
“Maaf ya, El,”
“Mana aku udah maskeran,”
“Ya udah, basah pakai air aja nanti. Eh ngomong-ngomong kamu enggak kesal lagi karena ayam bakar tadi aku buang?”
“Masih kesal, karena kamu enggak menghargai pemberian orang, padahal harusnya kamu ngerti dong kalau apapun pemberian orang itu harus diterima dengan baik,”
“Udah diterima sama kamu abis itu aku buang,”
“Nah itu yang salah,”
“Enggak apa lah, El. Aku ‘kan harus waspada dimanapun dan kapanpun,”
“Waspada apaan sih? Orang dia itu baik, kamu belum kenal aja sama dia,”
“Kamu itu kenapa belain dia terus sih?”
Dengan mata menatap tajam karena kesal Vano menunggu Elvina memberikan jawaban atas pertanyaan yang Ia lontarkan karena Ia merasa gerah dengan sikap Elvina yang terang-terangan membela Jona terus.
“Dia mantan aku, mantan cinta monyet, aku belum pernah cerita soal itu ke kamu ya, Mas? Kalau cinta beneran ya Rendra,”
“Oalah pantesan aja dibelain terus ternyata pernah ada hubungan yang istimewa? Hmm enggak heran sih, berapa lama pacaran?”
“Hmm enggak ingat, kayaknya sih enggak terlalu lama juga,”
“Kenapa putus? Enggak ingat juga?”
“Dia anaknya tuh buaya,”
“Hah? Seriusan? Terus kenapa mau pacaran sama dia?”
__ADS_1
“Ya aku ‘kan taunya dia baik terus ganteng. Emang aslinya baik dan ganteng sih, cuma aku enggak tau kalau dia tuh suka main-main juga sama yang lain, kayak ngedeketin cewek lain gitu lah,”
“Ih terus setelah kamu tau gimana aslinya dia, kamu marah dong?”
Entah mengapa Vano penasaran dengan jalan cerita hubungan antara Elvina dan Jona. Pantas saja mereka dekat dan akrab sekali, ternyata pernah menjalin hubungan istimewa walaupun cuma sebentar.
“Iya, lagian aku sama dia tuh berantem terus kerjaannya. Jadi ya udah, daripada dilanjutin mending bubar,”
“Begitu juga kamu sama aku, enggak ada bedanya, cuma kalau waktu pacaran bisa aja main bubar, kalau nikah ya beda lah. Aku mau nikah sekali seumur hidup. Aku harap kamu juga begitu. Tapi kalau memang kamu enggak mau sama aku terus, ya udah, aku terima,”
“Biasanya kamu enggak begitu, Mas,”
“Ya habisnya gimana dong? Daripada aku tahan-tahan kamu supaya enggak pisah sama aku juga percuma. Kamu tetap pada pilihan kamu. Menurut kamu, akan lebih bahagia kalau kamu tanpa aku, karena aku sayang kamu, aku mikirin kebahagiaan kamu, jadi bakal aku turuti. Sekarang kamu mau pisah dari aku, aku siap,”
Entah mengapa ada denyut aneh yang terasa begitu mendengar ucapan Vano. Yang biasanya kukuh mempertahankan rumah tangga mereka, sekarang justru kebalikannya.
“Kamu sama Jona pacaran waktu kapan? Sekolah?”
“Hmm selain karena dia yang buaya dan kalian sering berantem, alasan kalian putus apa?”
“Hmm…”
Elvina sudah selesai bersantap dan perutnya kali ini sudah benar-benar kenyang. Ia menyeruput teh melati yang dibeli suaminya satu botol hingga tandas setelah itu Ia menggelengkan kepalanya.
“Enggak ada alasan lain kayaknya,”
“Sekarang dia udah punya pasangan?”
“Belum, minta sama aku untuk dicariin, lah orang teman aku aja banyak yang udah nikah juga, lagian yang belum nikah juga belum tentu mau sama dia kalau dia masih suka main-main gitu. Paling mau sama uang aja aja. Tapi katanya sih dia udah enggak kayak dulu lagi, cuma enggak tau deh benar atau enggak nya,”
“Hmm kalau kamu enggak sama aku lagi, kamu bakal sama dia?”
__ADS_1
“Kenapa tanya begitu sih? Kayaknya kamu kepingin banget pisah dari aku ya?”
“Bukannya kebalik, Na?”
“Ah udah deh, malas berdebat sama kamu, enggak akan selesai sampai shubuh,”
“Iya, makanya enggak usah berdebat sama aku,”
“Orang kamu yang mulai, ngapain coba tanya-tanya soal Jona?”
“Ya aku cuma penasaran aja gimana masa lalu kamu dan dia. Gimana? Kamu bakal sama dia?”
“Enggak! Aku udah enggak ada rasa apa-apa sama dia dan enggak ada pikiran sedikit pun untuk balik sama dia,”
“Terus mau cari yang lain dong? Siapa?”
“Ih apaan sih omongannya, enggak jelas,”
“Jawab, El,”
“Tadi udah aku jawab. Aku enggak ada rasa apa-apa sama dia, dan nggak niat untuk balik lagi. Kalau kamu sama siapa?”
“Aku? Kayaknya sih bakal ngejomblo aja,”
“Ah yang benar? Jangan-jangan udah punya rencana nih,”
“Rencana sama yang lain? Belum kepikiran,”
“Perempuan yang aku lihat ketemuan sama kamu itu, emangnya enggak bakal lebih dari teman? Kata kamu, dia itu teman ‘kan?” Tanya Elvina seraya menekan kata teman.
"Nggaklah,"
__ADS_1