
"Gila ya kita nih udah klop banget kalau kumpul. Punya masalah masing-masing tapi kalau udah kumpul bawannya seru aja gitu,"
Vano dengan senang menyambut Ajun yang baru datang sementara Ia dan Tata sudah lebih dulu. Mereka memang sepakat untuk menghabiskan waktu di bar. Mengobrol, dan tidak sampai mabuk. Vano memastikan itu. Kali ini Vamo berkumpul dengan teman untuk menghilangkan penat.
"Ini kenalin teman gue. Biar tambah rame aja kita, makanya gue bawa teman,"
"Enggak masalah. Justru lebih enak kalau rame,"
"Lo enggak apa-apa ke sini, Jun? Istri lo gimana? Kalau Vano sih, memang lagi enggak baik-baik aja sama Elvina," ujar Tata yang sudah akrab juga dengan Ajun.
"Lah gue juga, El. Istri gue sekarang sibuk sama kerjaan dia tapi untungnya anak enggak ditelantarkan sih,"
"Masih punya hati berarti. Walaupun lagi punya masalah sama lo tapi dia enggak cuek sama anak,"
"Karena dia enggak cinta sama gue. Kalau sama anak, kelihatan banget kok bedanya,"
Vano jadi membayangkan kalau Ia dan Elvina punya anak. Ada perekat diantaranya dan Elvina. Meskipun bertengkar, akan kelihatan baik-baik saja di depan anak.
"Lo sendiri udah nikah?" Tanya Tata pada temannya Ajun yang kali ini bergabung dengan tiga serangkai yang sedang pusing karena masalah percintaan masing-masing. Ajun yang masih bertahan meskipun istri tidak mencintainya tapi demi anak, mereka masih bertahan dan berusaha bahagia sampai saat ini, Vano yang juga belum dicintai Elvina dan sering menjadi korban kekecewaan Elvina, dan Tata yang masih dikejar terus oleh mantannya dengan alasan masih cinta setelah sebelumnya memilih bersama perempuan lain.
"Gue belum. Baru aja putus kemarin,"
Tata terkekeh mendengarnya. Sorot mata Tata mulai kelihatan beda karena pengaruh minuman.
"Pantas aja mau ke sini. Ternyata lagi mumet juga,"
Vano mendorong lengan Tata dengan sikunya dan Tata langsung menatapnya tajam.
"Kenapa sih lo?"
"Jangan mabok, Ta! Minum sewajarnya,"
"Ini mah belum, Van. Jangan banyak omong deh. Gue cium tahu rasa lo!"
Tata memperagakan apa yang Ia ucapkan itu menggunakan gesture badannya dengan mendekatkan wajah ke arah Vano yang duduk di sampingnya.
"Gue tampar nih mulut lo,"
Tata terbahak dengan matanya yang mulai kehilangan fokus. Sementara Vano malah diliputi rasa marah karena ucapan temannya itu. Memang konteksnya mungkin bercanda, tapi bagi Vano yang kondisinya sedang terombang-ambing tentu tidak mudah menganggap bahwa ucapan Tata itu tidaklah serius.
"Santai, Van. Lo kenapa sih kok jadi nyolot?"
"Lo tuh mabok, Ta! Udah gue bilang, yang sewajarnya aja. Apalagi lo perempuan. Enggak mikir ya?"
***
Hari ini Elvina memutuskan untuk berenang di waktu sore menjelang malam daripada Ia malah melamun di kamar memikirkan Ia dan Vano yang terasa semakin jauh.
Elvina dengan gigih berenang dari ujung ke ujung padahal saat ini Ia tidak sedang menghadapi lawan di dalam sebuah pertandingan.
"Bu, udah jam tujuh. Masih mau berenang?" Tanya Amih asisten rumah tangganya.
"Baru satu jam setelah shalat tadi. Masih mau di sini, Mih," kata Elvina menyahuti Amih yang memanggilnya dari tepi kolam renang.
Amih yang khawatir dengan majikannya itu memutuskan untuk menunggu Elvina di tepi kolam. Ia takut terjadi sesuatu pada Elvina yang berenang di hari yang sudah gelap ini.
Apalagi Vano juga rajin berpesan padanya untuk memastikan Elvina baik-baik saja di rumah selama tidak ada dirinya yang menemani Elvina. Amih merasa memiliki tanggung jawab atas Elvina karena Ia menyayangi majikannya itu dan juga karena Vano sudah berkali-kali menitipkan pesan yang isinya serupa, Ia diminta menjaga Elvina dengan baik.
"Kenapa ya, Bapak sama Ibu enggak komunikasi baik-baik aja? Kasihan kalau begini jadinya. Malah menyakiti perasaan mereka masing-masing,"
"Mih,"
Panggilan Elvina membuat Amih terlonjak dari lamunannya. Ia segera menatap Elvina yang mengangkat tangannya. Elvina sudah tiga kali memanggil Amih tapi baru kali ini Amih memberikan reaksi.
"Kenapa melamun?"
"Enggak apa-apa, Bu. Cuma lagi mikirin ibu sama bapak aja,"
Elvina terkekeh pelan. Amih yang bukan siapa-siapa saja memikirkan. Sementara Vano sepertinya tidak memikirkan sama sekali.
"Boleh minta tolong?"
"Boleh, Bu. Minta tolong apa?"
"Buatkan jus mangga untuk aku,"
Kepala Amih sedikit maju dan matanya terbuka lebih lebar. Apa telinganya tidak salah mendengar? Anatha minta dibuatkan jus padahal cuaca mulai dingin karena memasuki malam dan Elvina juga masih di kolam renang.
"Yakin, Bu?"
"Iya, kenapa enggak?"
"Beneran minta jus, Bu?"
Elvina mulai jengah di tepi kolam renang karena mendengar pertanyaan dari Amih yang Ia anggap sebagai bentuk rasa keberatan Amih untuk memenuhi permintaannya.
"Kamu enggak mau bikinin buat aku? Ya udah---"
"Mau, Bu. Saya bikin sekarang. Tunggu sebentar ya, Bu,"
"Iya, terimakasih, Mih. Aku tunggu di sini jus buatan Amih,"
"Siap, Bu,"
__ADS_1
Amih yang semula berjongkok di tepi kolam langsung bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman sesuai permintaan majikannya.
Amih tidak ingin berlama-lama di dapur. Ia langsung ke kulkas tempat menyimpan berbagai jenis buah kemudian Ia mengambil mangga dan juga sedikit air, gula, serta blender.
Setelah mencampur semuanya menjadi satu, Amih mengambil gelas dan juga susu cair rasa cokelat sebagai penambah rasa.
Ia menuang jus yang sudah jadi ke dalam gelas dan Ia menambahkan susu. Hasil jus bikinannya sudah ada di depan mata. Dengan cepat Ia membawanya ke kolam renang dimana Elvina sudah menunggunya.
"Bu, ini jusnya,"
"Terimakasih, Mih,"
Elvina yang sudah duduk di tangga tepi kolam langsung menyambut satu gelas jus mangga buatan Amih yang Ia pikir keberatan menuruti permintaannya ternyata tidak.
"Mih, kamu enggak bikin untuk kamu juga?"
"Enggak, Bu. Ini udah malam, saya takut minum es malam-malam begini. Ibu cari penyakit aja deh. Kalau mau minum es itu cocoknya siang biar segar, Bu. Apalagi cuaca belakangan ini lagi panas. Kalau malam begini yang ada cari penyakit bukan cari kesegaran,"
"Enggak juga, Mih. Enak minum jus malam-malam. Biar menghilangkan stres,"
"Bu, caranya enggak begitu. Ngadu sama yang di atas,"
"Udah, Mih. Enggak usah ngajarin aku. Karena aku udah ngelakuinnya duluan,"
"Hmm maaf, Bu. Enggak bermaksud menggurui. Saya cuma mau Ibu tenang dengan cara yang baik aja, bukan malah menyakiti diri sendiri,"
Elvina terkekeh mendengar kata menyakitu diri sendiri. Apa yang Ia lakukan sampai Amih bicara begitu? Ia tidak bunuh diri atau segala macamnya. Tidak ada unsur menyakiti diri sendiri sama sekali dari apa yang Ia lakukan selama ini, termasuk ketika menghadapi permasalahan dengan Vano, suaminya.
***
Setelah berenang, Elvina langsung mandi meskipun Ia merasa cukup menggigil. Tapi Ia tidak mungkin istirahat tanpa mandi sebelumnya.
Cukup lama Elvina berada di kamar mandi karena memang Ia suka menghabiskan waktu yang tidak sebentar kalau sedang mandi. Ini bukan hal yang aneh bagi Amih karena Amih sudah tahu kebiasaan majikannya itu.
Sudah hampir dua jam Elvina berada di dalam kamar mandi, Amih yang ingin memastikan Elvina apakah sudah istirahat dengan tenang atau belum, dibuat mengerinyit karena ketukan pintu di kamar Elvina tidak kunjung mendapat jawaban. Begitu Ia tekan tuas pintu ternyata tidak dikunci, akhirnya tanpa basa-basi, Ia masuk ke dalam kamar Elvina dan Vano yang sunyi.
Ia tidak menemukan keberadaan Elvina di kamar, di walk in closet, maupun balkon. Akhirnya Ia mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi dengan kasar karena perasaannya sudah tidak enak sejak menginjak kamar itu.
"Bu, kenapa belum selesai mandi? Ini udah malam,"
Berkali-kali Amih mengetuk seraya memanggil tapi tidak ada jawaban, akhirnya Ia mencari kunci cadangan kamar mandi yang ada di kamar Elvina agar Ia bisa mengecek situasi di dalam. Ia benar-benar tidak tenang dan sudah punya prasangka buruk tentang Elvina. Tapi Ia terus berdoa semoga prasangka itu tidak menjadi kenyataan.
Setelah pintu kamar mandi berhasil dibuka dengan kunci cadangan Amih dibuat terkejut saat melihat Elvina sudah terbaring lemah di dalam bathub.
"Ya ampun, Ibu!"
Amih sempat bingung harus melakukan apa. Ia tidak bisa membantu Elvina sendiri maka perlu bantuan orang lain.
*****
"El sakit apa ya?"
Vano memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur. Ia duduk dan menatap jam dinding.
Rasanya tidak masalah Ia ke rumahnya sekarang untuk melihat keadaan Elvina. Ia putuskan untuk keluar dari hotel.
Vano bergegas dengan tergesa menyusuri koridor dan lobi hotel hingga akhirnya Ia sampai di basement hotel dimana mobilnya terparkir aman di sana.
Vano melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi karena rasa cemasnya yang memaksa Ia untuk berkendara dengan cepat supaya cepat juga tiba di rumah.
Begitu roda mobil menginjak area komplek perumahan, Vano semakin tidak sabaran untuk tiba di rumah dan bertemu dengan Elvina. Yang terpenting Ia bisa melihat Elvina, tidak bertemu tatap dengannya pun tidak masalah. Ia hanya perlu memastikan Elvina baik-baik saja.
Ia tiba di depan gerbang bertepatan dengan mendaratnya sebuah kendaraan roda dua dan Ia bisa melihat Amih turun dari motor tersebut usai memberikan uang.
"Amih darimana malam-malam begini?"
Vano segera menekan klakson agar Amih tidak menutup gerbang dan menyadari keberadaanya.
Amih langsung membuka gerbang lebar-lebar dan mobil Ken segera masuk ke halaman rumah.
Vano mematikan mesin mobil, melepas seat belt, kemudian keluar dari mobil sementara Amih masih mengamati di depan mobilnya.
"Mih," sapa Vano pada asisten rumahnya itu.
"Iya, Pak,"
"El sakit? Sekarang dia udah istirahat?"
"Iya, Pak. Tapi istirahatnya di rumah sakit,"
"Hah?"
Vano tidak menduga kalau Elvina sampai harus dirawat di rumah sakit. Elvina tumbang dan Ia tidak ada di samping Elvina. Rasa sesal langsung memukulnya bertubi-tubi.
"Dimana rumah sakitnya? Saya mau ke sana sekarang,"
****
"Kenapa datang ke sini? Masih peduli sama Elvina?"
Kedatangan Vano ke rumah sakit membuat kesalnya Dini pada menantunya semakin menjadi. Disaat semua orang sudah datang sejak tadi mendampingi Elvina, Vano malah baru datang menampilkan batang hidungnya disaat Elvina sudah terlelap.
"Aku minta maaf, Bun, Yah,"
__ADS_1
"Tahu darimana kalau Elvina ada di sini, Ken?" Tanya Arman dengan sorot dinginnya pada Vano. Arman juga kesal pada Vano cuma Ia masih bisa mengendalikan. Kedatangan Vano ke sini sudah cukup membuktikan kalau Vano sebenarnya masih peduli. Hanya saja memang sudah cukup terlambat.
"El lagi istirahat. Kamu bicara sama ayah di luar,"
Vano mengangguk dengan berat hati Ia meninggalkan Elvina yang Ia lihat sedang terpejam dengan wajah pucatnya.
Hatinya meringis sedih dan ingin sekali merengkuh perempuan yang dicintainya itu sambil menanyakan bagaimana keadaannya saat ini.
Arman menepuk pelan sisi samping dimana Ia duduk agar Vano juga ikut duduk.
"Kamu tahu darimana kalau El sakit?"
"Dari Rendra, Yah. Aku enggak bisa tenang di hotel karena mikirin El terus. Akhirnya aku ke sini,"
"Bagus, walaupun terlambat tapi terimakasih kamu udah menunjukkan kepedulian kamu sama kondisi El,"
Vano menunduk menatapi tautam kelima jemarinya ketika Arman berkata bahwa Ia terlambat. Ia menyadari kebodohannya itu tapi di lain sisi Ia cukup bersyukur karena bisa melihat kondisi Elvina malam ini, tidak tunggu besok.
"Jadi keputusan kamu setelah ini gimana? Udah mau pulang? Atau masih perlu waktu sendiri?"
"Aku bakalan pulang, Yah Aku juga mau temani El di sini sampai dia keluar dari rumah sakit. Aku minta maaf ya, Yah,"
"Iya kamu memang salah juga tapi ayah enggak bisa sepenuhnya menyalahkan kamu. Lagipula sekarang kamu udah mau pulang. Perbaiki hubungan kamu sama El ya,"
"Iya, Yah. Aku akan berusaha untuk menekan ego aku,"
"Semoga El juga begitu supaya kalian akur ya,"
*****
"Muka kamu kenapa? Kamu habis adu jotos sama siapa, Mas?"
Vano terkekeh seraya menyentuh sudut bibirnya yang menjadi pusat perhatian Elvina setelah sekian lama mereka sama-sama terdiam hingga suasana di dalam ruangan Elvina sangat hening karena hanya mereka berdua sebagai penghuninya. Rendra yang barus aja menjenguk sudah pulang begitupun orangtua Elvina.
"Iya, aku habis dihajar Rendra,"
"Kok bisa? Kenapa kalian bisa bertengkar, Mas? Tadi aku sempat lihat wajahnya Rendra enggak ada luka kayak kamu,"
"Ya memang dia yang hajar aku seenaknya. Kalau aku mah cuma dikit aja mukul dia tadi,"
"Kenapa sih harus begitu?"
"Karena kamu. Dia ngasih tahu ke aku kalau kamu sakit. Aku udah sempat di hotel tapi aku terus kepikiran sama kamu. Akhirnya aku ke rumah dan ketemu Amih yang baru pulang. Aku tanya ke dia tentang kamu. Tapi ternyata kamu udah di sini,"
"Kenapa kamu peduli? Harusnya kamu biarin aja aku sakit di sini. Lagipula ada keluarga aku juga yang rawat aku,"
Elvina senang Vano datang begitu tahu Ia sakit. Tapi kalau masih menyimpan rasa kesal untuk apa?
"Aku minta maaf ya, Sayang. Maaf udah bikin kamu begini,"
"Aku juga minta maaf, ngomong-ngomong senang juga aku dipanggil sayang dan kamu ngomongnya udha aku kamu,”
Rasanya sedikit lega setelah bicara empat mata dengan Elvina walaupun rasa kecewa tentu masih ada. Tapi benar kata Arman, semakin menjauh dari sumber kekecewaan justru akan semakin lama untuk pulih.
Mungkin memang seharusnya Ia dan Elvina kembali dekat, tidak lagi hidup masing-masing seperti beberapa hari ke belakang.
"Rebdra datangin kamu kemana? Ke kantor?"
Vano menggeleng pelan. Ia ragu menjawab pertanyaan Elvina kali ini. Apa Ia katakan saja bahwa Rendra mendatanginya ke bar? Tapi Ia khawatir Elvina berpikiran yang macam-macam setelah tahu Ia ke bar apalagi bila Elvina juga tahu Ia bersama Tata ya g merupakan teman perempuannya yang belakangan ini jadi dekat lagi setelah semoat tidak berinteraksi.
"Kamu istirahat ya. Aku temani kamu di sini, Sayang,"
Vano mengalihkan pembicaraan. Ia bersandar di kursi sembari bersedekap tangan dan memejamkan matanya.
"Apa kamu bakal tidur sambil duduk begitu, Mas?"
"Iya, Sayang. Enggak apa-apa kok aku tidur di sini,"
"Kenapa enggak di sofa bed aja? Itu ada,"
"Enggak, aku mau tidur di sini aja,"
"Nanti sakit semua badan kamu, Ken,"
"Enggak apa-apa yang penting enggak sakit hati aja,"
****
Elvina dan Vano sudah tiba di rumah setelah semalaman mereka berada di rumah sakit karena Elvina yang tidak sadarkan diri setelah berenang malam-malam.
"Kamu enggak kerja, Mas?"
"Enggaklah, Sayang. Udah mau siang sekarang,"
"Oh aku pikir kamu mau kerja setelah antar aku ke rumah,"
Vano menggeleng kemudian Ia menepuk pelan perutnya. "Aku lapar nih. Aku mau makan dulu ya,"
"Iya udah jam sepuluh belum makan,"
Vano bergegas keluar dari kamar meninggalkan Elvina sendirian di kamar.
Elvina bersyukur pulang ke rumah dengan pikiran yang tidak terasa terbebani lagi dan juga kondisi badannya yang sudah jauh lebih baik dan menurutnya ini berkat Rendra. Karena Rendra datang pada Vano dan memberi tahu Vano tentang kondisinya.
__ADS_1