diam sebentar sampai kira-kira posisi Vano sudah jauh dan tidak bisa lagi menyadari keberadaannya barulah Ia tancap gas.
Vano menunggangi motornya sementara Ia dengan mobilnya sendiri. Selama menyetir, Elvina merasa geram sekali sekaligus tidak sabaran untuk melihat dengan siapa Vano pergi. Kalau Vano pergi dengan Delila lagi, dia benar-benar keterlaluan. Kurang sering apalagi mereka bertemu? Bahkan ketika mengaku tengah sakit pun, Vano masih menyempatkan waktu untuk bertemu dengan kekasih gelapnya itu.
“Awas aja kalau kamu bohongi aku lagi, Mas. Apa aku harus permaluin kalian berdua nanti kalau kalian memang benar ketemuan lagi?”
******
Vano menghentikan laju rodanya di sebuah kafe. Vano melepas pelindung kepalanya setelah itu bergegas masuk ke dalam kafe untuk menemui seseorang yang sudah membuat kesepakatan dengan dirinya untuk bertemu karena orang itu ingin bicara sesuatu padanya.
Vano mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kafe mencari orang itu. Setelah Ia mendapati keberadaannya di salah satu sudut kafe, Ia segera bergegas menghampiri.
“Woy! Apa kabar?”
Vano datang dan langsung menepuk bahu perempuan itu. Ia tengah sibuk dengan ponsel makanya terkejut begitu mendapati kedatangan Vano.
“Lo ngapain sih ngajakin gue ketemuan? Mana enggak usah ngajak Elvina lagi. Ada apaan? Lo mau ngomong hal penting sama gue?”
“Soalnya gue mau ngomong hal yang enggak seharusnya Elvina tau sih, karena gue enggak enak sama dia, gue tau ini tiba-tiba banget, njir. Dan lo pasti kaget,”
“Apaan?”
“Kan gue punya kenalan nah dia enggak mau pacaran, dia mau kenal dekat sama gue terus nikah,”
“Okay, bagus dong, Ta. Terus salahnya dimana?”
Vano menatap Tata dengan sorot penasaran. Ia tidak tahu hal apa yang ingin disampaikan oleh Tata sampai mengundangnya datang ke sini.
“Ya gue kaget lah, masa tiba-tiba mau nikah?”
“Enggak tiba-tiba dong. ‘Kan udah kenal dekat dulu sebelumnya. Dia bilang kayak gitu ‘kan?”
“Iya, tapi gue kayaknya ngerasa kalau itu terlalu cepat deh, Van. Terus juga—gue ‘kan sempat naksir sama lo—“
“Heh! Ngomong apaan lo?!”
Vano kaget bukan main mendengar pengakuan Tata. Selama ini Vano pikir mereka benar-benar murni berteman. Sehingga tak ada batasan mau berdebat sekalipun karena itu memang wajar dalam hal pertemanan. Tapi Ia tidak menyangka disaat mereka suka berdebat kalau bertemu, ternyata Tata pernah menyimpan rasa untuknya.
“Tapi sekarang udah enggak sih,” ujar Tata seraya tertawa. Ia menertawakan Vano yang wajahnya tegang sekali.
“Lo jangan ngadi-ngadi, Ta. Elvina itu ‘kan temen lo, kalau dia tau gimana coba?”
“Ya sekarang udah enggak,”
“Kalau udah enggak, terus kenapa lo enggak mau terima niatnya si laki-laki tadi yang lo bilang mau nikah sama lo dan enggak mau pacaran?”
“Ya karena menurut gue terlalu cepat, Van. Jadi antara dia sama rasa suka gue ke lo itu enggak ada hubungannya. Gue pernah suka sama lo. Itu pernah ya! Jangan kegeeran sampai sekarang!”
“Tapi intinya lo pernah punya rasa suka ke gue, njir!”
__ADS_1
“Ya emang kenapa? ‘Kan barusan gue cerita, bukan berarti mau macam-macam sama lo. Makanya gue enggak mau lo ngajak Elvina, karena gue mau cerita soal itu juga selain cerita soal si laki-laki tadi,”
“Ya bagus deh kalau emang lo udah enggak suka lagi sama gue. Soalnya gue punya istri, kalau masih single sih, boleh juga kita balikan kayak waktu jaman kuliah,” ujar Vano dengan menaik turunkan alisnya. Ia tengah berkelakar saja.
“Enggak mau! Gue suka sama lo itu waktu pertama kali kita ketemu lagi, Van, setelah beberapa tahu enggak ketemu,”
“Tapi kok bisa-bisanya enggak keliatan kalau lo suka sama gue? Kita akrab banget terus sering adu mulut juga, lo enggak keliatan suka sama gue,”
“Ya untuk apa juga gue kasih unjuk? ‘Kan cuma suka, enggak lebih, mungkin karena sekian lama kita enggak ketemu, akhirnya kita dipertemukan lagi. Makanya gue begitu ngeliat lo agak kaget juga kok nambah ganteng terus gue naksir lagi, tapi gue enggak mau lebih kok. Karena gue tau lo udah punya istri. Sempat sih, gue punya niat mau jadi pelakor tapi—“
“Heh jangan macam-macam lo! Dijambak Elvina tau rasa!” Vano melotot tajam dan menunjuk Tata yang langsung tertawa.
“Ya intinya gue pernah suka sama lo waktu pertama kali kita ketemu lagi setelah beberapa tahun enggak ada interaksi sama sekali,”
“Okay, sekarang udah murni nganggap gue apa nih?”
Vano cemas juga kalau sampai Tata punya perasaan lebih terhadapnya. Dengan Delila saja Ia harus menghadapi kemarahan Elvina yang maha dahsyat hampir tiap hari, apalagi kalau ditambah lagi dengan Tata yang suka dengannya. Kemungkinan besar Elvina semakin uring-uringan.
“Temen aja, eh sahabat lah, sekaligus sama Elvina juga,”
“Okay baguslah kalau begitu. Eh sekalian gue mau curhat nih,”
“Soal?”
“Entah kenapa Elvina belakangan ini makin berubah aneh, Ta,”
Seseorang yang mengamati mereka berdua sejak tadi dan mendengarkan obrolan mereka langsung menggelengkan kepalanya karena Ia menjadi bahan pembicaraan kali ini.
“Aneh kenapa? Dia berubah jadi power ranger?”
“Gue mau cerita serius nih. Ah elah lo mah,”
“Iya okay-okay, maksud lo gimana?”
“Elvina marah karena gue dekat sama perempuan lain,”
“Ya iyalah bodoh! Masa iya dia enggak marah, ‘kan lo suaminya, kenapa dekat sama yang lain? Dimana otakmu wahai tampan?”
“Lo tau sendiri ‘kan? Dia itu awalnya enggak cinta sama gue. Dia bodo amat lah intinya kalau soal gue. Mau gue dekat siapa kek, dia enggak peduli, itu awalnya ‘kan. Nah belakangan ini entah kenapa jadi pundung. Kerjaannya ngomel mulu,”
“Ya lo mancing sih! Kalau lo enggak mancing, dia enggak bakalan ngomel,”
“Mancing gimana sih? Gue enggak mancing,”
“Elvina enggak mungkin ngomel kalau lo enggak buat salah. Orang ngomel itu pasti ada sebabnya, Van. Kalau tiba-tiba aja ngomel berarti perlu periksa kejiwaan dong. Yang gue liat Elvina normal aja,”
“Eh maksud lo, istri gue gila?”
“Lah lo sendiri yang secara enggak langsung ngomong begitu. Dia enggak mungkin ngomel kalau lo enggak bikin salah. Coba lo sadar diri, lo bikin kesalahan apa?”
Vano tersenyum miring dan itu membuat Tata mengernyit bingung. “Lo kenapa sih? Kok senyum gitu?” barusan Vano kelihatan menggebu dengan raut wajah yang kesal ketika menceritakan Elvina. Tapi saat ini tersenyum.
“Ya meskipun dia marah-marah terus, gue senang sih,”
“Kok senang?”
“Nih ya, dia ‘kan awalnya enggak ngehargai gue sama sekali, enggak peduli mau gue dekat sama siap juga bahkan sama lo aja terkesan gue disodorin, tapi belakangan ini gue ngerasa dia tuh cemburu, dia enggak suka gue dekat sama yang lain, jadi gue senang. Artinya dia mulai menghargai kehadiran gue ‘kan, Ta? Dan jangan-jangan dia udah cinta sama gue,”
“Disodorin?”
“Iya, selama ini Elvina itu kayak sengaja nyodorin gue. Enggak tau kenapa gue ngerasa begitu karena saking cueknya dia. Gue risih kadang dekat sama lo, tapi dia malah kayak sengaja ngedeketin kita berdua. Lo paham maksud gue enggak sih?”
“Ah enggak lah, lo ngaco nih. Masa iya dia begitu,”
“Gue yang ngalamin, Ta. Enggak mungkin ‘kan gue bohong? Tiap lo datang ke rumah, dia nyuruh gue yang temuin lo padahal ‘kan kalian berdua juga temenan, terus kalau lo telepon ke gue, maunya gue tuh dia cemburu, tapi enggak sama sekali, bahkan waktu lo minta tolong malam-malam karena lo disamperin sama mantan lo, dia enggak masalahin itu padahal ‘kan gue ninggalin dia malam-malam,”
“Ya karena gue temen lo! Makanya dia begitu. Bukan nyodorin, emang dia hatinya baik. Dia mau suaminya nolongin orang yang butuh pertolongan, dia mau lo tuh baik sama teman, masa lo enggak paham sih?”
“Tapi masa iya dia enggak ada cemburunya sama sekali, Ta? Gue kalau jadi dia udah cemburu lah setelah liat kedekatan suami sama teman perempuannya. Orang-orang terdekat dia aja mempermasalahkan kedekatan kita berdua. Masa dia enggak, padahal dia istri gue. ‘Kan aneh,”
“Karena mungkin menurut Elvina kita dekatnya wajar aja,”
“Intinya gue enggak suka sikap dia yang kayak gitu. Walaupun sedikit harusnya ada lah rasa cemburu. Minimal dia ngomong ke gue supaya gue bisa jaga jarak sama lo, temenan dekat boleh tapi jangan berlebihan. Kalau kayak gitu ‘kan enak, Ta,”
Elvina yang sejak tadi menjadi pendengar dibalik buku menunya, tertegun mendengar ungkapan hati Vano yang selama ini tersimpan rapat darinya.
“Jadi Vano menganggap gue ini terlalu cuek ke dia ya? Dia mau gue cemburu walaupun sedikit? Gimana kalau sekarang gue udah mulai ngerasain itu?”
******
“Elvina mana, Mih? Di kamar ‘kan?”
“Pergi, Pak,”
Vano menggaruk pelipisnya. Dalam hati sudah bisa menebak kemana Elvina. “Kayaknya dia ngikutin gue lagi deh. Ah mau ngomel lagi dia nih kayaknya,”
Vano beranjak menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar. Tiba di tengah anak tangga, Ia mendengar bel rumah yang berbunyi.
Vano segera menuruni tangga dengan cepat dan Ia melarang Amih membuka pintu sebab Ia yang ingin melakukannya. Ia yakin kalau yang datang adalah Elvina.
Begitu Ia menarik tuas pintu, ternyata benar yang datang itu adalah Elvina. Ia tersenyum menyambut kedatangan istrinya itu.
“Halo, Elvina. Darimana?”
“Aku? Dari jalan-jalan lah,” ujar Elvina seraya melangkah kaki masuk dengan santai. Vano menutup pintu dan menyamakan langkahnya dengan Elvina.
“Jalan-jalan kemana?”
“Kemana aja suka-suka aku. Emang kamu aja yang bisa jalan? Hah?”
“Jangan bilang kamu jalan sama Jona,”
“Ya! Betul sekali. Kok kamu bisa nebak sih?”
“Ih parah banget, enggak izin sama aku. Orang aku aja mau keluar tadi izin kok sama kamu, kenapa kamu enggak izin?”
“Kamu mau larang aku? Hmm? Kamu mau dilarang juga enggak?!” Tanya Elvina dengan mata yang melotot tajam.
Vano tersenyum dan langsung merangkul bahu istrinya yang tadi sempat menghentikan langkah untuk bicara padanya yang kedengaran tidak senang karena Elvina keluar dengan Jona tanpa izin darinya.
“Enggak larang kok, cuma enggak suka aja,”
“Ya aku enggak peduli mau kamu suka atau enggak, kamu aja bebas mau kelaur sama siapa aja, sama selingkuhan kamu bahkan enggak ada batasan, aku juga bebas dong,”
“Kata siapa aku enggak ada batasan? Aku ada batasan, El. Lagian barusan aku enggak jalan sama siapa-siapa kok, sama teman aja,”
“Iya siapa temannya?”
“Kamu kenal banget, dia dekat juga sama kamu,”
“Oh,” hanya begitu tanggapan Elvina. Vano mendengus kasar. Ia mengeratkan rangkulannya di bahu Elvina hingga kepala Elvina mendekat ke arahnya dan Ia mencium puncak kepala Elvina berkali-kali.
“Jangan mancing aku cemburu dong,”
Elvina segera melepaskan tangan suaminya yang ada di atas bahunya dan Ia mendorong agar Vano menjauh.
“Jangan dekat-dekat deh, kamu bau parfum perempuan lagi,”
“Eh enak aja, suka ngasal mulutnya kalau ngomong,”
Vano merasa yakin kalau tubuhnya tidak dihinggapi dengan aroma parfum selain parfum miliknya. Kenapa Ia sangat yakin? Karena tadi tidak ada ceritanya bertukar parfum, atau berpelukan sehingga aroma parfum lain sudah singgah di bajunya.
“Emang bau parfum perempuan lain, bukan parfum aku atau kamu,”
“Enggak ada! Jangan fitnah!”
__ADS_1
Vano menghidu aroma badannya sendiri. Ia tidak menemukan aroma parfum yang Elvina sebut milik perempuan lain.
“Orang cuma harum parfum aku aja kok. Nih cium!”
Vano membuka lengannya dan mendekatkan ketiaknya itu ke arah Elvina yang segera menjauh. Vano dengan jahil menarik tangan Elvina agar dekat dengannya lagi dan Ia kembali bertingkah menyebalkan pada sang istri yang menutup hidungnya dengan rapat menggunakan jari.
“Mas, jangan iseng!”
“Biarin, kamu harus cium sendiri supaya jangan nuduh. Orang enggak ada bau parfum perempuan lain kok, ini parfum aku aja,”
“Iya-iya! Aku cuma bercanda!”
“Tuh ‘kan ngeselin kamu,”
Barulah Vano berhenti menjahili istrinya setelah Elvina tidak lagi menuduhnya yang macam-macam. Kalau Ia tidak bersikeras mengelak, Elvina bisa saja menekannya.
“Kamu serius keluar sama Jona tadi? Hmm?”
“Iyalah, masa aku bohong?”
“Kemana aja? Kenapa enggak ketemu aku sih?”
“Kamu barangkali lagi sibuk sama Delila. Nah aku juga sibuk sama Jona, jadi kita enggak ketemu,”
“Kok dia mau sih sama kamu?”
“Apa maksud kamu?!”
Mereka tiba di kamar, Vano langsung duduk di tepi ranjang, sementara Elvina mengunci pintu dan menatap suaminya dengan tajam.
Ia tidak seburuk itu ‘kan? Kenapa Elvina bicara seolah Ia tidak pantas diinginkan oleh orang lain. Ucapan Vano itu membuat Elvina tersinggung.
“Iya kok dia mau sama kamu? Apa dia tau kamu itu sering ngajak berantem? Apa dia tau kamu itu egois, keras kepala, suka nuduh, dan pokoknya suka macam-macam? Tau enggak?”
“Kamu kali yang suka macam-macam,”
“Tuh ‘kan mulai nuduh,” ujar Vano seraya menunjuk istrinya.
“Lagian ya, dia ‘kan tau kamu udah punya suami, kok dia mau sama istri orang? Oh atau kamu enggak jujur soal status kamu ke dia? Kamu enggak bilang kalau kamu itu udah punya suami dan suami kamu adalah aku?”
“Ngapain bilang? Enggak penting,” Jelas saja Elvina berbohong. Jona sudah tahu tentang statusnya sekarang ini yang merupakan istri dari Elvina. Makanya tidak kaget ketika datang ke rumah mendapati sosok Vano. Apa Vano lupa kalau Jona bahkan meminta maaf sudah mengganggu mereka berdua ketika Jona datang ke rumah? Artinya Jona tahu apa hubungan antara Elvina dengan Vano.
“Oh jadi gitu,”
Vano menganggukkan kepalanya. Ia pikir Elvina sudah terbuka dengan temannya soal status dirinya yang merupakan istri orang. Kalau begitu pantas saja kelihatannya Jona masih usaha mendekati istrinya dengan mengirimkan makanan saja sudah membuat Vano berpikir kemana-mana dan merasa curiga.
“Aku aja ke siapapun jujur kok, kalau aku ini suami orang. Kok kamu enggak jujur sih? Parah banget, menutupi status itu enggak baik lho. Orang mikir kamu belum punya suami jadi dideketin enggak apa-apa, padahal aslinya kamu udah punya suami,”
“Kamu sama Delila jujur kalau udah nikah?”
“Ya jujurlah, enggak ada yang aku tutup-tutupi. Lagian kamu ‘kan pernah datang ke rumah dia dan ngomong semuanya. Dengan posesifnya kamu datang terus bilang ke dia kalau dia enggak perlu lagi dekatin aku karena aku ini udah punya kamu sebagai istri. Gitu ‘kan?”
“Iya, tapi kenyatannya dia enggak berubah sama sekali. Tetap aja centil, kegatelan, minta digaruk apa gimana? Sini deh aku garukin sama silet,”
Vano tertawa walaupun Ia cukup merinding juga mendengar ucapan Elvina yang kedengaran serius.
“Jangan gitu ngomongnya ah, aku ngeri bayanginnya,”
“Aku juga bisa garukin kamu pakai itu, kebetulan aku punya. Kamu mau coba sekarang?”
Elvina berjalan mendekati nakas di samping tempat tidur dan Ken segera mendekatinya dengan panik.
“Enggak mau coba, makasih tawarannya, Cantik. Aku masih mau hidup. Gila aja kali digarukin pakai silet, berdarah-darah terus mati yang ada,”
“Itu hukuman untuk orang yang selingkuh,”
“Kalau hukuman untuk orang yang enggak jujur apa? Kamu juga harus ada hukumannya dong. Kamu ‘kan bohong soal status kamu,”
“Enggak ada salahnya kalau itu,”
“Kata siapa enggak ada salahnya? Ya ada lah! Kamu melakukan kebohongan berarti,”
“Orang enggak tau aku bohong,”
“Kamu juga enggak terbuka sama aku. Kenapa enggak bilang sebelumnya kalau kamu mau jalan sama dia? Hmm?”
“Kamu aja sibuk sama yang lain, ngapain aku minta izin? Penting emangnya?”
“Ya penting dong, aku harus tau kamu kemana aja, oh atau udah enggak mau lagi ikut aturan aku? Enggak mau ngabarin aku lagi kalau mau pergi? Jadi kalau ada apa-apa kayak waktu itu, aku kayak orang bodoh yang enggak tau apa-apa. Kamu malah telepon Rendra lagi, minta jemput dia waktu kamu mabuk, benar-benar stres kamu, El,”
“Karena aku lagi marah sama kamu. Enggak sudi minta tolong sama kamu,”
“Mau digaruk sama silet enggak nih?” Elvina masih menunduk di depan laci nakas dan Ia hampir saja membuka laci namun Vano segera menahannya dengan cepat.
“Enggak boleh ih! Kamu suka macam-macam aja deh,”
“Ya udah, berarti kalau enggak mau digaruk pakai silet, jangan coba-coba main di belakang aku. Bisa turutin itu?”
“Enggak janji,” sahut Vano dengan senyum lebarnya.
“Enggak deh, bercanda. Aku emang enggak pernah main-main di belakang kamu kok, kalau mau ya main di depan aja,”
Elvina merotasikan bola matanya kesal karena Vano yang menyahutinya dengan kelakar dan tawa.
Elvina keluar dari kamar dan menuju lantai dasar. Ia memilih ke dapur untuk menemui Amih yang sedang di dapur.
“Mih, jalan lagi yuk,”
Elvina menghampiri Amih yang tengah membuat es teh untuk dirinya sendiri. Amih menatap Elvina tidak paham.
“Jalan kemana, Bu?”
“Kemana aja cari hiburan. Aku stres di sini,”
“Ibu baru aja pulang, masa udah mau pergi aja. Kalau stres cerita aja sama saya, Bu,”
“Duduk deh di meja makan yuk,”
“Ibu mau es teh juga?”
“Enggak usah, aku enggak haus,”
Amih mengangguk dan Ia mengikuti langkah Elvina yang mengajaknya ke meja makan. Elvina tampaknya tertarik untuk berbagi cerita dengannya dan Amih senang karena merasa berguna. Daripada di luar, mending Elvina menjadikan dirinya saja sebagai teman cerita.
“Aku baru tau ternyata Tata itu suka sama Vano,”
“Hah? Tata temannya Pak Vano, Bu?”
“Iya, tapi katanya sih sekarang udah enggak,”
“Ibu tau dari siapa?”
“Dia sendiri yang bilang, tadi aku dengar,”
“Tuh ‘kan, Bu. Saya bilang apa, yang namanya teman itu enggak bisa sepenuhnya dipercaya. Saya ‘kan udah pernah bilang sama ibu supaya hati-hati,”
“Tapi dia bilang udah enggak suka Vano lagi, Mih. Dia cuma bilang pernah aja, kalau yang aku tangkap dari omongan dia, sekarang sih udah enggak lagi,”
“Ah syukurlah kalau begitu. Memang saya udah duga. Laki-laki sama perempuan itu enggak pernah bisa murni cuma berteman. Pasti ada salah satu yang simpan perasaan atau bisa jadi keduanya. Kalau saya sih percaya sama Pak Vano enggak mungkin macam-macam,”
“Tapi gimana sama Delila? dia bisa macam-macam di belakang aku, Mih. Dia selingkuh sama yang namanya Delila,”
“Emang udah pasti, Bu?”
“Udahlah, kurang bukti apalagi? Aku udah berapa kali liat mereka ketemuan, terus si Delila masih gencar hubungi Vano padahal udah aku datangi ke rumahnya, udah aku ajak ngomong baik-baik. Apa perlu aku permaluin aja sekalian ya,”
__ADS_1
Dalam hati Amih langsung bergumam karena memorinya memutar kejadian dimana Vano bicara dengan seorang perempuan bernama Delila melalui telepon tapi Vano memintanya agar tidak memberitahu hal itu pada Elvina. Memang mencurigakan sekali permintaan Vano yang satu itu.
“Apa benar Pak Vano selingkuh?”