Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 18


__ADS_3

“Kamu pasti senang abis ketemu sama El tadi, ya walaupun nggak sengaja. Iya ‘kan? Jujur aja deh, Mama tau kok,”


Vano tertawa ketika Lisa menjawil dagunya mengolok Ia yang memang bahagia sekali setelah bertemu dengan Elvina tadi.


“Ini perjalanan kita menuju tempat acara macet, biasanya kamu itu udah badmood kalau macet dikit aja. Mukanya udah males, berdecak mulu. Nah sekarang Mama liat beda. Makanya Mama tebak kayak tadi. Ternyata pengaruhnya El besar juga ya buat kamu,”


“Hahahaha iya dong, Ma. Siapa sih yang nggak senang abis ketemu sama perempuan yang disayang, dicinta, dikagumi? Pasti senang lah aku,”


“Duh ya ampun so sweet banget sampai disebutin lengkap tuh. Disayang, dicinta, dikagumi,”


“Iya emang perasaan aku ke El lengkap, Ma. Makin hari, makin bertambah lengkap,”


“Jiah anak Mama bisa ngomong gitu juga ternyata, Mama sih belum pernah liat kamu sebahagia ini ya,”


“Baru kali ini?”


Lisa menganggukkan kepalanya. Vano memang sempat dekat dengan perempuan lain sebelum akhirnya melabuhkan hatinya pada Elvina, tapi tidak pernah kelihatan sebahagia ini.


“Emang benar kata adek, aku ini udah kebucinan,”


“Semoga perasaan itu akan tetap ada, bahkan terus bertumbuh sampai akhir hidup kamu, tetap satu aja, yaitu El, nggak usah yang lain,”


“Aamiin,”


******

__ADS_1


“Dav, jangan naik dulu ke kamar. Papa mau tanya sama kamu,”


Davina pikir Ia sudah aman tidak diinterogasi oleh papanya, tapi ternyata begitu sampai di rumah Ia dihalangi oleh Papanya supaya tidak ke kamar dulu.


“Tadi Papa sempat liat kamu mau pulang sama teman kamu, bener ‘kan?”


“Diajakin aja kok, Pa. Tapi aku nggak mau?”


“Yang benar?”


“Iya, Pa,”


“Yang Papa liat tadi cowok,”


“Iya emang teman aku cowok yang tadi ngajakin aku pulang bareng,”


“Nggak, Pa. Buktinya aku pulang sama Pak Idam mulu, nggak sama siapa-siapa. Papa boleh tanya tuh ke Pak Idam, ke Mama juga,”


“Kenapa harus tanya ke Pak Idam dan Mama? Tanya sama diri kamu sendiri dulu, kamu jujur nggak?”


“Jujur, Astaga Papa nggak percaya banget deh. Aku nggak pernah pulang bareng sama cowok. Diajakin pernah tapi aku nggak mau,”


“Dia yang sering ngajakin kamu pulang bareng?”


Davina tidak mau kelihatan gugup, tapi tetap saja susah dan itu adalah tanda-tanda kalau Davina sedang berusaha mencari jawaban yang aman. Beni tahu betul karakter anaknya.

__ADS_1


“Nyari jawaban? Mau bohong? Dia yang sering ngajakin kamu pulang bareng?”


“Nggak, teman-teman aku pada sering kok ajakin aku pulang bareng, nggak hanya satu orang. Lagian emang kenapa sih, Pa? Orang ngajakin pulang bareng mah nggak apa-apa kali, yang penting aku pulangnya sama pak supir bukan sama yang lain,” ujar Davina.


“Ya bisa aja nggak cuma sekedar mengajak, dia juga maksa kamu,”


“Nggak sama sekali, Papa,”


“Jangan pernah mau pulang sama orang lain, yang bukan keluarga kamu atau orang yang Papa Mama kenal, paham? Awas ya kalau lancang pulang sama orang lain,”


“Nggak, Pa,”


“Udah punya pacar? Hmm?”


“Nggak kok,”


Davina langsung menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan cepat. Setelah melarang Ia untuk pulang dengan orang lain, tiba-tiba papanya dengan tatapan menyelidik.


“Kalau sampai ngajakin pulang, itu tandanya udah akrab, udah dekat banget. Ya wajar kalau Papa tanya begitu ‘kan?”


“Tapi kalau ke eman emang harus akrab, Pa. Aku ke semuanya akrab,”


“Intinya kamu nggak boleh pacaran, pergaulan kamu dijaga! Pikirin belajar, kalau udah saatnya, nggak bakal Papa Mama larang-larang. Silahkan, kalau memang udah waktunya. Tapi sekarang ‘kan lagi sekolah,”


“Iya, Pa,”

__ADS_1


“Liat Abang tuh, udah dewasa nggak pernah ‘kan kamu liat dia berlebihan sama perempuan? Dia bisa jaga dirinya sampai usia udah dewasa kayak gitu,”


“Iya, Pa,”


__ADS_2