Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 92


__ADS_3

Vano pulang pukul setengah sembilan malam. Itupun termasuk cepat karena Ia khawatir belum ada kabar dari Amih soal Elvina yang sudah pulang atau belum.


"Saya telepon kenapa enggak diangkat? Elvina udah pulang?"


"Maaf, Pak. Ponsel saya lagi diisi dayanya. Ibu belum pulang, Pak,"


"Belum pulang?" Tanya Vano dengan mata melotot.


Amih mengangguk pelan. Ia takut melihat Vano yang kelihatan marah sekarang. Dengan cepat Ia ke kamar untuk lebih memastikan bahwa Elvina benar belum pulang.


Ia sampai di kamar memang sunyi sekali bahkan lampu kamar mati. Vano segera meraih ponsel dari dalam sakunya untuk menghubungi Elvina.


"Ck! Enggak aktif handphone nya, kemana sih dia? Bikin khawatir aja,"


Vano bingung harus menghubungi siapa. Ia tidak punya nomor telepon teman-teman Elvina. Ia pun tidak tahu tadi Elvina pergi dengan siapa saja.


"Ya Allah, harus kemana ini sekarang?"


Vano keluar dari kamar tanpa mengganti baju kerjanya. Ia harus secepatnya memastikan keberadaan Elvina dimana.


"Pak, mau cari Ibu?"


"Iya, saya pergi dulu,"


"Mau cari kemana, Pak?"


"Mungkin ke mall yang biasa Elvina datangi,"


Vano langsung bergegas pergi meninggalkan rumah lagi. Ia tidak menduga Elvina benar-benar pulang malam. Ia pikir Elvina tidak kepikiran untuk pulang se-malam ini padahal mereka baru saja bertengkar.


"Mentang-mentang gue bebasin, malah begini,"


Vano memutuskan untuk ke mall yang mungkin menjadi tujuan Elvina pergi bersama teman-temannya. Agak kurang masuk akal mereka masih di sana sebab mall pasti sudah tutup. Setahu Vano, mall itu tutup sebelum pukul sembilan malam.


Vano yang menggunakan kecepatan sangat tinggi berhasil tiba di mall dengan waktu yang singkat. Ia langsung menatap mall di depannya dengan perasaan hampir menyerah sebab mall benar-benar sudah tutup.


"Duh, kemana sih kamu, El?! Aku harus cari kemana sekarang?!"


Vano menyusuri lingkungan mall tapi benar-benar sudah sepi. Ia bertanya pada seorang penjaga mall yang ada di pos kemanan.


"Malam, Pak. Saya mau tanya, mall ini udah benar tutup ya? Enggak ada pengunjung lagi?"


"Ya enggak ada lagi atuh, Mas. 'Kan bisa dilihat ini teh udah sepi,"


"Oh begitu, baik, Pak. Terimakasih ya,"


"Iya, sama-sama,"


Vano kembali menghubungi istrinya. Barangkali sekarang ini ponsel Elvina sudah aktif dan Elvina menjawab panggilannya.


"Kalau aktif 'kan enak, gue bisa cek lokasi dia. Lah ini masih enggak aktif,"


Vano bergegas masuk ke dalam mobil. Ia akan menyusuri jalanan tidak tentu arah dan tujuan demi menemukan Elvina yang sudah malam begini belum juga pulang ke rumah.


*****


"Elvina, lain kali kamu jangan begini lagi ya. Aku terpaksa ninggalin Agatha di rumah yang lagi sakit karena harus bantu kamu," ujar Rendra pada Elvina.


Rendra ikhlas menolong Elvina yang kini tepar di sampingnya tapi sesekali matanya akan terbuka. Pertanda bahwa Ia bukan tidur hanya kurang kesadaran saja pasca mabuk.


"Aku—aku—minta maaf, Rendra," ujar perempuan itu dengan tersendat dan racauan yang tak jelas.


Rendra menghembuskan napas kasar dan mencengkram stir mobil dengan kuat. Ia ikhlas tapi bukan berarti senang Elvina seperti ini. Karena Elvina mabuk dan minta bantuannya untuk pulang ke rumah, Ia terpaksa meninggalkan Elvina sendirian di rumah. Padahal istrinya juga sedang butuh kehadirannya.


"Agatha memang sakit apa sih?"


"Dia menstruasi dan ini hari pertama,"


"Oh menstruasi aja 'kan? Bukan sakit lain?"


"Apapun yang membuat istriku kesakitan entah itu penyakit atau hanya karena menstruasi sekalipun, tetap aja enggak bisa aku sepelekan. Aku enggak mau dia kesakitan karena sebab apapun. Tadi aku terpaksa harus ninggalin dia yang perutnya lagi kram demi bantu kamu. Makanya jangan mabuk. Apa Vano enggak melarang kamu untuk mabuk?"


"Dia enggak tau apa-apa,"


"Ya terus kenapa kamu enggak kasih tau dia? Kamu bisa telepon dia 'kan? Buktinya telepon aku bisa,"


"Aku lagi kesal sama dia,"


Vano menggeleng tak habis pikir. Karena kesal jadi tidak mau memberi kabar pada suami padahal itu penting sekali apalagi dalam keadaan darurat seperti tadi.


"Mobil kamu bakal ada yang antar nanti,"


"Siapa? Kamu?"


"Enggak mungkin aku lah. Aku enggak mau balik ke bar tadi terus ke rumah kamu lagi. Mau sampai rumah jam berapa aku?"


Vano menelan klakson mobil menyapa penjaga komplek. Vano juga menurunkan kaca jendela sebagai pengenalan sebab aturannya seperti itu. Mereka juga nampak bingung melihat mobil Vano yang asing bagi mereka.


"Eh bu Elvina sama siapa atuh?"

__ADS_1


"Saya keluarganya,"


"Silakan, Pak,"


"Mari,"


Vano kembali melajukan mobil menyusuri perumahan itu. Penjaga nampak bingung tadi melihatnya. Ada kemungkinan dia dicurigai sebagai pria simpanan Elvina.


Tin


Tin


Tin


Vano menekan klakson minta gerbang rumah dibukakan oleh penjaga rumah Elvina. Tak berselang lama, gerbang dibuka lebar dan mobilnya segera masuk ke dalam halaman rumah Elvina.


"Keluar, El,"


"Aku pusing banget mau tidur di sini,"


"Mulai ngarangnya," gerutu Rendra seraya keluar dari mobil. Ia memanggil Amih dan meminta bantuan Amih agar memapah Elvina masuk ke dalam rumah.


"Ya ampun, Mas Rendra terimakasih banyak udah antar Ibu ke rumah. Pak Vano lagi nyariin ibu dari tadi, dan sekarang belum pulang,"


Rendra ikut kesal mendengar itu. Elvina merepotkan beberapa pihak rupanya. Vano sampai belum pulang karena mencarinya.


Rendra juga membantu Elvina masuk ke dalam rumah. Setelah Elvina ditempatkan di sofa ruang tamu, Ia menghela napas lega. Tugasnya membantu keluarga sudah selesai. Elvina Ia anggap sebagai keluarga.


"Saya permisi pulang dulu. Nanti kalau Vano pulang, bilang saya yang antar Elvina karena Elvina telepon saya dan minta saya datang ke bar untuk bawa dia pulang," jelas Rendra pada Amih. Ia tidak bisa menunggu Vano dan memberinya penjelasan. Maka Ia jelaskan saja pada Amih dan pasti akan disampaikan pada Vano setelah tiba di rumah nanti.


Rendra akan memasuki mobil bertepatan dengan masuknya sebuah mobil yang tidak lain dan tidak bukan adalah milik Vano.


Vano keluar dengan cepat dan langsung bertemu dengan Rendra yang menunjuk ke dalam rumah. "Istri lo udah gue antar,"


"Kenapa lo yang antar? Kalian habis pergi?"


"Apa? Kalian?"


Rendra terkekeh sinis. Apalagi ini? Vano menuduhnya pergi berdua dengan Elvina? Ya ampun, jelas-jelas sedari tadi Ia di rumah bersama Elvina.


"Lo tanya aja langsung sama Elvina. Gue mau balik, gue kasihan ninggalin Agatha sendirian di rumah,"


"Kenapa lo ninggalin istri lo di rumah terus lo datangin istri orang?"


Rendra mendorong dada Vano hingga terpental ke body mobil Rendra sendiri. Vano menghempas tangan Rendra yang mencengkram kerah bajunya.


*****


"Lo tinggal jelasin ke gue sekarang!"


Perdebatan mereka hanya mampu disaksikan oleh penjaga rumah. Ia tidak berani melerai. Rendra dan Vano tengah menahan emosi masing-masing.


"Males gue jelasin ke lo, buang waktu. Gue harus balik sekarang,"


Rendra terlanjur badmood bicara dengan Vano oleh sebab itu memutuskan ingin langsung pulang. Lagipula tadi Ia sudah memberi penjelasan juga dengan Amih.


Vano tiba-tiba saja menarik baju Rendra dan memberinya pukulan sekali di wajah hingga Rendra tersungkur.


"Astaghfirullah, Pak!"


Penjaga rumah baru berani maju ketika Vano tidak mampu mengendalikan emosinya. Vano ditahan oleh security rumah agar tidak mendekat pada Rendra dan melampiaskan emosinya lagi.


"Brengsek! Enggak tau diri! Gue udah bantu, tapi begini balesan lo?!"


"Gue enggak ngerti apa maksud lo! Cepat ngomong ke gue kenapa Elvina bisa sama lo?! Gue udah kayak orang gila nyariin dia kemana-mana tapi enggak ketemu dan ternyata sama lo,"


"Eh brengsek! Elvina telepon gue yang tadi lagi di rumah sama Agatha. Dia bilang kalau dia mabuk dan dia minta tolong gue untuk antar dia ke rumah. Jadi jangan pernah berpikir kalau gue jalan sama Elvina. Ngapain?! Enggak ada kepentingan sama sekali. Ini aja gue terpaksa ninggalin istri gue yang lagi sakit di rumah karena mau nolongin istri lo itu!"


Rendra mendorong Vano agar tidak ada di dekat mobilnya lagi. Rendra masuk ke dalam mobil kemudian segera mengeluarkan mobilnya dari kediaman Vano dan Elvina dengan laju yang kencang meninggalkan Vano yang mengehembuskan napasnya dengan kasar.


Dengan cepat Vano masuk ke dalam rumah. Security rumahnya mengelus dada lega karena pertengkaran tidak berlanjut.


"Udah mau copot jantung. Untung aja Mas Rendra langsung pergi, enggak balas. Aduh ada-ada aja si ibu teh. Bikin dua orang bertengkar hebat begitu,"


******


Geraham Vano beradu satu sama lain melihat Elvina yang duduk bersandar di sofa ruang tamu dengan mata terpejam dan Amih di sampingnya yang kelihatan bingung bagaimana menangani Elvina yang seperti ini.


"Ini ibu mabuk ya, Pak?"


"Iya, Mih. Apalagi kalau bukan mabuk? Gila?"


Amih menggaruk kepalanya yang tak gatal dan langsung menjauh begitu melihat Vano meraih Elvina dalam gendongannya.


"Biar saya yang urus Elvina,"


"Baik, Pak,"


Vano langsung membawa Elvina ke dalam kamar. Emosinya belum reda. Elvina benar-benar memancing emosinya untuk habis malam ini. Sudah pergi meninggalkan permasalahan, pulang pun demikian.

__ADS_1


Vano menempatkan Elvina di atas ranjang dengan lembut. Kemudian Ia menatap Elvina dengan mata yang tajam. Deru napas Elvina sudah tenang dan teratur artinya perempuan itu tidur.


"Habis mabuk, tidur. Ini tidur bukan sih? Gue guyur aja pakai air kali ya?"


Vano ke kamar mandi. Ia mengambil air dengan gayung dan Ia mengambil handuk kecil. Ia benar-benar bingung bagaimana membuat Elvina sadar. Kalau diguyur sungguhan, Ia mana tega. Akhirnya Ia celupkan saja handuk kecil ke dalam air yang dinginnya tidak main-main. Elvina langsung membuka mata karena terkejut. Matanya merah dan Ia nampak linglung. Entah Elvina tadi benar tidur atau belum tapi yang jelas Elvina langsung membuka mata begitu wajahnya disentuh dengan sesuatu yang lembut dan dingin. Vano harus tega melakukan itu demi menyadarkan Elvina dan memarahinya sebah Elvina sudah sangat keterlaluan menurutnya.


Membuatnya khawatir, pulang dengan keadaan seperti ini lalu membuat Ia akhirnya salah paham dengan Rendra. Wajar hatinya mendidih sekali saat ini.


"Gila kamu ya? Kalau mabok gini nyusahin orang tau enggak?!"


*****


"Aku enggak bisa percaya sama kamu, Anatha. Kamu sengaja nonaktifkan handphone kamu akhirnya aku enggak tau kamu dimana. Terus yang bikin aku enggak habis pikir adalah, kamu malah minta tolong sama Rendra padahal kamu punya suami!"


"Kamu itu paham posisi kamu enggak sih?! Kamu itu istri siapa? Dan Rendra siapa? Kamu tau, gara-gara kamu, aku semalam salah paham sama Rendra,"


"Ya makanya sebelum salah paham, harusnya ditanya baik-baik dulu. Kamu apain Andra? Padahal dia udah baik banget tolongin aku,"


"Kamu pikir aja sendiri kalau jadi aku gimana. Aku hampir gila cari kamu kemana-mana tapi enggak ketemu. Terus begitu pulang ke rumah dengan harapan kamu udah pulang, aku malah ketemu Rendra. Rendra yang antar kamu ke rumah. Gimana aku enggak kalap tadi malam? Hah?!"


Elvina memutar halus bola matanya sambil mengunyah nasi goreng dengan santai. Ia menanggapi ocehan Vano yang belum habis dengan santai saja tanpa beban.


"Kenapa kamu minta tolong sama orang lain? Bukan suami kamu sendiri,"


"Dia bukan orang lain, Vano. Dia udah aku anggap keluarga aku juga,"


"Tapi kamu punya suami! Dia juga punya istri! Bisa hargai kenyataan itu enggak sih?!"


"Okay, aku minta maaf. Dari tadi aku udah minta maaf,"


"Bagus banget ya, mabuk terus minta jemput sama laki-laki lain,"


"Aku itu diajakin teman aku,"


"Aku enggak peduli kamu diajak siapa. Yang jelas kamu salah, karena kamu enggak anggap aku ada! Aku enggak menyalahkan kamu yang mabuk karena aku pun pernah mengalami itu. Yang aku permasalahkan adalah kamu itu hobinya cari masalah, bikin kita akhirnya jadi bertengkar aja hampir setiap hari,"


"Aku minta maaf, tuh udah berapa kali aku minta maaf,"


"Enggak semua masalah bisa dieesaikan dengan minta maaf aja, Elvina. Kamu harus lebih dewasa, paham enggak?"


Elvina menggosok telinganya karena merasa panas mendengar omelan Vano yang tidak ada habisnya.


Vano kalau sudah hilang kesabaran memang terkadang susah terkendalikan. Mungkin memang itu yang diinginkan Elvina makanya Ia mencari sebab-sebab perdebatan terus.


"Kamu harus minta maaf sama Rendra dan udah bilang terimakasih ke dia? Karena dia udah nolongin istri kamu,"


"Sejujurnya untuk bilang terimakasih, cukup kamu aja ya. Karena kamu yang minta tolong sama dia dan salah kamu yang enggak hubungi aku. Kalau soal minta maaf, aku bakal lakuin itu kok, tenang aja,"


"Lho? Bilang terimakasih juga dong. Kalau enggak ada dia gimana?"


"Ya enggak gimana-gimana. Salah kamu sendiri yang enggak pernah nurut apa kata aku. Aku suruh kabarin, kamu cuma kabarin pas pergi aja. Setelahnya apa? Kamu enggak kirim pesan apapun lagi ke aku. Hilang gitu aja kayak ditelan bumi terus sampai malam enggak pulang-pulang. Walaupun kamu mabuk kayak semalam kamu tinggal minta aku untuk jemput. Tapi kamu memilih orang lain untuk jemput kamu dengan alasan kamu masih kesal sama aku. Dewasa kah begitu?"


******


"Emang benar dia nyariin aku, Mih? Waktu aku belum pulang,"


"Iya benar, Bu. Masa iya saya bohong? Orang begitu masuk pintu bapak langsung tanya ibu terus setelah saya kasih tau kalau ibu belum pulang, bapak langsung keluar rumah lagi buat cari ibu. Saya pikir waktu ada mobil datang itu bapak sama ibu eh enggak taunya ibu sama Mas Rendra,"


"Oh aku pikir Vano diam aja di rumah, enggak cari aku. Soalnya dia 'kan lagi kesal sama aku,"


"Biarpun kesal yang namanya istri belum pulang sampai malam pasti khawatir lah, Bu,"


Amih merasa heran karena Elvina berpikir bahwa Vano tidak peduli ketika Ia belum pulang. Karena sebelumnya mereka tidak begitu baik-baik saja.


"Bapak 'kan sayang sama cinta ke ibu. Masa enggak dicariin atuh?"


"Tapi aku eng—"


"Eng—apa, Bu?"


"Hah? Enggak, maksud aku, aku awalnya enggak percaya kalau Vano itu beneran cari aku. Dia 'kan kalau lagi marah atau kesal aku suka nyebelin,"


"Ibu, hmm kalau saya boleh tau, ibu kenapa mabuk?"


Amih menoleh pada Elvina yang sedang duduk di meja bar dapur mengamati Amih memasak. Sejak tahu Elvina pulang dengan kondisi mabuk, Amih benar-benar tidak paham mengapa itu bisa terjadi.


"Saya diajakin teman. Kami tinggal berdua, yang lainnya udah pulang. Saya sama Elya. Kita mutusin buat main ke sana. Eh malah begitu jadinya,"


"Terus teman ibu gimana?"


"Ya kurang lebih sama. Kita 'kan minum bareng-bareng,"


"Jangan begitu lagi ya, Bu. Saya khawatir sama ibu. Apalagi Pak Vano. Enggak usah neko-neko atuh, Bu,"


Elvina terkekeh bukannya tersinggung ketika Amih menasihatinya. Ia mengangguk patuh. "Ya, saya enggak akan neko-neko, Mih,"


"Udah bahagia sama bapak, jadi enggak usah macam-macam. Tinggal tunggu pelengkapnya aja nih. Kapan ya saya bisa dengar suara nangisnya adik bayi? Semoga enggak lama lagi, Aamiin,"


Elvina tersenyum tipis. Tidak tahu saja kalau Ia masih rutin mengonsumsi pil kontrasepsi demi mencegah kehamilannya.

__ADS_1


"Ibu enggak nunda 'kan?"


"Hmm? Enggak kok," dustanya. Tidak semua orang tahu bahwa Ia menunda kehamilan sebab belum mencintai Vano.


__ADS_2