Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 75


__ADS_3

“Mau kemana kamu?”


“Mau—-Davina ngajakin aku pergi ke minimarket, dia mau beli es krim katanya, Mas


“Terus kamu mau pergi gitu aja seolah di kamar ini nggak ada orang? Hmm? Kamu anggap saya ini nggak ada atau kamu anggap saya udha tau tujuan kamu pergj? Jelas-jelas saya udah naik duluan jadi saya mana tau Davina ngajakin kamu pergi,”


“Ya udah, ini aku udah bilang,”


“Ya kamu bilangnya setelah saya tegur, kalau nggaks aya tegur kamu pergi gitu aja seolah saya ini nggak ada di dalam kamar, dan kamu bisa sernaknya keluar masuk rumah,”


“Ih Mas tuh kenapa sih? Ribet banget deh, masalah soal Rendra udah kelar tadi, sekarang ada masalah baru lagi. Maunya apa sih, Mas? Ini ‘kan sepele, yang penting aku udah bilang ke Mas kalau aku pengen pergi sama Davina ya udha jangan diperpanjang,”


“Mas ribet banget sih,”

__ADS_1


“Kamu nggak sopan, Elvina. Pintar banget ngomongin saya ribet. Ya g ribet tuh kamu! Saya cuma berharap kamu ngomong aja sama saya kamu mau kemana, tapi kamu mggak melakukan itu. Kamu mau langsung pergi gitu aja seolahs aya nih nggak ada,”


Elvina berdecak kesal. Ia menatap suaminya dengan sorot mata sinis. Ia lelah beradu mulut bersama Vano yang menurutnya terlalu gemar memperbesar masalah.


“Padahal ini cuma masalah kecil tapi kamu ribet banget sih. Ya udah nih aku pamit sekarang. Mas aku sama Davina ya, Assalamualaikum,” ujar Elvina setelah itu Ia langsung kleuar dari kamar tanpa cium tangan, atau tersenyum pada Vano yang langsung geleng-geleng kepala melihat perilaku istrinya.


“Benar-benar nggak sopan banget kamu, El,” gumam Vano dengan rahang mengetat. Ia ingin memastikan istrinya benar pergi dengan Davina, entah kenapa Ia ragu Elvina pergi dengan adiknya itu. Selalu ada nama Rwndra dan Rendra di kepalanya. Seharusnya memang tidak boleh tapi itulah kenyataannya. Karena mereka sudah selamcar itu berkomunikasi, jadi wajar kalau Ia curiga ‘kan? Ia curiga pada istrinya yang belum bisa move on dari mantan kelasihnya.


Vano mengikuti Elvina yang turun ke lantai bawah. Elvina menyadari kalau di belakangnya ada Vano sang suami.


“Nggak-nggak, Mas Vano di rumah kok, Dav, kita berdua aja,” ujar Elvina yang menjawba pertanyaan Davina. Sebenarnya pertanyaan itu Davina tujukan untuk abangnya. Tapi entah kenapa dijawab oleh kakak iparnya.


“Beneran, Kak?” Tanya Davina yang ditanggapi dnegan anggukan kepala oleh Elvina.

__ADS_1


“Oalah, tapi kenapa ngikutin kakak tuh?”


“Abang cuma pengen matsiin kapian pergi berdua aja,”


“Kamu nggak percaya? Hmm?” Tanya Elvina pada suaminya yang langsung mengangkat kedua bahunya.


“Ih abang kenapa nggak percaya? Orang Kak El emang beneran mau pergi sama aku kok, Abang cemburu ya? Emang cemburu sama siapa sih? Hmm? Spill dong,”


“Ya nggak, kirain mau pergi sendiri, kalau pergi sendiri biar Abang temenin,”


“Halah bilang aja Abang curiga Kak El pergi sama cowok lain,”


“Duh sok tau banget kamu, Dek,”

__ADS_1


Ucapan Davina sudah mewakilkan isi hati Elvina yang tahu kalau suaminya itu curiga. Tapi ketika berhasil ditebak oleh Davina, Vano langsung mengelak padahal Elvina yakin memang sebenarnya Vano itu curiga Ia pergi dengan laki-laki lain. Seketika rasa kesal Elvina hadir.


“Kenapa sih Mas Vano jadi curiga kayak gitu ke aku?”


__ADS_2