
“Aku dibilang bau duren masa, Ma. Padahal aku udah cuci tangan. Gimana aku enggak kesel coba?”
Vano menggerutu saat istrinya masih di kamar mandi karena mual akibat menemukan aroma dirian yang sedang Ia makan di meja makan.
“Ya memang belum hilang aromanya, Van,”
“Aku ngomong juga katanya masih kecium aroma durennya. Aku noatnya mau balurin minyak ke lehernya malah disuruh pergi aja karena bau duren,”
“Iya, ‘kan memang begitu. Kentut aja masih suka kecium bau duren,” hibur Lisa agar anak tertuanya itu tak menggerutu lagi.
Vano mendengus, lelucon mamanya belum berhasil membuat Ia tertawa sejauh ini. Lisa tertawa lalu menepuk pelan punggung tangannya yang ada di atas meja.
“Udah ya, jangan kesal karena Elvina begitu. Ini duren mau bunda simpan, kamu mau lagi atau enggak?”
“Enggak, Ma, simpan aja, kalau perlu tarok di atas atap biar El enggak begitu lagi,”
“Ya enggak di atap juga. Ergh! Kamu ada-ada aja kalau ngomong ya,”
Lisa bergegas menyimpan durian di tempat yang aman seperti sebelumnya. Tepatnya di kulkas kecil yang ada di dapur dan itu jarang sekali dibuka.
__ADS_1
Elvina jera ke meja makan, alhasil Ia menaiki tangga. Vano yang niatnya ingin menghampiri istrinya di kamar mandi lagi, terkejut melihat Elvina sudah bergegas naik ke lantai atas.
“El, kok kayaknya sempoyongan gitu jalannya? Kalau memang iya, kenapa dipaksain naik ke atas sih? Tinggal panggil saya apa susahnya?”
Vano berlari mendekati Elvina yang bisa Ia lihat berjalan sempoyongan. Menaiki tangga seperti itu akan membahayakan keselamatan Elvina.
Vano langsung merangkul istrinya yang memang kelihatan tak baik-baik saja. Wajahnya lesu dan matanya kelihatan tak fokus.
“Coba duduk dulu bentar di tangga kalau enggak kuat naik sekarang,”
Elvina menggelengkan kepalanya. Ia ingin sampai di kamar sekarang juga sebab Ia lemas. Setelah muntah jadi lemas dan kepalanya lumayan pening. Apa yang Ia lihat semuanya seperti berputar-putar.
“Aku mau langsung ke kamar,”
Tanpa banyak basa-basi Vano menggendong Elvina. Ia tidak mengizinkan Elvina berjalan sendirian. Ia yang akan membawa Elvina ke kamar dengan cara digendongnya.
“Lagian bukan istirahat malah turun. Mau ngapain sih? Kalau ada perlu apa-apa tuh tinggal bilang,”
“Abang, Kak El hamil kali tuh,”
__ADS_1
“Hamil darimana? Duh si Davina ngaco aja nih,” batin Elvina ketika tidak sengaja bertemu dengan adik iparnya yang mendengar kejadian tadi.
“Aku mau ke meja makan karena dengar suara kamu tadi. Aku tau kamu kesal sama aku, Mas,”
Rahang Vano mengetat sempurna hingga bentuk rahangnya kian tegas. Niat hati ingin menyusul tapi giliran mau disentuh tadi, Ia malah diusir. Padahal niatnya baik untuk membalurkan minyak aromaterapi sekaligus memastikan Elvina baik-baik saja.
Vano menekan tuas pintu dengan sikunya kemudian Ia mendorong pintu dengan kaki sambil masuk ke dalam dan menendang pintu supaya tertutup lalu Ia berjalan ke ranjang masih dengan membawa Elvina yang muntah karena mencium durian yang sebenarnya Elvina sukai. Bahkan sangat disukai. Tapi entah kenapa tadi malah jadi mual.
“Minyak aromaterapi nya dimana? Ketinggalan di kamar mandi ya?”
Elvina menganggukkan kepala. Ia lupa membawanya kembali ke kamar. Akhirnya Vano mengambil botol minyak serupa yang masih ada di dalam kamar.
Ia membalurkan perut, leher, dan kepala Elvina dengan minyak yang menghadirkan rasa hangat itu.
“Kamu kok pucat banget sih? Kamu baik-baik aja ‘kan, El? Aku bawa ke rumah sakit ya?”
“Enggak, ini karena muntah jadi aku lemas. Nanti juga udah enakan kok. Aku lagi masuk angin, emang udah lama nih nggak gini, nah kalau dipancing sama makanan yang baunya nyengat emang bakal kayak gini,”
“Beneran nih?”
__ADS_1
“Ya, Mas,”
“Aku minta maaf kalau tadi sempat kesal sama kamu. Udah ya, jangan mikirin apapun lagi. Lihat nih diri kamu sendiri. Pentingkan kondisi kamu, daripada yang lain,”