
"Aku bilang duduk sekarang. Terus makan siomaynya. Kamu ngerti?"
Suara Vano terdengar sangat lembut di telinga. Siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa tersanjung diperlakukan selembut itu oleh lelaki tampan yang tegas ini.
Elvina mengangguk polos seperti anak kecil. Hal itu membuat Vano berusaha menahan tawanya dengan menggigit bibir bawahnya gemas.
Elvina langsung duduk di sebelah Vano yang sudah melahap siomay miliknya. Kalau sudah diperlakukan lembut, Elvina bisa apa selain patuh.
Sesaat Vano menggelengkan kepalanya bingung melihat Elvina yang terlihat semangat menikmati siomay yang dibelinya. Padahal tadi ia mengatakan sudah kenyang dan mau meninggalkan siomay yang dibelinya begitu saja, bagaimana Ia tidak kesal? Disaat Ia lelah Elvina seolah telah memancingnya untuk melampiaskan amarah dan sebenarnya tidak ada pembenaran sama sekali untuk itu.
"Udah makan apelnya. Kamu makan apel terus,”
Vano melirik piring berisi apel yang berada di dekat istrinya. Kemudian menatap Elvina di yang masih sibuk dengan makannya.
“Aku suka apel,”
Elvina tidak mengeluarkan kata apapun lagi setelah bicara seperti itu pada Vano. Kemudian Ia meneguk air putih
"Pasti ngambek ‘kan sama aku?"
Tidak dijawab juga. Elvina terlalu sibuk dengan makanannya atau apa yang jelas kali ini Elvina diuji lagi kesabarannya karena Elvina tak kunjung memberikan jawaban.
__ADS_1
Vano menghela napasnya pelan. Baru beberapa menit yang lalu ia menyelesaikan amarahnya. Tapi sekarang Elvina kembali membuat darahnya mendidih.
"Ngambek, Sayang?”
Elvina menggeleng sekilas. Hanya menggeleng dan Vano punya kesimpulan sendiri.
"Ngambek pasti,”
"Enggak,”
"Bohong,”
"Bener kok,”
Elvina kembali disibukkan dengan siomaynya tanpa menjawab ucapan Vano. Sesekali ia terlihat membersihkan bibirnya yang dikotori bumbu kacang kesukaannya.
"Hei, Kok ngambek? Aku minta maaf tadi gak sengaja bentak kamu,”
Vano meraih wajah Elvina lalu mengusap wajah cantik itu dengan lembut seraya menatap mata perempuan itu dengan dalam.
"Maafin ya,”
__ADS_1
Vano menatap Elvina dengan pandangan memohon. Ia semakin merasa bersalah karena mata Elvina yang terlihat masih sedikit basah akibat tadi sempat menangis.
"Maafin aku, mau maafin aku enggak?”
Elvina diam dan itu membuat Vano belum merasa tenang karena Ia menganggap Elvina masih belum juga memaafkan dirinya.
"Mau enggak maafin aku? Tolong, maafin aku. Tadi aku udah buat kamu takut ya?"
"Jangan galak-galak!”
Vano tertawa melihat gemasnya sang istri. Ia jadi makin suka menjadikan pipi istrinya sebagai mainan.
"Aku mohon sama kamu, jangan buat emosi aku datang, Sayang. Aku takutnya nggak bisa ngendaliin diri aku sendiri. Aku takut nyakitin kamu. Kamu kurnagin nyebelin nya kalau bisa, apalagi kalau aku lagi capek banget kayak sekarang misalnya,”
“Ya enggak bisa kayak gitu terus lah. Aku takut tiap lihat kamu marah,”
“Iya maaf, aku ‘kan juga selalu berusaha untuk enggak emosian. Aku masih belajar terus supaya lebih baik lagi jadi suami kamu,”
“Kamu jangan gampang marah-marah gitu dong,”
“Sayang sebenarnya aku nggak bermaksud marah-marah cuma kalau lagi capek terus ngeliat kamu nya nyebelin aku jadi bawaannya tuh kesal padahal sebenarnya nggak mau lesal aku juga, apalagi marah. Karena marah tuh sebenarnya capek, El, aku nggak mau marah, tapi kamu nih kadang mancing,”
__ADS_1
“Ya udah sih kan bisa hadapin dengan santai,”
Vano menghembuskan napas kasar. Bagaimana Ia bisa santai disaat Ia sedang lelah, Elvina malah mencari gara-gara dengan menguji kesabarannya. Ada saatnya Ia bisa sabar tapi ada saatnya juga Ia merasa kesal karena Ia manusia biasa.