
“Bentar ya, gue angkat telepon sulu,”
“Okay-okay,”
Elvina memilih untuk beranjak ke teras rumah Shela ketika Ia mendapatkan panggilan dari suaminya.
“Assalamualaikum, kamu udah di rumah teman kamu ya?”
“Iya, Mas,”
“Kok nggak ngasih tau saya? Pantesan aja saya nggak liat kamu lagi di kampus,”
“Hehehe maaf aku lupa, Mas,”
“Jangan dibiasain lupa ngasih kanar udah dimana jadi saya tau posisi kamu,”
“Iya, Mas, aku minta maaf ya,”
“Ya udah kalau gitu saya tutup teleponnya. Nanti aklau udah mau pulang kabarin saya,”
“Ih ‘kan aku udah bilang nggak usah dijemput, aku mau pulang sama teman aku aja, Mas,”
Vano menghembuskan napas kasar, padahal Ia ingin memastikan Elvina itu aman, dan Ia ingin Elvina pulang bersamanya namun Elvina menolak.
“Kamu dis ana sampai jam berapa? Jangan terlalu sore pulangnya, rawan di jalan,”
“Iya, Mas,”
“Nanti kabarin saya lagi kalau mau pulang. Ini beneran nggak mau saya jemput? Hmm?”
“Nggak, Mas. Ih kenapa bolak balik sih nanya itu terus,”
“Saya mau mastiin aja, El. Ya udah lah jangan kesal gitu. Pokoknya kabarin saya kalau udha mau pulang okay?”
“Iya tapi nggak dijemput ya,”
“Iya nggak saya jemput. Takut banget sih saya jemput,”
“Ya soalnya aku mau bebas lah sesekali. Aku pengen puas sama teman-teman aku, terus aku nggak mau kamu jemput, Mas,”
“Memang selama ini saya ngekang kamu ya? Rasnaya nggak deh. Saya bebasin kamu kok mau kemana aja, sama siapa, selagi saya tau klyang kamu lakukan itu positif,“
“Udah ya jangan nasehatin aku sekarang dulu, Mas. Aku mau balik ke dalam, aku nggak enak sama teman-teman aku,”
Setelah bicara seperti itu, Elvina mengakhiri sambungan telepon mereka. Dan kembali ke dalam. Elvina tidak tahu kalau di seberang sana suaminya menahan kesal.
“Dijemput nggak mau, dinasehatin nggak mau, entah apa yang kamu mau itu, El,”
Vano menyimpan ponslenya did alam saku kemudian Ia mepajukan mobilnya ke rumah. Kali ini Ia pulang tanpa istrinya yang sedang berada di rumah teman dan tidak mau Ia jemput dengan alasan ingin bebas dengan teman-temannya. Vano persilahkan tapi kalau sudah berlebihan maka akan Vano tegur. Nanti Vano akan melihat jam berapa Elvina pulang. Dan apakah Elvina benar-benar menepati ucapannya untuk pulang dengan teman, alih-alih ojek online. Dan itulah yang dikhawatirkan oleh Vano sebenarnya.
********
“Gimana pasta buatan gue? Enak nggak?” Tanya Shela pada lima orang teman dekatnya yang Ia undang untuk datang ke rumahnya.
“Enak, lo lagi ulang 'tahun tapi sempat-sempatnya bikin ginian, mana enak banget lagi,” ujar Elvina.
__ADS_1
“Ah bisa aja. Makasih lho,”
“Dih harusnya kita lah yang bilang makasih soalnya lo baik banget udah ngajakin kita ke rumah lo ini terus kita dijamu, beuh mana es buah sama pasta nya enak-enak semua,” ujar Elvina lagi.
“Nggak ketinggalan pempeknya juga enak nih,” tambah Lika yang menjadikan pempek buatan Shela sebagai juaranya.
“Iya enak banget serius,“ tambah yang lainnya.
“Ah iseng fotoin makanan ke Mas Vano ah. Biar dia makan kalau dia lapar, dia pasti belum makan nih sekarang, ntar tau-tau udha makan malam aja,”
*****
“Van, udah makan siang? Mama masak udang balado tuh, Nak,”
“Nanti aja sekalian makan malam deh, Ma. Aku sekarang mau istirahat dulu,”
“Eh kok gitu, makan lah, jangan nunggu malam, Nak,”
“Aku mau istirahat dulu, Ma,”
“Oh ya udah kalau gitu eh istrimu mana?”
“Lagi sama temannya, Ma,”
“Lah terus gimana pulangnya? Kapan pulang?”
“Katanya bakal pulang sama temannya, Ma. Dan aku belum tau kalan pulangnya,”
“Oh gitu ya udah, nanti jangan lupa dihubungin istrimu ya, Nak,”
“Ya udaj iatirahat deh rebahan aja dulu,”
“Iya, Ma,”
Vano bergegas naik ke lantai atas tepatnya ke kamar untuk istirahat. Tapi sebelum itu Ia mandi dulu supaya istirahat dengan keadaan badan yang bersih. Selepas mandi, Vano langsung ke atas ranjang membaringkan badannya lalu meraih remot televisi.
Setelah itu Ia meraih ponselnya. Ia buru-buru membuka pesan yang dikirim oleh istrinya. Ia pikir Shena minta dijemput tapi ternyata tidak. Elvina hanya mengirimkan foto makanan.
“Maksudnya apa coba?” Gumam Vano.
Vano memutuskan untuk tidak membalas namun Elvina lagi-lagi mengirimkan foto makanan, dan kali ini ada es buah.
-Mas, aku makan enak nih. Mas udah makan?-
-Belum-
-Tuh udah aku duga. Makan lah, Mas, kenaoa nggak makan sih?-
-Jadi kamu ngirimin pesan berupa gambar makanan itu supaya saya makan?-
-Iya heheheh-
Vano sudah membaca dan keluar dari aplikasi whatsapp, tapi karena ada pesan lagi dari istrinya, Vano yang penasaran kembali membuka aplikasi whatsapp.
-Makan, Mas! Makan buruan, ntar sakit lho. Giliran aku nggak makan aja dicerewetin, tapi Mas sendiri nggak makan-
__ADS_1
-Iya nanti saya makan-
-Kapan?-
-Makan malam, sekarang saya mau rebahan-
-Lama banget, Mas. Ini masih sore lho, Mas-
-Ya nggak apa-apa. Kamu kapan pulang?-
-Kenapa udah nanyain kapan pulang? Orang baru juga di sini-
-Ya saya pengen tau aja-
-Mungkin bentar lagi-
-Ok, hati-hati ya, saya tunggu di rumah, El-
Tak ada balasan pesan lagi dari sang istri. Vano kemudian keluar dari aplikasi whatsapp dan Ia meletakkan ponselnya di atas nakas dan memejamkan mata. Ia ingin istirahat sebentar. Hari ini rasanya melelahkan tapi meski begitu Ia tidak keberatan sedikitpun bila seandainya Elvina minta dijemput. Tapi sayangnya Elvina tidak menginginkan hal itu. Elvina ingin pulang dengan temannya saja.
Suara ketukan pintu membuat Vano akhirnya membuka kedua matanya yang semula terpejam.
“Iya siapa?”
“Abang, Kak El mana? Temenin aku beli bakso yuk,”
“Kak El belum pulang lagi di rumah temannya,”
“Hah? Apa, Bang?”
Karena Vano mengantuk jadi suaranya samar-samar di telinga Davina. Makanya Davina minta Abangnya itu bicara sekali lagi.
“Kak El lagi di rumah temannya, Dek. Belum pulang dia, bentar lagi paling,”
“Lah, kok nggak pulang bareng Abang sih?”
“Ya dmang harus bareng Abang terus? ‘Kan dia juga punya kehidupan sebdiri,”
“Berantem ya, Bang?”
“Nggak ah jangan sok tau kamu,”
“Hahahahah beneran nih nggak berantem?”
“Beneran lah,”
“Ya udah kalau gitu aku tunggu Kak El pulang deh aku amu ajakin Kak El ke depan komplek beli bakso,”
“Makan yang ada aja sih,”
“Ah mau makan bakso, makan amsalan Mama tadi udah kok,”
“Mau Abang anterin?”
“Nggak ah, Abang mau istirahat ‘kan? Ntar sama bestie aku aja. Abang ‘kan bukan bestie aku tau,”
__ADS_1