Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 150


__ADS_3

“Lah barusan bilang mau bikin novel yang judulnya kamu sebutin barusan,”


“Nggak mau, Sayang, aku nggak bisa, barusan cuma ngarang aja omongan aku mah. Kayak nggak tau mulut aku aja,”


“Suka ngarang ya?”


“Iya, mulutnya suka neko-neko, ya tujuannya untuk hibur kamu aja sih sebenernya. Kamu ketawa juga ‘kan karena aku bilang mau bikin novel yang judulnya kocak,”


“Aku pikir beneran. Kalau kamu bener bikin novel, aku salut sih, ternyata bakat kamu banyak juga,”


“Emang bakat aku banyak ya? Perasaan nggak deh,”


“Banyak dong, nih aku sebutin ya,”


Vano mengangguk dan Ia tidak jadi keluar kamar, Ia kembali lagi di sisi Elvina untuk mendengar satu persatu bakat yang Elvina tahu ada dalam diri suaminya.


“Pertama, bakat cinta sama aku,”


“Lah, itu bukan bakat, Sayang!”


Vamo tertawa lepas bakat yang disebut Elvina pertama kali. Elvina mendekatkan telunjuknya dengan bibir menyuruh Vano untuk diam alias mengunci mulutnya selama Ia menyebutkan bakat Vano yang lainnya.


“Bakat bersikap baik sama aku,”


“Hmm terus?”


“Diem dulu! Kamu nggak diminta ngomong, Mas!”


“Iya okay aku diem,”

__ADS_1


Vano melipat bibirnya ke dalam dan tak melontarkan satu patah kata pun sesuai dengan apa yang diinginkan sang istri.


“Terus bakat bohong!”


“Hah? Bakat apa?”


Vano tidak bisa benar-benar mengunci mulutnya ketika Ia mendengar bakat ketiga yang disebut Elvina barusan.


“Kamu bakat bohong,”


“Kok bakat bohong, El?” Vano tampak tidak terima ketika bakat yang harusnya berkaitan dengan hal-hal positif ini malah dijungkir balik oleh Elvina menjadi negatif.


“Iya bohong, pinter banget bohongin aku,”


“Kapan?”


“Aku lupa deh, Na,”


“Nih buktinya biar kamu ingat!”


Elvina menaikan lengan baju panjangnya supaya tangan yang pernah Ia lukai sendiri bisa dilihat oleh Vano agar Vano bisa ingat soal kebohongannya. Luka itu Ia buat karena Ia pikir Vano benar-benar kurang ajar berselingkuh di belakangnya, tapi ternyata tidak. Kebohongan yang telah dirancang Ken sukses.


“Oh itu,”


Elvina mencibir menirukan ucapan sang suami yang kini terbahak. Setelah diingatkan dengan bukti, barulah Vano tertawa, tadi tidak ada tawa, yang ada malah wajah kesal karena merasa Elvina asal menyebut bahwa dia bakat berbohong.


“Itu bohong karena ada tujuannya, Sayang,”


“Ya tapi tetap aja judulnya bohong! Nggak usah ngeles deh kamu,”

__ADS_1


“Iya-iya, emang bohong intinya, okay aku bakat bohong emang,”


Vano akhirnya mengakui kalau dia memang bisa dibilang pembohong. Apapun tujuannya tetap saja berbohong itu perilaku tidak terpuji, Ken mengakui hal itu.


“Tapi jangan disebut punya bakat bohong juga dong, Sayang. Aku ‘kan nggak begitu,”


“Bakat kamu mah, ngaku aja udah,”


“Ssstt dah diem! Jangan ngomong lagi, istirahat,”


Elvina tertawa mengejek suaminya yang tidak mau mereka membahas bakat-bakat lagi. Vano ikut terkekeh karena Elvina sengaja menjawil dagunya.


“Jangan ketawa mulu, istirahat sana. Nanti mual lagi lho,”


“Cie yang bakat bohong cie,”


“Sayang, jangan bercanda sama ketawa mulu bisa?”


“Nggak, soalnya kamu lucu,”


Vano mengerlingkan matanya kemudian mendekat ingin mengecup pipi Elvina namun perempuan itu langsung menjauh.


“Ih kamu lupa ya? Aku ‘kan nggak mau dicium-cium,”


“Tapi udah nggak bau amis lagi kok,”


“Tetap aja nggak mau, aku takut masih bau, nanti aku muntah lagi. Aku capek kalau muntah terus, Mas, tenaga aku kayak dikuras habis,”


*****

__ADS_1


__ADS_2