Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 102


__ADS_3

“Lo sama Vano udah berapa lama sih?”


“Apanya?”


“Ya nikahnya lah, dodol,”


“Oh, setahun, kenapa emangnya?”


“Satu tahun? Masih terbilang baru lah ya, seumur jagung,”


“Ya, masih belum lama sebenarnya, tapi cobaannya bukan main aduhai,”


“Emang begitu. Gue dengar-dengar kalau usia pernikahan dibawah lima tahun itu masih rawan gonjang-ganjing, tapi enggak tau deh bener atau enggak nya. Gue belum berumah tangga soalnya,”


“Makanya berumah tangga segera dong! Ah kelamaan lo mah,”


“Tadinya mau ngajakin lo, eh udah keduluan orang,”


“Dih, emang lo pikir gue mau, Jon? Gue ingat banget lo tuh playboy bukan main, enggak mau gue nikah sama lo,”


Jona terbahak ketika Elvina mengingat dirinya di masa lalu, tepatnya masa sekolah. Mereka putus saja karena Elvina tahu Jona main-main di belakangnya, selain itu mereka memang kerap bertengkar juga.


“Lo masih ingat?”


“Iya lah, mana tiap hari gelut muluk, makan ati gue pacaran sama lo,”


“Seriusan makan ati? Bukannya sering gue bikin bahagia juga ya? Ih jangan membohongi perasaan deh, El,”


“Iya, cuma lebih banyak dibuat makan ati sih, daripada bahagia,”


“Kita tuh berantem gegara lo kadang egois banget sumpah. Sekarang lo masih begitu enggak sih?”


Elvina nampak berpikir sebentar kemudian menggelengkan kepalanya. Memang yang egois kata orang, belum tentu sadar bahwa dirinya egois. Contohnya Elvina ini. Vano selalu mengatakan bahwa Ia egois, keras kepala, tapi Elvina tidak mengakui itu. Malah sebaliknya, Ia yang menilai Vano seperti itu.


“Beneran lo enggak egois?”


“Enggak, menurut gue sih enggak,”


“Artinya lo sama Vano tuh jarang berantem ya?”


“Ugh jangan ditanya deh,”


Jona menatap Elvina penasaran. Ia makanya bertanya karena penasaran bagaimana hidup keseharian Elvina dengan suaminya. Saat masih berpacaran, Elvina itu terbilang ingin dominan dalam hubungan mereka, Jona penasaran apakah setelah menikah, Elvina masih seperti itu atau justru sebaliknya.


“Jarang adu bacot ya?”


“Sering, kata siapa? Sering berantem gue sama Vano,”


“Lah seriusan? Gue kira mah anteng aja kalian,”


“Enggak lah, yang namanya hubungan pasti ada aja masalahnya, pacaran aja begitu, apalagi udah nikah. Biar lo enggak penasaran, cepetan nikah deh kalau saran gue,”


Jona mendorong kening Elvina dengan telunjuknya. Seenak jidat menyarankan agar Ia cepat menikah. Masalahnya sekarang adalah, jodohnya sekarang ini belum ada.


“Lo cariin gue jodoh makanya biar jangan cuma kasih saran aja tapi kasih bantuan,”


“Teman gue rata-rata udah pada nikah sih, tapi ada yang belum juga cuma belum tentu mereka mau sama lo, Jon. Modelan buaya kayak lo jarang ada yang mau,”


Jona terbahak dan mengumpati Elvina yang masih ingat bagaimana dirinya dulu. Tapi sekarang ini Ia sudah lebih baik, menurutnya seperti itu.


“Sekarang gue udah enggak playboy lagi, El. ‘Kan udah lebih dewasa, jadi macam-macam nya dikurangi,”


“Jangan cuma dikurangi dong, tapi dihilangkan!”


“Iya udah enggak playboy gue, seriusan deh,”


“Beneran? Sejak kapan tobat, Jon?”


“Gue playboy pas lagi sekolah aja, masuk kuliah gue malah sempat jomblo setahun, asal lo tau. Terus gue enggak playboy lagi sih, jadi gue merasa udah jauh lebih baik, dulu tuh emang bandel aja, mau main-main, aslinya gue mah baik banget, lo tau sendiri ‘kan,”


Obrolan mereka mengalir begitu saja sembari Jona menghabiskan sarapannya dan Elvina menyeruput minumannya.


Yang dibahas tidak jauh dari soal asmara. Jona penasaran dengan kehidupan pernikahan Elvina, sementara Elvina terus menekan Jona supaya segera menikah dan tak lagi penasaran dengan jalan cerita pernikahannya.


“Lo kapan nikahnya?”


“Ah gila, nanya kapan nikah muluk, bosan gue sumpah,”


“Ya udah nanti coba gue cariin teman gue yang mau sama lo ya, nanti gue obral lo dulu, barangkali ada yang tertarik,”


“Sialan mulutnya ni anak,”


Elvina terbahak puas dan menghindar ketika Jona akan melempar korek api gas yang Ia ambil dari sakunya untuk membakar rokok.


“Gue bakar nih mulut lo yang banyak bacotnya,”


“Buruan sarapan nya, biar kita cari kado buat nyokap lo,”


“Emang udah buka? Nanti kita masuk mall, belum buka lagi,”


“Ya makanya kita lihat aja dulu. Barangkali udah buka, jadi kita bisa langsung aja cari tas,”


“Okay deh, dikit lagi abis nih bubur gue,”


Jona melahap buburnya hingga mangkuk bersih tak bersisa, Ia segera meneguk air minum kemudian membersihkan sudut bibirnya dengan tissue. Barulah Ia beranjak mengikuti Elvina yang sudah lebih dulu pergi.


“Mas, belum bayar ya?”


“Lah emang iya? Eh sorry-sorry,”


Elvina menoleh ke belakang saat terdengar suara Jona yang ditegur penjual. Elvina tertawa, bisa-bisanya lupa sudah bayar atau belum. Tapi Ia lihat Jona tetap mengeluarkan uang berwarna merah muda sebanyak satu lembar dan kembalian yang akan diberikan penjual, tidak Ia terima.


“Sebagai permintaan maaf karena udah lupa,” ujar Jona seraya terkekeh.

__ADS_1


Jona langsung menyusul Elvina dan menepuk bahunya. Ia menyalahkan Anatha yang terlalu buru-buru sampai Ia belum bayar sudah akan pergi.


“Gara-gara lo, gue jadi enggak punya muka lagi,”


“Itu masih ada muka lo, enggak hilang kok,”


“Malu, njir. Lagian lo buru-buru banget sih,”


“Lo kelamaan abisnya, biar cepat kita dapat kado nyokap lo,”


“Ya elah santai aja sih, orang lo juga udah izin sama suami lo ‘kan?”


“Udah cuma ‘kan gue enggak bisa lama-lama,”


“Oh dijatah perginya berapa jam gitu ya?”


“Ya enggak sih, tapi gue enggak mau lama aja, gue pengin balik cepat, Jon,”


Jona segera merangkul bahu Elvina dan mengajaknya berjalan cepat. Elvina langsung menghempas tangan pria itu dari bahunya.


Sudah seperti orang pacaran saja kelihatannya ketika mereka berangkulan begitu. Elvina tidak mau orang menganggap mereka yang tidak-tidak, apalagi dengan lelaki macam Jona ini, takutnya nanti ada yang tiba-tiba datang dan mengaku bahwa dia adalah kekasih Jona, lalu nanti Ia ditampar karena dianggap telah merebut Jona. Amit-amit, Elvina tidak ingin itu sampai terjadi. Bayangannya memang suka selangkah lebih maju. Ia harus ber-antisipasi.


Mereka berdua memasuki sebuah toko tas, Anatha langsung membantu Jona mencarikan tas yang tepat untuk mamanya Jona.


Sebenarnya Jona ikut kemana Elvina melangkah saja, Ia tidak bisa memilih, jadi sekarang ini seperti Elvina yang akan memberikan kado, padahal dirinya.


“Lo bantu pilih dong. Kayaknya gue doang yang milih,”


“Udah lo aja, gue ikut apa kata lo,”


Jona berbisik di telinga Elvina, “Gue enggak paham beginian, El. Gue enggak bisa milih, karena kata gue semuanya bagus,”


“Masa iya lo mau beli semuanya? Asal sanggup sih enggak masalah,”


“Nah itu dia, dana nya kagak ada,”


“Ah miskin lo mah, buat nyokap masa nggak ada,”


“Eh mikir dikit lah, semampu-mampunya gue, enggak bakalan juga nyokap gue mau terima tas satu toko ini, lagian emang duit gue cuma buat beli kado aja? ‘Kan banyak kebutuhan,”


“Kebutuhan apa? Lo emang punya kebutuhan, Jon? Lo ‘kan belum nikah, cuma nanggung diri sendiri sama orangtua aja,”


“Ya itu dia, pasti ada kebutuhan lah, dodol,”


“Iya tau, tapi enggak sebanyak kalau lo udah punya istri,”


“Iya lah, beda banget hitungannya kalau itu,”


“Nyokap lo suka tas yang kayak apa sih?”


“Enggak tau ah, gue nggak pernah perhatiin,”


“Masa iya lo enggak pernah perhatiin? Kalau lo tau ‘kan bisa gue kira-kira,”


“Gue bingung, Jon! Di sini bagus semua,” Elvina balas berbisik pada lelaki di sebelahnya saat ini. Sudah mengajak laki-laki macam Jona berbelanja. Tidak bisa diandalkan sama sekali untuk mencari yang sekiranya bagus, padahal yang mau memberi kado dia sendiri.


“Pasti ada yang paling bagus menurut lo, udah ambil aja itu,”


“Nyokap lo kerja enggak? Kalau kerja, beliin tas buat kerja aja,”


“Iya, di kantor tapi,”


“Nah ya udah, beli aja tas untuk kerja deh,”


“Tapi kayaknya dia udah banyak tas kerja, El. Cari tas yang untuk pergi-pergi gitu bisa kali ya,”


“Oh gitu, ya udah, gue cari untuk pergi selain ke kantor ya,”


Jona mengangguk setuju. Menurut pengamatannya yang hanya sekilas, sang mama sudah banyak memiliki koleksi tas untuk bekerja, tapi kalau untuk pergi jalan-jalan masih lebih sedikit dibandingkan tas untuk kerja.


“Yang shoulder bag atau model sling bag gitu?”


“Nah itu terserah lo lagi deh,”


“Ya elah ini orang benar-benar enggak ada gunanya. Mending lo enggak usah ikut aja, Jon. Pakai jasa titip ke gue nanti gue pasang harga jasanya yang mahal,”


Jona tertawa pelan mendengar ucapan Elvina yang sudah kelewat kesal karena Ia dianggap benar-benar tidak berguna. Hanya menjadi ekor, sekalinya dimintai pendapat, pada ujungnya bilang terserah.


“Udah kayak perempuan aja kata andalannya terserah,”


“Ya abisnya gue enggak tau mau pilih apaan, pokoknya gue serahin ke lo aja deh,”


“Bayar jasa gue nih mahal ya, terus pake dollar juga, USD pokoknya, awas aja kalau enggak bayar,”


“Tadi udah gue bayar sama minuman di tukang bubur,”


“Ya ampun, segelas jeruk hangat doang? Buset, yang benar aja lo,”


Jona terbahak dan mendorong pelan bahu Elvina yang terperangah tidak menyangka dengan perkataannya barusan. Jasa nya sebagai orang yang memilihkan kado hanya dibayar dengan segelas minuman jeruk.


“Bercanda elah. Lo mau beli apaan? Gue traktir aja deh, enggak usah duit,”


“Gue mau duit,”


“Lo kurang duit belanjaan apa gimana, El?”


Ledek Jona pada temannya itu yang bersiteguh ingin uang sebagai bayaran, bukan barang yang pasti Ia bayarkan kalau memang Elvina menginginkannya.


“Enggak lah, duit belanja mah lebih dari cukup, tapi gue mau jadi kaya raya,”


“Udah kaya, kurang kaya apaan lagi? Mau kaya monyet?”


“Ya Aamiin lo bilang gue kaya. Padahal mah enggak,”

__ADS_1


“Yang penting kaya hati, El,”


Elvina meraih sebuah sling bag berwarna abu. Entah mengapa Ia langsung jatuh cinta ketika melihat tas tersebut padahal Elvina akui tas yang Ia temui sejak tadi semuanya bagus-bagus sekali.


“Ini bagus enggak?”


“Bagus, semuanya bagus, makna nya gue enggak bisa pilih salah satu,”


“Ya udah ini aja deh,”


“Beneran? Menurut lo bagus?”


“Iya, makanya gue pilih ini, enggak usah tanya lagi,”


“Okay deh, gue bayar sekarang,”


Elvina mengangguk dan segera memberikan sling bag pilihannya pada Jona agar segera dibawa ke kasir untuk dibayarkan.


Pramuniaga yang mengambil alih tas tersebut dan dibawanya menuju kasir. Elvina terkekeh karena melihat Jona yang tersenyum begitu ramah pada pramuniaga itu.


“Dih senyumnya manis banget, buaya,” ledek Elvina ketika pramuniaga itu sudah melangkah lebih jauh di depan mereka sementara Ia dan Jona ada di belakangnya.


“Dia juga senyum, ‘kan gue jadi meleleh, El,”


“Disenyumin gitu aja udah meleleh, ya ampun,”


“Kenapa sih? Lo cemburu ya? Bilang aja napa,”


“Ish amit-amit,”


Jona akan melayangkan tangannya untuk merangkul Elvina dengan erat namun Elvina langsung menjaga jarak, membuktikan betapa amit-amit nya Jona itu.


“Lo serius enggak mau gue traktir? Tas di sini mahal-mahal lho, El,”


“Gue tau! Barusan ‘kan gue lihat harganya juga, lagian ini langganan gue kalau mau beli tas,”


“Oalah pantesan udah jago milihnya, enggak begitu lama. Jadi lo beneran enggak mau nih?”


“Enggak, gue maunya duit, terus dollar,”


“Kagak ada dollar, njir. Adanya rupiah, enggak usah belagu mau dolar segala,”


“Ya udah enggak jadi,”


“Ah elah banyak gaya ni orang,”


Elvina hanya bercanda saja sebenarnya. Sengaja Ia menggunakan dollar yang kemungkinan besar memang tidak ada di dompet Jona. Kalau begitu maka Jona tak akan keluar sepeser pun.


“Beneran enggak usah?”


“Yoi, gue ikhlas,”


Memang niatnya Elvina tidak minta balasan, hanya Ia tak menyangka saja kalau Jona akan membelikannya tas.


“Seriusan nih?”


“Iya! Nanya lagi, gue tonjok nih,”


“Wuidih baik banget istrinya Vano. Thanks ya,”


“Hmm,”


“Ikhlas enggak sih? Kok cuma hmm aja? Bilang sama-sama kek,”


“Iya sama-sama, Jon,”


“Okay, gue antar lo balik sekarang,”


Elvina mengangguk cepat. Mencari tas sebentar rupanya cukup membuat kaki pegal, mungkin karena jarang berjalan kaki, selalu dimanja dengan kendaraan. Pergi dekat pun menggunakan kendaraan.


Elvina di dalam mobil memeriksa ponselnya. Ternyata Vano baru saja mengirimkan pesan untuk mengajaknya makan siang bahkan Vano juga menelponnya tapi tidak Ia jawab.


Elvina menghubungi suaminya yang langsung menjawab. Sehingga Ia tidak jenuh menunggu teleponnya dijawab oleh Vano.


“Mas, kamu ngajakin aku makan siang?”


“Ya, nanti aku jemput kalau memang kamu mau,”


“Dimana?”


“Terserah mau makan dimana, itu juga kalau kamu mau. Tapi kalau kamu lagi jalan sama teman kamu ya enggak apa-apa, aku makan siang sendiri aja,”


“Okay, kamu jemput aku di rumah nanti ya, ini aku udah di perjalanan pulang,”


“Masih sama teman kamu itu? Yang namanya Zona?”


“Jona, Mas, sejak kapan dia ganti nama jadi Zona?”


“Iya itu maksudnya, masih sama dia?”


“Iya ini di jalan pulang kok, udah selesai cari kado untuk mamanya,”


“Hmm gitu, ya udah nanti aku jemput, bye,”


“Bye, semangat kerjanya, okay?”


Vano terdiam sebentar di seberang sana. Tumben Elvina berucap begitu. Biasanya sambungan telepon langsung berakhir kalau memang mereka sudah selesai bicara. Barusan Elvina memberinya semangat dalam hal bekerja. Vano tentu senang walaupun Ia bingung.


“Seriusan kasih semangat ke aku? Ya ampun, senang aku lho,”


“Iya lah benar, emang salah ya?”


“Enggak sih, cuma tumben aja, oh karena lagi akting di depan orang lain ya? Biar kelihatan mesra gitu?”

__ADS_1


Elvina mendengus dan langsung menyudahi obrolan mereka. Ia menggeser panel merah di layar ponsel dengan kasar kemudian Ia mengembalikan ponselnya ke dalam tas juga dengan kasar.


__ADS_2