
"Ayo datang, nggak enak kalau nggak datang,"
Vano melepaskan rangkulan tangan sang istri di lengannya dan menatap Elvina dengan kening mengernyit.
"Kenapa jadi ngajak aku? kamu yang diundang 'kan,"
"Tapi kamu ikut aku aja ayo. Kenapa? nggak mau?!" tanya Elvina dengan galak sebab suaminya kelihatan berat sekali ingin menemani dirinya ke acara anniversary orangtua Jona.
Elvina ingin menghargai saja karena sudah diundang. Tidak enak kalau Ia tidak datang ke acara itu.
"Kamu aja, aku nggak deh,"
"Ih katanya mau temenin aku. Jadi sekarang berubah pikiran?"
"Iya, aku nggak mau, males,"
Elvina berdecak kesal karena suaminya menolak padahal sebelumnya bersedia hadir untuk menemaninya.
"Ayo pergi juga, Mas. Biar aku siapin nih bajunya,"
Elvina bergegas ke lemari untuk menyiapkan pakaian yang tepat dikenakan ke acara anniversary orangtuanya Jona.
"Aku nggak jadi ikut. Males banget datang ke acara mantan calon mertua istri sendiri,"
"Ih kok ngomong begitu? itu udah lama banget, waktu aku masih sekolah, lagian emang ada larangan begitu ya?"
"Nggak ada sih tapi aku males aja, Sayang. Udahlah kamu nggak usah hadir,"
"Emang kenapa sih? 'kan biar aku ada temennya. Malah aku nggak enak kalau cuma sendirian, enakan ditemenin sama kamu,"
Elvina masih memaksa sang suami agar turut serta menghadiri acara yang dilaksanakan oleh orangtua Jona.
Kalau Ia hanya pergi sendiri rasanya ada yang kurang. Lebih menyenangkan pergi berdua juga.
Vano menghembuskan napasnya kasar dan akhirnya Ia mengangguk. Elvina yang melihat suaminya tidak menolak lagi, langsung saja tersenyum lebar.
Elvina langsung mencarikan baju suaminya. Tadi niatnya ingin mencarikan busana untuk dirinya sendiri dulu, karena Vano masih memberikan penolakan.
"Cari baju yang biasa aja, nggak usah yang lebay,"
"Lah emang kapan sih aku pernah cari baju yang lebay? biasanya kamu nggak pernah protes tuh, kalau emang lebay pasti protes 'kan. Kamu juga selalu serahin urusan fashion kamu ke aku, sekarang malah ngomong begitu. Ya udah cari aja sendiri!" ujar Elvina dengan ketus. Ia sakit hati karena suaminya seolah menilai Ia tiak pandai mencarikan busana yang sesuai.
"Maksud aku nggak usah maksimal, karena itu acara nggak penting buat kita,"
"Eh kamu jangan ngomong begitu, nggak sopan bangt sih. Cari sendiri sana,"
"Nggak-nggak, aku mau minta cariin sama kamu aja. Kamu selama ini yang ngurusin penampilan aku,"
"Nanti pake baju yang lebay lho, emang nggak takut aku suruh pakai baju yang lebay?" sindir Anatha membahas apa yang tadi sempat terlontar dari bibir suaminya itu.
Vano terbahak karena istrinya merajuk ternyata. Akhirnya Ia langsung mendekat pada Elvina dan meraih punggung tangan Elvina sekaligus menciumnya.
"Maaf ya, aku nggak semangat datang ke acara dia soalnya jadi aku nggak mau yang maksimal baget penampilannya. Kalau perlu baju tidur aja,"
"Itu yang namanya lebay! itu lebay nggak menghargai orang. Masa iya ke acara anniversary orangtua malah salah kostum pakai baju tidur padahal konsepnya nggak begitu, yang ada kamu diketawain tau,"
"Ada dress code emangnya?"
"Ya nggak ada, cuma 'kan kita harus mikir lah, nggak mungkin dong kita pakai baju tidur. Nggak sopan banget kalau kayak begitu,"
"Ya udah terserah kamu mau pakai baju apa tapi nggak usah maksimal intinya,"
"Kalau ke acara orang harus pakai yang paling terbaik dari semua yang baik, Ken,"
"Ya nggak perlu lah, aku pakai kaos aja, Sayang,"
"Mas, kamu mending diem deh daripada ngoceh terus mana ocehannya nggak jelas banget. Kamu 'kan udah serahin urusan fashion ke aku, ya udah biar aku aja yang sibuk milih, nggak perlu campur tangan kamu, paham nggak?"
Vano langsung memasang sikap hormat dan membungkuk singkat sambil menjawab "Siap, Bu bos."
"Emang kenapa nggak mau maksimal?"
"Males, dia 'kan pernah jadi musuh aku. Dia pernah deketin kamu eh giliran tau aku suami kamu dan aku gimana orangnya baru deh dia jauh,"
"Ya tapi nggak begitu juga sikap kamu. Ini yang ngundang 'kan orangtuanya. Jadi kita harus sangat menghargai dong,"
"Mantan camer alias calon mertua nih,"
"Nggak pernah sampai ke situ omongannya, Mas. Kamu jangan aneh-aneh deh,"
Vano bergegas membaringkan badannya di atas ranjang sambil memperhatikan istrinya yang kini meletakkan pakaian di atas sofa.
"Nih bajunya ya," ujar Elvina yang sudah selesai menyiapkan pakaian untuk sang suami beserta celana dan kaos kakinya juga.
"Sayang, aku pakai apa?"
"Kemeja lengan pendek aja sama jeans, terus itu kaos kaki dipakai sama sneaker, jadi kesan santai ada, formal dikit-dikit juga ada,"
"Okay, aku pasti pakai itu," ujar Vano masih dengan posisi berbaring.
"Iyalah, kamu harus mau pakai, kamu harus hargain aku yang udah milihin baju untuk kamu,"
"Makasih ya, Sayang,"
"Okay sama-sama,"
"Aku mau tanya dong,"
Elvina menganggukkan kepalanya siap menjawab pertanyaan yang akan terlontar dari bibir sang suami.
"Emang kenapa nggak pernah ada obrolan ke arah pernikahan sama Jona?"
"Ya karena aku masih sekolah waktu itu, masa iya mikirin nikah. Harusnya mikir belajar dulu yang bener,"
__ADS_1
"Tapi kamu pacaran tuh sama dia, harusnya jangan pacaran lah, 'kan harus fokus belajar," ujar ken menyindir sang istri yang malah tak fokus belajar melainkan menjalin hubungan dengan seorang laki-laki di masa sekolahnya.
"Ya 'kan cuma status aja pacaran, tapi omongan belum ke nikah-nikahan, dan tetap belajar yang bener juga kok. Emang kamu waktu sekolah nggak pacaran?"
"Pacaran sih, tapi sama juga nggak bahas-bahas soal nikah,"
"Ya udah, sama berarti,"
"Kenapa putus?"
"Udah nggak cocok,"
Vano mendengus kemudian mencibir jawaban yang dilontarkan oleh istrinya itu.
"Alasan klasik, udah bosen dengar jawaban itu dari orang yang milih untuk putus dari pasangan,"
Elvina tertawa lepas dan Ia akui itu memang jawaban yang umum sekali dan sering didengar dari mulut-mulut orang yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan.
"Karena aku sama dia berantem terus, Mas," ujar Elvina yang kali ini lebih menjelaskan tentang penyebab Ia putus, bukan hanya sekedar tidak cocok lagi.
"Emang kenapa berantem terus?"
"Dia itu orangnya baik, tapi suka tebar pesona ke cewek-cewek. Terus aku juga dulu egois banget, sering jadi bikin ribut duluan lah intinya,jadi karena hal-hal itulah akhirnya aku sama dia putus deh,"
"Oh sama kayak kita berarti. Kamu juga suka cari masalah setelah sama aku ya. Sering ngajak berantem duluan, akhirnya terjadilah yang namanya berantem,"
"Iya begitulah penyebabnya,"
"Terus nggak lanjut lagi?"
"Ya nggak, pacaran sekali terus putus. Habis itu nggak ada hubungan apa-apa lagi, kalau jadi teman sih masih ya. Namanya juga satu sekolah 'kan. Kalau jadi musuh malah nggak enak,"
"Tapi kamu cinta sama dia?"
"Ya makanya aku sama dia pacaran emang kamu pikir karena apa? harta yang dia punya? ya nggaklah, maaf-maaf aku juga punya harta sendiri. Eh bukan aku sih maksudnya, mama papa aku. Aku belum kerja soalnya," ujar Elvina seraya terkekeh usai menyelesaikan kalimat terakhirnya.
"Ya berarti bedanya di situ ya. Kalau kamu 'kan awalnya nggak cinta sama aku, udah sekarang aja cintanya. Kalau awal nikah mah boro-boro, egois banget, mana ngajak debat mulu, nggak hargain suaminya,"
"Iya-iya deh, cowok sabar mah beda,"
Vano terkekeh dan kini menepuk dadanya sendiri dengan menampilkan wajah pongah.
"Sabar setelah itu dapat kebahagiaan yang dicari dan diinginkan deh, Alhamdulillah,"
Elvina selesai memilih baju untuk datang ke acara ulang tahun pernikahan kedua orangtua Jona setelah itu Ia menyuruh Vano untuk bersiap.
****
"Sayang, jalan yang cepat dikit bisa nggak? kamu jalannya anggun banget ya, kayak putri kerjaan gitu,"
Elvina mendengus ketika jalannya yang santai malah dikomentari berlebihan oleh suaminya. Padahal Ia tidak seperti putri kerjaan. Vano terlalu berlebihan untuk menggambarkan caranya dalam mengayun langkah menuju sebuah restoran yang menjadi tempat berlangsungnya acara aniversary kedua orangtua Jona.
"Emang harus anggun kalau jalan, jangan grasak-grusuk, nanti aku bisa jatuh dong,"
"Tenang, pasti aku bangunin kalaupun jatuh,"
"Nggak maksud nyumpahin, Sayang,"
"Ya makanya supaya nggak jatuh kita jalannya harus santai jangan buru-buru. Kamu kayak dikejar hantu aja jalannya cepat banget, emang ngejar apa sih?"
"Karena aku mau cepat-cepat pulang. Setelah tampilin muka, jadinya 'kan kita bisa langsung pulang,"
"Ya nggak langsung pulang juga dong, masa nggak ada basa-basi nya sama yang punya acara,"
"Ya udah basa-basi bentar aja ya, nggak pake lama pokoknya,"
"Kamu kepengen banget cepat-cepat pulang. Padahal datang ke acara orang 'kan enak, bisa ngobrol sama tamu lain, dapat teman baru, dan--"
"Tapi aku nggak betah ah, nanti pasti kamu banyak ngobrol sama si Jona dan aku dicuekin. Aku males banget kalau kayak begitu,"
"Tau darimana kalau aku bakal begitu? jangan overthinking jadi orang tuh, nggak baik tau, apalagi overthinking sama istri,"
"Awas ya kalau aku dicuekin. Aku ngambek tujuh hari tujuh malam, aku bakal cuekin kamu selama tujuh hari itu pokoknya,"
Elvina menarik lengan Vano agar melanjutkan langkah mereka mendekati restoran. Seharusnya sudah sejak tadi mereka sampai di dalam restoran usai turun dari mobil. Tapi karena mereka bercanda terus akhirnya jadi lama tidak sampai-sampai.
Begitu tiba di dalam restoran yang sudah dibooking khusus acara yang tengah berlangsung, Elvina dan Vano langsung disambut hangat oleh pemilik acara yaitu orangtua Jona.
"Terimakasih ya udah datang,"
"Sama-sama, semoga langgeng terus ya, Tante, Om,"
"Aamiin, terimakasih doanya, Nak,"
Lengan Vano diusap oleh mamanya Jona dan Vano membalas senyuman wanita dengan kerut halus di sekitar katanya itu.
"Baru kali ini ketemu suaminya Elvina. Ganteng banget ya,"
Vano terkekeh salah tingkah. Kalau saja yang bilang begitu adalah istrinya, sudah pasti Ia menyisir rambut ke belakang dengan memasang ekspresi pongah sekaligus membusungkan dada.
"Terimakasih, Bu," ujar Vano setelah Ia mendapat pujian dan jujur itu sempat membuat perasaannya meletup-letup senang. Siapa yang tidak senang dipuji tampan? pasti semuanya senang.
"Ayo makan dulu, Elvina, Vamo, silahkan jangan sungkan-sungkan,"
Di dalam acara tersebut ada rekan mereka dan juga keluarga yang mejanya di pisah. Elvina dan Ken masuk dalam bagian keluarga padahal mereka berdua tak sedekat itu dengan Jona, entah kenapa malah tempatpun disamakan dengan keluarga.
"Seneng deh dipuji ganteng," bisik Elvina di sebelah Vano yang langsung menayan senyum sembari menaik turunkan alisnya.
"Yoi dong, kamu soalnya jarang muji, jadi aku sekalinya dipuji pasti seneng banget, Sayang. Lagian siapa sih yang nggak seneng dipuji? orang aneh aja yang nggak ada rasa seneng setelah dipuji dalam hal apapun itu. Yang penting seneng nya nggak berlebihan sampai yang loncat dan guling-guling gitu,"
"Lah itu mah lebay banget, Mas,"
"Kamu jarang muji aku ganteng, malah ibu-ibu yang muji, terus nyokapnya Jona pula,"
__ADS_1
"Kamu mau dipuji sama siapa? yang masih muda? masih gadis?"
"Nggak, dipuji sama kamu juga udah seneng banget, nggak berharap yang gimana-gimana, tapi sayangnya kamu jarang banget, bahkan kayaknya hampir nggak pernah deh,"
"Lah, emang iya?"
Iya--"
"Eh El, lo mau makan apa? makan lah, jangan cuma datang tapi nggak nyicip makanan,"
Jona yang sebelumnya berbincang dengan keluarga setelah menemui Vano dan Elvina yang baru datang, kini memutuskan untuk duduk di depan Elvina dan juga suaminya itu.
"Okay gampang, Jon,"
"Van, makan lah, lo mau apa nih? biar gue--"
"Eh nggak usah, Jon. Bisa ambil sendiri nanti,"
“Gue seneng kalian datang,”
“Gue terpaksa, udah diajakin sama Anatha, tadinya nggak mau,”
“Hah? Beneran? Kok nggak mau?”
“Karena gue males keluar rumah dan gue yakin Elvina tuh bakal sibuk ngobrol sama lo, ntar gue dikacangin,”
Jona terkekeh karena rupanya itu penyebab Vano sempat tidak mau datang ke acara ulang tahun orangtua Jona.
“Kamu mau minum apa?”
“Apa aja,”
Vano langsung beranjak dari kursi untuk mengambilkan air minum, sementara istrinya Ia biarkan duduk bersama Jona dan berbincang.
“El, beneran Vamo tadinya nggak mau ikut ke sini?”
Elvina menganggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan sang suami tadi kepada Jona itu benar adanya. Vano tidak berbohong. Memang Vano awalnya tidak mau datang, dia keberatan sekali, tapi karena Elvina terus mengajaknya, akhirnya Vano mau juga untuk menemani Elvina hadir.
“Kenapa emangnya?”
“Ya karena dia males keluar rumah, kayak apa yang tadi dia bilang, terus juga takutnya gue sibuk sama lo,”
Elvina tertawa disambut oleh tawanya Jona juga. Van terlalu berpikir buruk. Sesibuk apapun Elvina dengan Jona, tak mungkin lah Vano diabaikan oleh istrinya.
“Ada-ada aja si Vano ya,”
“Iya emang suka aneh dia, jangan heran lagi,”
“Eh lo mau apa? Biar gue ambilin nih,”
“Nggak usah, Jon, thanks ya,”
“Ayolah makan. Ada bakso sama siomay tuh, lo mau itu nggak? Mau ya? Okay bentar gue ambilin dulu,”
Jona tidak memberikan kesempatan untuk Elvina menolak. Ia segera bergegas meninggalkan bangkunya untuk mengambilkan makanan. Meskipun Elvina menolak, Ia tetap ingin mengambilkan. Supaya Elvina tidak pulang dengan perut yang tidak terisi sama sekali dengan makanan yang disediakan sekarang.
Vano datang dengan dua gelas minuman jus jeruk. Elvina yang melihat itu langsung membelalakkan matanya sedikit.
“Kenapa ini yang diambil? Aku mau air putih aja deh,”
“Lah tadi katanya apa aja,”
“Ya udah deh, aku minum,”
Daripada Elvina kelihatannya keberatan menyeruput minuman itu, lebih baik Vano ambil yang diinginkan Elvina saja.
“Jadi mau air putih nih?”
Elvina mengangguk, dan Vano langsung bergegas mengambil air putih untuk istrinya. Konsep acara ini apa-apa ambil sendiri, andai saja tidak begitu, Elvina tentu tidak akan merasa telah merepotkan suaminya.
Ketika Vano datang membawa air putih yang diinginkan sang istri, Jona juga kebetulan datang dengan siomay dan juga bakso.
“Buat siapa tuh?”
“Makan aja,”
Jona mempersilahkan keduanya untuk makan apa yang sudah Ia sajikan di depan mata mereka sekarang.
“Masa iya kalian pulang nggak makan apa-apa,”
“Nggak masalah, Jon,” ujar Vano.
Elvina segera menyeruput air putih kemudian mencicipi siomay yang telah diantar oleh Jona.
Sementara Vno lebih memilih untuk minum saja.
“Eh gue main sama ponakan gue dulu ya, kalian lanjut aja makan nya, harus habis, kalau perlu nambah,”
Jona langsung bergegas menjauh dari meja Elvina dna juga Vano yang menggeleng begitu ditawarkan siomay oleh istrinya itu.
“Kenapa nggak mau? Ini enak lho, Mas,”
“Ya udah makan aja,”
“Beneran nggak mau?”
“Tadi aku tawarin mau makan apa, eh kamu nya malah geleng kepala. Tapi nggak taunya malah minta ambilin sama Jona,”
Elvina segera menggelengkan kepalanya agar sang suami tidak salah paham. Ia tidak merasa meminta tolong pada Jona untuk mengambilkan makanan, sebelumnya Ia sudah menolak tapi Vano malah salah paham.
“Aku jadi nggak enak nih, kamu minta tolong sama orang, padahal aku suami kamu,”
Vano tidak suka bila Ia tidak dilibatkan dalam situasi apapun yang dihadapkan oleh Elvina sekalipun ketika Elvina merasa lapar. Seharusnya Elvina minta tolong padanya untuk mengambilkan makanan, bukan meminta bantuan pada orang lain. Satu sisi tak enak pada Jona karena bisa merepotkannya, dan di lain sisi, Vano ingin istrinya meminta tolong padanya saja, bukan Jona.
__ADS_1
“Mas, jangan salah paham deh, orang aku nggak minta tolong sama Jona kok. Emang dia aja yang inisiatif ngambilin makanan untuk aku,”
“Oh berarti aku nih yang telat nggak punya inisiatif,”