
"Halo, kamu dimana? Katanya cuma ngopi sebentar tapi kok sampai sekarang belum sampai di rumah? Aku aja udah dari tadi pulang,"
"Iya-iya ini aku balik,"
Vano menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku setelah menjawab telepon dari Elvina. Vano menatap Agatha dan Rendra bergantian.
"Sorry ya, gue balik duluan soalnya Elvina udah telepon,"
"Iya, dia mungkin khawatir lo lagi sakit tapi malah keluyuran, Van,"
"Ah paling mau ngajak berantem lagi nih,"
"Ih Ken enggak boleh ngomong begitu. Benar kata Mas Rendra, mungkin kakak khawatir karena kamu malah keluar rumah padahal lagi sakit,"
"Iya mungkin. Ya udah gue balik duluan ya, Assalamualaikum,"
"Langsung balik lo! Jangan kemana-mana dulu," ujar Rendra pada Vano seraya menunjuk Vano dan menatapnya tajam.
"Iya! Emang lo pikir gue mau kemana dulu?"
"Ya kali aja lo mau keluyuran dulu kemana-mana. Kalau kayak begitu tandanya lo cari masalah, gimana enggak berantem mulu, orang lo nya juga suka mancing sih,"
"Lah sok tau dia,"
"Udah sana pulang, jangan adu mulut di sini,"
Agatha menengahi suaminya dan juga suami dari mantan kekasih suaminya yang malah beradu mulut. Rendra menyarankan Vano agar segera pulang jangan keluyuran kemana-mana, sementara Vano tidak terima karena sarannya Rendra itu seolah menuduhnya yang mau keluyuran alias tidak langsung pulang.
"Dah gue mau pulang, bye, Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Agatha terkekeh menepuk bahu Rebdra yang langsung menatapnya bingung. "Kenapa sih? Kok kamu ketawa?"
"Kamu sama Vano kalau lagi ribut kecil kayak tadi lucu,"
"Kalau lagi ribut besar masih bisa dibilang lucu?"
"Emang kamu pernah ribut besar sama dia?"
"Ya pernah, waktu aku masih sama Elvina,"
"Oh karena rebutan kak El,"
"Iya dulu, dia marah sama aku, terus aku juga marah sama dia karena merasa Elvina udah direbut sama dia. Tapi itu 'kan dulu, Bee, aku udah enggak ingat juga,"
"Iya, sekarang mah ribut besar sama siapa kamu, Mas?"
"Hah? Enggak ada, aku enggak pernah ribut,"
"Iya janganlah, enggak ada yang direbutin lagi 'kan?"
"Enggak ada lah, kamu udah punya aku, siapa yang berani rebut? Hah? Aku berani ribut besar nih kalau emang bener ada yang mau rebut kamu,"
"Wuidih serem banget kedengarannya, Mas,"
Rendra tersenyum dan wajahnya maju ingin mencium kening Agatha namun Agatha langsung memundurkan kepalanya seraya menatap tajam.
"Mas enggak boleh macam-macam ih!"
"Lah orang mau nepuk nyamuk, kamu pikirannya kemana-mana sih,"
"Ih masa mau nepuk nyamuk kepalanya maju? Harusnya tangan dong yang maju,"
Rendra tertawa tidak bisa mengelak lagi. Ia lupa kalau ini tempat umum, Ia malah mau mencium kening Agatha. Alasan saja mau menepuk nyamuk, kenyataannya mau mencium.
"Ngaku deh aku,"
"Tuh 'kan, emang aku bisa dibohongin, Mas?"
"Iya-iya deh, maaf, kelupaan aku kalau lagi di luar malah mau nyosor karena gemes liat kamu. Pipi kamu kok kayaknya makin berisi jadi makin gemes pengen gigit,"
"Enggak boleh, nanti berdarah kalau digigit," kata Agatha seraya menangkup pipi kanan kirinya. Rebdra tersenyum menggigit bibir bawahnya.
Karena bibir tak boleh bekerja, akhirnya tangan saja lah yang bekerja. Ia cubit pipi Agatha yang makin berisi kalau Ia perhatikan.
******
Vano menghentikan mobilnya di warung tenda bubur ayam. Ia akan makan itu dulu sebelum pulang. Ia mengabaikan apa kata Rendra tadi yang menyuruhnya langsung pulang.
Nyatanya Ia keluyuran mencari penjual bubur dulu supaya sampai rumah sudah ada amunisi menghadapi Elvina yang pasti akan berceloteh lagi karena dirinya pergi.
Vano keluar dari mobil dan langsung duduk di salah satu tempat yang kosong. Baru juga duduk, ponselnya bergetar. Ada panggilan masuk lagi dari Elvina.
"Halo, El,"
"Masih belum mau pulang juga? Kamu udah sembuh rupanya ya, jadi udah bisa kemana-mana,"
"Bentar, aku lagi mau makan bubur nih, lagi mau pesan,"
"Ngapain lagi beli bubur? Hah? 'Kan udah aku beliin, Enggak mau makan bubur yang aku beli? Ya udah silahkan beli aja sana,"
"Oh kamu udah beli? Ya udah deh aku makan di rumah aja,"
Elvina menyudahi sambungan teleponnya. Vano hampir saja merasa bersalah kalau saja Ia makan di sini, padahal istrinya sudah beli makanan yang serupa.
Vano beranjak meninggalkan warung tenda itu. Beruntungnya Ia belum pesan. Vano masuk mobil dan langsung tancap gas ke rumah.
Elvina sudah dua kali menghubunginya karena belum pulang juga ke rumah. Elvina pasti sudah menyangka Ia singgah-singgah dulu.
*****
"Tadi Mas Vano kayak mencurigakan gitu enggak sih? Dia keliatan kayak mau pergi sama seseorang ya, Mih?"
"Hmm? Enggak, Bu. Tapi kalau teleponan sih iya,"
"Hah? Teleponan sama siapa dia?"
"Astaghfirullah, ini mulut kenapa cerewet banget sih!" Amih mengutuk mulutnya sendiri yang tidak bisa dikunci dengan baik. Padahal Vano sudah pesan-pesan tadi supaya tidak cerita apapun soal dirinya yang sempat bicara dengan yang namanya Delila di telepon karena bisa menciptakan pertengkaran dengan Elvina.
Tapi Ia malah membocorkannya pada Elvina. Takutnya nanti mereka bertengkar, dan sesungguhnya Ia tidak mau hal itu terjadi.
"Amih, tolong jawab aku. Teleponan sama siapa?"
"Telepon temannya, Bu. Tapi enggak tau sekarang Pak Vano pergi sama temannya itu atau enggak,"
"Telepon siapa yang aku tanya?"
"Saya—saya—lupa deh, Bu,"
"Amih bohong sama aku,"
"Beneran saya lupa, Bu,"
Elvina terkekeh tidak percaya. Matanya kini memicing ke arah Amih yang masih berusaha untuk menutupi padahal sudah keceplosan. Sepertinya Ia tahu siapa teman Vano yang Amih maksud. Tidak mungkin Amih kelihatan tegang setelah keceplosan kalau teman Vano laki-laki, pasti perempuan yang bicara dengan Vano di telepon dan Ia yakin itu Delila.
"Oh lupa ya? Mau aku ingatin enggak? Namanya Delila bukan?"
Amih menggelengkan kepalanya beberapa kali. Anatha terkekeh menepuk bahu Amih dengan lembut. "Iya benar, aku yakin dia teleponan sama Delila dan kayaknya dia juga lagi pergi sama perempuan itu,"
"Saya enggak tau kalau soal itu, Bu. Barangkali benar Pak Vano memang hanya ngopi aja tapi terlalu nyaman di tempat ngopi jadinya lama,"
"Padahal dia lagi sakit. Biarin aja sekalian enggak sembuh, disuruh istirahat malah keluyuran enggak jelas. Ini mah bukan ngopi sebentar, udah lain lagi tujuan dia,"
Bel pintu rumah berbunyi menandakan ada orang yang datang ke rumah dan izin masuk. Amih segera bergegas untuk membuka pintu.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, Ibu udah nyariin Pak Ken itu,"
"Iya makanya udah diteleponin mulu, Mih,"
"Ibu tuh khawatir, Pak. Soalnya Pak Ken sakit,"
Vano terkekeh dan melangkah masuk dengan cepat seraya memanggil Elvina yang ada di meja makan.
"Sayang, aku abis ngopi," ujarnya seraya duduk di depan Elvina.
"Katanya cuma bentar, tapi nyatanya lama banget. Ngopi apa ngopi, Ken?"
"Enggak kemana-mana, seriusan. Cuma di kafe aja,"
"Terus tadi teleponan sama siapa?"
"Hah?"
Vano nampak seperti orang bodoh dan Elvina yang melihat itu mendadak kesal. Elvina memutar bola matanya jengkel.
"Enggak usah hah heh hoh aja kamu! Aku tau kamu tadi teleponan sama Delila ya? Waktu aku pergi,"
"Enggak,"
Vano melirik Amih yang melintasi meja makan dengan kepala menunduk. Dalam hati Vano menggerutu karena Elvina tahu hal itu pasti dari mulutnya Amih padahal Ia sudah berpesan pada Amih supaya Elvina tidak perlu tahu kalau Ia menghubungi seseorang.
"Kamu lama enggak pulang-pulang pasti karena lagi ketemuan dulu sama dia. Iya 'kan?"
"Enggak, El, seriusan aku enggak bohong,"
Elvina mendengus, mulut boleh bilang tidak bohong tapi mata Vano itu tidak bisa dibohongi. Pasti hatinya berkata kalau Vano bohong disaat Vano memang tengah membohonginya. Sebaliknya kalau Vano jujur, hatinya pun akan berkata demikian.
"Kamu terus aja mau membodohi aku, Mas. Enggak capek apa?"
"Hah? Orang beneran aku enggak bohong, atau membodohi kamu,"
"Kamu bakal dapat batunya,"
Elvina bergegas ke atas meninggalkan Vano yang menelan ludah susah payah. Yang barusan itu Elvina menyumpahinya ya? Aduh, Ia takut juga.
Vano segera memanggil Amih untuk bertanya langsung pada wanita itu. Sekarang jadi bertengkar lagi karena Elvina tahu Ia bicara dengan Delila. Apalagi kalau Elvina tahu Ia bertemu dengan Delila, bisa terjadi perang lagi.
"Amih, kamu yang ngomong ke Elvina kalau tadi saya telepon orang? Dan kamu kasih tau namanya? Bilang aja teman saya yang laki-laki harusnya,"
"Udah, Pak. Tapi Ibu enggak percaya. Saya yang dari awal keceplosan, maafin saya, Pak. Saya bilang tadi Pak Vano sempat teleponan, tapi belum saya bilang siapa orang yang teleponan sama Pak Vano eh Ibu udah bisa tau,"
Vano berdecak kesal. Di kepala Elvina itu sudah melekat dengan sempurna namanya Delila. Apa-apa Delila.
****
****
"Abis cerita apa aja sama orang yang sekarang udah jadi teman bahkan kamu anggap kayak adik itu? ceritain yang jelek-jelek tentang aku ya? hmm?"
Elvina menoleh ketika pintu kamar dibuka dan Vano masuk langsung bicara seperti itu kepadanya.
"Nggak usah nuduh bisa enggak?"
"Aku enggak nuduh, aku sempat dengar tadi,"
"Oh nguping ternyata. Selain suka selingkuh suka nguping juga kamu ya,"
"Padahal udah dibilangin sama Agatha jangan ngomong sama aku tuh marah terus, sesekali ngobrol santai sama aku, enggak bisa apa?"
"Enggak bisa karena kamu yang suka mancing,"
"Ngomong-ngomong tadi bohong lagi 'kan ternyata. Katanya enggak ketemuan sama Deila enggak taunya Tuhan mau kasih tau ke aku kalau kamu itu bohong! kamu ketahuan jalan sama Delila. Terus gimana rasanya ketemu juga sama Rendra Agatha? kalau aku jadi kamu sih udah deg-degan karena ketauan keluarga kalau kamu itu selingkuh,"
__ADS_1
"Aku sih santai, enggak deg-degan karena aku enggak lagi selingkuh,"
“Aku cerita apa yang sebenarnya, enggak ngarang. ‘Kan memang benar kamu selingkuh,”
“Selalu aja ngejelekkin aku di depan keluarga, enggak puas-puas kamu tuh, El,”
“Ngejelekkin gimana? Aku cuma cerita sama Agatha soal apa yang lagi aku hadapi sekarang,”
“Emang apa yang kamu hadapi sekarang?”
“Kebohongan kamu,” tukas Elvina seraya beranjak keluar ke balkon. Vano mengikutinya dan begitu tiba di belakang Elvina tiba-tiba saja Ia membekap mulut Elvina hingga Elvina mengerang kesal.
“Apaan sih?! Kamu mau bunuh aku ya?! Hah?!”
“Yaelah, orang cuma bercanda doang. Ala-ala penjahat gitu, lagian ‘kan enggak kencang, enggak kayak perampok beneran,”
Vano terkekeh seraya mengacak rambut istrinya yang marah karena Ia tiba-tiba membungkam mulutnya dari belakang. Elvina terkejut karena Ia sedang asyik menatap ke depan.
“Jadi kamu cemburu sama aku ya? Kayaknya tadi aku dengar kayak gitu,”
“Aku enggak bilang kalau aku cemburu. Kalau nguping makanya sampai tuntas. Lagian sih telinga dipakai untuk nguping. Salah banget itu,”
“Ah yang benar? Bukannya kamu bilang tadi kalau kamu cemburu?”
“Aku enggak bilang begitu!”
“Ya udah santai aja, El. Jangan melotot begitu sama suaminya,”
“Apa yang kamu lakuin tadi di kafe sama Delila?”
Elvina mengalihkan pembicaraan. Ia belum membahas Vano dan Delila yang tadi ditemui Agatha di kafe.
“Enggak sengaja ketemu,”
“Halah bohong banget. Udah jelas-jelas kamu teleponan sama dia sebelum pergi. Berarti kalian berdua janjian untuk ketemu. Iya ‘kan?”
“Enggak kok,” elak Vano dengan senyum miringnya yang mengundang Elvina ingin mengacak-ngacak muka suaminya.
“Dari senyum kamu itu aja udah ketauan kalau kamu bohong, Mas,”
“Tapi beneran emang enggak sengaja ketemu,”
“Masa iya dunia seluas ini bisa mempertemukan kalian di tempat yang sama?”
“Lah aku sama Agatha Rendra aja bisa ketemu, masa sama dia enggak bisa?”
“Kalau sama mereka berdua emang benar-benar enggak sengaja, tapi kalau sama dia memang sengaja alias udah direncanakan sama kalian berdua,”
“Mending kita jalan-jalan ke seaworld yuk,”
“Enggak nyambung banget lagi ngomongin apa, tiba-tiba malah ngajak ke seaworld,”
“Ya biar kita rileks, kita liat hewan-hewan laut,”
“Aku bukan anak kecil yang bisa dihibur sama itu. Maksud kamu setelah pergi sama dia, sekarang waktunya bikin aku senang gitu ya?”
“Astaga, Elvina. Jangan negative thinking mulu kenapa sih? Aku emang niat mau ngajakin kamu pergi,”
“Daripada kamu pergi-pergi terus mending istirahat, katanya sakit,”
“Cie khawatir,” ledek Vano seraya menusuk pipi istrinya dengan telunjuk. Elvina menjauhkan pipinya kemudian menghempas tangan suaminya.
“Bukan khawatir! Kalau kamu keluar sama aku, nanti kamu kenapa-napa malah ngerepotin aku,”
“Perasaan aku ngerepotin kamu terus ya, Na?”
“Iya! Kamu itu bisanya ngerepotin aku aja, terus bohong dan selingkuh,”
Vano langsung meraih pinggang istrinya yang akan masuk ke dalam kamar. Elvina menatapnya tajam, entah mau apalagi lelaki ini.
“Ayo kita jalan-jalan,”
“Aku enggak tertarik jalan-jalan! Apalagi sama kamu yang udah jelas tadi pergi sama yang lain. Katanya sakit tapi kaki keluyuran aja, mending mikir yang bener deh, Mas, mumpung masih hidup,”
Elvina melepaskan tangan Vano dari pinggangnya dan pergi masuk ke dalam kamar meninggalkan Vano yang tertawa.
Vano segera berlari kecil menghampiri istrinya yang ternyata sedang menatap ponsel dengan posisi berbaring di sofa kamar.
“Kok di sini? Di ranjang aja, El,”
“Enggak mau, aku di mana aja bukan urusan kamu, Mas,”
“Tapi aku mau tiduran sambil peluk kamu, El,”
Vano terpaksa berbaring di sisi Elvina yang masih kosong dan itu sempit sekali. Elvina berdecak karena merasa diusik.
“Jangan ganggu, Mas! Aku mau sendirian aja di sini,”
“Enggak apa-apa sempit yang penting bisa berduaan,”
Elvina mendorong sang yang memeluk pinggangnya. Otomatis membuat Vano tidak akan bergerak.
“Mas! Sana duduk! Tolong jangan ganggu aku!“
“Mumpung aku di rumah, jangan berantem mending mesra,”
Elvina berontak tidak mau dipeluk oleh Vano. “Sayang, ayo,” bisikan Vano di telinga membuat Elvina meremang, bulu romanya berdiri semua.
“Mas, kamu di tempat tidur aja mendingan, jangan di sini,”
“Enggak mau, aku mau di sini aja, kenapa sih?”
“Ya enggak boleh karena udah aku duluan yang nempatin sofa ini,”
“Mana ada aturan kayak begitu, ah kamu nih,”
“Jangan kayak gini dong, Mas. Aku enggak mau kamu gangguin!”
“Aku enggak ganggu, cuma pengen peluk, Na,”
“Kamu kayaknya bukan mau peluk aja, Ken,”
“Emang aku mau apa coba?”
“Ya enggak tau, kamu yang tau,”
“Aku mau kamu, boleh enggak?”
Disaat ada di sofa yang sempit, bisa-bisanya Vano mengatakan bahwa Ia menginginkan Elvina.
Elvina berdecak mendorong dada suaminya lagi. “Sana ah! Ngapain sih kamu?!” Elvina tidak mau, kelihatan dari gesturnya, tapi Vano tidak menyerah.
“Aku kangen banget sama kamu, jadi aku mau kamu,”
“Kangen-kangen! Emang kita enggak ketemu berapa lama? Hah?”
“Kita ketemu terus tapi berantem terus, aku jadi kangen,”
“Aku mau,”
Vano sekarang duduk. Tangannya dengan lancang ingin membuka kancing baju yang dikenakan Elvina. Istrinya itu kaget dan melotot tajam ke arahnya.
“Apaan sih? Emang aku—“
“Tolonglah, aku kangen nih,”
Seolah dihipnotis, Elvina yang sebelumnya merasa keberatan untuk memenuhi keinginan Vano, sekarang justru membiarkan Vano menanggalkan busananya.
“Jangan minum pil ya, El. Mau enggak?”
“Enggak, aku takut hamil. Aku enggak mau hamil disaat kamu aja lagi main-main sama perempuan lain,”
Ingat perempuan lain, Elvina mendadak memasang kancing bajunya lagi. Ia bodoh, seharusnya Ia tidak memenuhi permintaan Vano sebab Vano saja sudah jahat telah berkhianat padanya.
“Kok ditutup lagi?” Tanya Vano tidak paham. Ia sudah senang karena Elvina tidak berontak, sekarang yang Ia lihat Elvina malah mengenakan bajunya lagi.
“Kamu jahat banget ya, enggak ada otak. Kamu minta sama aku disaat kamu udah ada yang lain?”
“Kamu istri aku jadi aku cuma mau kamu, aku cuma kangen sama kamu,”
“Enggak! Aku enggak mau,”
Elvina ingin beranjak duduk menjauh dari Vano namun Vano segera mencekal tangannya. Vano juga melumpuhkan Elvina hingga berbaring lagi di sofa.
“Yakin nih enggak mau nurutin aku? Tadi kamu udah sempat enggak nolak lho,”
“Karena aku ingat dosa,”
“Ya terus kenapa sekarang nolak? Berarti enggak ingat dosa lagi dong?”
Tanpa basa-basi Vano membungkam mulut Elvina dengan bibirnya. Ia sengaja mencium Elvina yang membuka bibir ingin menjawabnya, Ia tidak menerima penolakan lagi.
Ia sudah benar-benar merindukan istrinya itu. Ia mengidam-idamkan Elvina ada di bawah kungkungannya. Elvina hak nya, dan Elvina punya kewajiban untuk memenuhi keinginannya. Jadi tunggu apalagi? Saatnya mereka menurunkan ego masing-masing dan saling merajut kasih di atas peraduan.
Vano menggendong Elvina dan memindahkannya di atas ranjang. Tidak mungkin mereka di sofa karena terlalu sempit. Mau pelukan saja sulit sekali.
“Mas, aku belum jawab—“
“Iya, kamu udah jawab iya tadi,”
“Kap—hmmp,”
Vano mencium bibir Elvina lagi dengan menuntut. Ia tidak mengizinkan Elvina bicara apapun lagi. Sambil mulutnya bekerja, tangannya juga bekerja untuk menanggalkan apa yang menjadi pelindung tubuh Elvina yang baginya sempurna.
“Sayang, jangan minum pil ya,”
“Aku enggak mau hamil, kita lagi enggak baik-baik aja sekarang,”
“Kita emang enggak pernah baik-baik aja selama ini. Pokoknya jangan minum pil, okay?”
Vano mengerlingkan matanya. Setelah kulit mereka bertemu, Vano kembali melancarkan aksi, tidak langsung pada inti.
Ia membelai setiap jengkal leher Elvina dengan bibir dan lidahnya hingga Elvina merasakan gelenyar aneh di dalam tubuhnya.
“Aku tuh cinta banget sama kamu,” bisik Vano disela bibirnya membuat Elvina terlena.
“Kamu juga enggak?”
“Arghh Mas!”
Elvina meringis ketika Vano menghisap kulit lehernya. Ia terkejut sampai mendorong kepala Vano namun itu tidak berhasil membuat Ken menyingkir.
“Sakit!”
“Sakit apa enak? Yang tadi tuh meringis atau mendesah? Hmm?”
Pagi mereka akhirnya dihabiskan dengan kebersamaan yang intim di atas ranjang. Vano menggunakan kesempatan sebaik mungkin. Meskipun Ia sedang kurang sehat tapi selagi Ia berada di rumah dan Elvina juga begitu, langsung saja tancap gas karena kebetulan memang sudah mendamba sekali.
******
Setelah sama-sama puas di atas ranjang, Vano dengan bujuk rayunya mengajak Elvina untuk mandi bersama.
Elvina yang awalnya menolak tegas sebab Ia tahu akan berakhir seperti apa nantinya kalau mereka mandi bersama, akhirnya takluk juga karena Vano.
Dan benar perkiraan Elvina. Mereka tidak hanya sekedar mandi, tapi kembali mengulangi yang sebelumnya.
__ADS_1
Setelah itu barulah mereka benar-benar mandi dalam artian yang sesungguhnya yaitu membersihkan badan.
“Abis ini kita kemana, El?”
“Enggak kemana-mana, aku capek. Emang aku kayak kamu yang mirip kuda?! Enggak ada capeknya, heran,”
“Namanya juga Vano. Kamu yang awalnya nolak aja bisa aku bikin nurut,”
“Daripada kamu melakukan kekerasan dalam rumah tangga,”
“Astaga ya enggaklah, masa cuma gara-gara ditolak sampai jadi main tangan?”
“Bisa aja, saking udah dikuasai nafsu,”
“Kamu kebanyakan nonton sinetron, El,”
“Udah berubah lagi panggilannya. Enggak mau panggil aku sayang lagi ya?”
Vano tersenyum mendengar ucapan Elvina yang kedengaran tengah memprotes dirinya yang kembali menghilangkan panggilan sayang untuk Elvina.
“Dibilang, aku enggak mau sayang cuma sendirian, maunya disayang juga,”
Vano meraih sabun dan berdiri di belakang Elvina, melihat itu Elvina bingung. Ia merampas botol sabunnya yang diambil alih Vano.
“Kamu mau ngapain sih?!”
“Aku sabunin,”
“Enggak usah! Ngapain sabunin aku segala? Mending bersihin aja badan kamu sendiri,”
“Ya elah, kamu mah enggak mau banget mesra-mesraan sama aku, El,”
Elvina tidak menyahuti. Ia fokus mandi dengan cepat setelah itu keluar dari kamar mandi lebih dulu daripada suaminya dan langsung mengenakan pakaian. Lama-lama di dekat Vano bisa membuatnya tidak waras.
“Kok udah selesai sih?”
“Kamu mau aku mandi sampai besok lusa? Hah?”
“Ya biasanya juga lama kamu mandinya,”
“Ada kamu jadi aku enggak lama,”
“Emang kenapa kalau ada aku? Tadinya mau aku sabunin lho, El,”
“Enggak nyaman kalau ada kamu, lagian aku bisa gila lama-lama di dekat kamu,”
Vano terbahak di dalam kamar mandi mendengar sahutan kesal dari Elvina. Vano kurang sehat tapi masih bisa memancing Elvina untuk marah.
Elvina sudah menolak diawal, akhirnya dibikin takluk, lalu Elvina kembali menolak karena lelah, lagi-lagi Ia dibuat terlena sampai akhirnya takluk lagi. Giliran sudah kelelahan seperti sekarang bawaannya ingin mengomeli Vano saja.
“El, tolong bikinin mie instan ya,”
“Kamu banyak maunya deh. Tadi ‘kan udah makan, itu bubur ayam ditaro dimana? Ke perut bukan?”
“Iyalah, masa aku buang ke tempat sampah? Sekarang lapar lagi nih, habis menguras tenaga soalnya,”
Elvina berdecak tidak ingin menuruti permintaan Vano kali ini. Biar saja suaminya itu membuati mie instan sendiri.
“Kamu ‘kan punya tangan, punya kaki, sama punya otak jadi bisalah bikin sendiri,”
“Dih pelit banget,”
Vano menyahuti sambil tangannya membersihkan bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di sekitar bawah dagu dan atas bibirnya.
“Ayo bikinin, El, jangan sampai aku ajakin bikin anak lagi nih,”
“Mas apaan sih? Kamu bikin aja sendiri. Apa-apa aku, minta sama selingkuhan kamu dong sana,”
“Masa aku minta apa-apa ke orang, yang bener aja kamu? Emang kamu bakal terima? Kamu enggak bakal ngomel?”
“Silahkan, kamu yang dosa,”
“Enggak deh, aku mah enggak pernah minta apa-apa ke orang, apalagi minta yang tadi. Duh enggak pernah,”
“Aku ragu makanya tadi aku enggak mau, aku takut kena penyakit kelamin,”
Vano terbahak puas sampai Ia harus menjauhkan dagunya dari alat yang Ia gunakan untuk membabat bulu halus yang tumbuh di dagu dan dekat bibirnya itu.
Ia benar-benar tergelitik ketika tahu Elvina pikirannya sudah kemana-mana. Benar, Elvina sudah yakin kalau Ia selingkuh.
“Smeoga aja aku sehat-sehat,”
“Ya ampun, kamu mikirnya kok begitu? Kamu pikir aku main sama siapa? Enggak ada lah, kalau mau macam-macam udah dari dulu aja. Jangan mikir yang buruk ke aku, El. Enggak capek apa?”
“Ya wajar dong kalau aku curiga karena kamu ‘kan udah punya orang lain tapi aneh kamu malah mau bikin aku hamil,”
“Kalau aku punya yang lain, aku enggak bakal mau kamu hamil, Sayangku. Aduh ampun, bikin aku geregetan aja kamu nih,”
Vano membilas seluruh badannya sampai benar-benar bersih setelah itu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
“Nih ya dengerin, kalau aku mau macam-macam, aku enggak bakal pulangnya ke kamu, enggak bakal mau jadiin kamu sebagai ibu dari anak-anak aku, enggak bakal mungkin. Jadi stop mikir yang aneh-aneh tentang aku ya,”
“Sulit dipercaya,”
“Harus percaya pokoknya,”
“Tolong bikinin mie instan, El,” lagi-lagi Vano minta dibuatkan mie instan oleh istrinya.
Vano bergegas mengenakan baju setelah itu kembali mendekat pada Elvina yang menghidupkan televisi. Matanya melotot setelah Elvina meletakkan remote televisi, Elvina meraih pil kontrasepsi miliknya.
“Sayang, tolonglah, jangan minum itu mulu kenapa sih?! Udah cukup, sekarang enggak usah lagi,”
“Aku ‘kan belum cinta sama kamu, jadi aku belum siap punya anak dari kamu, Mas. Waktu itu kamu bilang kalau kamu bakal paham, kok sekarang mendadak berubah pikiran? Kamu larang aku?”
“Iya, karena aku rasa udah waktunya kita punya anak, El. Tunggu apalagi? Tunggu kamu cinta sama aku? Sampai rumah runtuh enggak cinta-cinta berarti sampai rumah runtuh juga kita enggak punya anak? Terus pernikahan kita gini-gini aja? Enggak ada personel baru?”
“Iya, daripada punya anak malah jadi korban keegoisan kita,”
“Sebenarnya kamu yang egois lho, El. Udahlah, sini aku yang simpan pilnya, enggak usah minum,”
“Ken, jangan bikin ribut kenapa sih?”
“Ya udah sekali ini aja enggak usah, besok-besok terserah deh,”
“Ya apa bedanya? Aku bakal tetap minum juga intinya,”
“Kali aja yang barusan jadi, ‘kan siapa tau cebong aku jadi bayi,”
“Ih aku enggak mau dulu punya anak! Nanti kalau aku hamil gimana? Aku juga lagi dalam masa subur, Mas,”
Elvina berusaha meraih pil kontrasepsi miliknya yang sekarang ada di tangan Vano setelah sebelumnya Vano berhasil merampas.
“Mas! Balikin cepat!”
“Enggak mau, sekali-sekali enggak usah pakai yang namanya pengaman, biar kita punya anak. Selama ini aku sabar, aku diam aja ngeliat kamu minum ini walaupun aku tersinggung banget karena segitu enggak maunya kamu punya anak dari aku,”
“Ya untuk apa punya anak kalau malah jadi korban? Dia bakal sering dengar kita berantem lho, Mas,”
“Kita enggak bakal berantem kalau kamu bisa dewasa dan enggak egois, terus bisa cinta sama aku dan otomatis kalau udah cinta bisa menerima dan menghargai aku jadi pada akhirnya enggak akan ada perdebatan atau pertengkaran, kita bakal aman-aman aja. Ya paling ada perdebatan kecil aja, tapi udah enggak melulu soal cinta dan masa lalu,”
Elvina mencubit pinggang suaminya yang berdiri di depannya dengan kaki sedikit terangkat dan tangan yang mengacung ke atas demi menjauhkan yang namanya pengaman dari jangkauan Elvina.
Vano ingin istrinya lepas dari pengaman itu biar Elvina berhasil kebobolan dan mereka bisa menimang bayi secepatnya. Vano rasa kalau mereka punya anak, pernikahan mereka akan lebih berwarna, bukan diisi dengan perdebatan saja hampir setiap hari.
“Nurut sama aku ya, kali ini aja deh,”
“Ya udah balikin dulu,”
“Enggak mau, kamu aja enggak mau bikinin aku mie instan,”
“Ya ampun masih bahas itu, okay! Aku bikinin sekarang tapi itu balikin. Besok-besok aku mau minum, sekarang aku mau nurut apa kata kamu,”
Vano tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia tidak akan percaya. Elvina masih bersikeras tidak mau hamil, jadi tidak mungkin Elvina melewatkan pil itu setelah mereka berhubungan apalagi kata Elvina tadi Ia sedang dalam masa subur. Elvina pasti sangat waspada sekarang ini.
“Enggak mau, aku aja yang pegang,”
Elvina memutar bola matanya kesal. Dengan langkah kaki menghentak, Elvina berjalan keluar kamar untuk membuatkan mie instan yang diinginkan suaminya itu.
Sementara Vano tersenyum puas karena istrinya sudah pergi. Ia menatap sinis benda yang ada di tangannya sekarang. Tanpa basa-basi, Ia buang pil-pil milik istrinya itu setelah Ia injak dengan kesal.
“Masa aku udah enggak pake pengaman, kamu masih aja berusaha ngamanin?! Enggak adil dong! Aku mau punya anak,” batin Vano memarahi pil kontrasepsi milik istrinya yang sudah membuatnya marah sejak awal dikonsumsi oleh Elvina.
“Semoga aja Elvina enggak beli pil itu dan minum lagi,”
*****
“Ibu, mau bikin mie instan? Ini ‘kan saya mau masak untuk makan siang, Bu,”
“Ini Mas Vano yang mau, Mih,”
“Oh Pak Vano yang minta. Eh iya kita jadi ke supermarket, Bu?”
“Jadi, abis ini ya,”
“Siap, Bu,”
Amih kembali melanjutkan kegiatan memasak makan siang yang sejak beberapa menit lalu Ia lakukan.
“Tambahin rawit ya, El,”
“Berapa?”
“Hmm lima deh, potong kecil-kecil,”
“Yakin itu perut kamu bakal baik-baik aja setelah makan mie instan ini?”
“Yakin, aku udah kangen makan mie instan sama rawit, eh tambahin telur juga dua. Telur langsung masukin ke dalam—“
“Iya cerewet! Aku tau, telurnya langsung dimasak sama mie ‘kan? Bukan didadar atau diceplok,”
Vano tersenyum puas karena Anatha paham keinginannya. “Iya benar, El. Makasih lho udah ngerti apa maunya aku, hehehe,”
Amih terkekeh mendengar Vano menggoda istrinya seperti itu. Vano duduk di meja bar mengamati Elvina yang berdiri di depan kompor dengan membelakanginya.
“Ati-ati masaknya,”
Elvina menolehkan kepala ke arah Vano dan menatapnya dengan tajam. Ingin sekali Elvina masukkan rawit-rawit pedas ke dalam mulut Ken yang berisik.
“Bisa diam aja enggak? Jangan ganggu. Mau aku kasih rawit mulutnya? Hah?”
“Jangan dong, masa tega banget sama suaminya. Aku suka rawit kalau dimakan sama sesuatu, bukan makan rawit aja,”
“Usir aja dia dari rumah, Mih. Berisik banget, ganggu ketenangan,”
“Lah, kalau saya ngusir Pak Vano, yang ada saya diusir balik, Bu,”
“Enggak bakal, nanti saya yang jamin kamu tetap aman di rumah ini,”
“Aku kalau diusir kamu mau kemana ya? Hmm…oh ke hotel lagi aja kayak waktu itu pas aku pergi dari rumah. Enak juga tuh hidup sendirian dari hotel satu ke hotel lain,”
“Enggak sendirian dong, ‘kan bakal ada yang temenin,”
“Enggaklah, sendirian lebih seru. Aku merasa jadi bujang lagi waktu itu,”
“Enggak bakal sendirian, soalnya ada Delila yang bakal temenin,”
__ADS_1
“Ya ampun, mulai lagi,”